JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Melawan Jerangkong Hitam


Melihat lawannya bangkit kembali dari kematian, Pangeran Rakeyan Jayagiri segera mencari tempat dimana pedangnya tergeletak. Setelah melihat nya, sang calon penerus tahta Kerajaan Galuh Pakuan itu langsung menginjak tanah dengan keras. Pedang mencelat ke atas dan Pangeran Rakeyan Jayagiri segera menyambut gagang pedang nya dengan cepat.


Cahaya kuning kebiruan menyebar cepat kearah bilah pedang di tangan Pangeran Rakeyan Jayagiri. Rupanya dia ingin mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya dengan menggabungkan Ajian Chandrakirana dengan pedang pusaka peninggalan ibunya Dewi Naganingrum. Selain itu, tangan kirinya membentuk sebuah cakar yang memunculkan cahaya merah kekuningan dari kuku tangan kirinya yang memanjang. Ilmu puncak dari Cakar Rajawali Galunggung siap untuk merobek tubuh lawan.


Jerangkong Hitam menyeringai lebar melihat upaya Pangeran Rakeyan Jayagiri untuk mengalahkannya. Dengan penuh kesombongan, dia menunjuk ke arah Pangeran Rakeyan Jayagiri segera.


"Percuma saja kau buang-buang tenaga dalam mu, Pangeran Rakeyan Jayagiri!


Jangankan manusia, dewa sekalipun tidak bisa menyelamatkan nyawa mu dari tangan ku hari ini!"


Selepas berkata seperti itu, Jerangkong Hitam melesat cepat kearah Pangeran Rakeyan Jayagiri sembari menghantamkan pukulan tangan kanannya yang kurus namun berselimut cahaya hitam kemerahan yang menakutkan. Angin dingin berbau busuk seperti bangkai mengikuti gerakan sang pimpinan pemberontak.


"Matilah kau, pangeran keparat!!


Ajian Mayat Darah Kegelapan...


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!!"


Pangeran Rakeyan Jayagiri segera menyambut kedatangan serangan Jerangkong Hitam dengan tebasan cepat pedangnya kearah lawan. Selarik cahaya kuning kebiruan setipis bilah pedang memapak cahaya hitam kemerahan yang tercipta dari kepalan tangan kurus Jerangkong Hitam.


Blllaaammmmmmmm!!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat kedua ilmu kanuragan tingkat tinggi itu beradu. Keduanya sama sama tersurut mundur beberapa tombak. Para prajurit dan pemberontak yang sedang bertarung pun memilih untuk tidak mendekati tempat mereka beradu kemampuan beladiri. Wilayah barat Kotaraja Kawali menjadi medan pertempuran yang sengit.


Melihat lawannya bisa mengatasi serangan nya, Jerangkong Hitam menggeram keras sebelum kembali melesat cepat kearah Pangeran Rakeyan Jayagiri. Sang pangeran mahkota pun dengan cepat mengayunkan pedangnya beberapa kali ke arah Jerangkong Hitam.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!!!


Setidaknya ada 6 atau tujuh larik cahaya kuning kebiruan meluruk cepat kearah pergerakan Jerangkong Hitam. Melihat itu, Jerangkong Hitam mengumpat keras sembari membanting tubuhnya ke tanah untuk menghindar. Bagaimanapun juga, setiap serangan yang mengenai tubuhnya akan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa meskipun dia tidak akan mati. Karena itu, sedapat mungkin Jerangkong Hitam berupaya keras untuk menghindari tebasan pedang Pangeran Rakeyan Jayagiri yang mengandung kekuatan Ajian Chandrakirana.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!!


