JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Adipati Baru Paguhan


Dengan sekuat tenaga, Adipati Lokawijaya menusukkan keris nya ke arah perut Prabhaswara. Keris pusaka berlekuk 9 dengan pamor hitam dan putih seperti gelombang laut yang bernama Keris Segara Muncar ini siap mengakhiri hidup sang pimpinan kelompok pemberontak.


Shhhhhuuuuuuuuuutttth!


Prabhaswara mundur selangkah ke belakang untuk mendapatkan pijakan kaki sempurna sebelum menangkis tusukan keris pusaka itu dengan keris pusaka miliknya.


Thhrraaanggg..!!


Betapa geramnya Adipati Lokawijaya melihat senjata pusaka di tangan Prabhaswara. Itu adalah Keris Mangkurat, keris pusaka berlekuk 5 yang merupakan senjata piandel ( pusaka utama ) Adipati Lokananta kala masih menjadi Senopati di Kalingga.


Konon katanya, berkat tuah keris pusaka itu juga Lokananta yang mendukung Pangeran Jayengrana menumpas pemberontakan Adipati Gandakusuma, akhirnya diangkat sebagai Adipati baru Paguhan. Keris Mangkurat menjadi dambaan Lokawijaya namun sang ayahanda tak kunjung menyerahkan benda pusaka yang bisa dianggap sebagai simbol kekuasaan Kadipaten Paguhan itu hingga akhir hayatnya. Bersamaan dengan mangkatnya Adipati Lokananta, Keris Mangkurat pun turut lenyap dari Istana Paguhan. Setelah sekian lama kemudian akhirnya Adipati Lokawijaya melihat kembali senjata pusaka itu di tangan adik tiri nya Prabhaswara. Dia sungguh bernafsu sekali ingin mengambil kembali pusaka simbol kekuasaan Kadipaten Paguhan itu.


Dengan sekuat tenaga, Adipati Lokawijaya menyabetkan Keris Segara Muncar ke arah leher Prabhaswara namun adik tiri nya itu segera mundur selangkah sehingga sabetan keris pusaka itu hanya menebas angin sejengkal di depan Prabhaswara. Pimpinan kelompok pemberontak ini segera merendahkan tubuhnya dan menyapukan tendangan melingkar cepat ke arah saudara tirinya.


Whhhuuutthh whhhuuutthh!


Adipati Lokawijaya mundur selangkah demi selangkah ke belakang. Saat kakinya tersandung batu, sapuan keras Prabhaswara menghancurkan kuda-kuda ilmu beladiri nya. Tubuhnya langsung oleng. Melihat itu, Prabhaswara tak membuang kesempatan dan menggunakan kedua tangan nya sebagai tumpuan untuk melakukan tendangan keras yang menghajar perut penguasa Kadipaten Paguhan itu.


Bhhhuuuuuuggggh...


Oouuugghhhhhh!!!


Kerasnya tendangan kaki kanan Prabhaswara membuat Adipati Lokawijaya terpental ke belakang dan jatuh terduduk. Perutnya sakit bukan main merasakan tendangan keras adik tirinya ini. Segera ia menoleh ke arah para prajurit Paguhan yang mematung melihat itu semua.


"Bodoh kalian semua!


Cepat bantu aku. Habisi Prabhaswara. Cepat..!!"


Namun teriakan keras itu nyatanya tidak membuat para prajurit Paguhan bergeming. Salah seorang perwira prajurit penjaga istana, Tumenggung Gupati melangkah maju sambil meringis menahan rasa sakit akibat luka pada dada kiri nya.


"Jangan ada yang maju! Biarkan Gusti Prabhaswara sendiri yang menyelesaikan urusan pribadi keluarga Gusti Adipati Lokananta. Jika ada yang berani maju, aku pastikan kalian berhadapan dengan ku".


Ucapan bernada pembelotan Tumenggung Gupati, membuat Adipati Lokawijaya melotot lebar ke arah perwira penjaga istana ini. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa di saat genting seperti ini, Tumenggung Gupati berani membangkang terhadap perintahnya.


"Bajingan kau Gupati!


