JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Hal Yang Lebih Penting


Setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera mengusap cincin bermata merah di jari manisnya. Daya linuwih cincin bermata merah itu pun segera terjadi.


Blllaaammmmmmmm !!


Sesosok kera besar berbulu merah mengusap sisa darah segar yang meleleh keluar dari mulutnya. Beberapa bagian tubuhnya terdapat beberapa luka bekas gigitan. Namun meskipun dia terluka, namun kera besar berbulu merah itu masih segar bugar bahkan semakin ganas dalam bertarung.


Sementara itu, sesosok macan kumbang sedang terkapar di tanah setelah beradu ilmu kesaktian dengan si kera besar berbulu merah ini. Mata kiri kucing besar itu sudah nampak bengkak. Bahkan punggung belakang nya juga terdapat bekas gigitan yang membuat punggungnya terkoyak lebar menampakkan dagingnya. Namun, meskipun sedikit goyah keseimbangan tubuhnya, macan kumbang perwujudan dari Kumbangjati ini bangkit dari tempat jatuhnya.


Melihat itu, kera besar berbulu merah itu mendengus keras. Pancer, si siluman kera besar berbulu merah yang di tugaskan oleh Jaka Umbaran untuk menghadapi Kumbangjati, panglima Kerajaan Siluman Alas Purwo, bersiap untuk melanjutkan pertarungan nya dengan macan kumbang itu.


HOOOAAARRRRRRGGGGGHHHHH!


Pancer meraung keras sebelum melesat cepat kearah Kumbangjati sembari menghantamkan kepalan tangannya ke arah macan kumbang itu segera. Tepat sebelum kepalan tangan Pancer mengenai wajah macan kumbang ini, tiba-tiba...


Zzzzzrrrrrrrrrrttttthhhhh!!!!


Pancer tersedot oleh kekuatan cincin bermata merah, langsung menghilang seketika dari hadapan Kumbangjati. Melihat lawannya sudah menghilang, Kumbangjati si siluman macan kumbang menarik nafas lega. Dia sebenarnya sudah tidak mampu untuk bertarung lagi dengan Pancer. Sedotan kekuatan cincin pusaka bermata merah milik Jaka Umbaran lah yang menyelamatkannya.


Di depan Jaka Umbaran, Pancer si siluman kera besar berbulu merah itu langsung berlutut di hadapan Jaka Umbaran.


"Kenapa Ndoro Umbaran tiba-tiba memanggil hamba?


Kucing besar hitam itu hampir saja hamba bikin mampus", ucap Pancer sambil menghormat. Mendengar gerutu siluman kera besar berbulu merah itu, Jaka Umbaran hanya tersenyum saja.


"Sudah waktunya kita pulang ke Daha... Sekarang kembalilah ke tempat mu!", Pancer menyembah pada Jaka Umbaran sebelum berubah menjadi asap merah yang kemudian masuk ke dalam cincin pusaka bermata merah di jari manis sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu.


Mendengar perintah dari sang pangeran muda, Besur langsung menyarungkan kembali pedangnya. Dia hendak melangkah ke arah awal mereka datang.


"Kau mau kemana Sur?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Lah katanya mau pulang ke Daha, Gusti Pangeran..


Ya tentu saja hamba akan melihat kuda-kuda tunggangan kita di sebelah sana", jawab Besur dengan polosnya.


"Kita tidak pulang ke Daha dengan itu. Kita sudah hampir satu purnama meninggalkan Kotaraja Daha, akan memakan waktu lama untuk sampai di sana tepat waktu", ujar Jaka Umbaran yang seketika itu juga menyadarkan para pengikutnya. Mereka pun terlihat sedikit kebingungan mencari cara untuk sampai di Kotaraja Daha secepat mungkin.


"Tidak usah pusing. Aku sudah punya caranya. Semua orang saling berpegangan tangan. Kerahkan semua tenaga dalam yang kalian miliki. Aku akan membawa kalian semua pulang ke Daha dengan Ajian Halimun ku", imbuh Jaka Umbaran segera.


Mendengar itu, semua orang tersenyum lebar. Mereka tidak perlu capek-capek berkuda menempuh perjalanan jauh yang jaraknya ratusan ribu tombak. Besur segera memegang tangan Baratwaja, lelaki itu pun segera mengikuti tindakan putra Wredamantri Mpu Gumbreg ini dengan memegang tangan Gendol. Saat Gendol hendak memegang tangan Jaka Umbaran, Wara Andhira segera memegang nya lebih dulu dan menyambungkan nya pada tangan sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu.


