
Serta merta kedelapan perempuan cantik berpakaian minim itu segera melesat cepat menerjang maju ke arah para pengikut Jaka Umbaran. Pertarungan sengit pun tidak terelakkan lagi.
Di keroyok oleh Dewi Kenanga dan Dewi Anggrek, Besur justru malah terlihat seperti sedang bermain-main dengan kedua perempuan cantik berbaju minim ini. Dewi Kenanga yang memakai pakaian serba kuning dan Dewi Anggrek yang mengenakan pakaian serba ungu menyerang Besur dari dua sisi yang berbeda.
Thhrraaanggg thhrraaanggg!!
Whhhuuuggghhhh...
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..!!!
Besur yang baru saja menangkis sabetan pedang Dewi Kenanga juga tebasan pedang Dewi Anggrek, segera memutar tubuhnya ke arah samping. Sempat-sempatnya saat seperti itu, dia menjawil pipi Dewi Anggrek lalu mendarat sejauh 2 tombak dari mereka.
Dengan segera, ia mencium telapak tangan kiri nya dengan hisapan dalam.
"Uhhhhhh wangi .... ", ucap Besur sambil tersenyum mesum.
Geram dengan ulah manusia yang satu ini, Dewi Kenanga menerjang maju lebih dulu ke arah Besur sementara Dewi Anggrek yang ingin memberi pelajaran kepada Besur terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Saat menemukan sesuatu yang dia cari, perempuan cantik berbaju ungu muda ini langsung ikut mengepung Besur.
Kepandaian Besur dalam berpedang karena Ilmu Pedang Pemecah Langit yang dia dapat di Pertapaan Harinjing memang bukan main main. Terbukti, meskipun dia dikeroyok oleh dua orang pendekar wanita yang memiliki nama besar dan kemampuan beladiri tinggi ini, sang perwira tinggi prajurit Panjalu ini masih mampu bertahan dari sergapan maut mereka. Bahkan ulah Besur semakin menjadi-jadi setelah ilmu silat berpedang nya mulai terlihat unggul dari mereka berdua.
Dua tebasan cepat kedua perempuan cantik asal Gumuk Mas ini kembali menyasar ke tubuh sang perwira prajurit Panjalu. Besur mengulang kembali gerakan semula dengan menangkis sabetan pedang Dewi Kenanga namun menghindari sabetan pedang Dewi Anggrek. Tangan kiri nya segera terulur untuk menjawil pipi Dewi Anggrek. Sang perempuan cantik berbaju ungu muda ini sedikit menoleh dan menaikkan sebuah potongan kayu yang dia persiapkan sebelumnya hingga tangan kiri Besur menjawil ujung potongan kayu itu.
Begitu berhasil menjauh, Besur pun langsung menjauh sejauh 2 tombak ke belakang sambil mencium tangan kirinya.
"Uhhhh wa... Ehh apa ini kog bau nya aneh?", mendengar ucapan Besur itu, Dewi Anggrek langsung tertawa terbahak-bahak.
"Enak kan bau kotoran kuda?!
Uhhhhhh wangi huahahahahahaha", ucap Dewi Anggrek yang di sambut gelak tawa Dewi Kenanga. Rupanya saat Dewi Kenanga menerjang maju lebih dulu, Dewi Anggrek meraih sepotong kayu yang tergeletak di halaman rumah makan ini lalu menusukkan nya ke dalam kotoran kuda yang ada di dekat geladakan kuda.
"Kotoran kuda?!
Pantas saja bau uhh hoooeeeeggggh bangsat kau setan betina hoooeeeeggggh hoooeeeeggggh..!!!", Besur langsung muntah-muntah berulang kali. Dia segera mengusap-usapkan tangannya ke tanah.
Saat itu juga, Dewi Kenanga dan Dewi Anggrek langsung melesat ke arah Besur yang masih kesal dengan bau kotoran kuda yang masih terasa menempel di hidung nya.
