JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pertarungan di Kotaraja Kawali


"Bagaimanapun juga, kami ada di dalam istana ini tentu saja para pemberontak pun akan menganggap kami sebagai orang Istana Kotaraja Kawali. Toh kepalang tanggung juga, kami akan membantu Istana Kotaraja Kawali sekali lagi, Gusti Pangeran.


Sekalipun nyawa yang menjadi taruhannya", ucap Jaka Umbaran tegas.


"Hamba pun akan ikut campur dalam urusan ini, Gusti Pangeran. Nunangganan Siwikarma sudah mengundang kami untuk membantu istana dari para pemberontak. Kedatangan kami berdua juga karena masalah ini. Jadi hamba bersama Si Setan Merah akan siap bertarung habis-habisan membela istana Kawali", sambung Sanjaya Si Iblis Biru segera.


Mendengar jawaban itu, Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri mengangguk mengerti. Bersama dengan para pendekar rombongan Jaka Umbaran, Pangeran Rakeyan Jayagiri bergegas keluar menuju ke arah luar tepatnya menuju ke arah pintu gerbang istana.


Keributan besar terasa di sekitar tembok istana. Ribuan orang prajurit yang menjadi penjaga kediaman keluarga raja Galuh Pakuan itu terlihat bersiaga kalau-kalau ada serangan dadakan ke istana. Semuanya nampak memegang erat gagang senjata mereka masing-masing dan dengan wajah penuh ketegangan, mereka bersiap di sekitar tembok istana.


Pangeran Rakeyan Jayagiri segera menaiki tangga menuju ke puncak tembok istana yang tingginya dua tombak. Rombongan Jaka Umbaran terus mengekor di belakangnya. Saat sampai di puncak tembok istana, Pangeran Rakeyan Jayagiri mengedarkan pandangannya ke sekeliling Kotaraja Kawali. Terlihat beberapa kepulan asap tebal membumbung tinggi ke angkasa. Di sisi barat, terdengar suara denting senjata beradu di sertai beberapa ledakan keras yang terdengar.


Sepertinya laporan Wado Karta mengenai pagar barat Kotaraja Kawali telah di jebol benar adanya.


"Wado Karta!!!", panggilan keras Pangeran Rakeyan Jayagiri segera membuat lelaki bertubuh gempal itu segera mendekati sang pangeran mahkota.


"Daulat Gusti Pangeran.."


"Aku tugaskan kepada mu untuk berjaga di istana ini. Jangan sekalipun kau meninggalkan nya. Jika sampai para pemberontak itu sampai kemari, pertahankan istana ini sampai ajal menjemput mu", usai berkata demikian, Pangeran Rakeyan Jayagiri segera melompat turun dari puncak tembok istana diikuti oleh para anggota rombongan Jaka Umbaran. Di bawah tembok istana, ada beberapa ribu orang prajurit yang sedang bersiap siaga. Melihat kedatangan sang pangeran mahkota, mereka segera memberi hormat.


"Kalian semua ikut aku. Sepertinya titik utama kekuatan pemberontak ada di sebelah barat. Kita bantu kawan-kawan kita yang sedang berjuang keras disana. Ayo...!", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri dengan lantang.


Mendapat perintah dari sang pangeran mahkota, para prajurit yang berjaga jaga langsung mengikuti langkah Pangeran Rakeyan Jayagiri menuju ke arah barat bersama para pendekar dunia persilatan. Saat mereka sampai di wilayah barat Kotaraja Kawali, pertempuran antara para prajurit Kawali melawan para pemberontak pimpinan Jerangkong Hitam sedang berlangsung sengit.


Ratusan mayat bergelimpangan dimana-mana dengan darah menggenang di bawah tubuhnya. Ada juga yang tewas dengan senjata masih menancap di tubuh mereka. Jerit kesakitan bercampur raungan penuh kemarahan terdengar dari seluruh sisi pertempuran.


