
"Sudah jangan banyak adat, kita sedang dalam masalah..
Maaf kami terpaksa harus menyelamatkan saudara-saudara kalian lebih dulu sebelum kemari. Terimakasih sudah mengulur waktu", ucap salah satu dari dua lelaki paruh baya itu yang tak lain adalah Prabu Bameswara.
"Rasa-rasanya aku jadi kangen dengan sepak terjang kita di masa lalu, Kangmas Prabu..
Tangan ku sudah gatal ingin bertarung melawan mereka. Ayo Kangmas Prabu, waktunya kita kembali beraksi..", seorang lelaki paruh baya di sampingnya berbicara dengan nada penuh semangat. Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan meskipun sudah berumur ini adalah Pangeran Rakeyan Jayagiri, adik Prabu Bameswara dan juga Putra Mahkota Kerajaan Galuh Pakuan.
"Kau ini..
Kita sudah tidak muda lagi, Dhimas Jayagiri. Jangan bersikap seperti anak muda yang baru saja mengenal dunia persilatan. Biarkan saja yang muda untuk belajar melindungi kerajaan ini agar kelak mampu menjadi pengayom masyarakat.
Jayabaya, majulah.. Aku dan Dhimas Jayagiri yang akan melindungi istri mu. Berhati-hatilah, kami ada di belakang mu", titah Raja Panjalu ini segera.
"Sendiko dawuh Kanjeng Romo Prabu..", Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera menghormat pada ayah dan mertua nya sebelum menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah dua orang sosok aneh yang baru saja sampai di tempat itu.
Merasakan hawa nafsu membunuh yang pekat dari arah belakang, Ki Surenggati dan Nyai Puspa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sepasang Iblis Aneh dari Timur langsung menoleh ke arah pergerakan Jaka Umbaran. Keduanya cepat gunakan senjata mereka masing-masing saat melihat Jaka Umbaran menghitamkan kedua tangan nya yang berwarna putih kebiruan.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm..!!
Kuatnya tenaga dalam yang dihasilkan oleh Ajian Guntur Saketi seketika membuat kedua dedengkot pendekar golongan hitam itu terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Kedua pendekar tua ini bahkan sampai memuntahkan darah segar. Disamping dalam keadaan tidak siap, keduanya memang hanya mengerahkan separuh dari tenaga dalam yang mereka miliki karena mereka menyimpan nya untuk menghadapi Prabu Bameswara.
Di luar perkiraan mereka, ada seorang pemuda bangsawan mampu membuat mereka luka dalam meskipun tidak parah. Sembari mengurut dada nya yang terasa seperti ditimpa batu besar, Ki Surenggati Si Iblis Aneh Jantan mendelik tajam ke arah Jaka Umbaran.
"Jadi kau rupanya yang di sebut sebagai Pendekar Gunung Lawu..
Hebat juga kau..
Nini Puspa, kita gunakan Ajian Cadas Ngampar! Tidak boleh main-main lagi..", ucap Ki Surenggati segera.
Mendengar ucapan lelaki tua bertubuh pendek itu, perempuan tua bertubuh besar i i dengan cepat mengangguk mengerti. Bersama dengan Ki Surenggati, Nyai Puspa segera meletakkan bakul nasi yang selalu dia bawa kemana-mana. Kedua tangan nya segera menyilang di depan dada, bergerak terentang lebar ke samping kiri dan kanan lalu menangkup di depan dada seperti orang menyembah. Kilatan cahaya merah kekuningan berhawa panas terkumpul di telapak tangan Sepasang Iblis Aneh dari Timur ini.
"Ajian Cadas Ngampar...
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!!"
Sembari membentak nyaring, kedua orang tua itu segera menghantamkan kedua tapak tangan mereka ke arah Pangeran Mapanji Jayabaya. Dua larik cahaya merah kekuningan menerabas cepat kearah sang pangeran muda dari Daha ini.
Jaka Umbaran memejamkan matanya sebentar lalu membukanya dengan cepat. Manik mata nya sekilas memancarkan cahaya kuning keemasan. Saat dua larik cahaya merah kekuningan itu datang, Jaka Umbaran segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara menghindari serangan cepat lawan.
Shhhhiiiiiiuuuuttthh...
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!
Ledakan keras terdengar di bekas tempat Jaka Umbaran berdiri. Sepasang Iblis Aneh dari Timur mengeram murka tatkala melihat Jaka Umbaran lolos dari maut dan mendarat di dahan pohon sawo yang ada di pinggir halaman istana ini.
Keduanya segera mengulangi lagi gerakan tubuh mereka dan kembali menghantamkan cahaya merah kekuningan ke tempat Jaka Umbaran berada.
Blllaaammmmmmmm...!!
Kraaattttttttaaaaakk brruuaaaakkkkkkkh!!
Lagi-lagi, Jaka Umbaran yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin nya mampu berkelit menghindari hantaman Ajian Cadas Ngampar dari Sepasang Iblis Aneh dari Timur. Cabang pohon sawo itu langsung meledak dan terbakar hingga patah dan jatuh ke tanah.
