
"Racun???
Racun apa yang ada dalam tubuh putri ku, Tabib Sakti?", tanya Pangeran Rakeyan Jayagiri sembari menatap ke arah wajah Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu itu segera.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Ini bukanlah racun biasa tapi racun sihir yang di kirimkan oleh dukun teluh. Nama racun sihir ini adalah Racun Teluh Kalawisa. Siapapun yang terkena, akan mengalami penurunan daya tahan tubuh, tubuhnya seperti pingsan tapi sebenarnya masih sadar, batin dan jiwanya di belenggu rantai ghaib yang perlahan mengikis jiwanya hingga sang korban akan terbunuh setelah 40 hari lama nya.
Singkat kata, Gusti Putri Padmadewi terkena teluh atau guna-guna yang di kirimkan oleh orang yang sakit hati kepada nya", urai Buyut Wangsanaya sambil menghela nafas panjang.
Mendengar uraian ini, baik Pangeran Rakeyan Jayagiri maupun sang Istri Nararya Citradewi Sang Mayang Galuh langsung saling berpandangan. Keduanya segera menelaah berbagai kejadian yang terjadi akhir-akhir ini untuk menduga-duga siapa pelaku pengirim guna-guna pada putri sulungnya itu. Pikiran kedua nya langsung tertuju pada kejadian dua purnama yang lalu.
"Prabu Pule Baas dari Nusa Kambangan..", ucap Nararya Citradewi Sang Mayang Galuh dan Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri bersamaan.
"Iya pasti dia pelaku pengirim guna-guna ini, Tabib Sakti. Tak salah lagi", imbuh Pangeran Rakeyan Jayagiri dengan cepat.
"Hamba kurang mengerti apa maksud omongan Gusti Pangeran", Buyut Wangsanaya membungkuk hormat kepada Pangeran Rakeyan Jayagiri setelah bicara demikian.
"Begini ceritanya..
Dua purnama yang lalu, datang serombongan orang yang mengaku sebagai utusan dari Prabu Pule Baas dari Nusa Kambangan. Salah satunya adalah Patih Widura yang menjadi pimpinan rombongan itu. Aku menyambut kedatangan mereka dengan baik. Bahkan Mangkubumi Ranayasa pun juga ikut ada saat itu.
Setelah berbincang bincang sebentar, Patih Widura menyampaikan maksud kedatangan mereka ke Kawali. Mereka menyampaikan niat dari Prabu Pule Baas sang Penguasa Kerajaan Pulau Nusa Kambangan yang ingin meminang Putri ku Padmadewi untuk dijadikan sebagai permaisuri. Tentu saja hal ini tak bisa aku terima karena aku punya perjanjian dengan Kangmas Prabu Bameswara dari Panjalu bahwa kelak jika putra putri kami sudah dewasa, salah satu dari mereka akan kami jodohkan agar kedua kerajaan kami tetap terhubung dengan ikatan tali kekeluargaan.
Mendengar penolakan ku, Patih Widura marah namun tidak berbuat macam-macam selain mengeluarkan kata-kata ancaman yang mengatakan bahwa kelak aku akan menyesali apa yang telah aku ucapkan. Setelah berkata demikian, Patih Widura undur diri segera. Dua pekan setelah itu, tiba-tiba Putri Padmadewi jatuh pingsan saat makan malam bersama di sasana boga dan tak pernah bangun lagi hingga saat ini. Jika di hitung waktunya, maka itu sudah pasti adalah pekerjaan Prabu Pule Baas dari Nusa Kambangan, Tabib Sakti", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri mengakhiri cerita awal mula kejadian sakitnya sang putri sulung.
"Apa Tabib Sakti tidak punya cara untuk menyembuhkan penyakit putri ku?", tanya Nararya Citradewi Sang Mayang Galuh selepas melihat Buyut Wangsanaya nampak mengusap janggut pendeknya. Dia sungguh berharap agar putri sulungnya itu segera sembuh.
"Meskipun hamba tidak bisa menyembuhkan Gusti Putri Padmadewi, tapi Gusti Putri Mahkota tenang saja", ucap Buyut Wangsanaya sambil tersenyum simpul.
"Maksud nya bagaimana, Tabib Sakti?