Melihat itu semua, Pangeran Rakeyan Jayagiri segera mencabut pedang yang dia pegang di tangan kiri dan mengacungkan nya ke arah para pemberontak.


"Semuanya, MAJUUUUUU!!!!!!"


Para prajurit Kawali langsung melesat cepat ke tengah medan laga. Bantuan ini langsung membuat semangat prajurit Kawali yang telah bertarung lebih dulu telah menurun, kini bangkit lagi. Apalagi sejak melihat kedatangan Pangeran Rakeyan Jayagiri sendiri yang turun tangan membantu mereka. Perang ini langsung berkecamuk lebih dahsyat lagi.


Si Setan Merah langsung menggembor keras seraya melesat cepat kearah salah seorang anggota pemberontak yang sangat dikenalnya, Tapak Wisa Gunung Saba. Ada dendam lama yang ingin dia tuntaskan hari itu.


Melihat Si Setan Merah bergerak, Iblis Biru pun tak mau kalah. Dia langsung melompat tinggi ke udara. Saat yang bersamaan, sebuah bayangan hitam berkelebat cepat menantang jalannya. Keduanya segera mengadu pukulan keras bertenaga dalam tingkat tinggi.


Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!!


Kedua orang yang mengadu ilmu kesaktian itu sama-sama mendarat turun dengan jarak sekitar 4 tombak jauhnya. Sanjaya Si Iblis Biru segera mengenali sosok lelaki tua berjanggut putih pendek dengan pakaian warna hitam itu.


"Pendeta Sesat Lembah Pangandaran!


Rupanya kau juga ikut serta dalam pemberontakan ini. Apa yang dijanjikan oleh Prabu Hyang Linggakancana kepada mu hingga kau yang tidak pernah ikut campur urusan dunia politik sampai turun gunung hem???", tanya Sanjaya sembari menatap tajam ke arah sosok lelaki tua yang merupakan pendekar tua seangkatan dengan nya, Pendeta Sesat Lembah Pangandaran.


"Hehehehe, itu adalah hal rahasia antara aku dan dia, Iblis Biru. Sebagai kenalan lama, aku minta sebaiknya kamu pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin membunuhmu..", ucap Pendeta Sesat Lembah Pangandaran sambil tersenyum lebar.


Chhuuuiiiihhhh...


"Kau pikir aku takut dengan mu, Pendeta Sesat?!


Aku Sanjaya Si Iblis Biru bukan pengecut yang akan kabur kalau ketemu lawan seimbang. Kalau kau memaksa untuk masuk ke dalam Kotaraja Kawali, maka bersiaplah untuk mati!", setelah berkata demikian, Sanjaya Si Iblis Biru segera mempersiapkan kuda-kuda ilmu beladiri nya.


Sembari mendengus dingin, Pendeta Sesat Lembah Pangandaran langsung melesat cepat kearah nya sambil layangkan pukulan cepat bertubi-tubi kearah Si Iblis Biru.


Whhhuuuggghhhh whhhuuutthh..


Dhhhaaaassshhhh dhhaaaassshhh!!


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr...!!!!


Pertarungan antara dua orang pendekar tua ini berlangsung seru dan menegangkan. Masing-masing berupaya keras untuk menjatuhkan lawan secepat mungkin namun lawan nya bukanlah pendekar kacangan yang baru saja menjejak tanah dunia persilatan.


Blllaaammmmmmmm!!


Baik Pendeta Sesat Lembah Pangandaran maupun Si Iblis Biru sama-sama terpental ke belakang usai beradu ilmu kanuragan tingkat tinggi mereka. Memang keduanya memiliki kemampuan beladiri yang seimbang hingga sulit untuk mengatakan siapa yang lebih unggul.


Pendeta Sesat Lembah Pangandaran perlahan mencabut kujang yang terselip di pinggangnya usai tangan kiri nya menghapus sisa darah segar yang meleleh keluar dari mulutnya. Sementara itu Sanjaya Si Iblis Biru bersiap dengan ilmu pamungkas nya, Cakar Iblis Biru. Perlahan kuku tangannya memanjang dan ujung nya runcing berselimut cahaya biru gelap berhawa dingin.


