JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Lima Iblis Pencabut Nyawa


Lelaki tua berjanggut putih pendek itu memang bukan orang sembarangan. Dia adalah salah seorang pendekar bayaran yang punya reputasi sebagai seorang pembunuh bayaran paling hebat di wilayah Kerajaan Jenggala. Bersama kelompoknya yang di juluki sebagai Lima Iblis Pencabut Nyawa, lelaki tua ini merupakan pimpinan dari kelompok pembunuh bayaran itu.


Nama aslinya adalah Ki Lengkara, berasal dari sebuah pedukuhan kecil di kaki lereng Gunung Bromo. Lengkara muda berguru pada beberapa pendekar golongan hitam yang cukup tersohor di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur sebelum akhirnya dia mulai mengibarkan namanya sendiri sebagai pembunuh bayaran nomor satu di Jenggala.


Seiring berjalannya waktu, Lengkara muda akhirnya bertemu dengan keempat orang kawannya yang memiliki minat yang sama dengan nya. Sebut saja Nyai Panitis, seorang wanita muda yang selalu menutupi wajahnya dengan cadar hitam hingga tak seorangpun pernah melihat wajah aslinya seperti apa. Perempuan misterius ini memiliki kemampuan beladiri yang tinggi dengan senjata cambuk ekor kuda nya namun yang menakutkan dari dia adalah ilmu racunnya yang sanggup membunuh lawan dari jarak jauh. Dia bergabung dengan Ki Lengkara setelah keduanya sama-sama terlibat dalam upaya pembunuhan terhadap Adipati Pamotan.


Selain Nyai Panitis, ada pula si gendut berwajah lucu dan selalu lapar hingga membawa makanan kemana-mana. Lelaki gendut berwajah lucu itu adalah Gudel yang dalam bahasa Jawa berarti anak kerbau. Meskipun terlihat seperti orang bodoh yang hanya tahu makan saja, Gudel sangat menakutkan apalagi jika sedang marah. Lelaki tambun itu bersenjatakan pentungan dari besi hitam bergerigi tajam dan tak segan-segan untuk mengepruk orang yang menurutnya menjengkelkan. Ki Lengkara menemukan nya saat bertualang di Kadipaten Lamajang.


Selain mereka, ada si kembar Supa dan Supi. Dua orang kembar beda jenis kelamin ini handal dalam menggunakan pedang hingga menjadi pasangan pembunuh yang menakutkan. Kedua nya di tolong oleh Ki Lengkara saat hampir mati di keroyok oleh para prajurit Pakuwon Tumapel yang memburu mereka usai mencincang tubuh sang putra Akuwu Tumapel. Keduanya lantas bersumpah setia untuk terus mengikuti kemanapun Ki Lengkara pergi.


Sepekan yang lalu, seseorang mendatangi markas kediaman Lima Iblis Pencabut Nyawa di kaki Gunung Kawi sebelah timur. Orang itu datang dengan membawa ratusan kepeng emas dengan sebuah tugas untuk Ki Lengkara dan kawan-kawannya, membunuh Yuwaraja Panjalu Pangeran Mapanji Jayabaya.


Tentu saja Ki Lengkara sedikit keberatan dengan tugas ini karena hal ini sangat berbahaya. Jika sampai mereka berhasil membunuh Yuwaraja Panjalu itu, bisa-bisa terjadi kehebohan besar di Kerajaan Panjalu. Dan bukan tidak mungkin Prabu Bameswara selaku Maharaja Panjalu akan melakukan segala cara untuk menangkap pembunuh putra mahkota Kerajaan Panjalu itu hidup atau mati.


Namun oleh orang yang selalu menundukkan kepalanya itu, mereka mendapatkan jaminan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Agar lebih meningkatkan minat Ki Lengkara, orang ini pun menjanjikan hadiah yang sama seperti ratusan kepeng emas itu usai Ki Lengkara melaksanakan tugas nya. Karena desakan dari si kembar Supa dan Supi, Ki Lengkara yang ingin mundur dari dunia pembunuh bayaran itu, menerima pekerjaan terakhir ini sebagai persiapan untuk mundur dari dunia persilatan.


Dari arah pinggiran Sungai Kapulungan, terlihat perahu penyeberangan yang ditumpangi oleh Pangeran Mapanji Jayabaya dan para pengikutnya mulai bergerak membelah Sungai Kapulungan yang berair keruh. Arus sungai besar ini membuat perahu penyeberangan besar ini beberapa bergoyang kesana kemari namun tak sampai membuat perahu besar itu terguling.


