JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Selamat Tinggal Kotaraja Kawali


Meskipun mulutnya mengatakan tidak, namun jujur saja Dewi Rengganis begitu cemburu melihat kedekatan Jaka Umbaran dan Putri Padmadewi. Ya namanya juga wanita, pintar sekali menyembunyikan perasaan mereka sendiri.


"Ya sudah kalau tidak cemburu..


Kalau begitu, aku akan tinggal disini beberapa hari lagi saja. Pasti Putri Pangeran Rakeyan Jayagiri itu akan senang sekali hehehehe", Jaka Umbaran terkekeh geli.


"Huhhhhh...


Awas saja kalau Kakang Umbaran melakukan nya. Aku tidak akan bicara lagi pada mu", setelah berkata begitu, Dewi Rengganis langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke dalam balai tamu kehormatan yang menjadi tempat tinggal sementara mereka.


"Haih dasar perempuan..


Lain di mulut, lain pula di hati. Benar-benar membikin pusing kepala", gumam Jaka Umbaran sembari melirik ke arah perginya Dewi Rengganis. Sementara itu, Nyai Larasati tersenyum penuh arti melihat ributnya dua anak muda ini.


"Kau harus banyak bersabar menghadapi sifat Rengganis, Pendekar Gunung Lawu.


Sejak kecil, dia aku asuh agar nyawanya tidak selalu terancam dari bahaya. Dia memiliki sifat yang sedikit keras karena pengalaman hidupnya yang tidak begitu indah", ucap Nyai Larasati segera.


"Apa yang terjadi pada Rengganis di masa lalu, Nyai? Tolong kau ceritakan semuanya pada ku", Jaka Umbaran menatap wajah Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan yang langsung menghela nafas panjang sebelum berbicara. Pandangan matanya menerawang jauh ke langit seolah mengorek sesuatu yang lama dia pendam sendiri.


"Ayahnya adalah Prabhaswara, putra Adipati Lokananta dari garwa ampeyan (selir). Dia adalah adik tiri dari Adipati Lokawijaya yang menjadi penguasa Kadipaten Paguhan sekarang. Prabhaswara kini menjadi buronan pemerintahan Adipati Lokawijaya di Paguhan. Ini dikarenakan adanya hasutan dari Patih Pandusena yang ingin menyingkirkan semua anak keturunan Adipati Lokananta termasuk Prabhaswara. Entah dengan alasan apa, Patih Pandusena mencelakai seluruh keturunan Adipati Lokananta. Patih tua itu memiliki akal licik yang banyak. Dia menjebak Prabhaswara sahabat ku dengan menaruh sebuah surat yang ada hubungannya dengan Mpu Wiritanaya, seorang pembelot penguasa Lembah Kali Luk Ulo di wilayah Pakuwon Panjer yang tidak mau mengakui Lokawijaya sebagai Adipati baru Paguhan karena Lokawijaya dianggapnya bukan anak sah Adipati Lokananta. Permasalahan ini hingga membuat Prabhaswara terpaksa harus kabur dari Istana Kadipaten Paguhan demi menyelamatkan nyawa istri dan anaknya.


Dalam pelarian itu, Prabhaswara menitipkan Dewi Rengganis untuk aku rawat setelah istri Prabhaswara meninggal dunia dalam perjalanan pelarian. Menurut kabar yang pernah aku dengar, Prabhaswara melarikan diri ke Panjer yang bersedia untuk menampungnya karena Prabhaswara adalah satu-satunya keturunan Adipati Lokananta yang masih hidup.


Oleh karena inilah yang menjadi sikap Rengganis kadang sedikit kasar walaupun sebenarnya dia berdarah bangsawan. Jadi aku minta kamu harus bisa menahan diri dan membimbing Rengganis agar kelak kembali lagi sebagai wanita yang lemah lembut seperti bangsawan pada umumnya", pungkas Nyai Larasati mengakhiri cerita nya.


Hemmmmmmm..


"Rupanya Rengganis ada dalam pusaran arus perebutan kekuasaan di Kadipaten Paguhan. Dia menjadi korban dari keserakahan orang yang ingin berkuasa.


Aku sudah mengerti apa yang harus ku lakukan. Terimakasih atas penjelasannya", ucap Jaka Umbaran sembari mengangguk mengerti.


Menjelang senja, Jaka Umbaran menghadap ke Pangeran Rakeyan Jayagiri untuk berpamitan. Mendengar itu, Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri mengelus kumis tebal nya.


"Aku tidak bisa mencegah kepergian mu, Pendekar Gunung Lawu. Jujur saja, aku juga ingin kau tinggal di tempat ini untuk membantu ku menjaga keamanan Kotaraja Kawali. Akan tetapi, aku juga tahu bahwa kau juga memiliki kepentingan mu sendiri.