Shhrreeettthhh shhhrrrreeeeettttth..!!!
Sadar bahwa ia sedang dalam bahaya, Besur berguling menghindari sabetan pedang dua Bidadari Gumuk Mas ini. Dengan cepat ia segera mencungkil tanah dengan pedangnya dan melemparkannya ke arah Dewi Kenanga yang berbalik arah usai gagal menghabisi nyawa perwira prajurit Panjalu ini. Perempuan cantik berbaju kuning buru-buru mengayunkan pedangnya untuk menepis lemparan tanah.
Thhaaaassssssshh!
Tanah itu langsung hancur menjadi debu. Akibatnya pandangan Dewi Kenanga dan Dewi Anggrek pun terganggu. Ini di manfaatkan oleh Besur untuk menyerang balik. Kali ini dia tidak main-main lagi.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!
Dua tebasan pedang beruntun dilepaskan oleh Besur terdengar menderu cepat kearah dua perempuan cantik berbaju minim itu. Dua cahaya putih tipis setajam pisau belati menerabas cepat kearah Dewi Kenanga dan Dewi Anggrek. Kontan saja itu membuat dua perempuan cantik itu gelagapan menghindar.
Ini dimanfaatkan oleh Besur untuk menjatuhkan salah satu lawannya dengan melesat cepat kearah Dewi Anggrek yang bergerak ke kiri. Dengan cepat ia melompat tinggi ke udara dan meluncur cepat sambil membabatkan pedang ke arah perempuan cantik itu.
Kedatangan serangan cepat itu langsung membuat Dewi Anggrek kaget setengah mati dan berusaha untuk menangkis sabetan pedang Besur.
Thhrraaanggg!!!!
Besur memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah punggung perempuan cantik itu. Akibatnya Dewi Anggrek pun terjungkal menyusruk tanah. Setelah berhasil menjatuhkan Dewi Anggrek, Besur memburu Dewi Kenanga dengan sabetan pedang cepat bertubi-tubi yang membuat perempuan cantik berbaju minim ini terdesak mundur.
Selain Besur, anggota pengawal Jaka Umbaran yang lain pun juga berhasil membuat para Bidadari Gumuk Mas lainnya keteteran menghadapi mereka.
Dewi Melati dan Dewi Mawar yang mengeroyok Wara Andhira, harus mengakui keunggulan perempuan cantik asal Gunung Raung ini. Beberapa luka akibat sayatan pedang perempuan cantik itu telah banyak menghiasi tubuh mereka.
Dewi Kemuning dan Dewi Cempaka yang mengeroyok Baratwaja pun tak kalah menderita. Bahkan sebuah pisau belati kecil milik Baratwaja menancap di dada kiri Dewi Cempaka. Dewi Kemuning sendiri telah roboh tak berdaya di tanah usai menerima hantaman Baratwaja yang telak menghajar ulu hati nya.
Nasib yang lebih mengenaskan juga dialami oleh lawan Gendol yakni Dewi Kamboja dan Dewi Kantil. Dua orang perempuan cantik itu sudah tersungkur di tanah sambil memuntahkan darah segar. Meskipun Gendol tidak seluruhnya menggunakan tenaga dalam yang dimiliki oleh nya, namun nyatanya mereka bukanlah lawan yang seimbang dengan pendekar bergigi jarang ini.
"Cukup! Hentikan pertarungan ini, jangan dilanjutkan lagi!"
Suara keras nan berwibawa Jaka Umbaran dari dalam rumah makan itu serta merta menghentikan Besur, Wara Andhira, Gendol dan Baratwaja. Mereka berempat pun mundur selangkah demi selangkah namun tetap terlihat waspada terhadap Delapan Bidadari Gumuk Mas yang sudah mereka kalahkan.