Begitu perahu penyeberangan sampai di dermaga, dua orang anak buah kapal segera melompat ke atas dermaga sambil membawa tali tambang dari serat kulit pohon melinjo. Kedua orang berbadan kekar itu segera mengalungkan tali pada tiang pancang dermaga penyeberangan lalu sekuat tenaga menariknya agar perahu penyeberangan itu bisa mepet ke dermaga. 4 orang kawan mereka segera membantu dua orang itu hingga perahu berhasil berlabuh sempurna di dermaga penyeberangan.


Satu persatu para penumpang mulai turun dari kapal. Diantara mereka adalah rombongan Pangeran Mapanji Jayabaya dan para pengikutnya. Baratwaja yang ditugasi untuk mengatur keuangan, segera membayar biaya menyeberang mereka yang mencapai 10 kepeng perak.


Baru saja rombongan Jaka Umbaran menapak jalan raya dengan menuntun kuda mereka, Lima Iblis Pencabut Nyawa telah menghadang mereka dengan senjata tergenggam di tangan.


"Kau Pangeran Mapanji Jayabaya?", tanya Ki Lengkara sembari menatap tajam ke arah Jaka Umbaran yang paling mirip dengan lukisan yang dibawa oleh orang yang menyewanya.


"Kalau iya kenapa? Aku tidak ada urusan dengan kalian, jadi jangan halangi jalan ku Kisanak", ucap Jaka Umbaran acuh tak acuh.


"Pantas saja ada yang menginginkan agar kau mati. Ternyata sikapmu sangat sombong begini.


Lima Iblis Pencabut Nyawa, maju!!!", begitu aba-aba dari Ki Lengkara terdengar, Nyai Panitis, Gudel maupun Si Kembar Supa dan Supi langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Para prajurit pengawal pribadi sang pangeran mahkota segera mencabut senjata mereka masing-masing dan memapak pergerakan Lima Iblis Pencabut Nyawa dengan senjata terhunus.


Thhrraaanggg thhrraaanggg..


Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh...


Oouuugghhhhhh..!!!


Kesepuluh orang prajurit pengawal pribadi Yuwaraja Panjalu ini rupanya bukan lawan bagi ke Lima Iblis Pencabut Nyawa. Dalam dua gebrakan saja, satu orang prajurit tewas di tangan Gudel karena keprukan pentungan besi hitam bergerigi tajam miliknya. Sedangkan lainnya jatuh dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.


Empat pendekar punokawan Jaka Umbaran menggeram keras sebelum keempatnya melesat cepat kearah lawan yang mereka pilih. Gendol yang penasaran dengan pentungan besi hitam milik Gudel, menerjang lelaki tambun itu dengan kedua gada kembar nya. Baratwaja dan Besur melesat ke arah Si Kembar Supa dan Supi sementara Resi Simharaja kebagian melawan Nyai Panitis si perempuan bercadar hitam. Pertarungan sengit antara dua kubu yang berseteru inipun pecah dan mengambil tempat sendiri-sendiri meskipun tidak berjauhan.


Begitu keempat anggota nya mendapat lawan , Ki Lengkara segera melesat cepat kearah Jaka Umbaran dengan menghantamkan kepalan tangannya ke arah sang pangeran muda. Dia tidak menggunakan tombak yang menjadi senjata andalan nya karena melihat Jaka Umbaran tidak memegang senjata.


Whhhuuuuuuuutttttth!!


Jaka Umbaran segera berkelit lincah mengundang pukulan keras Ki Lengkara. Namun serangan cepat pembunuh bayaran itu baru saja di mulai. Secepat kilat dia merendahkan tubuhnya dan melayangkan tendangan melingkar cepat menyapu kaki Jaka Umbaran. Sang Pendekar Gunung Lawu ini pun segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi dan turun dengan kaki di atas. Secepat kilat dia melayangkan pukulan cepat bertubi-tubi kearah Ki Lengkara dari atas.


Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..


Blllaaaaaarrr..!!!


Kedua orang itu terus menjajaki kemampuan beladiri dan tenaga dalam lawan dengan satu dua pukulan dan tendangan keras. Adu silat ilmu beladiri tangan kosong ini berlangsung cukup lama.


Ledakan keras terdengar saat kedua orang itu beradu telapak tangan. Pertarungan antara mereka memang mulai menggunakan tenaga dalam yang mereka miliki. Kedua orang masing-masing tersurut mundur beberapa langkah ke belakang.


Merasa diatas angin, Ki Lengkara menyeringai lebar menatap ke arah Jaka Umbaran. Dia merasa telah berhasil menjajaki kemampuan beladiri yang di miliki oleh lelaki muda ini walaupun sesungguhnya Jaka Umbaran belum mengerahkan sepertiga dari tenaga dalam nya.


"Pangeran Jayabaya, jangan salahkan aku jika aku membunuh mu. Tapi salahkan beberapa orang serakah kekuasaan di Istana Kotaraja Daha.


