
"Weh, jangan-jangan karena hadiahnya ya Ndoro Pendekar? Aku tadi juga dengar kalau yang memenangkan sayembara itu akan dijadikan sebagai menantu oleh Adipati Wangsakerta.
Lantas bagaimana dengan nasib Dewi Rengganis? Mau di duakan cinta nya ya Ndoro?", cerocos Gendol sembari terkekeh kecil. Jaka Umbaran segera mendelik ke arah nya.
"Sembarangan saja..
Cinta ku untuk Rengganis tidak akan pernah bisa hilang meskipun ada orang baru di kehidupan ku", jawab Jaka Umbaran sedikit ketus.
"Dan bukan cuma Rengganis, Ndol..
Tapi Ndoro Umbaran juga sudah berhasil memikat hati cucu putri Prabu Langlangbumi dari Kerajaan Galuh Pakuan. Putri cantik itu sudah berjanji akan menunggu kedatangan Ndoro Umbaran", celetuk Resi Simharaja segera.
"Ckckck..
Rupanya ada bakat jadi penakluk wanita cantik ya majikan ku ini. Salut buat Ndoro Pendekar, istimewa...", saat Gendol hendak melanjutkan ocehan nya, tiba-tiba..
Plleeettttakkkkkk...
"Aduh biyung, kenapa Ndoro Pendekar menjitak kepala ku. Sakit Ndoro..", ucap Gendol sembari mengelus kepalanya yang benjol setelah Jaka Umbaran menjitak nya dengan keras.
"Itu akibatnya jika kau banyak bicara..
Ayo berangkat. Kalau kau lambat, akan ku tinggal", Jaka Umbaran segera mendekati pemilik warung makan yang bersembunyi dibalik pepohonan. Dia memberikan 10 kepeng perak sebagai ganti rugi kerusakan perabotan rumah makan yang hancur akibat perkelahian tadi dan biaya makan untuk nya dan dua pengikutnya. Semula si pemilik warung makan menolak karena takut, namun Jaka Umbaran bersikeras bahwa ia tidak mau berhutang kepada siapapun orangnya. Akhirnya si pemilik warung makan menerima dan mengucapkan terima kasih berulang kali atas kebaikan hati sang pendekar muda.
Setelah urusan warung makan beres, Jaka Umbaran segera melompat ke atas kuda nya diikuti oleh Gendol dan Resi Simharaja. Mereka bertiga pun segera memacu kuda nya ke arah Utara, tepatnya ke arah Pakuwon Sukowati yang masuk ke dalam wilayah Kadipaten Lewa.
Sebagai wilayah Kadipaten Lewa yang diapit oleh dua gunung besar yakni Gunung Wilis di sebelah timur dan Gunung Lawu di barat, Pakuwon Sukowati menjadi daerah subur yang kaya akan hasil bumi seperti padi-padian juga palawija. Wilayah ini termasuk salah satu yang paling makmur diantara wilayah Kadipaten Lewa yang lain. Terlebih lagi, Pakuwon Sukowati dikenal sebagai tempatnya wanita cantik. Bahkan permaisuri Adipati Wangsakerta pun berada dari Pakuwon Sukowati. Jika dibandingkan dengan para perempuan di wilayah lainnya, para wanita daerah ini selalu unggul.
Hanya sayangnya, kecantikan mereka sering disalahgunakan oleh para mucikari yang mengelola berbagai tempat pelacuran yang ada di seputar Kota Kadipaten Lewa. Mereka sering datang ke Pakuwon Sukowati untuk menipu para perempuan muda dengan iming-iming hidup mewah dan banyak uang agar mau diajak ke kota. Seringnya hal ini terjadi, membuat para penduduk Pakuwon Sukowati mulai menolak setiap orang yang mengajak mereka untuk bekerja di kota. Akibatnya, tempat-tempat wisata hawa nafsu di Kota Kadipaten Lewa kehilangan banyak pekerja nya. Oleh karena itu, mereka kemudian menjalin kerjasama dengan satu kelompok perampok yang menamakan dirinya sebagai Gerombolan Gagak Hitam.
Di bawah pimpinan Gagak Hitam Lengan Seribu, kelompok perusuh ini banyak melakukan penculikan perempuan muda di kawasan Sukowati untuk dijual kepada para mucikari di kota. Mereka pun mendapatkan keuntungan besar dari perbuatan keji ini.
Akuwu Sukowati, Mpu Winarka, sebenarnya sudah berusaha keras untuk melindungi seluruh penduduk Pakuwon Sukowati dengan berbagai cara namun kekuatan para prajurit nya tak mampu melawan keganasan para anggota Gerombolan Gagak Hitam. Bahkan dengan bantuan dari para prajurit Kadipaten Lewa pun, tak juga mampu menghalau perbuatan biadab para pengikut Gagak Hitam Lengan Seribu.