Dari dalam rumah makan, Jaka Umbaran terlihat keluar diiringi oleh Resi Simharaja. Sang pangeran muda dari Kadiri ini telah meninggalkan beberapa kepeng perak di atas meja sebagai ongkos makan mereka semua. Resi Mpu Wedakanwa dan kedua muridnya Rimbugati dan Nirmala pun juga ikut keluar dari dalam rumah makan itu.
Tumenggung Ardhalepa pun segera mendekati sang pangeran muda. Melihat wibawa yang di miliki oleh pemuda tampan itu, dia sudah bisa memastikan bahwa pemuda ini bukanlah pendekar muda biasa.
"Terimakasih karena telah menghentikan pertarungan ini, Anak muda...
"Tidak mengapa, Gusti Tumenggung..
Ada yang lebih penting daripada sekedar bertarung tanpa tujuan. Kami masih memiliki tujuan yang lebih penting. Oh iya, ini Resi Mpu Wedakanwa sedang dalam perjalanan ke Kota Lamajang. Jika tidak merepotkan, hamba minta tolong untuk menunjukkan jalan kesana", pinta Jaka Umbaran dengan sopan.
"Menolong orang yang sedang membutuhkan adalah hal mulia, Kisanak..
Tentu saja aku tidak keberatan", jawab Tumenggung Ardhalepa sembari tersenyum tipis.
"Kalau begitu hamba menjadi tenang sekarang..
Resi Mpu Wedakanwa, untuk selanjutnya Gusti Tumenggung Ardhalepa akan membantu mu ke Kota Kadipaten Lamajang. Mohon maaf aku tidak bisa mengantarkan mu sampai kesana", ujar Jaka Umbaran seraya menoleh ke arah Resi Mpu Wedakanwa dan kedua muridnya.
"Tidak apa-apa, Pendekar muda..
Kau tentu memiliki kepentingan sendiri yang jauh lebih besar daripada mengantar kami ke Kota Lamajang. Pergilah, semoga Hyang Akarya Jagat senantiasa melindungi perjalanan mu", balas Resi Mpu Wedakanwa sembari tersenyum tipis.
"Kalau begitu aku permisi dulu, Resi. Jaga dirimu baik-baik..
Sur, Ndol, Baratwaja dan kau Wara Andhira..
Kita lanjutkan perjalanan. Para perempuan itu akan di urus oleh Gusti Tumenggung Ardhalepa. Ayo kita berangkat..", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran menghormat pada Tumenggung Ardhalepa sesaat sebelum dia melangkah menuju ke arah kuda nya yang tertambat di geladakan rumah makan ini. Sebentar kemudian, Jaka Umbaran dan para pengikutnya telah menggebrak kuda mereka masing-masing menuju ke arah timur. Semua orang terus memandangi mereka hingga menghilang di balik tikungan jalan.
Setelah menempuh perjalanan dua hari lamanya, akhirnya mereka sampai di perbatasan wilayah antara Kerajaan Jenggala dan Blambangan. Untung saja, selepas gangguan dari 8 Bidadari Gumuk Mas, mereka tidak menemui masalah lain di perjalanan.
Wara Andhira pun segera mengarahkan mereka ke tenggara Kerajaan Blambangan dimana hutan yang dituju oleh Jaka Umbaran dan kawan-kawan berada.
Tepat menjelang tengah hari, mereka berenam sampai di tepi hutan lebat yang nampak sejuk dengan banyaknya tumbuhan yang sudah berusia ratusan tahun. Ya, mereka telah sampai di tempat yang merupakan salah satu dari keenam kerajaan siluman terkuat yang ada di pulau Jawa, Alas Purwo.
Kata purwo merujuk pada arti kata lama, tua, awal dan kuno. Ini menunjukkan betapa hutan lebat ini memiliki kesan yang mendalam karena dianggap sebagai cikal bakal adanya kehidupan di pulau Jawa. Bahkan sampai hari inipun, Alas Purwo dianggap sebagai tempat paling angker di Tanah Jawadwipa khususnya di wilayah ujung timur Pulau Jawa.
