
HAAHHHHHHHHHH????!!!!!
Betapa terkejutnya Gendol ketika mendengar kata kata yang terucap dari mulut Jaka Umbaran. Memang, mata batin Gendol masih belum bisa melihat wujud asli dari beberapa orang yang ada di sekitar kereta kuda itu. Namun, mata Jaka Umbaran dan Resi Simharaja sama sekali tidak tertipu dengan penampilan yang terlihat seperti kebanyakan manusia pada umumnya ini.
Sadar bahwa mereka telah ketahuan, Kundala segera memberi isyarat kepada Satrugeni sang siluman gurita. Sosok yang menyamar sebagai kusir kereta kuda itu langsung menggenjot tubuhnya yang lentur hingga melesat cepat kearah Jaka Umbaran sambil mengayunkan kepalan tangannya.
Whhhuuuuuuuutttttth!
Jaka Umbaran dan Resi Simharaja segera berkelit menghindari hantaman tangan kanan Satrugeni yang bisa memanjang dengan melompat turun dari kudanya. Gendol yang tak sempat lagi mengelak, bogem mentah Satrugeni langsung menghajar mata kiri lelaki bertubuh tinggi besar itu.
Bhhhuuuuuuggggh..!
"Aduh biyung...!!!", raung Gendol yang langsung terpental dari atas pelana kudanya. Apesnya, wajah Gendol jatuh ke bahu jalan yang berlumpur. Gendol langsung bergegas bangun sembari membersihkan lumpur yang menutupi seluruh wajahnya. Jaka Umbaran dan Resi Simharaja langsung terkekeh kecil melihat apa yang menimpa kawan mereka.
"Setan belang..!!
Main serang tanpa aba-aba. Kampret laknat, akan ku balas kau berkali-kali lipat!!", umpat Gendol yang langsung melesat ke arah kuda tunggangannya, mengambil sepasang gada kembar senjata andalannya, lalu melesat cepat kearah Satrugeni sembari mengayunkan senjatanya ke arah kepala lawan.
Whuuuggghh whuuuggghh..!!
Satrugeni langsung meladeni tantangan Gendol dengan kemampuan beladiri nya. Pertarungan sengit antara mereka berlangsung sengit.
Sementara itu, Kundala yang menyamar sebagai pedagang, seketika melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari mengayunkan dua senjata berbentuk trisula ke arah Jaka Umbaran. Resi Simhamurti yang berdiri di dekat nya, tak sempat membantu sang majikan yang keburu meladeni tantangan Kundala sang siluman anjing laut.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!
Jaka Umbaran melompat mundur menghindari sabetan trisula bertubi-tubi dari Kundala. Sang Pendekar Gunung Lawu ini pun dengan mudah bergerak cepat karena dia telah mengerahkan Ajian Langkah Dewa Angin yang membuatnya mampu bergerak cepat selayaknya terbang karena tubuhnya seringan kapas. Akibatnya, tempat pertarungan antara Jaka Umbaran dan Kundala pun sedikit menjauh dari tempat semula.
Kundala terus mengejar kemana pun Jaka Umbaran bergerak seolah ingin secepatnya menghabisi nyawa pendekar muda ini. Namun, sepertinya Jaka Umbaran terlihat lebih tenang menghadapi amukan Kundala.
Whhhuuuuuuuutttttth thaaaakkkkk..
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..!!!
Keduanya langsung melompat mundur usai beradu pukulan keras yang mengandung tenaga dalam. Kundala segera menggerakkan tangannya ke samping kiri dan kanan. Tubuhnya perlahan membesar dan membentuk sesosok anjing laut bertubuh besar. Sepasang taringnya memanjang hingga ke separuh leher.
Sadar bahwa lawan sedang mengeluarkan kemampuan beladiri terbaiknya, Jaka Umbaran segera merapal mantra Ajian Lebur Saketi. Satu tangan terangkat ke atas kepala lalu turun ke depan dada sementara tangan kirinya terbuka menengadah ke atas. Cahaya biru kekuningan berpendar cepat ke tangan kanannya.
Sosok perempuan berparas rupawan di dalam kereta kuda yang sedari tadi hanya melihat saja pertarungan sengit antara Jaka Umbaran melawan Kundala, langsung terkejut bukan main melihat munculnya cahaya biru kekuningan di tangan Jaka Umbaran.
"Ajian Inti Lebur Saketi???!!!
Celaka, Kundala dalam bahaya!!"
Setelah itu, perempuan muda berparas cantik berpakaian serba hijau tua itu langsung melesat cepat kearah Kundala sembari merentangkan tangannya lebar-lebar dengan memegang selendang sutra berwarna kuning saat Jaka Umbaran melesat cepat kearah Kundala.
"Kundala, MUNDUR!!!"
Sebuah pelindung gaib berbentuk setengah lingkaran dengan cahaya pelangi langsung menutupi seluruh tempat dia berdiri. Jaka Umbaran yang tak sempat lagi merubah gerakan tubuhnya menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna biru kekuningan itu ke arah perisai pelangi yang ada di hadapannya.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!
Ledakan maha dahsyat terdengar. Jaka Umbaran terpental jauh ke belakang. Resi Simharaja yang terus mengawasi jalannya pertarungan sengit itu, segera melesat cepat menyambar tubuh Jaka Umbaran sebelum dia menghantam jalanan yang berbatu. Ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya. Dia jatuh pingsan. Kain biru bersulam benang emas bergambar Ardhachandralancana terlontar keluar dari balik baju nya. Ini tak luput dari perhatian Kundala sang siluman anjing laut yang langsung terbelalak lebar tatkala melihat nya.