Di pendopo pisowanan Pakuwon Sukowati, telah berkumpul seratusan orang yang ingin ikut sayembara penumpasan Gerombolan Gagak Hitam yang bermarkas di kaki Gunung Wilis sebelah barat tepatnya di Alas Mruwak. Mereka terdiri dari para pendekar dunia persilatan dari berbagai perguruan maupun pendekar tanpa perguruan. Ada yang masih sangat muda, ada yang telah paruh baya, bahkan ada yang sudah tua. Tak hanya para lelaki, bahkan para pendekar wanita pun juga banyak yang ikut serta. Semuanya memang tergiur dengan besarnya hadiah besar yang dijanjikan.
"Heh lama sekali Akuwu Sukowati ini keluar. Kita sudah cukup lama menunggu disini, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan segera keluar.
Dia sama sekali tidak menghargai kita..", ujar seorang pendekar paruh baya golongan putih bertubuh kekar dengan memanggul senjata berupa palu besar yang belakang nya berbentuk lancip seperti kapak. Dia adalah Si Pendekar Alugara yang cukup punya nama besar dari wilayah Kadipaten Wengker.
"Benar juga kata mu, Pendekar Alugara..
Sepertinya Akuwu Sukowati ini sengaja mengulur-ulur waktu untuk berangkat ke Alas Mruwak. Lihatlah, matahari telah condong ke barat. Sebentar lagi sore hari tiba", ujar seorang pendekar wanita cantik yang berusia sekitar 3 dasawarsa berbaju minim sekali dengan menggunakan kemben hitam dan celana pendek diatas lutut. Kemben hitam itu seperti tidak sanggup menutupi buah dadanya yang besar. Jika tidak ada selendang hijau yang cukup panjang, pasti dia akan terlihat seperti sedang memancing birahi dari setiap lawan jenis. Dia adalah Si Dewi Kembang Beracun, seorang pendekar wanita yang cantik golongan abu-abu yang suka mengumbar kemolekan tubuhnya untuk memperdaya lawan yang dihadapi. Jangankan untuk sampai memuaskan hasrat, setiap lawannya kebanyakan akan tewas jika sampai terkena sentuhan mautnya.
"Ah itu sudah pasti, Kembang Beracun..
Aku yakin, Akuwu Sukowati ingin kita gagal dalam upaya untuk ikut serta menumpas Gerombolan Gagak Hitam. Huh, tahu begini, aku berangkat duluan ke Alas Mruwak untuk memenggal kepala Gagak Hitam Lengan Seribu", ucap seorang lelaki tua berkepala botak berjanggut pendek berpakaian serba abu-abu. Dia adalah Si Demit Abu-abu, pendekar golongan hitam asal Lembah Sungai Wulayu yang ada di wilayah perbatasan wilayah utara Kadipaten Lewa. Lelaki tua bermulut kasar ini terkenal kejam dan tidak segan-segan bertindak tanpa ampun jika merasa tersinggung.
"Jangan sombong kau, tua bangka!
Apa kau pikir kau mampu menghadapi Gagak Hitam Lengan Seribu ha? Senopati Lewa saja tak berdaya melawan nya, apalagi cuma kau yang sudah bau tanah!"
Suara lantang itu segera membuat semua orang yang ingin ikut serta dalam sayembara itu menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal dan pakaian mewah selayaknya seorang bangsawan muncul dari dalam bangunan di belakang pendopo pisowanan Pakuwon Sukowati. Semua orang langsung tahu bahwa dia adalah Akuwu Mpu Winarka, salah seorang pendekar yang cukup punya nama besar di dunia persilatan namun sekarang dia memilih untuk menjadi seorang pejabat negara usai menikahi putri Akuwu Sukowati sebelumnya. Si Demit Abu-abu langsung terdiam mendengar ucapan itu. Meskipun dia kesal dengan omongan pedas Akuwu Mpu Winarka, namun dalam hati dia membenarkan hal itu adanya.
"Dengarkan aku baik-baik semuanya..
Yang ingin mati konyol secepatnya, silahkan berangkat sekarang juga. Aku tidak akan menghalangi niat kalian, tapi jika ingin punya kesempatan untuk memenangkan hadiah sayembara itu, maka sebaiknya kalian ikuti saran ku", ucap Mpu Winarka sambil menatap ke sekeliling pendopo pisowanan. Semua orang langsung bisik-bisik satu dengan lainnya untuk menyampaikan isi hati mereka.
"Baiklah Akuwu Sukowati, kami ikuti saran mu tapi tidak juga lama-lama. Sebab aku khawatir jika kita akan keduluan dengan kelompok lainnya", ucap Si Pendekar Alugara segera.