Berbeda dari sebelumnya, usai menghindari hantaman Ajian Cadas Ngampar, Jaka Umbaran segera meluncur turun diantara Sepasang Iblis Aneh dari Timur. Secepat kilat, dia melayangkan tendangan keras kearah punggung Ki Surenggati yang bertubuh kerdil.
Dhhhaaaassshhhh...
Oooouuuuuuggggghhhhh!!
Ki Surenggati sang Iblis Aneh Jantan langsung terjungkal menyusruk tanah cukup jauh. Bajunya langsung penuh dengan tanah dan rumput halaman istana Katang-katang. Sementara itu, Nyai Puspa yang melihat pasangan nya dijatuhkan, dengan cepat layangkan sikutan ke arah dada sang Pangeran Mapanji Jayabaya.
Namun Jaka Umbaran sama sekali tidak berupaya untuk menghindari malah terlihat seperti sengaja menunggu kedatangan serangan perempuan tua berdandan menor ini. Nyai Puspa menyeringai lebar karena yakin Jaka Umbaran pasti akan dia jatuhkan.
Bhhhuuuuuuggggh!!
Alangkah kagetnya Nyi Puspa saat melihat serangan nya tidak berbuah manis. Jaka Umbaran sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri malahan dia tersenyum lebar.
"Bagaimana mungkin?!", seru Nyai Puspa yang melihat kejadian itu. Dia masih belum lepas dari kekagetannya, Jaka Umbaran sudah bergerak cepat sembari melayangkan tendangan keras kearah wajah perempuan tua itu.
Dhhhaaaassshhhh..
Aaaaaauuuuuuuuuuuuuwwwwwwh!!
Nyai Puspa langsung jatuh tersungkur menyusruk tanah. Wajahnya langsung membiru dan bengkak sebelah kiri. Bibir tebal nya pecah dan mengeluarkan darah. Murka sudah perempuan tua itu segera. Dengan cepat ia bangkit dan mengusap bibirnya yang berdarah.
"Kurang ajar kau, Jayabaya!! Akan ku hancurkan tubuh mu sampai menjadi abu!!"
Segera dia merentangkan kedua tangannya dan cepat menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Tubuh perempuan tua itu perlahan membesar dan terus membesar.
Teriakan keras dari Ki Surenggati sama sekali tidak di gubris oleh Nyai Puspa. Itu adalah ilmu terlarang Ajian Gajah Manunggal, ilmu kanuragan sesat yang membuat pemakainya akan kehilangan 10 tahun masa hidupnya sekali pakai. Dan kali ini adalah batas terakhir Nyai Puspa menggunakan ilmu sesat itu.
"Bajingan itu sudah merusak wajah cantik ku, Kakang Surenggati! Aku tidak bisa menerima perlakuannya terhadap ku!!
Hhaaaaaarrrrrrrrggghhhhh..!!!
Tubuh Nyai Puspa terus membesar hingga seukuran gajah. Setelah Ajian Gajah Manunggal sempurna di tubuhnya, Nyai Puspa menatap tajam ke arah Jaka Umbaran.
"Waktunya kau mati, Pangeran Daha!"
Setelah berkata demikian, Nyai Puspa dalam wujud manusia besar nya langsung melesat ke arah Jaka Umbaran. Meskipun tubuhnya sangat besar, gerakannya sungguh luar biasa cepat. Dia langsung menabrak tubuh Jaka Umbaran segera.
Bhhhaaaaaaaaangggggggg!!
Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya yang kaget melihat munculnya Nyai Puspa yang tiba-tiba, tak siap dengan serangan dadakan ini. Tubuhnya langsung tersurut mundur hampir 6 tombak jauhnya. Memang, sedari awal pertarungan, sang pangeran mahkota ini hanya menggunakan separuh dari tenaga dalam yang dia miliki.
Melihat Jaka Umbaran masih belum jatuh, Nyai Puspa menggeram keras sebelum kembali melesat cepat untuk menabrakkan tubuhnya pada Yuwaraja Panjalu ini. Melihat lawan kembali lagi menyerang, Jaka Umbaran segera mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya pada Ajian Bandung Bondowoso nya. Cahaya kuning keemasan tipis langsung menutupi seluruh tubuhnya.
Saat Nyai Puspa kembali menabrakkan diri nya ke tubuh Jaka Umbaran, sebuah perubahan besar terjadi. Jika sebelumnya Sang Pendekar Gunung Lawu yang terdorong mundur, kali ini tabrakan maut Nyai Puspa sama sekali tak membuat tubuh sang pangeran muda bergeming sedikitpun dari tempatnya semula. Malahan Nyai Puspa yang meraung kesakitan dan mental jauh ke belakang.
Aaaarrrgggggghhhhh..!!!!
Ki Surenggati segera menghampiri Nyai Puspa yang terkapar tak berdaya sembari memuntahkan darah segar.
"Kau kenapa Nyai? Kenapa bisa begini?", Ki Surenggati menatap tubuh perempuan besar itu dengan penuh kekhawatiran.
"Ugghhhh ugghhhh...
