
Besur, Gendol dan Baratwaja kompak mengangguk mengerti. Tiga dari keempat orang pengawal pribadi Jaka Umbaran ini langsung mencabut senjata mereka masing-masing sambil saling berpandangan seolah saling berbicara satu sama lain. Ketiganya lantas mengangguk seperti menyetujui rencana.
Besur yang menjadi penyerang pertama, langsung melesat cepat kearah Resi Mpu Rikmasena sembari mengayunkan pedangnya. Menggunakan Ilmu Pedang Pemecah Langit yang menjadi ilmu andalan nya kini, Besur menerjang maju.
Shhhrrrreeeeettttth!!
Kilatan cahaya putih bersemu hijau melesat cepat ke arah Resi Mpu Rikmasena dari tebasan pedang Besur. Pertapa itu segera melompat tinggi ke udara menghindari sabetan cahaya putih bersemu hijau dari serangan Besur.
Belum sempat mencapai titik tertinggi dalam lompatan nya, Resi Mpu Rikmasena dikejutkan dengan munculnya sambaran gada kembar dari atas. Rupanya berbarengan dengan serangan cepat Besur, Gendol ikut melenting tinggi ke udara hingga serangan Besur menjadi pembuka dari sergapan cepat nya.
"Bajingan kalian semua!!", umpat Resi Mpu Rikmasena sembari berupaya keras untuk menahan gebukan gada Gendol.
Bhhhuuuuuuggggh!!!
Oouuugghhhhhh..!!!
Kerasnya gebukan gada Gendol langsung membuat tubuh Resi Mpu Rikmasena meluncur turun ke bawah seperti di banting. Tubuh tua nya tak mampu menahan beban berat hantaman gada Gendol yang melambari gada kembar nya dengan Ajian Gada Petir. Darah segar muncrat keluar dari mulut lelaki tua itu.
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Suara keras bunyi benda jatuh ke tanah terdengar. Resi Mpu Rikmasena berusaha keras untuk cepat bangkit dari tempat jatuhnya meskipun dengan sedikit sempoyongan. Dari arah samping kiri, Baratwaja melesat cepat kearah nya sambil mengayunkan pedang pendek nya ke arah leher sang pertapa.
Shhhrrrreeeeettttth!!
Resi tua itu langsung menyilangkan keris pusaka nya untuk menangkis sabetan pedang pendek Baratwaja.
Thhrraaanggg!!!
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka yang telah di lapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Resi Mpu Rikmasena tersurut mundur beberapa tombak ke belakang begitu juga dengan Baratwaja. Namun sepertinya itu masih terus berlanjut.
Besur yang baru saja selesai memutar tubuhnya, kembali menerjang ke arah Resi Mpu Rikmasena. Begitu juga dengan Gendol dan Baratwaja. Ketiganya silih berganti mengisi kesempatan untuk terus menggempur pertahanan Resi Mpu Rikmasena. Sedikit demi sedikit, lelaki tua itu mulai kehabisan tenaga. Dia kalah muda dari mereka.
"Apa kalian ingin membuang waktu lagi untuk bersenang-senang?!
Dasar tiga orang bebal, cepat ringkus bajingan tua itu! Kalau kalian masih juga belum bertindak, aku akan maju!", omel keras Resi Simharaja yang langsung membuat Gendol, Besur dan Baratwaja dongkol seketika. Bagaimanapun juga, ucapan ini akan merendahkan martabat mereka sebagai pengawal pribadi pangeran mahkota Kerajaan Panjalu. Dan ini tidak boleh terjadi.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Brengsek kau Macan Tua..
Sur, Baratwaja kita harus cepat menyelesaikan tugas dari Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya jika tidak ingin dicemooh oleh macan tua bermulut tajam itu. Ayo kita ringkus si pertapa keparat itu", ucap Gendol sembari meludahkan sisa darah di mulutnya dan menatap ke arah Besur juga Baratwaja. Dua orang itu segera mengangguk cepat.
Ketiganya langsung mengerahkan seluruh kemampuan beladiri yang mereka miliki. Baratwaja segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya. Gada kembar di kedua tangan Gendol, langsung mengeluarkan percikan cahaya putih kebiruan seperti warna petir yang menyambar. Begitu pula dengan pedang di tangan Besur dan Baratwaja. Mereka bertiga pun segera melesat cepat kearah Resi Mpu Rikmasena dengan arah yang berlawanan. Gendol menyerang dari depan, sementara Besur dan Baratwaja bergerak melingkar untuk mengepung Resi Mpu Rikmasena.