Setelah menggebrak tanah dengan keras, Pendeta Sesat Lembah Pangandaran melesat cepat kearah Si Iblis Biru sembari menusukkan kujang sakti yang ada di tangan kanannya.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Jeritan tertahan terdengar dari mulut Pendeta Sesat Lembah Pangandaran tatkala cakar tangan kiri Si Iblis Biru merobek celana pendek nya hingga tembus daging paha nya. Lelaki tua berbaju hitam itu berusaha mundur sembari terus berupaya untuk menahan darah segar yang keluar dari luka di paha kanannya.


Ini merupakan kesempatan bagi Si Iblis Biru untuk mengakhiri perlawanan Pendeta Sesat Lembah Pangandaran. Dia segera berbalik badan dan mengayunkan sepasang cakar tangan nya ke arah lawan.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh shhrrraaakkkkkhh!!


Sepuluh larik cahaya biru gelap menerabas cepat kearah Pendeta Sesat Lembah Pangandaran. Merasakan hawa dingin berdesir cepat kearah nya, Pertapa Sesat Lembah Pangandaran mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada kujang sakti di tangan kanannya dan menyilangkan nya ke depan dada.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras terdengar saat Ajian Cakar Iblis Biru menghantam kujang sakti di tangan Pertapa Sesat Lembah Pangandaran. Lelaki tua itu langsung terpental ke belakang. Belum sempat tubuhnya berhenti,


Chhhrreeepppppppphhhh!!


Sebuah tangan yang memancarkan cahaya biru gelap nampak menyembul keluar dari dada sang pertapa. Rupanya setelah melepaskan ilmu pamungkas nya, Iblis Biru bergerak cepat ke arah belakang Pertapa Sesat Lembah Pangandaran dan memapak pergerakan mundurnya dengan kuku tajam tangan kanan mengarah ke punggung.


"Kau bajingan licik ...", umpat Pertapa Sesat Lembah Pangandaran tatkala Iblis Biru mencabut tangan nya yang berlumuran darah segar. Tubuh lelaki tua itu langsung roboh dengan dada bolong tembus punggung. Dia tewas bersimbah darah.


"Itu adalah karma bagi yang ingin merongrong kewibawaan pemerintah Kerajaan Galuh Pakuan, bajingan sesat!


Kau pantas untuk mendapatkannya".


Setelah berkata demikian, Sanjaya Si Iblis Biru segera mengedarkan pandangannya. Pandangannya tertuju pada Tunggulherang Si Setan Merah yang sedang berjongkok dengan satu dengkul menyangga tubuh dan tangan kanannya membekap dada yang terlihat menghitam. Sementara itu lawannya nampak bersiap untuk melakukan serangan terakhir pada Si Setan Merah untuk menghabisi nyawa nya.


Melihat itu, Iblis Biru langsung melesat cepat memapak pergerakan Tapak Wisa Gunung Saba yang menjadi lawan musuh bebuyutan sekaligus kawan nya Tunggulherang Si Setan Merah. Dengan cepat ia mengayunkan cakar tangan nya ke arah Tapak Wisa Gunung Saba.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh!!


Lima larik cahaya biru gelap meluruk cepat kearah Tapak Wisa Gunung Saba. Melihat kedatangan serangan cepat tak terduga dari arah samping, lelaki berusia sekitar 4 dasawarsa itu segera melompat mundur untuk menghindar.


Blllaaaaaarrr krrraaaakkkkkk!!!


Sebuah gerobak kayu milik penduduk Kotaraja Kawali yang ada di dekat Tapak Wisa Gunung Saba langsung hancur berantakan ketika Ajian Cakar Iblis Biru menghantamnya. Nyawa Tunggulherang Si Setan Merah lolos dari maut. Sanjaya Si Iblis Biru segera mendekatinya.


