
Si pendekar caping bambu bertirai hitam perempuan itu langsung tertegun dan seketika itu juga menutup mulutnya rapat-rapat kala melihat apa yang ditunjukkan oleh pasangan nya itu. Itu adalah hal yang selama hampir 20 tahun ini dia cari dan kini terpampang jelas di depan mata nya.
Ya, si pendekar caping bambu bertirai hitam perempuan itu adalah Dyah Chandrakirana yang juga terkenal dengan sebutan Galuh Sekartaji sang Ratu Panjalu. Sedangkan pasangan nya itu tak lain dan tak bukan adalah Panji Tejo Laksono atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Prabu Bameswara, Maharaja Panjalu yang sedang berkuasa di kerajaan terbesar di Tanah Jawadwipa.
Bagaimana bisa mereka sampai di tempat itu dan menyamar sebagai peserta sayembara Lewa ini? Begini ceritanya...
Satu purnama yang lalu, Prabu Bameswara yang sedang menerima pisowanan rutin para punggawa Istana Kotaraja Daha, mendapatkan laporan tentang kekisruhan di sekitar perbatasan wilayah antara Kadipaten Lewa, Wengker dan Anjuk Ladang dari pimpinan Pasukan Khusus Lowo Bengi, Tumenggung Setawardana yang merupakan pejabat pengganti Tumenggung Landung yang telah purna tugas dan menjadi seorang Wreda mantri. Atas laporan ini, Prabu Bameswara lantas memerintahkan kepada Tumenggung Setawardana untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap masalah ini.
Sekitar 3 hari yang lalu, tepat menjelang sore hari, Tumenggung Setawardana datang menghadap pada Prabu Bameswara di ruang pribadi raja dan memberikan laporan kembali tentang duduk persoalannya hingga markas besar kelompok perusuh keamanan ini. Juga tentang adanya sayembara yang dikeluarkan oleh pemerintah Kadipaten Lewa terkait dengan masalah keamanan yang memusingkan kepala mereka itu.
Oleh karena itu, Panji Tejo Laksono alias Prabu Bameswara memutuskan untuk menyelesaikan langsung masalah ini namun dengan jalan penyamaran agar tidak terjadi kekisruhan yang lebih besar lagi di kalangan masyarakat Kerajaan Panjalu khususnya di Kotaraja Daha. Urusan jalannya roda pemerintahan di serahkan kepada Mapatih Mpu Ludaka. Namun pejabat sepuh ini juga tidak bisa membiarkan sang Maharaja Panjalu berangkat tanpa pengawalan hingga meminta Baratwaja putranya dan Besur putra Wredamantri Mpu Gumbreg yang telah menjadi perwira prajurit Panjalu untuk mengawal sang raja.
Saat itu, Dyah Kirana yang mendampingi sang raja saat pertemuan itu berlangsung, juga menyatakan ikut serta dalam penyamaran ini karena ingin jalan-jalan di luar istana. Prabu Bameswara pun tidak keberatan karena ingin Dyah Kirana bisa sejenak menghibur diri dan melupakan barang sejenak kehilangan putra semata wayangnya yang menghilang hampir 20 tahun yang lalu.
Mereka berempat pun keluar dari dalam Kotaraja Daha pada malam hari untuk menghindari kegaduhan masyarakat dan langsung bergegas menuju ke arah Pakuwon Sukowati yang memang menjadi salah satu titik penting permasalahan ini. Sesampainya di Kota Pakuwon Sukowati, para telik sandi negara yang sudah mengatur segala sesuatunya untuk kepentingan sang raja, langsung menempatkan kedua pucuk pimpinan Kerajaan Panjalu itu di sebuah penginapan yang ada di timur Kota Pakuwon Sukowati ini.
Saat Besur dan Baratwaja keluar pada malam hari kemarin pun, sebenarnya atas perintah dari Prabu Bameswara yang penasaran dengan sosok pemuda tampan berbaju biru tua tanpa lengan itu. Dari sore, Besur dan Baratwaja berkeliling kota mencari tahu tentang keberadaan Jaka Umbaran dan kelompoknya. Untung saja, hujan deras yang mengguyur menjelang tengah malam, membantu mereka berdua untuk mencapai alasan mendekati Jaka Umbaran dan kawan-kawan.
"J-jaka Umbaran...
Darimana sebenarnya asal mu?", tanya Dyah Kirana dengan terbata-bata saat berbicara. Mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba ini, Jaka Umbaran segera mengerutkan keningnya dalam-dalam karena merasa aneh.
