
Ratu Racun Pembunuh segera menajamkan penglihatannya yang baru saja bangun. Saat menyadari siapa keempat orang yang sedang mengepungnya itu, mata Ratu Racun Pembunuh segera melebar saking kagetnya.
Ya, mereka berempat adalah Jaka Umbaran, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan, Resi Guru Ekajati dan Resi Simharaja. Mereka semua menatap tajam ke arah perempuan cantik berbaju hitam itu dengan penuh ancaman.
Tadi pagi setelah keempatnya meninggalkan tempat tinggal Mundingjaya, mereka terus bergerak cepat memburu pelaku penculikan Dewi Rengganis berdasarkan atas penciuman Resi Simharaja. Karena ingin secepatnya menyelamatkan nyawa murid Nyai Larasati itu, mereka seperti kesetanan bergerak tanpa henti menuju ke arah Bukit Gronggong. Sesampainya di persimpangan jalan, bau yang ditinggalkan oleh Ratu Racun Pembunuh dan Dewi Rengganis pecah menjadi dua bagian. Satu mengarah ke Bukit Gronggong satu lagi ke salah satu hutan kecil yang terdapat di beberapa tempat di sekitar kaki Bukit Gronggong.
Untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan yang akan terjadi, Resi Guru Ekajati memutuskan untuk lebih dulu melihat percabangan bau Ratu Racun Pembunuh. Mereka berempat bergegas pergi ke tempat Ratu Racun Pembunuh dan menemukan bahwa murid Hyang Racun Kegelapan ini sedang tertidur pulas di antara akar besar pohon wadang.
"Ba-bagaimana kalian semua bisa menemukan keberadaan ku disini?", kegugupan jelas terdengar dari suara yang keluar dari mulut Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh.
Bagaimana tidak gugup, tiga pengatur wilayah dunia persilatan Tanah Jawadwipa yang baru saja terpilih di tambah satu orang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan tatapan mata tajam seperti hendak menelan siapapun yang ada di depannya, kini sedang mengepung tempat nya. Jangankan berpikir untuk melarikan diri, untuk tetap bertahan hidup saja sangat susah jika dia memaksakan diri untuk melawan keempat orang ini.
"Itu bukan urusan mu. Sekarang katakan dimana kau sembunyikan murid ku? Kalau kau jujur mengatakan nya, mungkin aku masih bisa memberikan kesempatan pada mu untuk melihat matahari terbit esok hari", ucap Nyai Larasati penuh ancaman. Pedang di tangan kanannya sudah menempel di leher Ratu Racun Pembunuh, bersiap untuk mencabut nyawa murid Hyang Racun Kegelapan dari Gunung Ciremai.
"Tu-tunggu dulu Bidadari Angin Selatan, aku akan menjelaskannya..", ucap Ratu Racun Pembunuh segera.
"Jangan coba-coba untuk bermain licik dengan kami. Kalau kau berani untuk melakukannya, pedang ku ini tidak akan segan-segan untuk menebas batang leher mu ini", ucap Nyai Larasati sembari menekan ujung pedangnya ke kulit Nyi Dewayani. Tajamnya benda itu terlihat ketika menggores kulit leher Nyi Dewayani. Darah segar pun merembes keluar dari kulit leher perempuan cantik itu segera. Ini membuktikan bahwa ancaman Nyai Larasati tidak main-main.
"Tidak, aku tidak berani..
Murid mu itu aku serahkan kepada Dewa Guru Resi Atmabrata. Tadi malam aku bertemu dengan nya dan mengambil murid mu yang pingsan di kaki Bukit Gronggong", ujar Nyi Dewayani segera.
"Lantas kemana dia membawa nya?", Resi Guru Ekajati ikut angkat bicara.
"Dari arahnya, dia menuju ke sisi timur laut Bukit Gronggong. Aku tidak tahu apa maksud nya membawa murid mu itu kesana.
Tolong ampuni nyawa ku. Aku sudah mengatakan semua yang aku tahu", hiba Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh memelas.
Resi Guru Ekajati terkejut bukan main mendengar jawaban itu. Sesuai dengan omongan Mundingjaya, sepertinya Dewa Guru Resi Atmabrata ingin mengorbankan nyawa Dewi Rengganis sebagai tumbal persembahan untuk iblis yang bersekutu dengan nya.
"Jahanam...!!!
Dhhaaaassshhh...
Saking kesalnya mendengar jawaban itu, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan layangkan tendangan keras kearah dada si Ratu Racun Pembunuh hingga tubuh perempuan muda itu terpental dan menabrak batang pohon wadang. Darah segar meleleh keluar dari sudut mulutnya.