"Kau baik-baik saja, Setan Tua?", tanya Sanjaya segera.


"Uhukkk uhukkk hoooeeeeggggh..


Aku lengah sedikit dan lupa kalau ilmu bajingan itu beracun, Iblis Biru. Terimakasih sudah menolong ku uhukkk uhukkk..", Tunggulherang Si Setan Merah batuk beberapa kali saat menjawab pertanyaan itu. Darah kehitaman sebagai tanda keracunan ikut keluar dari dalam mulutnya.


"Serahkan saja Si Tukang Racun itu pada ku.. Kau istirahat saja..", setelah berkata begitu, Sanjaya Si Iblis Biru segera melesat cepat menerjang ke arah Tapak Wisa Gunung Saba dengan ilmu kesaktian nya. Pertarungan sengit pun segera terjadi.


Di sisi lain, Pangeran Rakeyan Jayagiri nampak kesulitan menghadapi Jerangkong Hitam sang pimpinan utama pemberontak dari wilayah barat Mandala Tanjung Sengguruh. Bagaimanapun juga, lawan yang dihadapi oleh putra ketiga Prabu Jayengrana dari Panjalu itu memang pendekar pilih tanding. Beberapa pukulan keras dan tendangan cepat lelaki tua bertubuh kurus itu telah mendarat di tubuhnya.


"Ehehehehehehe..


Pangeran Jayagiri, sebaiknya kau menyerah saja. Ilmu kanuragan mu tak akan mampu melawan ku. Menyerah ku ampuni nyawa mu dan kau boleh pergi ke Panjalu dengan tenang. Tapi jika kau keras kepala, akan ku pastikan bahwa kabar kematian mu sampai di Daha sepekan lagi ehehehehehehe..", Jerangkong Hitam menyeringai lebar setelah bicara demikian.


"Jangan sombong dulu, setan tua! Aku masih belum kalah!", Pangeran Rakeyan Jayagiri segera merentangkan kedua tangannya ke arah samping kanan dan kiri tubuhnya. Lalu dengan cepat ia mengangkat tangan nya ke atas kepala lalu menangkup di depan dada. Cahaya kuning kebiruan tercipta di kedua telapak tangannya. Sekitar tempat nya berdiri langsung terasa dingin karena angin dingin yang tiba-tiba muncul di sekitar tubuh adik tiri Prabu Bameswara ini. Setelah itu ia melesat cepat kearah Jerangkong Hitam sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya.


"Matilah kau, iblis tengkorak!


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!"


Jerangkong Hitam terkejut juga melihat itu semua. Dia tentu mengenali ilmu kanuragan yang di keluarkan oleh Pangeran Rakeyan Jayagiri. Dia langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menahan hantaman Ajian Chandrakirana yang di lepaskan oleh lawannya.


Blllaaammmmmmmm!!!


Tubuh kurus kering Jerangkong Hitam langsung terpental ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Dadanya remuk, beberapa tulang iganya patah dan menembus paru-parunya. Dia tewas seketika.


Semula Pangeran Rakeyan Jayagiri terlihat tersenyum lebar ketika ia melihat lawannya tewas, namun itu tidak berlangsung lama. Saat tiba-tiba saja muncul cahaya hijau kehitaman menutupi seluruh tubuh Jerangkong Hitam. Lelaki tua bertubuh kurus kering itu pun perlahan bangkit dari tempat jatuhnya sambil memegangi lebar menatap ke arah Pangeran Rakeyan Jayagiri.


"Ku akui Ajian Chandrakirana yang kau miliki sangat hebat, Pangeran Rakeyan Jayagiri. Tapi aku punya Ajian Rawa Rontek. Sehebat apapun ilmu kanuragan mu, kau tidak akan pernah bisa membunuh ku hahahaha..


Sekarang waktunya kau untuk mati!"