JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pertarungan Antar Saudara Seperguruan ( bagian 2 )


"Bukan...


Itu bukan Ajian Tameng Waja. Ilmu kanuragan nya itu berpusat pada mata yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh sedangkan Ajian Tameng Waja berasal dari dada. Kalau Ajian Tameng Waja hanya sebatas perlindungan keseluruhan, tapi ajian Jaka Umbaran juga sepertinya meningkatkan kekuatan nya. Perbedaannya jelas sekali dan tidak bisa disamakan", jawab si caping bambu bertirai hitam laki-laki sembari terus menatap ke arah Jaka Umbaran yang masih berdiri kokoh di tempatnya semula.


"Itu artinya ilmu kanuragan perlindungan pemuda itu lebih sempurna dibandingkan dengan Ajian Tameng Waja, Kakang?", tanya si caping bambu bertirai hitam perempuan kemudian.


"Aku tidak tahu, Nimas..


Tapi yang jelas pada dasarnya kedua ilmu kanuragan itu sama. Sama-sama perlindungan tubuh, perbedaannya seperti yang aku sebutkan tadi", saat si caping bambu bertirai hitam perempuan hendak kembali melanjutkan pertanyaannya, Jiwandana melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari mengayunkan sepasang pedangnya yang melengkung seperti bulan sabit ke arah Jaka Umbaran. Gerakannya sungguh sangat cepat, bagaikan putaran baling-baling kincir angin di persawahan yang sedang ditiup angin kencang.


Thhrraaanggg thhrraaanggg thhrraaanggg!!!


Tebasan pedang melengkung bercahaya merah menyala berhawa panas itu langsung membabat tubuh Jaka Umbaran bertubi-tubi. Namun, sekalipun batu besar pun akan hancur lebur saat terkena sabetan pedang melengkung milik Si Gagak Hitam Lengan Seribu itu, namun nyatanya tak sedikitpun kulit Jaka Umbaran tergores ketika bilah tajam pedang itu menebasnya secara beruntun. Malahan, pedang andalan Si Gagak Hitam Lengan Seribu itu seperti mengenai lempengan logam keras hingga bunga api kecil terciprat ke segala arah.


Melihat serangannya sama sekali tidak ada gunanya untuk menghadapi Jaka Umbaran, Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu melompat mundur beberapa tombak ke belakang sembari mendengus keras. Dia mulai teringat saat menghadapi gurunya kala itu. Ilmu kanuragan yang di gunakan oleh Jaka Umbaran, sama persis dengan yang digunakan oleh orang tua itu saat menghajarnya habis-habisan dulu.


"Hei kau, apa hubungan mu dengan Maharesi Siwamurti dari Pertapaan Watu Bolong ha?!", hardik si Gagak Hitam Lengan Seribu sembari mengacungkan pedangnya ke arah Jaka Umbaran.


"Sepertinya kau mengenal Ajian Bandung Bondowoso yang aku gunakan. Atau jangan-jangan, melihat ilmu pedang yang kau pakai, kau adalah si murid murtad Pertapaan Watu Bolong yang bernama Jiwandana itu ya?", mendengar pertanyaan Jaka Umbaran ini, Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahaha..


Kalau iya, memangnya kau mau apa? Tua bangka itu memang bekas guru ku dulu. Apa kau juga berguru kepada nya?", Jiwandana menatap tajam ke arah Jaka Umbaran. Sementara tak jauh dari tempat mereka beradu ilmu kesaktian, pertarungan sengit antara para peserta sayembara dan anak buah Gerombolan Gagak Hitam masih berlangsung.


"Benar, aku murid Maharesi Siwamurti. Tugasku sebagai murid nya, adalah mengambil kembali Kitab Ilmu Pedang Lengan Seribu yang telah kau curi. Kembalikan sekarang, mungkin aku masih bisa mengampuni nyawa mu", ucap Jaka Umbaran tegas.


Phhuuuiiiiiihhhhh...!!


"Mengambil kembali kitab pusaka itu? Kau bisa melakukannya setelah melangkahi mayat ku, bocah bau kencur!!!", selepas berkata seperti itu, mulut Si Gagak Hitam Lengan Seribu segera komat-kamit merapal mantra. Kedua pedang bulan sabit yang semula memancarkan cahaya merah menyala perlahan berganti dengan cahaya putih kebiruan yang ternyata adalah Ajian Guntur Saketi yang dia salurkan pada kedua pedang di tangan nya.


