JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Olahraga


Waktu terus berjalan dengan cepat. Tak terasa malam yang menyelimuti seluruh wilayah Kota Kadipaten Selopenangkep sebentar lagi akan segera digantikan oleh pagi. Kokok ayam jantan mulai terdengar bersahutan seakan ingin membangunkan seluruh penghuni dunia untuk menyambut kedatangan hari baru di kehidupan mereka.


Pagi itu juga, usai sedikit mengisi perut sebagai persiapan tenaga untuk melakukan perjalanan jauh, Jaka Umbaran dan kawan-kawan meninggalkan Kota Kadipaten Selopenangkep menuju ke arah timur.


Melewati jalan penghubung antara wilayah Kadipaten Selopenangkep, mereka melewati beberapa wanua dan pakuwon di Kadipaten Selopenangkep seperti Pakuwon Bedander dan Pakuwon Weling sebelum sampai di tapal batas wilayah timur Kerajaan Panjalu yakni Kali Lawor.


Matahari masih belum sampai di atas kepala saat kuda tunggangan mereka menyeberangi sungai yang dalamnya hanya sedengkul kaki kuda mereka. Beberapa orang pencari ikan dan beberapa orang perempuan yang sedang mencuci pakaian nampak memperhatikan mereka sebentar sebelum kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Namun disitu juga terdapat beberapa orang telik sandi pengawas perbatasan baik dari Jenggala maupun Panjalu hingga lewatnya pangeran muda dari Kadiri ini tetap saja menarik perhatian mereka.


Usai menyeberangi Kali Lawor, rombongan Jaka Umbaran terus bergerak ke timur. Wara Andhira yang menjadi penunjuk jalan berkuda paling depan, diikuti oleh Jaka Umbaran dan para pengikutnya.


Sesampainya di Wanua Siganggeng, Wara Andhira menghentikan langkah kaki kudanya di sebuah warung makan dekat persimpangan jalan. Ini sesuai pesan dari Jaka Umbaran agar berhenti saat menemukan keberadaan warung makan. Jaka Umbaran dan para pengikutnya pun ikut menghentikan langkah kaki kuda mereka. Namun setelah mereka turun dari kudanya, Wara Andhira langsung mendekati Jaka Umbaran.


"Di tempat ini biasanya digunakan sebagai tempat pertemuan para telik sandi Jenggala, Gusti Pangeran.


Sebaiknya kita tidak terlalu menarik perhatian mereka", bisik Wara Andhira yang segera di sambut anggukan kepala dari sang pangeran muda.


Setelah menambatkan tali kekang kudanya mereka pada geladakan yang ada di tepi halaman warung makan itu, Jaka Umbaran dan kawan-kawan pun masuk ke dalam tempat itu. Kedatangan mereka sontak membuat perhatian semua pengunjung warung makan. Sebagian besar langsung kembali melanjutkan makannya, namun beberapa pasang mata terus mengawasi gerak-gerik mereka semua.


Gendol yang kelaparan karena tadi pagi hanya sarapan sedikit, langsung bergegas mendekati seorang lelaki paruh baya yang nampak ramah melayani para pelanggan warungnya. Besur pun tak mau kalah, langsung bergegas mendahului.


"Pelayan, berikan aku makanan paling enak di tempat mu ini. Apa saja yang penting cepat", ucap Besur segera.


"Dasar tukang serobot, eh kampret aku yang datang duluan, aku yang harus dilayani.


Pelayan, berikan aku makanan enak disini dua porsi. Jangan lupa sediakan tuak terbaik di tempat ini", sahut Gendol tak mau kalah.


"Eh eh iya, saya akan menyiapkan makanan pesanan kisanak berdua. Silahkan menunggu lebih dulu", ucap si lelaki paruh baya itu sembari tersenyum.


"Kalau kisanak dan nisanak ini, mau pesan apa?", lanjut si pelayan itu segera saat melihat Jaka Umbaran, Wara Andhira, Resi Simharaja dan Baratwaja mendekat.


