JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Akhir Riwayat Awang Bajra


Jaka Umbaran segera melesat cepat memutari tempat Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis sembari melontarkan cahaya putih kebiruan sebesar jempol tangan orang dewasa ke arah kakek tua berjanggut pendek itu. Rupanya dia sudah merapal mantra Ajian Guntur Saketi tahap awal yang dinamakan Ajian Jari Saketi. Menggunakan ujung jari telunjuk dan jari tengah nya, Jaka Umbaran menembakkan peluru cahaya putih kebiruan itu bertubi-tubi.


Cllaaaaaassshhhhh cllaaaaaassshhhhh!


Awang Bajra segera menghentikan penyatuan dua pedang nya yang sedari tadi ia gunakan untuk menekan Jaka Umbaran. Dengan cekatan, ia menangkis hujan peluru cahaya putih kebiruan dari tangan Jaka Umbaran menggunakan kedua pedang di tangan kanannya.


Chhhrrraaakkkkkk chhraasshh..


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Ledakan ledakan kecil terjadi saat cahaya putih kebiruan itu mencelat usai kena tebasan pedang Awang Bajra. Tangan Awang Bajra rupanya cukup cekatan juga menangkis serangan cepat dan kecil itu menggunakan kedua pedang.


Melihat itu, Jaka Umbaran semakin mempercepat gerakan nya sembari terus menembakkan peluru cahaya putih kebiruan Ajian Jari Saketi ke arah Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis. Lelaki tua itu mati-matian berusaha untuk bertahan dengan terus mengayunkan Pedang Elang Putih dan Pedang Lobang Neraka secepat mungkin.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm..!!!!


Namun rupanya kecepatan tinggi tembakan peluru cahaya putih kebiruan yang di lepaskan oleh Jaka Umbaran, akhirnya berbuah manis saat tenaga dalam milik Awang Bajra mulai terkuras banyak. Satu sambaran cepat peluru cahaya putih kebiruan Ajian Jari Saketi yang lolos dari tebasan pedang Awang Bajra, langsung merobek daging lengan kanan lelaki tua itu.


Cllaaaaaassshhhhh..


Brrreeeeeeetttt... Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Pedang Elang Putih langsung terlepas dari genggaman tangan kanan Awang Bajra. Rasa kaget bercampur aduk dengan perih yang menyayat kulit menjadikan pria tua itu lemas otot tangan kanannya. Namun ia yang sadar dengan kesalahannya, berusaha keras untuk meraih kembali gagang pedang itu. Namun Jaka Umbaran tidak membiarkan hal itu terjadi.


Melihat Pedang Elang Putih terlepas dari genggaman tangan lawannya, buru-buru ia mengumpulkan tenaga dalam nya pada telapak tangan kanan hingga tercipta cahaya putih kebiruan yang lebih besar. Ini adalah tahap kedua dari Ajian Guntur Saketi yang di namakan Ajian Tapak Saketi. Dengan cepat, ia segera menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah Awang Bajra yang ingin mengambil kembali pedangnya.


Whhhuuuggghhhh...


Cahaya putih kebiruan berbentuk seperti telapak tangan menerabas cepat kearah Awang Bajra yang hampir meraih gagang Pedang Elang Putih. Kilatan cahaya putih kebiruan yang mirip petir yang menyambar-nyambar itu membuat Awang Bajra terkaget setengah mati dan berusaha keras untuk bertahan dengan menyilangkan Pedang Lobang Neraka di tangan kiri nya ke arah datangnya serangan cepat.


Blllaaammmmmmmm!!!


Awang Bajra tersurut mundur hampir 4 tombak jauhnya. Meskipun dia tidak terluka, namun tangan kirinya bergetar hebat kala Ajian Tapak Saketi menghajar bilah Pedang Lobang Neraka yang tergenggam erat. Hampir saja pedang pusaka itu terlepas andai saja dia tidak mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk menahan getaran yang merambat di Pedang Lobang Neraka.


Luka cukup parah dan terpojok menghadapi kemampuan Jaka Umbaran, Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis menggeram keras.


"Bajingan keparat kau pendekar wetan!


Tapi jangan besar kepala dulu, aku masih belum kalah!!", maki Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis.