Ba-jing-ngan itu uhhh tubuhnya ke-keras seperti karang, Ka-kang... Sepertinya tu-tulang rusuk ku patah setelah me-menabrak nyaa ugghhhh ugghhhh", Nyai Puspa megap-megap mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Darah segar terus keluar dari mulutnya. Rupanya patahan tulang iganya menancap pada paru-paru hingga hidung dan mulutnya terus mengeluarkan darah. Tak lama kemudian Nyai Puspa menghembuskan nafas terakhirnya dengan mulut terbuka dan darah segar yang tak henti-hentinya mengalir.
Melihat kematian istrinya, Ki Surenggati langsung marah besar. Meskipun telah luka dalam, namun kematian Nyai Puspa seolah membuat rasa sakit di dadanya menghilang seketika.
"Akan ku hancurkan tubuh mu sesajen untuk istri ku di neraka, Jayabaya!!"
Ki Surenggati segera menggenggam erat tongkat besi berkepala tengkorak manusia itu dengan kedua tangannya. Lelaki tua bertubuh pendek ini langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran dengan mengayunkan tongkat besi berkepala tengkorak manusia yang sudah di lapisi dengan Ajian Tongkat Dewa Kematian yang menciptakan semacam cahaya biru gelap kehitaman berhawa dingin yang menakutkan.
Whhhuuuuuuuutttttth...
Gelombang cahaya biru tua kehitaman berhawa dingin langsung menderu cepat kearah Mapanji Jayabaya. Masih ingin tahu seberapa besar kekuatan lawan, Jaka Umbaran segera berkelit menghindari serangan.
Namun, sepertinya itu yang di harapkan oleh Ki Surenggati. Lelaki tua kerdil itu bablas melesat cepat kearah Nararya Padmadewi karena ingin membunuh putri dari Galuh Pakuan itu sebagai bentuk balasan terhadap Jaka Umbaran yang baru saja menghabisi nyawa istri nya. Namun sepertinya dia salah besar jika berpikiran demikian.
"Jayabaya, kini istri mu akan mati lebih dulu hahahaha..", teriak Ki Surenggati sembari mengayunkan tongkat besi berkepala tengkorak manusia itu ke arah Nararya Padmadewi.
Whhhuuuuuggggghhhh!
Namun belum sampai gerakan tubuhnya selesai, Prabu Bameswara segera melesat cepat kearah nya dan mencekal ujung tongkat besi itu dengan satu tangan nya. Ki Surenggati terkejut bukan main melihat itu semua. Akan tetapi itu semua belum berakhir.
Pangeran Mapanji Jayagiri yang mengikuti gerakan sang kakak, langsung menusukkan pedang butut nya ke arah perut Ki Surenggati yang lengah.
Jllleeeeeppppphhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Rintih Ki Surenggati keras saat ujung bilah pedang tajam itu menembus perut hingga pinggang.
"Mau membunuh putri ku? Langkahi dulu mayat ku keparat!!", sambil berkata demikian, Pangeran Rakeyan Jayagiri pun langsung mencabut pedangnya hingga Ki Surenggati sang Iblis Aneh Jantan itu roboh seketika itu juga. Lelaki tua bertubuh kerdil itu terlihat menunjuk ke arah Prabu Bameswara dan Pangeran Mapanji Jayagiri.
"Ka..lii..annn.. cu..cu..raaanggggh...!!,"
Setelah berkata seperti itu, Ki Surenggati meregang nyawa. Darah nya menggenang di bawah tubuhnya dan lelaki tua bertubuh kerdil itu tidak bergerak lagi untuk selamanya.
Sementara Prabu Bameswara dan Pangeran Mapanji Jayagiri menghadapi Ki Surenggati, 2 orang dari empat sekawan pengawal Jaka Umbaran yakni Besur dan Baratwaja segera mengawal Nararya Padmadewi ke tempat yang aman. Sedangkan Gendol masih meladeni permainan silat Demung Gombang. Begitu juga dengan Resi Simharaja yang membantai musuhnya satu persatu. Tiba-tiba saja...
Thhhhuuuuuuuuuuuuuuuutttttthhhh!!!
Suara dengungan keras terompet tanduk kerbau terdengar. Para prajurit Pasukan Garuda Panjalu yang sedang bertarung, paham dengan isyarat itu dan mereka langsung mundur ke tepi halaman. Bersamaan dengan itu, ratusan prajurit pemanah langsung membidik Demung Gombang dan para anak buahnya yang ada di tengah halaman Istana Katang-katang.
Jaka Umbaran bersama Prabu Bameswara dan Pangeran Mapanji Jayagiri yang sudah berada di tepi halaman. Gendol dan Resi Simharaja pun juga segera bergabung dengan kelompok ini.
"Kalian semua sudah terkepung. Tak mungkin lagi bisa meloloskan diri dari tempat ini. Menyerah lah jika masih ingin hidup!", ucap tegas Jaka Umbaran segera.
Salah seorang diantara para lelaki bertopeng separuh wajah warna merah segera mendekati Demung Gombang sambil bertanya,
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ku Demung?
Menyerah atau melawan?"