"Kau mau ikut kami pulang ke Daha?", tanya Jaka Umbaran sembari menatap wajah cantik Wara Andhira alias Nararya Sekardadu ini.


"Tentu saja, janji ku sudah ku tepati. Aku harus terus mengikuti mu sampai kau memenuhi janji yang telah kau ucap, Gusti Pangeran..", ucap Wara Andhira dengan santainya.


"Huhhhhh, alasan saja..


Bilang saja kalau kau mau dekat-dekat terus dengan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Sudah kelihatan dari wajah mu itu", sahut Gendol yang berdiri di samping Wara Andhira. Perempuan cantik itu mendengus dingin sembari menginjak kaki Gendol sekuat tenaga.


Bhhuuuggghhh!


"Aduh, kenapa kau injak kaki ku perempuan bertenaga gajah? Sakit tahu...", Gendol meringis menahan rasa sakit pada telapak kakinya.


"Siapa suruh kau bicara seenak jidat hah?!", tukas Wara Andhira sembari menatap kereng pada Gendol. Jaka Umbaran segera menggelengkan kepalanya sembari tersenyum simpul melihat ulah para pengikutnya.


Dengan harimau putih besar perwujudan dari Resi Simharaja di tengah lingkaran, Jaka Umbaran mulai merapal mantra Ajian Halimun nya. Perlahan kabut putih tipis mulai menutupi seluruh tubuhnya, juga para pengikutnya. Setelah itu, angin kencang yang datang entah darimana langsung menyapu kabut putih tipis itu dan Jaka Umbaran beserta para pengikutnya pun menghilang dari tempat itu.


****


Dewi Rengganis sedang asyik melihat-lihat bebungaan yang sedang mekar di taman sari Istana Katang-katang saat Nararya Padmadewi datang bersama dengan dua orang emban atau dayang istana. Perut perempuan cantik dari Kerajaan Galuh Pakuan ini terlihat sedikit buncit karena memang sedang hamil 3 purnama. Sembari tersenyum manis, istri pertama Jaka Umbaran ini berjalan mendekati putri dari Adipati Prabhaswara itu.


"Indah sekali bukan bebungaan di taman sari ini, Dinda Rengganis?"


Dewi Rengganis sedikit kaget karena tidak mendengar suara langkah kaki madu nya. Segera dia tersenyum lebar menyambut kedatangan perempuan cantik berbaju merah ini.


Kau sedang hamil muda, Yunda. Sebaiknya jaga diri dan bayi yang ada dalam perut mu. Ingat, Kangmas Pangeran pasti akan senang sekali jika tahu bahwa kau sedang mengandung putra nya", ucap Dewi Rengganis sambil tersenyum penuh arti.


Nararya Padmadewi langsung bahagia mendengar ucapan itu. Menjadi seorang ibu adalah impian setiap wanita yang sudah menikah. Tentu saja, bisa mengandung putra dari lelaki pujaan hatinya akan membuat kehidupan Nararya Padmadewi terasa sempurna.


Kedua perempuan cantik itu berbincang hangat sembari berjalan-jalan di sekitar taman sari Istana Katang-katang. Dua orang dayang istana yang setia menemani sang putri dari Pangeran Rakeyan Jayagiri ini terus mengikuti langkah mereka.


Dari arah pintu gerbang taman sari, Dyah Pandan Wangi berlari menuju ke arah mereka. Tentu saja ini membuat kedua istri Jaka Umbaran itu langsung menoleh ke arah perempuan cantik asal Kadipaten Lewa ini. Semenjak kepergian sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu ke Blambangan, hanya mereka bertiga yang ada di Istana Katang-katang. Ini karena Indrawati alias Nyai Paricara ditugaskan oleh Jaka Umbaran untuk merawat kesehatan Prabu Bameswara selama dia keluar, jadi perempuan cantik dari Negeri Champa itu pun terpaksa harus tinggal di Istana Kotaraja Daha agar lebih mudah merawat Prabu Bameswara yang sedang sakit.


Hooosshhh hooosshhh!


"Kangmbok berdua, ada berita penting hooosshhh hooosshhh..", Dyah Pandan Wangi ngos-ngosan mengatur nafasnya.


"Berita penting apa, Pandan Wangi?


Kenapa kau sampai berlarian seperti itu?", tanya Nararya Padmadewi sembari mengelus perutnya yang membesar.