Aku selalu berdoa kepada Hyang Akarya Jagat agar kau selalu ada dalam lindungan nya. Pintu istana Kawali akan selalu terbuka untuk mu kembali", ujar Pangeran Rakeyan Jayagiri segera.


"Terimakasih atas kebaikan hati Gusti Pangeran Rakeyan Jayagiri. Kalau begitu ijinkan hamba untuk undur diri mempersiapkan segala sesuatunya. Besok pagi, hamba akan meninggalkan istana ini", setelah berucap demikian, Jaka Umbaran segera menghormat pada Pangeran Rakeyan Jayagiri sebelum beringsut mundur meninggalkan serambi utama kediaman putra mahkota Kerajaan Galuh Pakuan itu.


Dari balik pintu samping kediaman, ada sepasang mata indah seorang gadis cantik berkaca-kaca mendengar pembicaraan itu.


Senja terus beranjak naik di tandai dengan semakin memerahnya langit barat. Ratusan kelelawar beterbangan mencari makan. Sedangkan para burung siang pun telah kembali ke sarangnya. Perlahan malam mulai menyelimuti seluruh wilayah Kotaraja Kawali.


Setelah makan malam, Jaka Umbaran segera kembali ke dalam bilik kamar tidur nya. Dia dengan cekatan merapikan beberapa potong pakaian baru yang dia beli di kawasan pasar besar. Di tambah dengan beberapa hadiah pemberian Pangeran Rakeyan Jayagiri, dia mengemasnya dalam buntalan kain hitam.


Malam terus bergerak naik. Selesai merapikan pakaian nya, Jaka Umbaran berniat untuk beristirahat. Seperti kebiasaan nya di Pertapaan Watu Bolong dulu, pendekar muda ini selalu bersemedi sambil mengolah cipta, rasa dan karsa nya untuk mengasah kemampuan ilmu batinnya agar semakin mumpuni. Sebentar kemudian dia sudah tenggelam dalam semedi.


Suara jangkrik dan belalang yang terdengar bersahutan dari rimbun bebungaan yang ada di taman sari dekat tempat itu terhenti. Telinga Jaka Umbaran yang peka mendekati suara langkah kaki yang sangat ringan sedang mendekati jendela kamar tidur nya.


Dengan satu gerakan cepat nan ringan, Jaka Umbaran segera melesat ke rangka atap bangunan. Perlahan dia menyingkap daun alang-alang kering yang menjadi atap rumah lalu sekali hentak, tubuh nya keluar dari atap bangunan nyaris tanpa suara. Dia segera mendarat di puncak bangunan dan melihat sekeliling. Matanya yang tajam melihat sesosok bayangan sedang mengendap-endap mendekati jendela kamar mandi nya.


Melihat itu, sekali gerak tubuh Jaka Umbaran meluncur turun ke samping sosok bayangan hitam itu dan langsung menyerangnya.


Whuuuggghh!!


Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh!!


"Gus-Gusti Putri Padmadewi??!


Kenapa kau mengendap....hmmmppfff"


Tak sempat meneruskan omongan, mulutnya langsung di bungkam dengan mulut oleh sosok bayangan hitam yang tak lain adalah Putri Padmadewi. Mulanya Jaka Umbaran hendak menolak, namun lama-lama dia pasrah saja menikmati ciuman bibir merah merona sang putri Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri.


Cukup lama mereka berciuman hingga Putri Padmadewi melepaskan ciuman nya pada Sang Pendekar Gunung Lawu. Setelah itu, Putri Padmadewi menggelandang tangan Jaka Umbaran untuk masuk ke dalam kamar namun sang pendekar muda segera menahannya.


"Mau kemana Gusti Putri?"


"Aku akan menyerahkan kehormatan ku pada mu Akang Umbaran. Agar setelah kau pergi, kau tidak akan pernah bisa melupakan ku", ucap Putri Padmadewi dengan mata yang berlinang airmata. Mata perempuan cantik itu memang terlihat bengkak. Mungkin karena dia telah menangis cukup lama tadi.


Mendengar jawaban itu, Jaka Umbaran tersenyum manis sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak boleh, Gusti Putri. Hanya suami mu yang sah saja yang boleh menyentuh mu kelak. Aku tidak boleh merusak mu hanya karena nafsu sesaat saja", ucap Jaka Umbaran dengan lembut.


"Tapi tapi aku..."


"Ingin menjadi istri ku? Aku masih belum bisa menetap untuk sekarang ini Gusti Putri Padmadewi. Aku masih harus menyelesaikan tugas dari guru ku sebelum mencari keberadaan sosok orang tua ku di sekitar wilayah Kotaraja Daha.


Jika kelak Dewata Yang Agung menjodohkan kita, pasti akan ada jalannya", mendengar jawaban itu, Putri Padmadewi langsung bicara.