Jerangkong Hitam yang baru lolos dari maut, hendak memutar tubuhnya namun tiba-tiba saja Pangeran Rakeyan Jayagiri muncul di belakangnya dan mengayunkan cakar tangan kiri nya yang mengandung kekuatan Cakar Rajawali Galunggung.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh!!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Jerangkong Hitam menjerit keras kala cakar tangan kiri Pangeran Rakeyan Jayagiri merobek punggungnya. Bajunya langsung koyak dan lima larik luka sedalam dua ruas jari menyayat punggungnya yang kurus. Jerangkong Hitam terhuyung huyung hendak menjauh, akan tetapi Pangeran Rakeyan Jayagiri tidak membuang kesempatan. Dengan gerakan cepat, dia menyabetkan pedang nya ke arah leher Jerangkong Hitam.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!


Tubuh tua lelaki kurus itu langsung tersungkur bersimbah darah. Kepalanya jatuh menggelinding ke tanah sedangkan tubuhnya mengejang sesaat sebelum diam. Tanpa mengurangi kewaspadaan nya, Pangeran Rakeyan Jayagiri segera menjauh dari mayat Jerangkong Hitam.


Tiba-tiba saja, mata kepala Jerangkong Hitam yang sempat menutup setelah mati membuka dengan cepat. Begitu juga dengan tubuhnya yang perlahan bangkit dari tempat jatuhnya meskipun tanpa kepala. Tubuh kurus itu segera bergerak mendekati kepala Jerangkong Hitam dan meraih potongan kepala itu lalu meletakkannya di tempatnya.


Melihat itu, Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri mundur beberapa langkah ke belakang. Beberapa orang prajurit yang ada di dekatnya langsung membuat pagar betis untuk melindungi sang pangeran.


"Hahahaha, sudah ku bilang kalau percuma saja kau kuras semua tenaga dalam mu Pangeran Rakeyan Jayagiri. Kau tidak akan mampu untuk mengalahkan ku!"


Jerangkong Hitam dengan cepat menyilangkan kedua tangannya ke depan dada. Kedua tangan nya yang membentuk cakar seketika menghitam akibat cahaya hitam kemerahan yang tercipta dari Ajian Cakar Hawa Iblis Neraka miliknya. Lelaki tua bertubuh kurus itu rupanya benar-benar marah besar setelah dua kali di bunuh oleh Pangeran Rakeyan Jayagiri.


Setelah menjejak tanah dengan keras, tubuh kurus itu langsung melesat cepat bagaikan kilat ke arah Pangeran Rakeyan Jayagiri.


"Kroco kroco seperti kalian tak layak untuk menjadi lawan ku!"


Sepuluh larik cahaya hitam kemerahan menerjang ke arah para prajurit yang berdiri di depan Pangeran Rakeyan Jayagiri.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh shhrrraaakkkkkhh!!


Chhhrrraaaaaaasssssshhh chhraasshh!!!


Keenam orang prajurit yang sedang membentuk pagar betis di depan Pangeran Rakeyan Jayagiri tak menduganya bahwa nasib mereka akan begitu menyedihkan. Tubuh mereka terpotong-potong akibat ilmu kanuragan tingkat tinggi ini. Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri pun harus bersusah payah melawan sepuluh larik cahaya hitam kemerahan itu dengan mengayunkan pedangnya sembari bergerak mundur.


Thhrraaanggg thhrraaanggg..


Blllaaammmmmmmm!!


Melihat Pangeran Rakeyan Jayagiri masih bisa bertahan, Jerangkong Hitam segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Dari atas, dia segera mengayunkan kembali cakar tangan nya yang berselimut cahaya hitam kemerahan.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh shhrrraaakkkkkhh!!


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!


Pangeran Rakeyan Jayagiri harus berjumpalitan kesana kemari menghindari serangan balik Jerangkong Hitam yang seperti datang dari segala penjuru arah. Namun setelah cukup lama bertahan, tiba-tiba Jerangkong Hitam meluncur turun dengan cepat dan memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada kepalan tangan kanan dan menghantamkan nya pada Pangeran Rakeyan Jayagiri yang baru saja menjejak tanah.