Sembari menggembor lantang, Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran yang juga merapal mantra Ajian Guntur Saketi. Jaka Umbaran menghantamkan tangan kanannya ke arah putaran cepat kedua pedang Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu yang bergerak ke arah nya.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat kedua ajian pamungkas milik saudara seperguruan ini beradu. Jaka Umbaran tersurut mundur 2 tombak jauhnya ke arah belakang, sementara itu Jiwandana juga sama. Namun, ada satu hal yang membuat Jiwandana mendelik murka kepada Jaka Umbaran tatkala melihat pedang bulan sabit di tangan kanannya telah patah separuh.


"Bajingan tengik!!!


Akan ku buat kau membayar atas apa yang terjadi pada pedang ku haaaaaarrrrrrrrgghhh!!!"


Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu langsung menyilangkan kedua tangannya ke depan dada. Mulutnya kembali komat kamit membaca mantra. Tiba-tiba saja tubuhnya membesar hingga ototnya terlihat menonjol keluar dari seluruh tubuhnya. Kini ukuran tubuhnya hampir dua kali lipat dari semula. Matanya berwarna merah darah dengan gigi taring memanjang seperti siluman.


"Ajian Bolo Sewu?!


Haruskah kita membantunya sekarang, Kakang? Pemuda itu dalam bahaya besar!!", ucap si caping bambu bertirai hitam perempuan itu sembari terus memperhatikan jalannya pertarungan antara Jaka Umbaran dan Jiwandana kakak seperguruan nya.


"Kita lihat saja dulu, Nimas..


Jangan bertindak gegabah jika tidak ingin penyamaran kita terbongkar. Jika memang pemuda itu butuh bantuan, aku sendiri yang akan maju. Tapi aku rasa dia tidak akan membutuhkan nya", ujar si caping bambu bertirai hitam laki-laki tanpa memalingkan wajahnya dari arah pertarungan yang sengit itu.


"Darimana Kakang punya keyakinan semacam itu? Kakang saja baru kemarin bertemu dengannya", ujar si caping bambu bertirai hitam perempuan sedikit kesal.


"Sudahlah, lihat saja nanti..", ucap si caping bambu bertirai hitam laki-laki menutup perdebatan antara dia dan pasangan nya karena melihat lawan Jaka Umbaran, melesat cepat bagaikan kilat ke arah Sang Pendekar Gunung Lawu dengan menghantamkan tapak tangan kanannya yang di lapisi dengan Ajian Guntur Saketi.


Whhhuuuuuggggghhhh...


Jaka Umbaran pun segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada kedua lengan tangannya. Cahaya kuning keemasan berpendar lebih terang di tubuh sang pendekar muda saat hantaman tangan kanan Jiwandana datang.


Blllaaammmmmmmm...!!!!


Tubuh Jaka Umbaran mencelat jauh. Jiwandana langsung meloncat dan melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari melayangkan pukulan cepat bertubi-tubi yang di lapisi dengan Ajian Guntur Saketi ke arah sang pendekar muda. Memang, kekuatan tubuh dan tenaga dalam milik Jiwandana meningkat puluhan kali lipat dari sebelumnya akibat Ajian Bolo Sewu yang di rapalkan. Dia kini menjelma menjadi sesosok makhluk menyeramkan yang menakutkan bagi siapapun yang berani untuk menantang nya.


Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Sekitar tempat pertarungan antara Jaka Umbaran dan Jiwandana hancur porak poranda. Beberapa pohon yang tumbuh di Alas Mruwak, meledak dan terbakar sementara itu lobang lobang sebesar kerbau menganga lebar dimana-mana. Para petarung yang tidak ingin menjadi korban dari serangan nyasar mereka, memilih untuk tidak dekat-dekat dengan tempat pertarungan paling seru yang terjadi di tempat itu.


Tubuh Jaka Umbaran terus terpental kesana kemari saat menerima hantaman Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu yang terus mengamuk seperti sedang kesetanan. Kuatnya tenaga dalam yang meningkat pesat, hanya bisa di imbangi Ajian Bandung Bondowoso yang melindungi seluruh tubuh sang pendekar. Namun beberapa bagian baju Jaka Umbaran telah robek meskipun kulit tubuhnya tidak terluka sama sekali.


Usai menerima hantaman Jiwandana yang kesekian kalinya, Jaka Umbaran mulai merapal mantra Ajian Brajamusti. Cahaya biru terang mulai terkumpul di telapak tangan kanannya. Hawa panas menyengat pun perlahan menyebar di sekeliling tubuh nya, disertai gemuruh angin kencang yang menderu-deru. Saat itu, Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu melesat cepat kearah samping kiri sang pendekar muda. Melihat itu, Jaka Umbaran pun segera memapak serangan cepat Jiwandana dengan kepalan tangan kanan nya yang berwarna biru terang.


Whhhuuuuuuuutttttth!


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr....!!!!