Gendol langsung mengayunkan gada di tangan kanannya ke arah kepala Resi Mpu Rikmasena sekeras mungkin. Pertapa itu segera melompat mundur hingga gebukan Gendol menghantam tanah bekas tempat nya berdiri.
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!
Melihat serangannya hanya bisa memukul tanah kosong, Gendol segera memutar tubuhnya dan melayangkan gebukan cepat bertubi-tubi kearah sang pertapa dari Kambang Putih ini
Bhhhuuuuuuggggh bhhuuuuummmmmmhh!!
Ledakan keras susul menyusul terdengar dari tanah bekas tempat Resi Mpu Rikmasena berada. Tanpa disadari, pukulan gada Gendol membuat Resi Mpu Rikmasena tersudut di dekat tembok istana. Tiba-tiba saja, dari samping kanan 4 pisau belati kecil melesat cepat kearah Resi Mpu Rikmasena yang terpojok.
Shhiiiiinnnggggggggg shhhrriinggg!!!
Resi tua itu gelagapan mencari tempat menghindar. Dia hendak bergerak ke arah kanan namun Besur sudah menunggu nya dengan tebasan cepat yang mengincar nyawa lelaki tua ini. Serangan tiga arah sekaligus ini membuat Resi Mpu Rikmasena kebingungan. Dia dengan cepat mengibaskan tangan kirinya nya ke arah pisau terbang Baratwaja. Serangkum angin kencang berhawa panas mengikuti cahaya merah menyala memapak pergerakan pisau-pisau belati milik putra Mapatih Mpu Baprakeswara ini. Di saat yang bersamaan, dia juga menangkis gebukan gada Gendol dengan keris pusaka nya.
Thhrraaanggg blllaaammmmmmmm blllaaammmm..!!!
Saat itulah tebasan pedang Besur datang dan langsung menebas lengan kanan lelaki tua itu.
Shhhrrrreeeeett.. Chhhrrraaaaaaasssssshhh !!!!
Aaaarrrgggggghhhhh....!!!
Resi Mpu Rikmasena menjerit keras tatkala pedang Besur menebas lengan kanan nya. Tangan kanannya ini langsung jatuh ke tanah dan darah segar langsung muncrat keluar dari luka potong ini. Dengan cepat ia menotok beberapa jalan darah nya untuk menghentikan pendarahan. Namun saat itu juga, pedang Besur juga pedang pendek Baratwaja serta gada Gendol menempel di leher, dada dan perutnya.
"Bergerak sedikit saja, kau berangkat ke neraka bajingan tua!
Menyerah sekarang atau mati?!", bentak Baratwaja keras.
Hooosshhh hooosshhh hooosshhh...!!
Tak ada gunanya aku melawan para begundal Adipati Natanegara seperti kalian. Sekarang bunuh aku!", tantang Resi Mpu Rikmasena. Dan...
Plllaaaakkkkk!!!
Pecah bibir Resi Rikmasena segera usai tamparan keras tangan kiri Besur menghajar mulutnya. Dua gigi nya copot karena hal ini. Darah segar perlahan mulai merembes keluar dari luka di bibir dan gusi orang tua itu.
"Siapa yang kau katakan begundal Adipati Natanegara hah?
Kami bukan pesuruhnya. Kami adalah pengawal setia Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Jaga mulut mu kalau tak ingin gigi mu habis aku rontokan!", Besur mendelik kereng pada Resi Mpu Rikmasena. Lelaki tua itu terdiam tanpa bicara sepatah kata pun mendengar makian Besur.
Jaka Umbaran bersama Resi Simharaja dan Adipati Natanegara juga Patih Mpu Kariti berjalan mendekati Resi Mpu Rikmasena yang terpojok di dinding istana Kadipaten Matahun.
"Sekarang katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi pada Raden Natawirya dan Nyai Paricara?
Dan juga dengan utusan dari Adipati Natanegara yang bernama Sambanglurah ini. Jangan coba coba untuk mengelabuhi kami lagi, membunuh mu sekarang semudah membalikkan telapak tangan ", ucap tegas Jaka Umbaran.
Hehehehe hahahahaha....!!
Tawa keras terdengar dari mulut Resi Mpu Rikmasena. Semua orang mengira bahwa orang itu sudah gila karena sebentar lagi akan menemui ajalnya.
"Pangeran Daha Pangeran Daha...