Ternyata selama ini aku memelihara seekor anjing di istana ku. Aku pasti akan membunuh mu setelah menghabisi nyawa Prabhaswara!", sembari berkata demikian, Adipati Lokawijaya bangkit dari tempat jatuhnya. Dia segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya dan menyalurkannya kepada Keris Segara Muncar di tangan kanannya. Bau amis seperti bau lautan menyebar ke sekeliling tempat itu bersamaan dengan cahaya biru laut yang memancar keluar dari bilah Keris Segara Muncar.


Prabhaswara pun tak mau kalah dengan menyalurkan separuh dari tenaga dalam nya pada Keris Mangkurat di tangan nya. Cahaya biru kehitaman berpendar dari bilah keris pusaka itu. Di samping itu, Prabhaswara yang seorang pendekar dunia persilatan, menyiapkan Ajian Panglebur Nyawa di tangan kiri nya. Cahaya merah menyala berhawa panas tercipta di telapak tangannya yang tergenggam erat.


Dengan cepat, Adipati Lokawijaya segera maju ke arah Prabhaswara dengan menggulingkan tubuhnya. Secepat mungkin, dia menyabetkan Keris Segara Muncar kearah perut Prabhaswara. Pimpinan kelompok pemberontak ini segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara menghindari sabetan keris pusaka di tangan saudara tirinya itu.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Sambil bersalto di udara, Prabhaswara segera menusukkan Keris Mangkurat ke arah Adipati Lokawijaya. Cahaya biru kehitaman itu pun segera meluncur turun ke arah penguasa Kadipaten Paguhan ini.


Shhhhiiiiiiuuuuttthh!


Sambil mengumpat keras, Adipati Lokawijaya segera bergerak menjauh dari cahaya yang keluar dari senjata adik tiri nya itu.


Blllaaammmmmmmm!!


Namun itu masih belum berakhir. Usai menjejak tanah, Prabhaswara segera memutar tubuhnya dan melesat cepat kearah Adipati Lokawijaya dan menghantamkan tangan kiri nya yang berselimut Ajian Panglebur Nyawa ke arah saudara tirinya itu.


Whhhuuuggghhhh!!


Serangan cepat itu membuat Adipati Lokawijaya gelagapan. Dia dengan cepat menyilangkan Keris Segara Muncar untuk menghadang laju pergerakan cahaya biru kehitaman itu.


Blllaaammmmmmmm!!!


Tubuh Adipati Lokawijaya tersurut mundur beberapa tombak ke belakang saking kuatnya pengaruh Ajian Panglebur Nyawa. Disaat itu pula, dari arah samping kanan tiba-tiba..


Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!


Seluruh dunia seakan jungkir balik dalam pandangan mata Adipati Lokawijaya. Ternyata, Prabhaswara yang bergerak dari arah samping kanan menyabetkan Keris Mangkurat nya dan berhasil menebas leher saudara tirinya itu. Kepala Adipati Lokawijaya langsung jatuh dan menggelinding ke tanah. Sementara dari pangkal lehernya, darah segar muncrat keluar sebelum tubuh tanpa kepala ini roboh ke arah. Adipati Lokawijaya tewas dengan kepala terpisah dari badannya.


Setelah melihat ayahnya tewas, putra Adipati Lokawijaya itu diam-diam kabur dari tempat itu. Dia tidak mau dibunuh oleh paman tirinya karena Prabhaswara pasti tidak akan pernah membiarkan dia menjadi duri dalam daging dalam pemerintahan nya nanti.


Sorak sorai penuh kegembiraan terdengar dari para prajurit pemberontak. Mereka bergembira usai berhasil mengalahkan pemerintahan yang lalim di Paguhan. Dewi Rengganis dan Nyai Larasati sampai menitikkan airmata mereka setelah mengikuti perjuangan yang penuh dengan pengorbanan darah dan air mata. Prabhaswara pun dielu-elukan sebagai pimpinan baru Kadipaten Paguhan.


Prabhaswara pun segera mengangkat tangan nya ke atas. Semua riuh rendah suara para prajurit pemberontak langsung berhenti seketika.


"Hari inilah yang kita tunggu tunggu selama ini. Kita berhasil mengalahkan pemerintahan Lokawijaya yang lalim.


Untuk ke depannya, kita tata Kadipaten Paguhan menjadi lebih baik dari sebelumnya", pidato singkat Prabhaswara langsung disambut dengan teriakan dan tepuk tangan para pengikutnya.