Kedua tangan nya segera bersedekap di depan dada usai menyarungkan kembali Pedang Lobang Neraka ke sarung nya. Mata lelaki tua berjanggut pendek itu terpejam rapat. Perlahan tubuhnya membesar hingga setinggi 2 tombak dengan kulit putih pucat yang menakutkan. Taring besar dan lidahnya terjulur keluar, sementara matanya yang perlahan terbuka memancarkan cahaya merah layaknya mata iblis dari neraka. Ini adalah Ajian Raga Malaikat Iblis yang menjadi andalan Awang Bajra, salah seorang dedengkot pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah kulon.


Melihat lawannya sudah mempersiapkan ilmu kanuragan pamungkas nya, Jaka Umbaran segera memejamkan mata sebentar. Begitu matanya terbuka, manik mata nya berubah menjadi kuning keemasan bersamaan dengan cahaya serupa menyelimuti seluruh tubuh. Dia juga tidak mau kalah dengan mengeluarkan Ajian Bandung Bondowoso nya, ajian pertahanan tubuh sekaligus sebagai peningkat kekuatan yang luar biasa.


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh..


"Jaka Umbaran! Kau beruntung bisa melihat ku mengeluarkan Ajian Raga Malaikat Iblis ku sebelum kematian mu!


Sampaikan kepada raja neraka saat kau bertemu dengannya!", usai berteriak lantang seperti itu, Awang Bajra melesat cepat kearah Jaka Umbaran. Kali ini kecepatannya langsung meningkat pesat berkali lipat. Kepalan tangannya yang sebesar kelapa langsung terayun ke arah Jaka Umbaran yang bersiap dengan menyilangkan kedua tangan di depan kepala.


Bhhuuuuummmmmmhh!!!


Bhhuuuuummmmmmhh bhhuuuuummmmmmhh bhhuuuuummmmmmhh!!!


Besarnya tenaga dalam tingkat tinggi yang di lepaskan oleh Awang Bajra membuat tubuh Jaka Umbaran seperti menjadi bulan-bulanan. Namun walaupun demikian, dia tetap saja tidak terluka sama sekali akibat adanya perlindungan Ajian Bandung Bondowoso. Sementara itu, Awang Bajra semakin bernafsu untuk menjatuhkan Jaka Umbaran yang dia rasa meremehkan Ajian Raga Malaikat Iblis miliknya. Gempuran demi gempuran terus menerus di lakukan oleh pemimpin Padepokan Gunung Geger Bentang itu.


Nyai Larasati dan Dewi Rengganis yang baru saja selesai menyudahi perlawanan dari Dunggul dan Sajamarta dengan pedang mereka, menatap takjub ke arah pertarungan sengit antara Jaka Umbaran dan Awang Bajra. Jika sebelumnya Dewi Rengganis sempat khawatir dengan keselamatan murid Maharesi Siwamurti itu, kini dia lebih tenang. Dia hanya berharap, Jaka Umbaran cepat menyudahi pertarungan itu.


"Ajian Bandung Bondowoso yang di miliki oleh Jaka Umbaran memang luar biasa..


Serangan Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis itu sama sekali tidak bisa melukai nya. Dia hebat sekali", puji Nyai Larasati sembari menyarungkan kembali pedangnya di pinggang.


"Guru benar.. Jika orang yang melihatnya, pasti akan berpikir bahwa Kakang Umbaran tidak berdaya melawan Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis itu. Tapi aku yakin dia sedang mencari kesempatan untuk menyerang balik", balas Dewi Rengganis segera.


Resi Simharaja yang baru saja menyelesaikan perlawanan dari para anggota bekas pemberontak, melesat cepat dan berdiri di samping kedua perempuan itu. Dia tidak berkata apa-apa selain hanya terus memperhatikan jalannya pertarungan.


Semakin lama, tempat yang menjadi arena tarung antara Jaka Umbaran Sang Pendekar Gunung Lawu melawan Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis itu semakin porak poranda. Beberapa pohon telah tumbang tak tentu arah. Puluhan lobang sebesar kerbau pun juga menghiasi tanah lapang itu dengan kedalaman sedengkul.