Karena kau bersikeras untuk tahu, maka aku akan bicara yang sebenarnya. Sambanglurah sudah mati, aku bunuh saat dia hendak ketiga kalinya kembali ke istana ini. Sedangkan Nyai Paricara di bawa entah kemana oleh orang-orang dari Lembah Hantu usai mereka membantu ku membunuh Raden Natawirya. Aku menyamar sebagai Sambanglurah karena ingin menghabisi Natanegara agar api dendam di hati ku bisa padam.
Puas kau sekarang? Hahahaha..", Resi Mpu Rikmasena kembali tertawa terbahak-bahak.
APPAAAAAAAAAAAA??!!!
Mendengar jawaban itu, Adipati Natanegara langsung lemas kakinya dan terduduk di tanah. Buru-buru Patih Mpu Kariti memapahnya untuk kembali berdiri.
"Kau sungguh bodoh, Resi Mpu Rikmasena. Sungguh sungguh bodoh!
Apa kau tidak tahu bahwa orang yang bertanggung jawab atas kematian putri mu adalah Wijayadharma, putra Pangeran Lembah Hantu?!", ucap Patih Mpu Kariti sembari menatap tajam ke arah Resi Mpu Rikmasena.
"Ti-tidak mungkin!! Putri ku Rara Wulansari meninggal karena karma kutukan dari keluarga Istana Kadipaten Matahun.
Tidak mungkin ada hubungannya dengan Wijayadharma! Kalian jangan coba untuk memutarbalikkan kenyataan!", teriak Resi Mpu Rikmasena lantang.
"Ketahuilah wahai pertapa bodoh!
Wijayadharma telah memperkosa anak mu hingga dia merasa malu untuk menikah dengan Raden Natawirya. Dia lantas meminum Racun Tanpa Warna. Aku dan Gusti Adipati Natanegara sudah tahu dari awal setelah tabib istana Matahun mengatakannya. Kami sengaja tidak memberitahu mu tentang masalah ini untuk menjaga kehormatan mu.
Namun kau malah menuduh kami yang bukan-bukan dan bersekutu dengan Lembah Hantu dengan mengirimkan ilmu sihir hitam kuno yang bernama Segel Pengunci Jiwa bukan? Sambanglurah memberitahukan hal ini pada kami saat pertama kali dia melaporkan perkembangan Raden Natawirya. Nyai Paricara mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu 3 hari untuk membongkar sihir hitam terkutuk itu. Kau sudah paham sekarang?
Pada akhirnya manusia yang paling bodoh dengan ketidaktahuan mu menjadi bagian dari rencana jahat Lembah Hantu untuk menghancurkan Istana Kadipaten Matahun adalah kau!"
Mendengar penjelasan Patih Mpu Kariti, Resi Mpu Rikmasena terkejut setengah mati. Dia sungguh tidak menduga bahwa kecintaannya pada putri nya telah dimanfaatkan oleh orang-orang Lembah Hantu dengan memusuhi Istana Kadipaten Matahun.
"Apa yang sudah aku lakukan?!!!
Apa yang sudah aku lakukan?!!!!", raung Resi Mpu Rikmasena sembari mengucurkan air mata. Besur, Gendol dan Baratwaja diam-diam trenyuh juga melihat itu semua. Mereka pun tidak sadar telah melonggarkan tekanan mereka pada pertapa tua itu.
Tak sanggup lagi menahan rasa bersalah karena kematian sang putri, Resi Mpu Rikmasena segera menubruk maju ke arah pedang milik Besur segera.
Jllleeeeeppppphhh...
Oooouuuuuuggggghhhhh!!!
Resi Mpu Rikmasena melengguh tertahan saat bilah pedang Besur menembus perut hingga pinggang nya. Tubuhnya perlahan jatuh menyandar pada tembok istana Kadipaten Matahun. Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga semua nya tak sempat menghentikan langkah sang pertapa tua.
"Ma-maafkan a-aku Gus-Gusti Adipatiiii....
Aku sudah melakukan kesalahan besar. Kalau ingin menemukan Nyai Paricara, orang-orang Lembah Hantu yang tinggal di daerah tepi Sungai Wu-la-yuuuuuuu..."
Setelah berkata demikian, kepala Resi Mpu Rikmasena langsung terkulai lemas. Dia tewas bersimbah darah dengan posisi menyandar di tembok istana.
Jaka Umbaran menghela nafas berat setelah melihat kejadian yang terjadi di depan matanya ini. Sembari menatap ke arah timur, dia kemudian berkata,
"Kita harus mengejar orang-orang Lembah Hantu ini,
Sekalipun hingga ke ujung dunia!"