"Hidup Adipati Prabhaswara..!


Hidup Adipati baru Paguhan !!


Hidup Adipati Prabhaswara..!


Hidup sejahtera Kadipaten Paguhan!!"


Teriak penuh kegembiraan itu terdengar membahana di seluruh istana ini. Semua orang terlarut dalam kegembiraan yang begitu luar biasa.


Gendol yang berdiri di dekat Jaka Umbaran yang sedang memulihkan diri setelah terkena racun sihir Ajian Tapak Wisa, melihat sesosok bayangan berkelebat cepat kearah mereka. Khawatir akan keselamatan majikannya, lelaki bertubuh tinggi besar itu langsung melemparkan gada di tangan kanannya ke arah bayangan itu.


Whhhuuutthh... Dhhaaaassshhh...


Aaauuuuggggghhhhh!!!!


Terdengar suara lenguhan panjang sebelum sosok bayangan itu terjungkal menyusruk tanah. Rupanya lemparan gada Gendol langsung menghantam pelipis kanan sosok bayangan itu hingga meremukkan kepala nya. Dia langsung tewas di tempat dengan kepala remuk.


Resi Simharaja pun segera mendekati sang bayangan itu begitu juga dengan Gendol yang ingin mengambil kembali gada yang ia lemparkan.


"Mati Ndol.. Bagaimana ini?", Resi Simharaja menoleh ke arah Gendol yang sedang memungut gada nya usai memeriksa denyut nadi bayangan berkelebat yang merupakan seorang lelaki muda berpakaian bangsawan.


"Mati ya biarkan saja.. Salah nya sendiri membuat gerakan mencurigakan seperti itu", balas Gendol acuh tak acuh.


"Eh Gigi Jarang, apa kau buta?


Lihat pakaian orang ini. Jelas-jelas ia seorang bangsawan. Kau sih asal lempar gada saja. Aku tidak mau jika ikut di salahkan karena perbuatan ceroboh mu ya", Resi Simharaja mendengus dingin. Merasa penasaran, Gendol pun langsung melihat ke arah mayat anak muda itu segera. Dia langsung gemetar ketakutan setengah mati tatkala ia melihat bahwa orang yang terbunuh oleh gada nya adalah seorang pemuda bangsawan.


"B-bagaimana ini, Macan Tua?


Bisa-bisa aku di hukum mati karena membunuh seorang bangsawan. K-kau harus membantu ku menjelaskan duduk persoalannya loh", ucap Gendol sembari menatap wajah Resi Simharaja penuh harap.


"Enak saja, aku tidak mau!


Bukan aku yang salah kenapa aku harus ikut pusing dengan perbuatan mu? Huhhhhh, makanya jangan sok-sokan main lempar orang seenak jidat mu", ucap Resi Simharaja sembari melangkah ke arah Jaka Umbaran yang baru saja selesai mengobati racun sihir yang dia derita dengan Kembang Wijayakusuma miliknya. Sang pendekar muda itu segera bangkit dari tempat duduknya.


"Ada apa ini? Kenapa kau terlihat panik begitu Ndol?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Eh anu itu Ndoro Pendekar, a-aku..."


"Dia baru saja membunuh seorang bangsawan, Ndoro Umbaran. Dia seenaknya sendiri melemparkan gada miliknya hingga meremukkan kepala nya", sahut Resi Simharaja segera meskipun Gendol belum selesai bicara.


"Hemmmmmmm...


Membunuh seorang bangsawan adalah kejahatan serius. Pelakunya akan mendapatkan hukuman mati", terang Jaka Umbaran sembari menatap ke arah sosok pemuda bangsawan yang telah terbujur kaku menjadi mayat.


"Eh Ndo-Ndoro Pendekar h-harus membantu ku. A-aku ti-tidak mau mati muda", Gendol gemetar saat bicara.


Saat Jaka Umbaran hendak menjawab omongan Gendol, Prabhaswara datang bersama dengan para pendukung setianya dan langsung memotong pembicaraan mereka dengan berkata,


"Itu tidak perlu, Pendekar Gunung Lawu. Dia adalah anak Lokawijaya. Namanya Lokaswara. Tadi dia berhasil kabur dari kepungan para prajurit.


Dan aku memang ingin dia mati.."