JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Lagi Lagi Racun


Baik Buyut Wangsanaya maupun Nyai Larasati dan Dewi Rengganis terkejut mendengar omongan dari Iblis Biru baru saja. Mereka langsung saling berpandangan sejenak dan langsung berusaha keras untuk mengingat cerita apa saja yang mereka dengar tentang Jerangkong Hitam.


Di kawasan barat wilayah Pancawangi wilayah paling barat Mandala Tanjung Sengguruh berdiri bukit kecil yang menjadi sarang dari sekelompok pendekar yang berada di bawah kendali seorang pendekar tua golongan hitam yang bernama Jerangkong Hitam. Nama aslinya adalah Wretiwisesa. Pendekar ini konon menguasai Ajian Rawa Rontek yang membuatnya tak bisa mati. Selain itu, pria bertubuh kurus kering seperti tulang terbungkus kulit ini sangat gemar bertapa. Saking seringnya ia bertapa, tubuhnya nyaris tinggal tulang belulang saja dan inilah asal mula julukan nya sebagai Jerangkong Hitam, penguasa Bukit Wangi.


Kini, mendengar cerita tentang Jerangkong Hitam memimpin pasukan pemberontak untuk menggulingkan pemerintahan Kerajaan Galuh Pakuan, tentu saja mereka kaget bukan main.


"Jerangkong Hitam???!!


Si sesat tua itu ingin memberontak terhadap kekuasaan Prabu Langlangbumi? Ini masalah besar, Iblis Tua..", ucap Buyut Wangsanaya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Benar Tabib Sakti..


Bahkan dia mengumpulkan beberapa pendekar berilmu tinggi untuk membantu nya. Sebenarnya ada orang yang menguatkan pergerakan Jerangkong Hitam. Jika hanya kekuatan ilmu kesaktian, mereka tidak akan mampu. Galuh Pakuan tidak kekurangan orang sakti. Tapi dengan adanya bantuan dana besar di belakangnya, mereka baru berani untuk bergerak", sahut Tunggulherang Si Setan Merah ikut bicara.


"Maksud mu Prabu Hyang Linggakancana dari Tanjung Sengguruh, Setan Merah?", Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan menimpali.


"Tidak salah, Bidadari Angin Selatan..


Diam-diam dia lah yang menginginkan jatuhnya pemerintahan Maharaja Galuh Pakuan karena merasa tidak puas dengan diangkatnya Rakeyan Jayagiri dari


Panjalu menjadi putra mahkota. Menurut ku, pengangkatan itu tidak keliru karena Jayagiri adalah putra dari Dewi Naganingrum yang merupakan adik kandung Prabu Langlangbumi. Sudah seharusnya Rakeyan Jayagiri naik tahta karena bagaimanapun juga dia adalah keturunan langsung dari Mendiang Prabu Darmaraja", imbuh Tunggulherang segera.


Hemmmmmmm...


"Ini semua karena nafsu keserakahan. Pada akhirnya manusia akan kehilangan akal sehat jika nafsu serakah sudah menguasainya.


Meskipun kami tidak ada hubungannya dengan masalah ini, tapi ketika kita memasuki wilayah Kotaraja Kawali, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Apakah sudah ada cara mengatasinya?", Jaka Umbaran yang sedari tadi hanya diam saja menyimak pembicaraan para pendekar tua ini ikut nimbrung dalam obrolan.


"Masalah itu Pendekar Gunung Lawu tenang saja. Nunangganan Siwikarma sudah memberikan sebuah lencana kepada ku untuk masuk ke istana. Jadi tentu saja tidak akan ada masalah", Buyut Wangsanaya menunjukkan sebuah lencana dari kayu berukir gambar matahari pemberian punggawa istana Kerajaan Galuh Pakuan itu kepada Jaka Umbaran dan kawan-kawan.


"Baiklah kalau begitu..


Berarti kita bisa tenang masuk Kotaraja Kawali. Sebaiknya kita segera beristirahat untuk menjaga ketahanan tubuh supaya besok pagi bisa melanjutkan perjalanan ke Kawali", ujar Jaka Umbaran mengakhiri obrolan mereka malam itu. Semua orang segera berpindah ke tempat tidur mereka yang beralaskan dedaunan. Malam perlahan terus bergerak menuju pagi.