Jujur aku tidak paham apa maksud omongan mu", Pangeran Rakeyan Jayagiri menatap wajah tua Buyut Wangsanaya. Lelaki tua bertubuh gempal cenderung gemuk dengan perut sedikit buncit itu benar-benar membuatnya bingung.
"Hamba memang tidak bisa menyembuhkan racun sihir seperti ini, Gusti Pangeran tapi ada orang lain yang bisa melakukan nya.
Jika Gusti Pangeran Mahkota ingin tahu siapa orang nya, mari kita ke depan", sembari berkata demikian, Buyut Wangsanaya segera mengisyaratkan agar Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri untuk melangkah lebih dulu ke serambi kediaman nya. Tanpa menunggu lama lagi, adik tiri Prabu Bameswara dari Panjalu ini pun bergegas melangkah keluar dari dalam bilik kamar tidur Putri Padmadewi diikuti oleh Buyut Wangsanaya. Meninggalkan Putri Mahkota Nararya Citradewi Sang Mayang Galuh menjaga putri tertua nya.
Kedatangan Pangeran Rakeyan Jayagiri dan Buyut Wangsanaya membuat semua orang terkejut kecuali Jaka Umbaran yang masih tenang saja.
"Mana orang yang akan menyembuhkan putri ku, Tabib Sakti? Lekas katakan", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri tak sabar ingin tahu. Mendengar itu, Buyut Wangsanaya segera menoleh ke arah Jaka Umbaran.
"Pendekar Gunung Lawu, aku butuh bantuan mu".
Jaka Umbaran segera menghormat pada Pangeran Rakeyan Jayagiri sebelum bangkit dari tempat duduknya usai Buyut Wangsanaya berbicara.
"Inilah orang yang hamba katakan tadi Gusti Pangeran. Namanya Jaka Umbaran sang Pendekar Gunung Lawu. Gusti Pangeran tentu pernah mendengar tentang dia baru-baru ini bukan?", ucapan Buyut Wangsanaya sontak mengingatkan Pangeran Rakeyan Jayagiri tentang berita dunia persilatan yang pernah di laporkan pada nya beberapa hari yang lalu. Sontak dia menatap wajah tampan Jaka Umbaran, menelisiknya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kau yakin bisa menyembuhkan racun sihir di dalam tubuh putri ku?", tanya Pangeran Rakeyan Jayagiri seolah meragukan kemampuan yang dimiliki oleh Jaka Umbaran.
"Hamba akan berusaha, Gusti Pangeran", balas Jaka Umbaran dengan sopan.
"Baiklah, kalau kau berhasil menyembuhkan Padmadewi, aku akan memberikan hadiah besar kepada mu, anak muda.
Sekarang kau ikuti aku. Tabib Sakti, kau juga ikut", selepas berkata seperti itu, Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri segera melangkah masuk ke dalam istana. Buyut Wangsanaya dan Jaka Umbaran segera mengekor di belakang nya.
Setelah mendapat ijin dari Pangeran Rakeyan Jayagiri, Jaka Umbaran segera mendekati ranjang. Kedua telapak tangannya menangkup di depan dada. Sebentar kemudian dia memejamkan matanya, berkonsentrasi pada Kembang Wijayakusuma yang bersemayam dalam tubuhnya. Perlahan cahaya putih kemerahan tercipta di telapak tangan Jaka Umbaran.
Pangeran Rakeyan Jayagiri yang melihat itu semua takjub dengan kemampuan yang dimiliki oleh sang Pendekar Gunung Lawu.
'Anak muda ini benar-benar berilmu tinggi. Aku benar-benar bodoh telah meremehkan nya'
Setelah Kembang Wijayakusuma muncul di telapak tangan nya, Jaka Umbaran membuka mata dan meletakkan Kembang Wijayakusuma itu pada dahi Putri Padmadewi. Seketika hawa hitam pekat dan dingin itu terhisap masuk ke dalam Kembang Wijayakusuma. Saat hawa hitam pekat terakhir masuk, satu kelopak bawah Kembang Wijayakusuma rontok dan menghilang.
