JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Jaka Umbaran Melawan Dewa Kalong Merah


"Tapi kau..."


"Sudahlah, gelar pengatur wilayah tengah tidak penting buat ku. Aku meminta Kakang Umbaran untuk maju, hanya untuk memberi pelajaran pada kelelawar tua itu. Selama ini di begitu seenaknya di wilayah Kadipaten Lasem", ujar Sadewa segera.


"Benar sekali omongan Paman Pedang Kilat, Kakang Umbaran..


Apa kakang tidak ingat dengan orang yang nyaris mencelakai aku dan guru saat pertama kali kita bertemu? Ya, mereka adalah orang-orang Perguruan Kelelawar Merah. Dewa Kalong Merah itu adalah sekutu Mpu Untara, karena itu mereka mengejar-ngejar kami yang sudah menjauh dari wilayah selatan hanya untuk menyenangkan sekutu mereka.


Pokoknya Kakang Umbaran harus memberi kelelawar tua itu pelajaran yang akan dia ingat seumur hidupnya", timpal Niluh Wuni yang tiba-tiba saja ikut nimbrung dalam obrolan Sadewa dan Jaka Umbaran.


"Kalian ini ...


Haish benar benar keterlaluan sekali", gerutu Jaka Umbaran sambil menghela nafas berat. Sadewa langsung maju selangkah ke depan dan berbicara keras setelah Permadi dan Juwana memapah tubuh Locana ke dekat tempat mereka berada.


"Aku Sadewa dari Perguruan Bukit Katong mengakui keunggulan dari Dewa Kalong Merah", mendengar ucapan itu, Sukrasana si Dewa Kalong Merah tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi diantara alur saudara seperguruan kami, masih ada kakak seperguruan ku yang ingin menjajal kemampuan beladiri pimpinan Perguruan Kelelawar Merah. Mohon tidak keberatan", imbuhan omongan Sadewa langsung membuat semua orang menatap ke arah rombongan murid Perguruan Bukit Katong. Senyum lebar Dewa Kalong Merah pun langsung menghilang seketika dan berganti dengan tatapan mata tajam ke arah Sadewa dan kawan-kawannya.


Sadewa mundur selangkah ke samping kanan dan wajah tampan Jaka Umbaran yang semula tertutup badan Sadewa, menyembul dari kerumunan murid Perguruan Bukit Katong.


"Ini Kakang Jaka Umbaran, murid Paman Guru Maharesi Siwamurti dari Pertapaan Watu Bolong. Dia yang akan mencoba untuk mengimbangi kemampuan beladiri mu, Dewa Kalong Merah".


Semua orang langsung terkejut bukan main mendengar ucapan Sadewa. Bahkan Maharesi Haridharma yang duduk di kursi tamu kehormatan pun langsung menajamkan mata nya ke arah sosok pemuda tampan yang sedang berdiri di depan rombongan murid Perguruan Bukit Katong.


Bagi mereka semua, nama besar Maharesi Siwamurti sebagai pendekar besar dunia persilatan Tanah Jawadwipa tidak perlu dipertanyakan lagi. Julukannya sebagai Dewa Pertapa Tanpa Tanding pun sudah cukup menjelaskan seberapa tinggi kemampuan beladiri orang tua itu. Dan kini ketika muridnya tiba-tiba muncul di acara pertemuan para pendekar ini tentu saja menyebabkan kehebohan di kalangan para pendekar yang hadir di Lembah Kali Gung.


Bahkan Dewa Kalong Merah pun cukup kaget mendengar berita itu. Lelaki tua bertubuh kurus dengan wajah tirus ini langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam.


'Pantas saja dia bisa mengalahkan Banupati dengan mudah. Tapi bocah ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Dendam murid ku harus aku balas'


Mpu Dirgo segera tersenyum kala Jaka Umbaran melangkah maju ke tengah halaman Perguruan Golok Sakti.


"Kau yang bernama Jaka Umbaran?", tanya Mpu Dirgo segera.


"Benar Kisanak. Aku Jaka Umbaran dari Gunung Lawu", jawab jujur Jaka Umbaran sembari menghormat pada pimpinan Perguruan Golok Sakti.


"Baguslah kalau begitu..


Silahkan mulai pertandingan nya. Ingat tidak diperbolehkan untuk membunuh satu sama lain", ucap Mpu Dirgo sambil tersenyum tipis. Dia kemudian berbalik arah dan melangkah menuju ke tepi halaman. Saat melewati Jaka Umbaran, dia menepuk pundak Jaka Umbaran sembari berkata lirih.


"Hajar tua bangka ini sampai setengah mati, pendekar muda. Aku mengandalkan mu'


Setelah Mpu Dirgo sampai di tepi halaman, baik Jaka Umbaran maupun Sukrasana si Dewa Kalong Merah segera melakukan kembangan ilmu silat mereka. Setelah itu Dewa Kalong Merah melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah wajah tampan Jaka Umbaran. Gerakannya sungguh cepat karena dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh!!!