Sembari menahan amarah yang berkobar di dalam dada karena tidak terima dengan perlakuan Nyai Larasati, Ratu Racun Pembunuh yang menunduk merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya menyimpan dendam. Diam-diam perempuan cantik berbaju hitam itu perlahan merogoh balik bajunya. Dia ingin membunuh Nyai Larasati dengan jarum beracun yang dia miliki. Secepat kilat dia melemparkan dua senjata rahasia berbentuk jarum berwarna hitam ke arah Nyai Larasati yang baru saja berbalik badan.
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!!
Dalam keadaan gawat itu, Jaka Umbaran yang berada di samping Nyai Larasati sigap menangkap dua jarum hitam itu dengan tangannya dan mengembalikan senjata rahasia beracun itu ke pemiliknya.
Whuuthhh..
Chhhrreeepppppppphhhh chhreepppppph!
Aaaarrrgggggghhhhh..!!!
Kuatnya lemparan Jaka Umbaran yang mengandung tenaga dalam langsung membuat jarum hitam beracun itu melesak masuk ke dalam leher dan kening sang murid Hyang Racun Kegelapan. Perempuan cantik berbaju hitam itu langsung roboh dengan mata melotot lebar seperti sedang kesakitan yang luar biasa dan mulut yang perlahan mengeluarkan busa putih tanda keracunan. Dia tewas seketika.
Kejadian yang berlangsung cepat ini cukup mengagetkan Nyai Larasati dan Resi Guru Ekajati yang melonggarkan sedikit kewaspadaannya pada murid pendekar racun yang pernah menggemparkan dunia persilatan ini.
"Terpaksa saya membunuhnya karena dia sama sekali tidak punya niat untuk bertobat dan memperbaiki kesalahannya. Maaf..", ucap Jaka Umbaran segera setelah Resi Guru Ekajati dan Nyai Larasati menoleh ke arah nya.
Resi Guru Ekajati mengangguk mengerti sedangkan Nyai Larasati hanya diam saja sambil menatap ke arah mayat Ratu Racun Pembunuh yang tergeletak tak bernyawa di antara akar besar pohon wadang.
"Resi Simharaja, kami mengandalkan mu sekarang.."
Mendengar ucapan Jaka Umbaran itu, Resi Simharaja segera mengangguk mengerti. Mereka berempat pun segera melesat cepat kearah tempat dimana Dewi Rengganis di sekap. Gerakan tubuh para pendekar berilmu tinggi ini begitu lincah sampai mata orang awam yang melihatnya akan berpikir bahwa mereka sedang terbang menuju ke arah timur laut Bukit Gronggong.
Begitu memasuki kaki bukit, Resi Simharaja menghentikan langkahnya. Jaka Umbaran, Resi Guru Ekajati dan Nyai Larasati pun segera mengikuti langkah sang bekas raja siluman Alas Roban itu.
"Disana.. Bau nya berasal dari arah sana.."
Resi Simharaja menunjuk ke arah tebing batu yang menjulang cukup tinggi di arah timur laut. Mereka semua pun melanjutkan perjalanan ke arah yang ditunjuk oleh Resi Simharaja dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rimbun pepohonan depan pintu goa, mereka berempat pun segera berhenti.
"Bagaimana sekarang, Resi Guru?", bisik Nyai Larasati kepada Resi Guru Ekajati yang ada di dekatnya.
"Pendekar Jaka Umbaran dan Resi Simharaja akan mengatasi para penjaga itu sedangkan aku dan Nyai Larasati akan masuk ke dalam goa. Begitu para penjaga itu beres, maka pendekar berdua segera menyusul ke dalam. Bagaimana?", Resi Guru Ekajati menatap ke arah Jaka Umbaran, Nyai Larasati dan Resi Simharaja.
"Sepakat Resi Guru..
Kita harus bertindak secepat mungkin untuk menyelamatkan Dewi Rengganis", jawab Jaka Umbaran yang disambut dengan anggukan kepala dari Nyai Larasati dan Resi Simharaja.
Setelah semuanya sepakat, mereka berempat pun langsung melesat cepat kearah mulut goa yang dijaga oleh 6 orang murid Kedewaguruan Astanaraja.
"Hai siapa kalian? Orang luar dilarang masuk tempat ini!!", hardik salah seorang murid Kedewaguruan Astanaraja yang pertama kali melihat kedatangan Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Kawannya yang lain langsung mencabut senjata mereka masing-masing.
"Banyak omong!!!"
Sembari berkata begitu, Resi Simharaja berubah wujud menjadi seekor harimau putih besar yang segera melompat ke arah para murid Kedewaguruan Astanaraja sambil mengayunkan cakar tangan nya yang berkuku tajam.
Shhhrrrraaaaaakkkkkkh!!!
Satu orang murid Kedewaguruan Astanaraja langsung tersungkur bersimbah darah setelah cakar tajam Resi Simharaja mengoyak tubuhnya.
Sementara itu, Jaka Umbaran yang juga melesat cepat kearah lainnya juga berhasil menjatuhkan salah seorang murid Kedewaguruan Astanaraja dengan sekali hantam.