Serangan cepat itu langsung di hadang oleh Pangeran Rakeyan Jayagiri dengan menyilangkan pedangnya ke depan dada.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Melihat sang putra mahkota Kerajaan Galuh Pakuan dijatuhkan, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja yang bertarung berdekatan dengan nya langsung melesat cepat kearah tempat Pangeran Rakeyan Jayagiri berada. Jaka Umbaran segera mendekat sedangkan Resi Simharaja mengawasi pergerakan Jerangkong Hitam sang pimpinan utama pemberontak.


"Gusti Pangeran, kau baik-baik saja?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Uhukkk uhukkk uhukkk..


Ouugghhh aku masih bisa bertahan. Manusia kurus itu tidak bisa mati. Ajian pamungkas Chandrakirana milik ku tak bisa membunuhnya", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Gusti Pangeran sebaiknya beristirahat. Urusan Jerangkong Hitam biar hamba yang menghadapi", tukas Jaka Umbaran sembari bangkit dan menatap ke arah Jerangkong Hitam yang terlihat ragu kala melihat sosok Resi Simharaja berdiri di samping tempat Jaka Umbaran dan Pangeran Rakeyan Jayagiri berada. Dia merasakan sesuatu yang tidak bisa di jelaskan kala mencoba untuk mengukur kemampuan beladiri pria paruh baya bertubuh kekar dengan pakaian serba putih ini.


Saat Jaka Umbaran hendak melangkah maju, tangan kanan Resi Simharaja menghadangnya.


"Hati-hati Ndoro..


Tulang hidup itu punya Ajian Rawa Rontek. Selama tubuhnya menyentuh tanah, dia tidak akan pernah mati", ucap Resi Simharaja memperingatkan majikannya.


"Aku mengerti...."


Jaka Umbaran segera mempersiapkan kuda-kuda ilmu beladiri nya sementara Jerangkong Hitam melangkah maju mendekati mereka. Perang terus berkecamuk lebih dahsyat lagi. Rupa-rupanya, bantuan dari pasukan lain yang diundang oleh Maharaja Prabu Langlangbumi telah datang. Keadaan yang semula berat sebelah karena para pendekar pemberontak lebih unggul dalam ilmu kanuragan, kini masing-masing di kepung ratusan orang prajurit dan ini tentu saja tidak baik untuk para pemberontak.


"Bocah, sebaiknya kau tidak ikut campur dalam urusan ini jika ingin tetap bisa melihat matahari terbit esok pagi.


Minggir, jangan halangi aku membunuh pangeran keparat itu!", hardik Jerangkong Hitam penuh ancaman.


"Kakek kurus, sebaiknya kau urungkan niat mu untuk merongrong kewibawaan pemerintah Kotaraja Kawali. Lihatlah para prajurit mu, mereka sudah mulai terpojok. Jika kau mundur, aku akan membiarkan mu pergi dari tempat ini dalam keadaan hidup", balas Jaka Umbaran segera.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Dasar kurang ajar!!!


Akan ku hancurkan tubuh mu sampai tak satupun orang yang akan mengenali mayat mu bocah tengik!"


Selepas memaki maki dan mengumpat keras, Jerangkong Hitam menggebrak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari mengayunkan cakar tangan nya yang berwarna hitam kemerahan. Melihat itu, Jaka Umbaran segera memejamkan matanya sebentar lalu membukanya dengan cepat. Manik mata pendekar muda ini bersinar kuning keemasan sebagai tanda bahwa dia sedang merapal Ajian Bandung Bondowoso nya.


"Mampus kau bocah keparat!


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh.....


Blllaaammmmmmmm!!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat cakaran cepat Jerangkong Hitam menghantam dada Jaka Umbaran. Lelaki tua bertubuh kurus kering itu terpental ke belakang namun dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dan mendarat dengan satu tangan menyangga tubuh. Dia langsung menegakkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Jaka Umbaran.


"Ajian Bandung Bondowoso...


Hemmmmmmm pantas saja kau begitu jumawa bocah tengik. Kita lihat saja seberapa kuat Ajian Bandung Bondowoso mu menahan Ajian Neraka Hitam milik ku!"