"Kangmas Pangeran hosshh hooosshhh..


Kangmas Pangeran sudah pulang. Para prajurit penjaga gerbang istana baru saja melihat nya masuk ke dalam ruang pribadi raja", mendengar ucapan Dyah Pandan Wangi, Dewi Rengganis dan Nararya Padmadewi saling berpandangan sejenak lalu keduanya tersenyum bahagia.


"Syukurlah, akhirnya Kangmas Pangeran sudah pulang dengan selamat.


Apakah Kangmas Pangeran membawa pulang obat yang dapat menyembuhkan penyakit Gusti Prabu Bameswara?", tanya Dewi Rengganis segera.


"Aku kurang tahu, Kangmbok Rengganis..


Semoga saja Kangmas Pangeran membawa pulang apa yang menjadi harapan kita semua", ujar Dyah Pandan Wangi sembari menghela nafas panjang.


"Ya, semoga saja..", ucap Nararya Padmadewi mengakhiri obrolan mereka bertiga.


*****


Kedatangan Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya di Istana Kotaraja Daha langsung disambut gembira oleh para penghuni istana. Saudara dan saudari nya yang berada di dalam istana juga para istri Prabu Bameswara yang melihat kedatangan harapan mereka, langsung menyambut kedatangan sang pangeran mahkota.


"Bagaimana Nakmas Pangeran? Apa kau sudah mendapatkan obat untuk ayah mu?", tanya Selir Gayatri seolah mewakili perasaan semua orang yang ada di tempat itu.


"Biyung Selir Gayatri tenang saja..


Aku sudah mendapatkan apa yang aku cari di Alas Purwo. Sekarang ijinkan aku untuk menemui Kanjeng Romo Prabu..", Jaka Umbaran tersenyum sembari menghormat pada selir Prabu Bameswara ini. Setelah itu, dia melangkah masuk ke dalam ruang pribadi raja.


Di dalam kamar tidur sang raja, nampak Prabu Bameswara terbaring lemah di atas ranjang pembaringan. Nampak di sisi ranjang nya, Ratu Dyah Chandrakirana duduk sembari terus memegangi tangan sang suami. Terlihat wajah perempuan cantik yang memasuki usia 5 dasawarsa ini kuyu dan kurang tidur. Ini dikarenakan sejak sakitnya Maharaja Sri Bameswara, Ratu Dyah Chandrakirana lah yang terus berada di sisinya. Meskipun para istri Prabu Bameswara yang lain juga ikut serta dalam menjaga sang raja, namun Ratu Dyah Chandrakirana seolah tak mau jauh sebentar saja dari sisi sang suami.


Selain Ratu Dyah Chandrakirana dan Prabu Bameswara, di dalam kamar peristirahatan sang raja juga ada Indrawati alias Nyai Paricara dan dua orang dayang istana.


Kedatangan Jaka Umbaran sontak saja membuat Ratu Dyah Chandrakirana bangkit dari duduknya dan mendekati sang putra.


"Bagaimana putra ku? Kau sudah mendapatkan apa yang kau cari?", mendapat pertanyaan itu, Jaka Umbaran segera mengeluarkan sebuah bola air berwarna biru kehijauan bersemu merah. Ratu Dyah Chandrakirana yang paham dengan benda pusaka langsung tahu bahwa benda yang ada di tangan kanan Jaka Umbaran merupakan benda suci yang tidak berasal dari dunia manusia. Wajah perempuan itu langsung sumringah begitu melihatnya.


Jaka Umbaran pun segera mendekati sang ayah. Saat tangannya hendak meletakkan Air Prawitasari ke dada Prabu Bameswara, tiba-tiba saja tangan Prabu Bameswara mencekal lengan sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu.


"Sudah tidak perlu lagi, putra ku", ucap Prabu Bameswara sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah.


Betapa terkejutnya Jaka Umbaran, Ratu Dyah Chandrakirana dan semua orang yang ada di dalam kamar tidur ini. Mereka sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan itu.


"Kanjeng Romo Prabu, Ananda pulang dengan membawa penyembuh kutuk pasu yang ada di tubuh Kanjeng Romo.


Kenapa Kanjeng Romo Prabu malah menolaknya?", tanya Jaka Umbaran segera.


Mendengar pertanyaan itu, Prabu Bameswara yang pucat wajahnya tersenyum tipis sembari berkata,


"Ada yang lebih penting dari kesembuhan ku"