Matilah kau pangeran muda!", ucap Ki Lengkara yang tangan kanan yang di lambari cahaya ungu kehitaman. Rupanya dia bersiap menghabisi nyawa Jaka Umbaran dengan Ajian Kencana Wungu yang merupakan salah satu ilmu kanuragan tingkat tinggi yang tersohor di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur. Hawa dingin yang menakutkan dan sanggup membuat bulu kuduk berdiri langsung berputar cepat di sekitar tangan kanan Ki Lengkara. Pembunuh bayaran nomor satu di wilayah Kerajaan Jenggala ini melesat cepat kearah sang pendekar muda.


Jaka Umbaran yang penasaran dengan apa yang baru saja di omongkan oleh Ki Lengkara segera merapal mantra Ajian Halimun. Kabut putih tipis langsung menutupi seluruh tubuh Jaka Umbaran. Ki Lengkara menyeringai lebar sambil menghantamkan kepalan tangannya.


Whhhuuummmmm...


Blllaaammmmmmmm!!!


Mata Ki Lengkara membeliak lebar tatkala ia hanya menghantam angin kosong hingga Ajian Kencana Wungu nya menghajar sebuah pohon pisang yang tumbuh di belakang tempat Jaka Umbaran berdiri. Seketika itu juga, rimbunan pohon pisang itu meledak dan hancur berantakan. Namun, Ki Lengkara lebih terkejut lagi saat sebuah tangan mencengkeram kuat tengkuk nya dan menghujamkan wajahnya ke tanah. Keseimbangan tubuhnya yang sedang goyah tak mampu menahan hempasan ini hingga wajah lelaki tua itu langsung menghantam tanah dengan keras.


Bhhhuuuuuuggggh...


Huuummmmmmpppppphhh!!


Jaka Umbaran terus menekan kepala Ki Lengkara ke tanah. Pimpinan kelompok Lima Iblis Pencabut Nyawa ini meronta berusaha keras untuk melepaskan diri namun dia kalah tenaga dari Jaka Umbaran. Lelaki tua itu sudah hampir kehabisan napas.


Saat yang genting itu, Gudel yang baru saja mengadu tenaga dengan Gendol, melihat bahaya yang mengancam nyawa pimpinan kelompok ini. Tanpa pikir panjang, dia langsung melemparkan gada besi hitam bergerigi tajam nya ke arah Jaka Umbaran.


Whhhuuuuuggggghhhh!!


Lemparan gada Gudel membuat Jaka Umbaran sedikit terkejut hingga dia melepaskan tekanannya di kepala Ki Lengkara. Lelaki tua itu segera menjauh dari Jaka Umbaran sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya. Namun tindakan ceroboh Gudel dimanfaatkan oleh Gendol untuk menghabisi nyawa pria bertubuh tambun ini.


Secepat kilat, Gendol menggebuk kepala Gudel yang baru saja melemparkan gada besi hitam bergerigi tajam miliknya untuk menyelamatkan nyawa Ki Lengkara.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Gudel meraung keras saat hantaman gada Gendol menghajar pelipis kanan nya. Dia langsung roboh dengan kepala mengucurkan darah segar.


"GUUDDEEEEEEEELLLL TIDAAAAAKKKKK!!", teriak Ki Lengkara saat melihat Gudel meregang nyawa di tangan Gendol. Bagaimanapun juga, Gudel yang polos dan lugu harus terbunuh hanya karena keserakahannya akan harta. Selama ini, Gudel hanya ikut-ikutan saja meskipun dia sering membunuh orang tak bersalah.


Melihat kematian Gudel yang merupakan orang terdekatnya, Ki Lengkara langsung menyambar gagang tombak yang tertancap di tanah dan langsung melesat ke arah Gendol sambil menusukkan senjatanya ini. Dia ingin balas dendam atas kematian Gudel.


Kurang dari satu depa di depan Gendol, tiba-tiba saja muncul Jaka Umbaran yang segera menyambar belakang baju Ki Lengkara dan membanting lelaki tua itu ke tanah sekeras mungkin.


Bhhhuuuuuummmmmmmmmm...


Oouuugghhhhhh!!!


Ki Lengkara sampai batuk-batuk kecil karena kerasnya bantingan Jaka Umbaran. Lelaki tua itu berusaha mundur ketika melihat Jaka Umbaran berjalan mendekati nya. Wajah tua nya yang penuh dengan tanah dan rumput itu nampak ketakutan seolah melihat seorang malaikat maut sedang berjalan mendekati nya. Apalagi saat Jaka Umbaran dengan suara dalam dan berat berkata,


"Mau kemana kau, pembunuh bayaran?!"