Keesokan paginya, rombongan itu meninggalkan tepian hutan Karang Paningal dan bergerak menuju ke arah Kotaraja Kawali yang ada di arah selatan. Melewati jalan raya yang membentang sepanjang jalan, mereka melewati beberapa perkampungan penduduk seperti Wanua Panawangan dan hutan hutan kecil di sebelah Utara Kotaraja Kawali. Lepas tengah hari, mereka telah mencapai tepian hulu Sungai Citanduy yang berair jernih. Sungai kecil ini hanya sedalam betis kaki kuda menjadi batas alam Kotaraja Kawali, ibukota Kerajaan Galuh Pakuan.


Begitu kuda-kuda mereka memasuki tepian Sungai Citanduy Hulu, sebuah tugu batu besar dengan ukiran huruf Jawa Kuno yang berbunyi Ka menjadi tanda bahwa mereka telah masuk ke dalam Kotaraja Kawali.


Tak seperti kebanyakan kota-kota besar di wilayah Panjalu, ibukota Kerajaan Galuh Pakuan tidak berpagar tembok melainkan kayu gelondongan sebesar betis orang dewasa. Tinggi nya sekitar 2 tombak mengelilingi seluruh kota yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Galuh Pakuan ini.


Bangunan beratap alang-alang kering dan pelepah daun kelapa menjadi pemandangan umum yang ada di kota besar ini. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi dibatasi dengan pagar tumbuhan perdu yang tertata rapi. Beberapa penduduk juga menghias rumah kayu mereka dengan hiasan ukiran berikut ubin batu merah pada beberapa rumah yang terlihat mencolok diantara yang lainnya.


Di sisi gerbang kota, beberapa orang prajurit juga nampak berjaga-jaga dan mengawasi semua orang yang berlalu lalang meskipun tanpa memeriksa mereka satu persatu. Namun mata mereka nampak tajam menatap semua orang yang masuk ke dalam Kotaraja Kawali termasuk pada rombongan Jaka Umbaran.


Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu yang menjadi penunjuk jalan sepertinya tidak asing dengan Kotaraja Kawali. Terbukti dengan santainya dia menjalankan kuda tunggangannya ke arah Istana Kotaraja Kawali yang terletak di tengah kota.


"Wah tak ku sangka, Kawali ternyata besar juga ya kota nya", ucap Dewi Rengganis sembari mengedarkan pandangannya ke samping kanan kiri jalan raya.


"Tentu saja Rengganis..


Ini adalah pusat pemerintahan Kerajaan Galuh Pakuan. Jangan samakan dengan tempat tinggal kita yang terpencil di Paguhan", sahut Nyai Larasati sembari tersenyum tipis.


"Berhenti kalian!


Yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke dalam Istana Kotaraja Kawali", ucap salah seorang prajurit yang sepertinya merupakan pimpinan regu prajurit itu.


Buyut Wangsanaya segera mengeluarkan Lencana pemberian Nunangganan Siwikarma. Sang kepala regu prajurit tentu saja langsung mengenali lencana itu.


"Kami orang-orang Wanua Jalaksana, datang ke Kawali atas perintah dari Nunangganan Siwikarma untuk mengobati penyakit Gusti Putri Padmadewi", ucap Buyut Wangsanaya tegas.


"Oh rupanya Aki adalah orang Nunangganan Siwikarma. Mohon maaf jika pemeriksaan menjadi ketat begini. Tentunya kalian semua tahu situasi yang sedang Kawali hadapi saat ini.


Aku sendiri yang akan mengantar tabib dan rombongan ke Istana Putra Mahkota. Mari silahkan ikuti saya", setelah berkata demikian, sang kepala regu prajurit itu segera berbalik badan dan melangkah menuju ke arah timur kompleks bangunan istana.