Jiwandana yang tak pernah menyangka jika Jaka Umbaran menyerang balik, langsung terpental jauh ke belakang hingga puluhan tombak dan jatuh menyusruk tanah dengan. Dia langsung bangkit dari tempat jatuhnya namun...


Hoooooooeeeeeeeggggghhhh!!!


Pria bertubuh kekar ini seketika memuntahkan darah segar dari mulutnya. Dadanya sesak bukan main dan seluruh tubuh nya terasa panas bagaikan terbakar api. Dia langsung lemas dan berusaha keras untuk tetap menegakkan tubuhnya dengan satu dengkul menyangga di tanah.


Melihat pimpinan Gerombolan Gagak Hitam ini sedang tidak baik-baik saja, Tirtonolo yang lolos dari hadangan si topeng burung gagak berukir hiasan perak, mencoba mengambil kesempatan untuk mengambil nyawa Jiwandana dengan mengayunkan senjatanya ke arah leher Si Gagak Hitam Lengan Seribu ini.


"Mampus kau, keparat..!!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!"


Shhhrrrreeeeettttth.....


Namun saat yang bersamaan, si caping bambu bertirai hitam perempuan langsung mengibaskan tangannya. Gelombang cahaya putih kekuningan menerabas cepat kearah cahaya putih yang keluar dari Golok Serigala Perak milik Tirtonolo.


Blllaaammmmmmmm!!!


Melihat serangannya di tangkis oleh salah satu pendekar peserta sayembara, Tirtonolo si Pendekar Golok Serigala Perak mendengus geram. Dia langsung menunjuk ke arah si caping bambu bertirai hitam perempuan itu.


"Keparat!!!


Kau sebenarnya ada di pihak siapa ha? Kenapa kau halangi niat ku untuk memenggal kepala perampok itu?!!", ucap Tirtonolo lantang.


"Kau bukan orang yang mengalahkannya, jadi kau tidak berhak untuk mengambil nyawa perampok busuk ini..", balas si caping bambu bertirai hitam perempuan itu segera.


"Kauuuuu...."


Belum sempat Tirtonolo melanjutkan omongan nya, Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu itu melemparkan sesuatu yang dia sembunyikan di balik bajunya ke arah Tirtonolo.


Shhhrriinggg.....


Jllleeeeeppppphhh auuuggghhhhh!!!


Tirtonolo menjerit keras saat sebuah pisau belati yang dilemparkan oleh Jiwandana, menembus dada kiri nya. Dia langsung roboh dengan darah segar yang memancar keluar dari luka yang dia alami. Sesaat kemudian, dia mengejang sebelum akhirnya diam untuk selamanya.


Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga tak seorang pun bisa menolong Tirtonolo. Jaka Umbaran yang geram melihat itu, langsung menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Jiwandana yang masih berjongkok dengan satu dengkul menyangga tubuh. Dia langsung menyambar sebilah pedang melengkung milik Si Gagak Hitam Lengan Seribu yang tergeletak di tanah lalu menebas leher saudara seperguruannya itu dengan sekali ayunan.


Shhhrrrreeeeettttth.. Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!!


Kepala Jiwandana sang pimpinan Gerombolan Gagak Hitam langsung terpotong dari batang lehernya dan mencelat satu tombak jauhnya dari tempat nya berada. Hari ini, pimpinan Gerombolan Gagak Hitam yang namanya sangat ditakuti oleh para penduduk di sekitar wilayah Panjalu tengah, kehilangan nyawa di tangan Jaka Umbaran tanpa sempat berteriak. Tubuhnya yang tanpa kepala, roboh ke tanah. Tak lama kemudian, darah segar menggenang di bawah tubuhnya.


Gendol langsung menyambar kepala Jiwandana sang Gagak Hitam Lengan Seribu dan memasukkan nya ke dalam kain yang dia temukan. Resi Simharaja pun segera melesat cepat kearah samping nya karena khawatir akan keselamatan Gendol yang akan menjadi incaran para peserta sayembara itu.


Sedangkan para pengikut Gagak Hitam Lengan Seribu yang masih hidup, langsung berhamburan melarikan diri tatkala melihat pimpinan mereka terbunuh oleh Jaka Umbaran.


Sepasang pendekar bercaping bambu tirai hitam bersama Besur dan Baratwaja pun langsung mendekati Jaka Umbaran yang sedang mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya. Mata sang pendekar bercaping bambu tirai hitam laki-laki itu langsung melebar saat melihat tanda lahir berbentuk seperti roda bergerigi di punggung kanan Jaka Umbaran. Dia langsung menoleh ke arah sang pendekar perempuan bercaping bambu tirai hitam sambil menunjuk ke arah punggung kanan Jaka Umbaran.


"Nimas, tanda lahir itu..."