"Kita sudah sampai di Alas Purwo, Gusti Pangeran...", ucap Wara Andhira yang segera dibalas dengan anggukan kepala dari Jaka Umbaran.
"Ini berarti bahwa tugas mu telah rampung, Andhira..
Sekarang kau bebas untuk pergi kemanapun kau mau. Mengenai janji yang telah ku ucapkan, kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan memenuhinya setelah aku mendapatkan apa yang aku cari di Alas Purwo ini", ucap Jaka Umbaran segera.
Huhhhhh...
"Habis manis sepah di buang. Tidak, aku tidak mau jika harus ditinggal sendiri di sini. Aku ikut masuk ke dalam Alas Purwo. Nanti kalau kau ingkar janji, aku kerepotan untuk mencari mu di Kotaraja Daha", ucap Wara Andhira bersikeras untuk ikut.
"Terserah pada mu, akan tetapi kalau terjadi apa-apa dengan mu, aku tidak bertanggungjawab", ucap Jaka Umbaran sembari menghela nafas berat.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri", jawab Wara Andhira. Mendengar kekerasan hati perempuan cantik itu, Jaka Umbaran hanya menggelengkan kepalanya.
"Resi Simharaja, gunakan penciuman mu untuk mencari keberadaan Istana Siluman Alas Purwo..", mendengar perintah dari sang majikan, Resi Simharaja mengangguk mengerti. Terlihat dia seperti sedang mengendus-endus sesuatu. Sebentar kemudian dia menunjuk ke arah tenggara.
"Istana mereka ada di sebelah sana".
Dipimpin oleh Resi Simharaja, Jaka Umbaran dan para pengikutnya pun mulai memasuki Alas Purwo. Saat jalan sudah tidak mungkin di lalui dengan berkuda, mereka meninggalkan kuda mereka lalu berjalan kaki melintasi rimbunnya semak perdu dan akar pepohonan besar yang tumbuh subur di kawasan hutan lebat ini.
Setelah cukup jauh masuk ke dalam hutan, tiba-tiba...
Aaaauuuuuuuuuwwwwww...
Terdengar suara lolongan serigala yang sanggup membuat nyali bergidik ngeri. Besur yang sedikit takut dengan hantu dan sejenisnya, merapatkan langkahnya dengan Baratwaja. Mereka terus menembus rimbun nya hutan ini. Dan suara lolongan serigala itu semakin lama semakin banyak terdengar.
Entah darimana datangnya, seorang lelaki tua tak berbaju terlihat sedang memotong ranting pohon kering. Kemunculan nya yang tiba-tiba cukup mengagetkan Jaka Umbaran dan kawan-kawan.
"Jangan teruskan niat kalian untuk masuk ke dalam hutan ini. Pulanglah sebelum terlambat", ucap lelaki tua itu tanpa menoleh ke arah Jaka Umbaran dan rombongannya.
"Memangnya kenapa tidak boleh masuk? Apa urusan nya dengan mu, pencari kayu bakar?!", Gendol angkat bicara.
Tiba-tiba saja muncul aura hitam pekat dari tubuh lelaki tua itu yang segera menoleh ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan sembari memamerkan wajahnya yang mengerikan. Separuh wajahnya tidak memiliki daging maupun kulit bahkan terlihat lebih pada sesosok mayat yang telah membusuk karena penuh dengan belatung.
"Kalau kalian keras kepala, kalian akan bernasib sama seperti ku!!!"
Teriakan keras dari lelaki tua berwajah mengerikan ini membuat Wara Andhira, Gendol, Besur dan Baratwaja mundur selangkah. Namun tidak halnya dengan Resi Simharaja dan Jaka Umbaran. Bahkan Resi Simharaja terlihat mendelik kereng pada sosok mayat hidup ini.
"Kumbangjati!!!
Apa kau pikir bisa menakuti kami dengan permainan anak-anak seperti itu hah?!"