Kedua tangan kakek tua bertubuh kurus kering itu segera merentang lebar. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Cahaya gelap kemerahan tercipta di kedua kepalan tangannya. Angin dingin berdesir kencang berbau tidak sedap berseliweran di sekitar kedua tangan. Jerangkong Hitam lalu menyatukan dua cahaya hitam kemerahan itu di depan dada. Bola hitam kemerahan sebesar kepala gajah terlihat begitu menakutkan.


Sementara itu, Jaka Umbaran segera mengeluarkan Keris Pulanggeni dari dalam tubuh nya. Untuk mengimbangi kemampuan beladiri lawan yang berilmu tinggi, dia tidak mau setengah-setengah. Selain itu, dia juga merapal mantra Ajian Guntur Saketi di tangan kanannya sebagai penambah ketajaman bilah keris pusaka itu.


Setelah ilmu kanuragan nya sempurna, Jerangkong Hitam membentak keras sebelum melesat cepat kearah Jaka Umbaran sambil menghantamkan bola cahaya hitam kemerahan dengan kedua tangannya.


Whhhuuuggghhhh!


Secepat kilat, Jaka Umbaran segera menusukkan Keris Pulanggeni nya ke arah bola cahaya hitam kemerahan yang mengincar nyawa nya.


Chhhrreeepppppppphhhh...


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!


Ledakan mahadahsyat terdengar saat tusukan Keris Pulanggeni merobek bola cahaya hitam kemerahan itu. Gelombang kejut besar nya sanggup melemparkan apa saja yang dilalui nya. Jaka Umbaran sendiri juga tersurut mundur beberapa tombak akibat gelombang kejut besar ini, namun dia cerdik menggunakan Keris Pulanggeni untuk menahan dorongan gelombang kejut itu dengan menancapkan nya ke tanah. Selepas itu, Jaka Umbaran menggunakan ujung Keris Pulanggeni sebagai tumpuan untuk melenting tinggi ke udara, mengejar tubuh kurus Jerangkong Hitam yang juga terlempar ke belakang.


Jerangkong Hitam yang masih belum berhenti tersurut mundur, melotot lebar kala melihat Jaka Umbaran meluncur turun ke arah sambil membabatkan bilah Keris Pulanggeni ke leher.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Jeritan keras dari mulut Jerangkong Hitam terdengar saat Keris Pulanggeni memotong batang lehernya. Tubuhnya langsung terkulai hendak roboh ke tanah namun dengan cepat Jaka Umbaran yang mengetahui kelemahan dari Ajian Rawa Rontek dengan cepat menyambar nya sebelum menyentuh tanah. Saat yang bersamaan, Resi Simharaja yang melihat kepala Jerangkong Hitam mencelat langsung berubah wujud menjadi seekor harimau putih besar lalu melompat dan menangkap nya.


Keduanya segera saling berpandangan. Seolah tahu bahasa isyarat yang ada, kedua melesat cepat kearah api yang membakar salah satu pemukiman penduduk Kotaraja Kawali. Di sela gerakan tubuhnya, Jaka Umbaran menyambar beberapa tombak. Begitu sampai di dekat api yang berkobar, Jaka Umbaran cepat menusuk tubuh Jerangkong Hitam dengan tiga tombak dan melemparkannya ke arah api yang menyala. Setelah itu, Jaka Umbaran segera mengambil kepala Jerangkong Hitam dari mulut harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja dan menusukkan tombak di rahang lalu melempar nya ke arah kobaran api di rumah penduduk Kotaraja Kawali.


Jaka Umbaran terus mengamati api yang membakar jasad Jerangkong Hitam. Setelah memastikan bahwa Ajian Rawa Rontek sudah tidak mampu menghidupkan kembali lelaki tua bertubuh kurus itu, dia melangkah mendekati Pangeran Rakeyan Jayagiri yang masih berdiri sembari membekap dadanya yang terasa sesak di samping Resi Simharaja yang telah kembali berwujud manusia.


Sembari tersenyum lebar, Jaka Umbaran berkata perlahan,


"Pimpinan pemberontak telah terbunuh, Gusti Pangeran..."