"Asalkan jumlah kita sudah mendekati 200 orang, aku pastikan kita semua berangkat secepatnya ke Alas Mruwak. Kalau besok pagi jumlah orang telah cukup, besok pagi juga kita berangkat. Aku pastikan itu", ucap Mpu Winarka tegas.
Setelah itu, acara pertemuan itu segera dibubarkan. Para pendekar pun langsung mencari tempat bermalam di sekitar Kota Pakuwon Sukowati karena matahari semakin condong ke arah barat.
Dari arah selatan Jaka Umbaran dan Resi Simharaja serta Gendol terlihat memasuki tapal batas Kota Pakuwon Sukowati. Sesampainya di gerbang masuk kota, Gendol terlihat mengernyitkan keningnya.
"Kenapa kau Ndol?", tanya Jaka Umbaran yang menjalankan kudanya perlahan ketika memasuki kota.
"Kota ini jadi terlihat ramai, tidak seperti dulu. Ada apa gerangan ya?", Gendol menggaruk kepalanya.
"Siapa yang tahu? Coba saja tanya pada penduduk Ndol, mungkin saja mereka tahu", sahut Resi Simharaja yang menjajarkan kudanya di samping Jaka Umbaran.
"Weh, tumben sekali kau cerdas macan tua.. Tunggu sebentar ya..", Gendol langsung menarik tali kekang kudanya hingga tunggangan nya itu langsung berhenti seketika. Setelah itu, tanpa mempedulikan lagi gerutu Resi Simharaja, ia melompat turun dari kudanya dan mendekati seorang lelaki paruh baya yang sedang memanggul pikulan berisi singkong.
Tak berapa lama kemudian Gendol kembali ke samping Jaka Umbaran dan menerangkan tentang apa yang sedang terjadi di Kota Pakuwon Sukowati.
"Jadi Akuwu Sukowati mengumpulkan para pendekar dunia persilatan yang tertarik untuk mengikuti sayembara itu agar mampu menandingi kekuatan Gerombolan Gagak Hitam?
Hemmmmmmm...
Dia cukup cerdas juga dalam menyusun rencana. Melawan ratusan orang menggunakan ratusan orang pula adalah tindakan bijaksana", ucap Jaka Umbaran segera.
"Apa kita bergabung saja dengan mereka Ndoro Pendekar?
Semakin banyak yang ikut bertarung, maka tugas kita akan semakin ringan", ucap Gendol sembari menatap ke arah sang majikan.
"Itu juga boleh. Tujuan kita hanya kepala Gagak Hitam Lengan Seribu. Kalau hadiah nya, itu nomor yang kesekian kalinya.
Lantas bagaimana cara kita bergabung dengan Akuwu Sukowati ini?", tanya Jaka Umbaran segera.
"Kata orang itu tadi, kita langsung saja ke Istana Pakuwon. Akan ada orang yang mencatat kita.
Kalau boleh saran sih, sebaiknya kita cepat kesana. Sebentar lagi malam akan segera tiba. Tuh langitnya sudah mulai memerah", ucap Gendol segera. Jaka Umbaran mengangguk mengerti dan ketiganya langsung menuju ke Istana Pakuwon Sukowati. Selain mereka, rupanya kelompok murid Padepokan Bukit Asam yang dipimpin oleh Si Pendekar Golok Serigala Perak dan Si Pendekar Pedang Kembar serta beberapa pendekar lainnya ikut bergabung.
Namun, bukan mereka yang menarik perhatian Jaka Umbaran. Melainkan sepasang pendekar yang mengenakan caping bambu bertirai hitam. Sepertinya mereka adalah sepasang pendekar pria dan wanita. Ini terlihat dari dandanan mereka yang tetap menunjukkan adanya perbedaan meskipun memakai pakaian sewarna.
"Apa Ndoro Umbaran juga merasakan keanehan pada dua orang bercaping bambu itu?", bisik Resi Simharaja lirih.
"Iya, aku juga merasakan nya Resi Simharaja. Mata batin ku tak mampu menembus selubung ghaib yang menutupi wajah di balik tirai hitam itu. Jika diperhatikan benar-benar, mereka sering melihat ke arah ku.
Aku benar-benar penasaran dengan siapa mereka berdua ", balas Jaka Umbaran dengan lirih pula.
Mendengar itu, Resi Simharaja menghela nafas panjang sebelum kembali berbisik pada Jaka Umbaran lirih,
"Bukan cuma itu yang membuat saya merasa aneh dengan kedua orang bercaping bambu itu, Ndoro Umbaran. Akan tetapi saya telah mencium..
Bau keringat yang sama dengan Ndoro.."