Jaka Umbaran segera menggeser posisi kepalanya sedikit hingga cakar tangan berkuku tajam itu hanya mampu menyambar angin sejengkal di samping kanan wajahnya. Pendekar Gunung Lawu ini pun segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan cepat kearah pinggang Dewa Kalong Merah.


Whhhuuuggghhhh!


Sambaran angin dingin berdesir kencang mengikuti gerakan sang pendekar. Dewa Kalong Merah pun langsung mengepakkan kedua tangan nya hingga dia laksana terbang menghindari tendangan keras Jaka Umbaran.


Melihat itu, Jaka Umbaran merendahkan tubuhnya dan sekuat tenaga melenting tinggi memburu Dewa Kalong Merah yang ada di udara. Setelah sampai di depan sang pimpinan Perguruan Kelelawar Merah, Jaka Umbaran segera melayangkan pukulan cepat bertubi-tubi kearah Dewa Kalong Merah yang kaget melihat munculnya Jaka Umbaran di hadapannya.


Whhhuuutthh whhhuuutthh..


Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..


Dhhhaaaassshhhh...!!!


Pertarungan sengit tangan kosong di udara menjadi pemandangan yang luar biasa. Semua orang terperangah melihat itu semua.


"Bo-bocah ini luar biasa", gumam Resi Mpu Anubhaya yang duduk di kursi sebelah Dewi Kembang Bulan yang ada di panggung kehormatan.


"Benar Resi.. Dewa Kalong Merah mendapat lawan yang seimbang dengan nya..


Ini sungguh menarik", balas Dewi Kembang Bulan sambil tersenyum. Perempuan cantik yang terlihat seperti seorang gadis muda walaupun usianya sudah menginjak angka 5 dasawarsa ini pun tersenyum lebar.


Whhhuuuggghhhh...


Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!!


Baik Jaka Umbaran maupun Sukrasana si Dewa Kalong Merah sama sama mendarat turun ke tanah usai beradu pukulan keras berlapis tenaga dalam. Sukrasana terlihat ngos-ngosan mengatur nafasnya sementara itu Jaka Umbaran hanya menyeka peluh yang membasahi dahinya.


'Bajingan kecil ini rupanya memiliki kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Aku tidak boleh kalah dengan bocah busuk ini', batin Sukrasana si Dewa Kalong Merah sembari mengusap keringat yang keluar dari pelipisnya. Pertarungan ilmu silat tangan kosong yang berlangsung beberapa puluh jurus, sudah cukup untuk mengukur kemampuan beladiri lawan yang dia hadapi.


Melihat lawannya sudah siap dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi nya, Jaka Umbaran yang sudah mengetahui sejauh mana kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh Sukrasana si Dewa Kalong Merah, segera memejamkan mata sebentar. Begitu terbuka, manik mata pendekar ini memancarkan cahaya kuning keemasan. Rupanya dia bersiap menghadapi tantangan Dewa Kalong Merah dengan Ajian Bandung Bondowoso.


"Bocah kemarin sore, aku beri kesempatan terakhir pada mu. Menyerah dan kau masih bisa melihat cahaya matahari esok hari atau mati hari ini", ucap Dewa Kalong Merah lantang. Cakar tangannya yang kini hanya tinggal 9 buah, semakin pekat memancarkan cahaya merah kehitaman yang menakutkan.


"Menyerah? Itu tidak ada dalam perbendaharaan kata ku, Dewa Kalong Merah!


Majulah, biar bisa di lihat siapa yang mampu tertawa di akhir pertandingan", balas Jaka Umbaran sambil tersenyum tipis.


"Bocah keparat!!


Kau akan menyesali apa yang telah kau ucapkan..!!"


Selesai berkata seperti itu, Dewa Kalong Merah menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara. Sesampainya di udara, tubuhnya tidak meluncur turun namun kain merah yang menjadi pelindung tubuhnya seketika berubah menjadi seperti sayap yang menahan tubuhnya di udara. Inilah alasan mengapa dia di sebut dengan julukan Dewa Kalong Merah.


Sembari menggembor keras, Dewa Kalong Merah langsung mengayunkan kedua cakar tangan nya bergantian ke arah Jaka Umbaran.


Shhrrraaakkkkkhh shhrrraaakkkkkhh!!


Sembilan larik cahaya merah kehitaman setipis pedang menerabas cepat kearah Jaka Umbaran. Angin panas menderu kencang mengikuti sembilan larik cahaya merah kehitaman itu.


Jaka Umbaran segera menghirup udara sebanyak mungkin saat cahaya merah kehitaman itu menghantam tubuh nya yang sekilas terlindung oleh cahaya kuning keemasan tipis.


Blllaaammmmmmmm!!!


"Kakang Umbaran...!!!!", teriak Dewi Rengganis yang turut menyaksikan pertandingan ini. Jaka Umbaran yang tidak menghindar sama sekali dari serangan maut Dewa Kalong Merah memang telak terkena hantaman Ajian Cakar Kalong Siluman.


Asap tebal bercampur debu beterbangan seketika menutupi tempat Jaka Umbaran berdiri. Semua orang di tempat itu langsung menduga bahwa Jaka Umbaran telah tewas. Hanya Resi Simharaja, Gendol, Niluh Wuni dan Sekar Kantil dan para murid Perguruan Bukit Katong saja yang masih terlihat tenang.