"Apa saja yang penting bisa untuk mengisi perut, Ki. Sedikit cepat ya", jawab Jaka Umbaran sambil tersenyum ramah. Si pelayan warung makan itu segera mengangguk mengerti dan bergegas menuju ke arah dapur nya.


Jaka Umbaran dan para pengikutnya pun segera duduk di kursi yang ada di sudut kiri ruangan dekat dengan jendela yang menghadap langsung ke jalan raya. Tempat itu cukup luas dan kebetulan saja sedang kosong.


Dua orang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dan wajah sangar yang duduk berseberangan dengan tempat Jaka Umbaran dan kawan-kawan saling berpandangan seolah saling berbicara satu sama lain.


"Kelihatan nya mereka bukan orang Jenggala. Sepertinya mereka pendekar yang sedang berkelana.


Apa sebaiknya yang harus kita lakukan Kakang?", tanya si lelaki bertubuh gempal yang memakai ikat kepala warna biru lusuh.


"Sepertinya mereka semua memiliki kemampuan beladiri yang lumayan. Aku lihat si paling tua yang duduk di pojokan itu sama sekali tidak bicara sama sekali, tapi sepertinya dia adalah yang paling tinggi ilmunya.


Lebih baik kita tidak cari perkara dengan mereka", jawab si lelaki bertubuh gempal lainnya yang memakai selempang berwarna merah. Lelaki yang memakai ikat kepala biru lusuh itu segera mengangguk mengerti.


Namun sepertinya rencana mereka untuk tidak mengganggu rombongan Jaka Umbaran tinggal rencana setelah kedatangan sekumpulan orang berbadan kekar yang memakai pakaian senada dengan mereka.


"Prayoga, Wulangkir..


Kenapa kalian berdua duduk di pojokan seperti kucing ketakutan seperti itu?", ucap seorang lelaki bertubuh paling besar di antara mereka yang cukup mengagetkan semua orang yang ada di warung makan itu.


Wulangkir dan Prayoga langsung berdiri menyambut kedatangan mereka sedikit terburu-buru. Sepertinya mereka sedikit segan dengan lelaki bertubuh besar dengan pakaian yang cukup mencolok perhatian karena terbuat dari bahan yang cukup mahal, berbeda dengan kebanyakan orang yang mengiringi nya.


"Raden Kamba, kami sengaja duduk di sana karena ingin tenang saja kok. Tidak ada maksud apa-apa", ucap Wulangkir dengan hormat.


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Kalian ini mempermalukan ku saja. Anak buah Raden Kamba, putra Akuwu Tumapel, harus mendapatkan tempat terbaik dimana pun ia berada.


Tempat itu adalah tempat terbaik. Mereka seharusnya mengalah pada kalian", ucap Raden Kamba sembari menunjuk ke arah tempat Jaka Umbaran dan kawan-kawan asyik menyantap makan siang nya.


Wulangkir dan Prayoga saling berpandangan tak menjawab omongan Raden Kamba. Saat keduanya masih bingung mau menjawab apa, Raden Kamba putra Akuwu Tumapel ini segera mencabut golok di salah satu pinggang pengikutnya lalu melemparnya ke arah Jaka Umbaran.


Shhhrrrreeeeettttth!!


Tepat sebelum golok itu menyentuh kulit leher Jaka Umbaran, tahu-tahu sepasang jari tangan kiri Jaka Umbaran telah menjepit bilah golok itu. Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga mengagetkan semua orang termasuk Raden Kamba yang sebelumnya sudah yakin bahwa Jaka Umbaran pasti mampus terkena lemparan goloknya.


"Apa maksud dari semua ini? Kalian ingin mencari perkara dengan kami?!"


Ucapan di barengi dengan menoleh nya kepala Jaka Umbaran ini tentu saja langsung membuat para pengikut Jaka Umbaran berdiri dan bersiap untuk bertarung.


"Anak buah ku membutuhkan tempat yang layak untuk bersantap siang. Pergi kalian semua dari tempat itu, maka aku akan membiarkan kalian pergi dengan tenang", ucap Raden Kamba dengan penuh kesombongan.