Jaka Umbaran yang melihat serangan cepat Awang Bajra sedikit mengendur, dengan cepat melesat ke arah punggung sang pendekar tua usai menggebrak tanah tempat ia berpijak. Tapak tangan kanan nya yang berwarna putih kebiruan langsung terarah pada punggung kiri pimpinan Padepokan Gunung Geger Bentang itu segera.


Bhhhaammmmmmmm krrraaaakkkkkk..


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Tubuh Awang Bajra mencelat jauh ke depan dan menyusruk tanah dengan keras 4 tombak jauhnya. Lelaki tua berwujud seperti raksasa itu langsung muntah darah segar. Meskipun kulitnya yang putih pucat sangat keras, tapi hantaman Ajian Guntur Saketi baru saja membuat beberapa tulang rusuknya patah. Meskipun meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat pada punggung kiri nya, Awang Bajra segera bangkit dari tempat jatuhnya dan menatap tajam ke arah Jaka Umbaran. Dia sadar bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan Ajian Bandung Bondowoso yang dimiliki oleh lawan. Dia yang bernafsu untuk membunuh Jaka Umbaran, langsung memiliki pemikiran sempit. Dia bertekad untuk membawa Jaka Umbaran mati bersamanya.


"Hoooaaarrrrrrggggghhhhh...!!!


Bajingan kau Jaka Umbaran! Aku akan membawa mu mati bersama ku hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!"


Awang Bajra segera memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada dada. Tiba-tiba saja tubuhnya membengkak dan terus membengkak karena tenaga dalam terkumpul di satu titik.


"Semuanya! Menjauh dari tempat ini! Sekarang!!"


Teriakan keras dari Jaka Umbaran segera membuat Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan Resi Simharaja melesat cepat kearah balik batu besar yang berada sekitar 50 tombak jauhnya dari tempat itu. Dan...


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!


Tubuh Awang Bajra meledak hebat. Gelombang kejut besar menyapu bersih sekitar tempat pertarungan mereka. Pohon pohon bertumbangan. Debu terhempas jauh bahkan batu sebesar kelapa pun ikut terlempar jauh. Suara keras ledakan dahsyat itu terdengar hingga ke seberang Sungai Citanduy yang berjarak sekitar 100 tombak dari tempat itu.


Setelah ledakan dahsyat itu mereda, sebuah pemandangan mengerikan terlihat. Mayat-mayat bekas para pemberontak pimpinan Jerangkong Hitam tak satupun ada di tempat itu, termasuk mayat Si Elang Botak. Sekitar tempat itu sejauh dua puluh tombak, rata dengan tanah seperti baru tersapu oleh sesuatu yang dahsyat. Potongan tubuh manusia yang merupakan tubuh Awang Bajra tersebar ke segala arah. Sementara itu di tengah bekas ledakan dahsyat itu, Jaka Umbaran masih berdiri kokoh dengan tubuh yang terlindung oleh cahaya kuning keemasan.


Mata Jaka Umbaran menyapu ke segala arah. Di sana dia melihat Pedang Elang Putih dan Pedang Lobang Neraka tergeletak begitu saja di atas tanah. Perlahan, Jaka Umbaran berjalan dan memungut kedua pedang bekas milik pimpinan Padepokan Gunung Geger Bentang itu. Saat yang bersamaan, Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan Resi Simharaja yang selamat dari sapuan gelombang kejut besar ini melesat cepat mendekati Jaka Umbaran.


"Kakang Umbaran....", hanya itu yang terucap dari bibir mungil Dewi Rengganis sembari menubruk maju ke tubuh Jaka Umbaran. Dia tidak peduli lagi dengan pandangan mata Nyai Larasati maupun Resi Simharaja. Dia sangat gembira melihat pria pujaan hatinya ini selamat.


Baru saja Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan hendak angkat bicara, dua sosok bayangan berpakaian serba kuning berkelebat cepat kearah mereka dari arah timur. Keduanya segera mendarat tak jauh dari tempat mereka berkumpul. Melihat dua sosok berpakaian serba kuning itu, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan terkejut bukan main karena dia mengenali salah seorang diantara mereka.


"Pangeran Kuning Gunung Malabar?!


Mau apa kau kemari?"