Bhhhuuuuuuggggh...
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Murid naas itu seketika terjungkal menyusruk tanah setelah kepalan tangan Jaka Umbaran yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi menghajar rahang nya yang membuat rahang murid Kedewaguruan Astanaraja ini patah seketika.
Meskipun cukup kaget dengan perubahan wujud Resi Simharaja dan keganasan Jaka Umbaran dalam bertarung, Nyai Larasati dan Resi Guru Ekajati segera masuk ke dalam goa yang menyebarkan aroma busuk menusuk hidung itu.
Puluhan obor tergantung pada dinding lorong goa yang lebarnya hanya sekitar dua depa. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh nya, kedua pendekar pilih tanding ini terus memasuki kedalaman goa dengan hati-hati. Bisa jadi akan ada banyak jebakan yang bisa membuat pergerakan mereka terganggu hingga jalan perlahan menjadi pilihan utama bagi keduanya.
Setelah hampir 30 langkah memasuki goa ini, mereka berdua menghentikan langkah kaki nya. Ada dua lorong yang mengarah ke kiri dan kanan. Diatas lorong terdapat sebuah tulisan yang berbunyi Iblis sedangkan satu lainnya tertulis Dewa.
"Resi Guru, kita harus kemana? Kalau aku pasti akan memilih lorong Dewa karena terlihat disana lebih terang. Lorong yang bertuliskan kata Iblis itu terlihat seperti neraka yang suram dan menakutkan", ucap Nyai Larasati segera.
"Ini adalah tipuan belaka, Nyai Larasati..
Tulisan Iblis itu sengaja dibuat untuk menakuti orang yang mencoba memasuki goa ini. Sedangkan goa yang bertuliskan kata Dewa terlihat lebih terang dari sebelahnya. Namun coba kau perhatikan, disana ada sebuah tengkorak kepala manusia. Itu artinya tempat itu penuh dengan jebakan mematikan", jawab Resi Guru Ekajati sembari menunjuk ke arah kedalaman lorong bertuliskan kata Dewa. Mata Nyai Larasati segera memicingkan matanya dan yang dikatakan oleh Resi Guru Ekajati ada benarnya.
Keduanya langsung melangkah maju ke arah lorong goa sebelah kiri yang cukup gelap. Sekitar 40 langkah kaki dari persimpangan, Resi Guru Ekajati dan Nyai Larasati tertegun melihat pemandangan yang ada di depan mata mereka.
Setidaknya ada sekitar 10 sampai 20 orang perempuan terkurung dalam penjara dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Sedangkan di atas meja batu di depan altar pemujaan sebuah arca aneh bertanduk, Dewi Rengganis sedang terbaring lemah dengan tangan dan kaki terikat pada pinggiran meja batu. Wajahnya memucat dan bibirnya terlihat membiru seperti sedang terkena racun.
Melihat itu, Nyai Larasati langsung bergegas menuju ke arah meja batu besar itu untuk membebaskan murid kesayangannya. Sekali ayun, pedangnya langsung menebas tali-tali yang mengikat tangan dan kaki Dewi Rengganis.
Sedangkan para perempuan muda yang terkurung dalam penjara saat melihat Nyai Larasati membebaskan Dewi Rengganis langsung tahu bahwa dua orang tua itu datang untuk menyelamatkan nyawa gadis yang terikat di meja batu. Mereka pun segera mendekati jeruji besi sambil mengeluarkan tangannya, berusaha menggapai Nyai Larasati dan Resi Guru Ekajati.
"Tolong, selamatkan kami dari tempat terkutuk ini", hiba salah seorang perempuan muda itu disertai linangan air mata. Mendengar itu, Resi Guru Ekajati segera mencari pintu penjara itu namun pintu ini di rantai dengan kuat.
"Kalian mundur ke tepi dinding! Aku akan menghancurkan pintu penjara ini"
Para perempuan muda itu langsung mematuhi perintah Resi Guru Ekajati. Mereka semua merapat ke dinding batu, sementara Resi Guru Ekajati mulai mengalirkan tenaga dalam nya pada kedua telapak tangan. Cahaya putih kehijauan menyilaukan mata tercipta di kedua telapak tangan Resi Guru Ekajati. Pendekar tua itu langsung menghantam jeruji besi penjara.
Blllaaammmmmmmm!!!
Jeruji penjara ini langsung bengkok dan melebar hingga cukup besar untuk digunakan sebagai jalan keluar dari dalam penjara. Satu persatu perempuan muda itu segera keluar dari dalam jeruji besi yang selama ini telah memenjara mereka dengan wajah penuh senyum kebahagiaan.
Namun, kebahagiaan itu langsung sirna manakala sebuah suara berat yang sangat mereka kenali terdengar dari arah lorong yang tidak dimasuki oleh Nyai Larasati dan Resi Guru Ekajati,
"Apa yang sedang kau lakukan ha?!!"