"Kau....", Gendol yang mau bicara langsung menutup mulutnya rapat-rapat kala melihat tangan kanan Jaka Umbaran memberi isyarat kepada nya agar diam.


"Baiklah, kalau kalian menginginkan meja ini silahkan saja. Toh kami juga sudah selesai makan nya.


Semuanya, kita pergi sekarang..", ujar Jaka Umbaran sembari bangkit dari tempat duduknya. Para pengikutnya melongo mendengar jawaban itu. Mereka sama sekali tidak mengerti jalan pikiran majikan mereka akan tetapi mereka juga tidak berani membantahnya. Mereka segera meninggalkan tempat makan mereka dan membayar biaya makan pada pelayan warung makan itu.


"Maafkan ketidaknyamanan ini, Kisanak..


Semoga kau masih mau mampir lagi jika lewat sini meskipun mendapat perlakuan seperti ini", ucap lelaki paruh baya itu dengan nada suara yang terdengar begitu memelas.


"Ini bukan kesalahan mu pak tua, jadi kau tenang saja.


"Kau lihat sendiri, Wulangkir Prayoga..


Mereka langsung kabur melarikan diri saking takutnya pada ku. Inilah yang seharusnya terjadi hahahaha..


Pelayan, ambilkan arak dan twak untuk kami. Aku ingin minum hari ini..", ucap Raden Kamba penuh kesombongan. Dia merasa seperti seorang raja besar yang ditakuti karena perginya rombongan Jaka Umbaran itu.


Sementara itu, rombongan Jaka Umbaran terus bergerak cepat menuju ke arah timur. Mereka menyusuri jalan penghubung antar wanua di wilayah Pakuwon Tumapel. Begitu sampai di tepi hutan kecil yang ada di barat tapal batas Kota Pakuwon Tumapel, sang pangeran muda tiba-tiba menarik tali kekang kudanya. Akibatnya, rombongan itu langsung berhenti seketika.


"Ada apa Ndoro Pendekar? Kog tiba-tiba berhenti?", tanya Gendol segera.


"Tidak apa-apa, perut ku mulas ingin buang air besar. Sebaiknya kita berhenti sebentar dulu disini", ucap Jaka Umbaran yang terlihat seperti sedang menahan sakit perut.


Rombongan itu pun segera berhenti di situ dan mereka segera menuntun kudanya menuju ke bawah pohon angsana besar yang rindang. Para pengikut Jaka Umbaran segera mengikat tali kekang kudanya di semak belukar untuk memberikan kesempatan pada kuda mereka merumput sebentar sambil menunggu Jaka Umbaran yang bergegas menuju ke sebuah sungai kecil yang berada tak jauh dari tempat itu.


Raden Kamba terus menenggak minuman keras yang tersaji di meja nya. Beberapa bumbung bambu arak telah ludes dia minum bersama para anak buahnya. Namun kesenangannya tak berlangsung lama saat tiba-tiba...


Jlleeeegggg brruuaaaakkkkkkkh!!!


Raden Kamba yang setengah mabuk langsung sadar seketika tatkala ia melihat sesosok bayangan memakai penutup wajah separuh wajah muncul di tengah-tengah mereka dan langsung melayangkan tendangan keras pada salah satu anak buah nya hingga orang bertubuh kekar itu mencelat ke belakang. Tubuhnya menghantam satu meja makan hingga meja makan itu langsung hancur seketika.


"Bangsaaaaaaaaattttt!!


Siapa kau berani mengganggu kesenangan putra Akuwu Tumapel hah? Kau minta dihajar?!!", maki Raden Kamba penuh ancaman.


"Bukan aku yang akan di hajar, tapi kau!", setelah berkata demikian, sosok lelaki yang memakai penutup wajah itu segera menerjang ke arah Raden Kamba. Dua pengawal pribadi nya langsung menyambut kedatangan serangan cepat si lelaki bertubuh tegap ini dengan sabetan golok mereka.


Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!


Si lelaki berpenutup wajah itu dengan lincah menghindari sabetan golok dan melayangkan tendangan dan pukulan keras ke arah mereka.