"Aku akan ikut dalam menyelesaikan tugas mu dan mencari orang tua mu, Akang Umbaran. Ijinkan aku untuk ikut kemanapun kamu pergi", Jaka Umbaran menggeleng cepat sambil tersenyum penuh arti.


"Jalan ku sangat berbahaya, Gusti Putri. Aku sendiri tidak tahu jalan ku ke depan seperti apa. Untuk saat ini, aku tidak bisa melindungi semua orang. Karena itu, lebih baik Gusti Putri Padmadewi sementara tinggal saja di istana. Kelak, jika Dewata mengijinkan, pasti akan ada jalan untuk kita bersama lagi.


Ini ada ikat kepala yang selalu aku pakai. Peganglah benda ini jika kelak kau merindukanku, Gusti Putri.


Sekarang kembalilah ke tempat tidur mu, Gusti Putri. Ini sudah malam, tak baik seorang gadis keluyuran sendirian di waktu ini", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum manis.


Sedikit kecewa karena hal ini, Putri Padmadewi mengangguk lemah. Mau tidak mau, dia harus menerima kenyataan bahwa dia tidak memiliki cukup kemampuan beladiri untuk menemani perjalanan Jaka Umbaran yang penuh dengan bahaya. Karena itu, kini dia bertekad untuk mempelajari ilmu kanuragan agar kelak akan mampu mengimbangi kemampuan lelaki pujaan hatinya ini. Sesaat sebelum menghilang di balik pintu, Putri Padmadewi menatap wajah tampan untuk melihat lelaki yang dicintainya itu pergi. Sambil memegang erat ikat kepala hitam di tangan kanannya, ia kembali ke arah kamar tidur nya.


Malam terus merangkak naik. Ada beberapa pasang mata yang sulit sekali terpejam, entah kenapa. Menjelang pagi, hujan yang sudah lama tidak turun, mengguyur Kotaraja Kawali. Meskipun tidak begitu deras namun cukup menghilangkan debu. Langit menjadi mendung dengan udara yang dingin. Di dalam kamar tidur nya, Putri Padmadewi menatap ke arah luar. Pikirannya kosong entah kemana. Cuaca hari ini benar-benar mewakili perasaannya.


Pagi itu, rombongan kecil Jaka Umbaran meninggalkan Kotaraja Kawali. Setelah keluar dari Kotaraja Kawali dan menyeberangi sungai Cipakancilan yang menjadi anak Sungai Citanduy, mereka menyusun pinggiran sungai itu ke arah selatan. Melewati beberapa wanua seperti Selamanik dan Kertabumi juga beberapa hutan kecil di sepanjang bantaran selatan Sungai Cipakancilan, mereka memasuki wilayah Pakuwon Banjar Pataruman yang merupakan salah satu wilayah paling timur Kerajaan Galuh Pakuan sebelum menyeberang ke wilayah Paguhan yang masuk wilayah Kerajaan Panjalu.


Di kota kecil ini, mereka segera mencari tempat bermalam setelah mendengar berita bahwa Sungai Citanduy sedang meluap dan tak bisa untuk menyeberang. Di salah satu penginapan yang ada di sisi timur Kota Pakuwon Banjar Pataruman, mereka menginap.


Ketika mereka memasuki Kota Pakuwon Banjar Pataruman, dua pasang mata terus mengawasi perjalanan mereka. Saat rombongan Jaka Umbaran memasuki penginapan yang bernama Penginapan Taruma ini, mereka segera berbalik arah menuju ke sebuah rumah yang terletak di kawasan selatan Pakuwon Banjar Pataruman.


Seorang lelaki paruh baya berkepala botak dengan rambut putih di sekitar telinga, berhidung bengkok ujungnya layaknya paruh seekor burung elang sedang duduk bersama beberapa orang temannya. Terlihat bahwa lelaki paruh baya berpakaian hitam dan biru gelap itu merupakan pimpinan kelompok orang-orang yang sedang berkumpul. Saat dua orang itu datang, pembicaraan mereka langsung terhenti. Si lelaki berkepala botak langsung bertanya kepada mereka.


"Ada apa? Kenapa kalian kemari? Bukankah kalian aku tugaskan untuk memata-matai pergerakan prajurit Galuh Pakuan?", tanya si lelaki berkepala botak itu segera.


"Ampun Elang Botak..


Kami kira kau akan lebih tertarik untuk membunuh orang yang membuat pasukan kita kalah dalam penyerangan tempo hari", mendengar laporan itu, Si Elang Botak bekas tangan kanan Jerangkong Hitam yang berhasil melarikan diri langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Siapa orang yang kau maksudkan? Pangeran Rakeyan Jayagiri?!", kembali Si Elang Botak bertanya. Si mata-mata dengan cepat menukas omongan itu,


"Bukan, dia bukan Pangeran Rakeyan Jayagiri. Akan tetapi dia adalah,


Orang yang membunuh Jerangkong Hitam!"