Resi Simharaja segera menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung Jaka Umbaran. Tak berapa lama kemudian, Jaka Umbaran kembali siuman dan langsung memuntahkan darah segar.
Sedangkan perempuan muda berparas cantik itu tersurut mundur dan baru berhenti setelah menabrak tubuh Kundala dalam wujud siluman anjing laut nya. Perempuan cantik berbaju hijau tua itu langsung memuntahkan darah segar. Kundala segera merubah kembali wujudnya seperti semula.
"Gusti Ratu..
Kau baik-baik saja?", tanya Kundala segera. Rupanya perempuan cantik berbaju hijau tua itu adalah penyamaran Dewi Angin-angin sang Ratu Siluman Laut Selatan.
"Aku baik-baik saja, Kundala..
Uhukkk uhukkk uhukkk hoooeeeeggggh!!", Dewi Angin-angin kembali memuntahkan darah segar untuk kedua kalinya. Adu ilmu kesaktian dengan Jaka Umbaran telah melukai tubuhnya.
"Terimakasih atas kebaikan hati Gusti Ratu..
Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang? Pemuda itu adalah bocah yang kita cari selama ini", mendengar ucapan itu, Dewi Angin-angin langsung menatap ke arah Kundala.
"Maksud mu??"
"Dia adalah anak Prabu Bameswara yang pernah aku culik 19 tahun yang lalu. Kain biru bersulam benang emas itu adalah pembungkus tubuhnya kala itu", Kundala menunjuk ke arah kain biru yang mencuat keluar dari balik baju Jaka Umbaran.
Hemmmmmmm..
"Pantas saja..
Aku tadi sempat merasa dia mirip dengan Panji Tejo Laksono. Hanyalah saja, ada aura aneh yang pernah aku rasakan saat dulu melihat ke arah Prabu Jayengrana. Ternyata bocah itu sekarang sudah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan", ucap Dewi Angin-angin sembari bangkit dari tempat duduknya.
Dewi Angin-angin segera melangkah ke arah Jaka Umbaran dan Resi Simharaja. Pertarungan antara Gendol dan Satrugeni pun terhenti seketika ketika melihat perempuan cantik itu mendekati Sang Pendekar Gunung Lawu dengan diiringi oleh Kundala.
"Kita sudahi saja pertarungan ini, Jaka Umbaran. Sudah cukup", ujar Dewi Angin-angin segera.
"Apa maksud dari semua ini, Ratu Laut Selatan?
Apa kau bisa melakukan semua hal sesuka hati mu ha? Kalau kau memang ingin berperang, wadyabala Alas Roban siap bertarung melawan Istana Laut Selatan", ucap Resi Simharaja sembari menatap tajam ke arah Dewi Angin-angin.
"Macan tua..
Sudah ku bilang cukup. Maaf aku hanya ingin menguji sejauh mana kemampuan beladiri pemuda ini. Itu saja", ucap Dewi Angin-angin dengan tenang.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Pasti ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan. Cepat katakan, apa sebenarnya maksud dari semua ini?", kembali Resi Simharaja mencecar sang penguasa Kerajaan Siluman Laut Selatan.
"Huhhhhh dasar macan tua keras kepala..
Sudah ku bilang, aku hanya ingin menguji kemampuan beladiri pemuda ini. Dia adalah putra dari teman kami, jadi apa salahnya jika aku menguji kemampuan nya", balas Dewi Angin-angin tak kalah sengit.
"Teman? Siapa yang kau maksud teman mu, hai iblis betina? Lekas katakan..", Resi Simharaja mulai gusar karena merasa ada yang sedang di sembunyikan oleh Dewi Angin-angin.
"Sebentar macan tua..
Hai anak muda, apa kain biru bersulam benang emas di balik baju mu adalah milikmu sendiri?", tanya Dewi Angin-angin segera.
"Ini adalah kain penutup tubuh ku saat aku masih bayi. Guru ku bilang, ini ada bersama ku saat dia menyelamatkan ku dari cengkraman siluman di timur Gunung Wilis", terang Jaka Umbaran yang langsung membuat Dewi Angin-angin menoleh ke arah Kundala. Melihat anggukan kepala dari Kundala, Dewi Angin-angin segera tersenyum penuh arti. Dia segera mengibaskan tangannya.
Seketika itu juga, penampilan nya bersama Kundala dan Satrugeni berubah ke bentuk asli mereka. Dewi Angin-angin mengenakan pakaian warna hijau tua bermahkota, Kundala menjadi manusia setengah anjing laut dan Satrugeni kembali menjadi seorang manusia berjanggut lengan gurita. Tak hanya itu saja, kereta kuda yang mirip dengan kereta pedagang pun berubah menjadi kereta kencana dengan di tarik empat ekor kuda putih.
Sembari melangkah ke arah kereta kuda nya bersama kedua pengikutnya, Dewi Angin-angin segera berkata kepada Jaka Umbaran.
"Hutang ku pada Prabu Bameswara telah lunas semua karena apa yang menjadi ganjalan bagi hubungan antara Kerajaan Panjalu dan Istana Laut Selatan telah kembali.
Sampaikan salam ku pada ayah mu Prabu Bameswara, hai Jaka Umbaran maaf Pangeran Mapanji Jayabaya".
Setelah berkata demikian, Dewi Angin-angin segera naik ke atas kereta kencana miliknya. Satrugeni menjadi kusir kereta kuda dan Kundala duduk di samping nya. Kereta kencana itu kemudian terbang meninggalkan tempat itu ke arah selatan.
Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Resi Simharaja yang berdiri di samping nya,
"Benarkah apa yang telah di katakan oleh perempuan itu, Resi Simharaja?
Benarkah aku adalah Mapanji Jayabaya?"