Dhhhaaaassshhhh dhhaaaassshhh..


Auuuggghhhhh!!!


Dua pengawal pribadi Raden Kamba melengguh tertahan dan terjungkal menyusruk tanah setelah menerima serangan cepat lawan. Wulangkir dan Prayoga pun ikut menerjang ke arah si lelaki berpenutup wajah itu sembari membabatkan golok mereka. Si lelaki bertubuh tegap itu dengan lincah berjumpalitan mundur beberapa kali ke belakang. Satu kali hentak, tubuhnya melenting tinggi ke udara dan melayangkan tendangan keras beruntun ke arah Prayoga dan Wulangkir.


Bhhhuuuuuuggggh bhhuuuggghhh..


Oooouuuuuuggggghhhhh!!!


Brruuaaaakkkkkkkh!!!


Lagi-lagi meja makan di tempat itu menjadi korban dari jatuhnya Wulangkir dan Prayoga. Keduanya mengerang kesakitan dan tak bangun dari tempat jatuhnya. Melihat para anak buahnya dengan mudah dijatuhkan oleh si lelaki bertubuh tegap ini, Raden Kamba langsung melesat cepat kearah si lelaki berpenutup wajah itu sembari menusukkan kerisnya.


"Modar kau bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn!!"


Shhhrrrreeeeettttth!!!


Si lelaki bertubuh tegap itu hanya menggeser posisi tubuhnya hingga tusukan keris Raden Kamba hanya sejengkal di samping kiri tubuhnya. Dengan cepat ia menjepit lengan Raden Kamba.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Raden Kamba menjerit keras saat tangannya seperti di himpit batu besar kala dalam jepitan tangan si lelaki bertubuh tegap ini. Kerisnya terlepas dari genggaman.


Secepat kilat, si lelaki berpenutup wajah itu memuntir tangan Raden Kamba hingga sang putra Akuwu Tumapel ini menjerit-jerit minta dilepaskan. Namun bukannya dilepaskan, si lelaki bertubuh tegap itu langsung melayangkan pukulan keras bertubi-tubi kearah Raden Kamba.


Bhhaaaaggg bhhuuuggghhh bhhaaaaggg bhhuuuggghhh....


Aaaarrrgggggghhhhh..


"Ampuni aku ampuni aku aduh sakit.."


Dalam waktu singkat, wajah Raden Kamba penuh dengan lebam dan memar. Mata kirinya biru, bibirnya pecah dan hidung nya mimisan. Kondisinya benar-benar mengenaskan.


Setelah puas memukuli Raden Kamba, di lelaki bertubuh tegap itu segera mengambil kantong uang di pinggang Raden Kamba sebelum melemparkan Raden Kamba di dekat anak buah nya yang tergeletak tak berdaya di lantai warung makan.


"Ini pelajaran untuk mu agar tidak sombong lagi membanggakan jabatan bapak mu..", ucap si lelaki bertubuh tegap itu sebelum melangkah ke arah pelayan warung makan yang berdiri ketakutan di sudut ruangan.


"Ini untuk perbaikan warung mu pak tua..


Kalau aku lewat sini dan warung mu ini tidak ada, putra pejabat itu yang akan menanggung akibatnya!", ucap si lelaki berpenutup wajah itu sembari mengulurkan sekantong kepeng padanya. Lelaki tua itu langsung paham bahwa sosok lelaki berpenutup wajah itu adalah orang yang baru saja dihina oleh Raden Kamba.


Belum sempat dia mengucapkan terima kasih, sosok lelaki itu telah di selimuti kabut putih tipis yang membuat nya menghilang dari pandangan mata semua orang.


Jaka Umbaran melangkah mendekati tempat para pengikutnya sedang beristirahat di bawah pohon angsana. Besur langsung bertanya begitu sang pangeran muda sampai di dekatnya.


"Darimana Ndoro Umbaran? Ke sungai nya kog lama amat?", mendengar pertanyaan itu, Jaka Umbaran mengibaskan tangannya sembari menjawabnya dengan santai.


"Baru saja berolahraga, Sur..."