Perlahan mata Putri Padmadewi terbuka. Saat melihat sesosok wajah tampan sedang berdiri begitu dekat dengan nya, wajah cantik putri Kerajaan Galuh Pakuan itu langsung memerah seperti kepiting rebus. Jaka Umbaran yang baru saja mengambil Kembang Wijayakusuma dari dahi Putri Padmadewi langsung menyimpan nya. Begitu wujud Kembang Wijayakusuma menghilang, Jaka Umbaran langsung menarik nafas lega.
"Ajaib, sungguh ajaib..
Kau benar benar hebat seperti cerita yang beredar luas di dunia persilatan, Pendekar Gunung Lawu", puji Rakeyan Jayagiri sembari tersenyum lebar.
"Hamba hanya manusia biasa, Gusti Pangeran. Membantu yang membutuhkan sudah menjadi bagian dari tugas yang diberikan oleh guru hamba", jawab Jaka Umbaran tetap dengan bahasa yang rendah hati.
"Kita bicara di luar saja. Padmadewi baru saja sembuh, biarkan dia beristirahat dulu.
Dinda Citrawati, tolong jaga anak mu", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri sebelum melangkah keluar dari dalam bilik kamar tidur Putri Padmadewi bersama dengan Jaka Umbaran dan Buyut Wangsanaya.
Setelah mereka keluar, Putri Padmadewi langsung menoleh ke arah ibunya yang duduk di tepi ranjang tidur nya.
"Ambu Ratu, siapakah pemuda itu tadi?", ekor mata Putri Padmadewi terus melirik ke arah pintu kamar.
"Dia adalah penyelamat nyawa mu, putriku. Kenapa memangnya?", naluri keibuan Nararya Citradewi Sang Mayang Galuh langsung menerka apa yang sedang di rasakan oleh putri nya. Dia juga mengakui bahwa ketampanan Jaka Umbaran memang jauh diatas rata-rata.
"Ah ti-tidak apa-apa. A-aku h-hanya bertanya saja kok", Padmadewi langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam agar semburat warna merah di pipinya tidak terlihat sang ibu.
"Hehehehe, rupanya putri ku sudah dewasa sekarang ini. Bisa merasakan perasaan suka sama lawan jenis", seloroh Putri Mahkota Citrawati seraya terkekeh kecil melihat sikap malu-malu kucing putri sulungnya itu.
Sementara itu, sesampainya di serambi kediaman keluarga Putra Mahkota Galuh Pakuan, Pangeran Rakeyan Jayagiri yang hendak berbicara tentang hadiah yang akan di berikan kepada Jaka Umbaran dikagetkan dengan kedatangan seorang Wado ( pimpinan prajurit setingkat Demung di Panjalu ) yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa Wado Karta? Kenapa kau datang tanpa dipanggil?", tanya Pangeran Rakeyan Jayagiri segera.
"Mohon ampun Gusti Pangeran.
Pasukan pemberontak telah mengepung Kotaraja Kawali. Beberapa Nunangganan dan Mantri sedang menghadapi mereka di barat pintu gerbang Kotaraja", lapor Wado Karta segera.
Bagaikan sebuah petir menyambar di siang bolong, Pangeran Rakeyan Jayagiri terkejut bukan main mendengar laporan itu. Dia sungguh tidak menduga bahwa kedatangan para pemberontak pimpinan Jerangkong Hitam yang di dalangi oleh Prabu Hyang Linggakancana dari Tanjung Sengguruh akan secepat ini.
Semua orang yang ada di tempat itu termasuk Nyai Larasati, Dewi Rengganis, Setan Merah, Iblis Biru dan Resi Simharaja kaget bukan main kala turut mendengar laporan sang pimpinan prajurit Galuh Pakuan.
"Kurang ajar!!
Mereka sungguh berani menantang kewibawaan Pemerintah Kotaraja Kawali. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri sembari mengepalkan tangannya erat-erat.
"Keadaan di luar sana sangat berbahaya, hamba mohon sebaiknya Gusti Pangeran bersama keluarga segera menyingkir dari istana", pinta Wado Karta segera.
"Aku tidak akan kemana-mana, Wado Karta. Akan ku pertahankan istana ini sampai titik darah penghabisan ku", ucap Rakeyan Jayagiri segera. Dia kemudian menoleh ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan sebelum berkata,
"Pendekar Gunung Lawu dan saudara pendekar dunia persilatan semuanya,
Bisakah kalian sekali lagi membantu ku?"