Buyut Wangsanaya bersama dengan Jaka Umbaran, Dewi Rengganis, Nyai Larasati, Sanjaya Si Iblis Biru dan Tunggulherang Si Setan Merah segera melompat turun dari kudanya dan menambatkan kuda mereka masing-masing pada geladakan kuda di samping kiri pintu gerbang istana. Kemudian mereka bergegas mengikuti langkah sang kepala regu prajurit.


Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri sedang duduk di kursi kayu berukir indah saat mereka memasuki wilayah istana Putra Mahkota. Ada dua orang Wado dan seorang Mantri sedang duduk bersila di lantai bangunan megah itu. Melihat kedatangan sang kepala prajurit yang datang dan menyembah pada nya, Pangeran Jayagiri segera mengangkat tangan kanannya.


"Ada apa kau menghadap tanpa di panggil?", tanya sang pangeran mahkota segera.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Ada beberapa orang yang datang dari Wanua Jalaksana. Katanya mereka adalah panggilan Nunangganan Siwikarma untuk mengobati penyakit Gusti Putri Padmadewi", lapor sang prajurit segera. Mendengar itu, wajah Pangeran Rakeyan Jayagiri langsung cerah seketika.


"Suruh mereka cepat masuk kemari. Jangan tunggu lama lama", ucap Pangeran Jayagiri dengan cepat. Sang pimpinan regu prajurit segera menyembah sebelum meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian dia kembali bersama dengan Jaka Umbaran dan kawan-kawan.


Melihat wajah tampan Jaka Umbaran, Pangeran Rakeyan Jayagiri terhenyak seketika.


'Wajah pemuda ini sangat tampan. Mirip dengan Kangmbok Dyah Kirana namun memiliki dagu tegas seperti Kangmas Prabu Bameswara. Ah aku jadi kangen dengan suasana di Panjalu'


Rombongan Jaka Umbaran pun segera menyembah pada Pangeran Rakeyan Jayagiri atau dulu lebih dikenal dengan nama Pangeran Mapanji Jayagiri. Setelah itu mereka semua segera duduk bersila di lantai balai pertemuan Istana Putra Mahkota dengan tertib.


"Apa kau Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu?", tanya Pangeran Rakeyan Jayagiri segera.


"Benar sekali Gusti Pangeran Mahkota. Saya Buyut Wangsanaya. Orang biasa memanggil nama hamba sebagai Si Tabib Sakti Bertangan Satu", jawab Buyut Wangsanaya sembari menyembah pada calon raja Galuh Pakuan ini.


"Kalau begitu, tunggu apalagi? Cepat Tabib Sakti lihat keadaan putri ku Padmadewi dan sembuhkan dia", ujar Rakeyan Jayagiri sembari mempersilahkan kepada Buyut Wangsanaya untuk segera bekerja.


Keduanya segera melangkah menuju ke arah bilik kamar tidur Putri Padmadewi. Citradewi Sang Mayang Galuh yang menjadi istri Rakeyan Jayagiri nampak duduk di samping Putri Padmadewi yang sedang terbaring di atas ranjang sambil mengipasi tubuh putri sulungnya itu.


"Silahkan periksa putri ku Tabib Sakti", perintah Rakeyan Jayagiri sembari tersenyum tipis.


Buyut Wangsanaya segera menghormat pada Putri Padmadewi sebelum menyentuh dahi perempuan cantik namun pucat itu. Setelah itu ia segera memegang pergelangan tangan Putri Padmadewi dan terlihat sedang menghitung sesuatu. Dahi Buyut Wangsanaya segera mengernyit heran begitu merasakan perbedaan antara dahi dan denyut nadi putri Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri itu.


"Ada yang aneh Tabib Sakti?", tanya Rakeyan Jayagiri yang menyadari adanya perubahan mimik muka sang tabib tua. Buyut Wangsanaya segera menghela nafas panjang sebelum berbicara perlahan,


"Hamba menemukan sesuatu yang janggal dengan keadaan tubuh Gusti Putri. Dan jujur saja, hamba curiga bahwa ada orang yang menginginkan kematian nya. Karena saat ini Gusti Putri Padmadewi, hemmmmmmm..


Sedang keracunan...."