"Sayang sekali, pemuda itu tewas dengan cara mengenaskan seperti itu.


Padahal dia adalah calon penerus kependekaran Tanah Jawadwipa yang memiliki bakat tinggi", ujar Dewi Kembang Bulan sembari menatap ke tengah halaman Perguruan Golok Sakti.


"Kau tidak boleh berpikir seperti itu, Nini Dewi..


Lihatlah para murid Perguruan Bukit Katong. Bukankah aneh melihat kawan mereka terkena hantaman Ajian Cakar Kalong Siluman tapi mereka sama sekali tidak memperlihatkan kesedihan sama sekali. Apa kau tidak merasa janggal?", Resi Mpu Anubhaya menunjuk ke arah Gendol dan kawan-kawan.


"Eh iya ya, kenapa mereka terlihat tenang-tenang saja sementara kawan mereka sudah tewas. Hemmmmmmm ini aneh sekali..


Jangan-jangan mereka...", Dewi Kembang Bulan tidak meneruskan omongannya melainkan menajamkan pandangan nya ke arah kepulan asap tebal di tengah halaman Perguruan Golok Sakti, tempat dimana Jaka Umbaran berdiri.


Tatapan mata Dewi Kembang Bulan samar-samar melihat sesosok bayangan masih berdiri di tempat itu. Perlahan bayangan itu semakin jelas dan terlihat tersenyum lebar disana. Mata Dewi Kembang Bulan langsung membeliak lebar seketika.


"Pendekar muda itu masih hidup..!!!!"


Teriakan keras Dewi Kembang Bulan sontak membuat semua orang menatap ke arah tengah halaman Perguruan Golok Sakti. Perlahan asap tebal dan debu beterbangan itu menghilang, luruh ke bumi dan sesosok lelaki muda tampan berdiri di sana baik-baik saja.


Sukrasana si Dewa Kalong Merah yang semula yakin bahwa Jaka Umbaran sudah pasti tewas di tangan nya tersentak kaget. Senyum lebar yang sempat terukir di wajah tirus nya langsung menghilang seketika kala melihat Jaka Umbaran berdiri tanpa luka sedikitpun di tempat ia berpijak.


"Ba-bagaimana mungkin ini terjadi??


Jelas jelas tadi dia sudah terkena Ajian Cakar Kalong Siluman ku, tapi kenapa dia tidak terluka sama sekali? Malah terlihat segar bugar begitu? Ini pasti bohong!!"


Dewa Kalong Merah mengucek matanya beberapa kali seolah matanya terkena debu dan perlu di bersihkan agar matanya mampu melihat jelas. Namun tetap saja, hal yang sama terjadi di depan mata nya.


Sama seperti Dewa Kalong Merah, semua orang juga terlihat tak percaya dengan apa yang telah mereka lihat. Semuanya merasa itu hanya ilusi semata namun kenyataannya tidak sama sekali. Mereka semua seperti melihat sosok Dewa Pertapa Tanpa Tanding tengah berdiri di depan mereka semua.


"Sekarang giliran ku untuk menyerang, Dewa Kalong Merah. Bersiaplah..!!!"


Selepas berkata demikian, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah Dewa Kalong Merah yang masih belum sepenuhnya sadar bahwa ia tengah dalam masalah besar. Saat Jaka Umbaran muncul di hadapan nya, Dewa Kalong Merah terkejut bukan main. Melihat Jaka Umbaran menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah berwarna putih kebiruan, pimpinan Perguruan Kelelawar Merah itu langsung berupaya keras untuk bertahan dengan kedua tangan menyilang di depan dada.


Blllaaammmmmmmm!!!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!!


Dewa Kalong Merah menjerit keras saat hantaman tapak tangan kanan Jaka Umbaran menghantam lengan kiri nya yang ada di depan dada. Tangan kiri lelaki bertubuh kurus itu langsung hancur dan putus hingga siku saking kuatnya tenaga Ajian Guntur Saketi yang di lepaskan oleh Jaka Umbaran. Tubuh tua Dewa Kalong Merah pun langsung mencelat jauh ke belakang hingga pinggir halaman yang berjarak 30 tombak jauhnya. Mulut, hidung dan telinga kakek tua itu langsung mengeluarkan darah segar.


Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga semua orang tak bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi, kecuali beberapa pendekar berilmu tinggi yang memang dapat melihat dengan jelas meskipun itu terjadi sangat cepat.


Jaka Umbaran segera menurunkan telapak tangannya sejajar pinggang sembari menghela nafas panjang. Melihat itu, Mpu Dirgo segera melesat ke tengah halaman Perguruan Golok Sakti. Melihat keadaan Dewa Kalong Merah yang mengenaskan, dia langsung tersenyum tipis ke arah Jaka Umbaran sebelum berkata,


"Pertandingan ini dimenangkan oleh Jaka Umbaran. Aku dengar dari omongan beberapa orang pendekar bahwa ia memiliki julukan sebagai Pendekar Gunung Lawu. Sekarang aku tanya,


Siapa lagi yang berani menantang nya?!"