"Apa maksud dari pertanyaan mu itu, Nisanak? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu sekarang?", Jaka Umbaran balik bertanya.
"Jawab saja pertanyaan majikan ku. Jangan mencoba untuk menyembunyikan kebenaran, Saudara Umbaran. Itu jika kau tidak ingin mendapat masalah besar ", sahut Besur segera. Mendengar omongan Besur, Dyah Kirana langsung membentaknya dengan keras.
"Sur, aku tidak sedang berbicara dengan mu jadi jangan sampai kau ikut campur dalam pembicaraan ku.
Apa kau mengerti?!", nada sedikit tinggi itu seketika membuat Besur mengkerut ketakutan.
"A-ampuni hamba Gusti Ratu.. Hamba salah, mohon jangan hukum hamba..", ucap Besur yang ketakutan setengah mati. Dia langsung berlutut dan menyembah pada perempuan bercaping bambu tirai hitam itu. Tindakan Besur ini seketika membuat semua orang terkejut bukan main. Termasuk juga Jaka Umbaran dan kawan-kawan yang mendengar penyebutan nama Gusti Ratu.
"Gusti Ratu?
Apakah Nisanak pendekar ini adalah seorang Ratu?", tanya Jaka Umbaran segera. Terdengar suara helaan nafas panjang dari Prabu Bameswara yang sedang menyamar. Dia perlahan melepaskan tali pengikat caping bambu bertirai hitam itu perlahan hingga wajahnya yang tampan dan berwibawa langsung terlihat oleh mata semua orang. Begitu juga dengan Dyah Kirana yang ikut membuka caping bambu nya. Mereka berdua sadar bahwa penyamaran mereka telah terbongkar oleh tindakan ceroboh Besur.
Seketika itu juga, Akuwu Sukowati Mpu Winarka dan semua orang langsung berlutut sembari menyembah pada Prabu Bameswara dan Dyah Kirana.
"Sembah bakti kami Gusti Prabu Bameswara dan Gusti Ratu Dyah Chandrakirana..", ucap semua orang bersamaan. Jaka Umbaran pun segera berlutut dan menyembah pada Prabu Bameswara diikuti oleh Gendol dan Resi Simharaja.
Hemmmmmmm..
"Sembah bakti kalian aku terima. Sekarang bangunlah, jangan terlalu banyak adat istiadat di tempat seperti ini", ucap Panji Tejo Laksono alias Prabu Bameswara dengan penuh kewibawaan.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ucap semua orang segera. Mereka kemudian berdiri dengan sedikit membungkukkan badannya ke arah Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana.
"Sekarang kau anak muda, katakan pada ku darimana asal mu yang sebenarnya?", sambung Prabu Bameswara segera.
"Menjawab pertanyaan Gusti Prabu, sejujurnya hamba tidak tahu darimana asal hamba karena hamba dirawat oleh guru hamba Maharesi Siwamurti dari Pertapaan Watu Bolong. Beliau hanya mengatakan bahwa ia menyelematkan hamba dari cengkraman tangan siluman di timur Gunung Wilis sekitar 20 tahun yang lalu", ucap Jaka Umbaran segera.
Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana seketika saling berpandangan mendengar penjelasan Jaka Umbaran. Waktu dan kejadian itu sama persis dengan apa yang terjadi pada saat hilangnya Mapanji Jayabaya putra mereka. Namun mereka masih belum bisa memastikan apakah ini hanya kebetulan semata atau memang benar pemuda tampan itu adalah putra mereka yang hilang. Mereka harus menemukan bukti lain yang menyatakan bahwa Jaka Umbaran adalah Mapanji Jayabaya.
"Selain itu, apa tidak ada barang bawaan atau apapun yang ada di tubuh mu saat kejadian itu?", tanya Prabu Bameswara segera.
Gendol yang berdiri di samping Jaka Umbaran segera menyenggol pinggang sang pendekar muda.
Ucapan Gendol langsung membuat Jaka Umbaran tersadar dari sikap gugupnya. Dia mengangguk mengerti dan langsung merogoh balik bajunya dan mengeluarkan selembar kain biru bersulam benang emas bergambar Ardhachandralancana dan sebuah kalung perak berbandul liontin emas berukir gambar serupa lalu menghaturkan nya pada sang penguasa Kerajaan Panjalu.
"Ini Gusti Prabu..
Dua benda ini ada bersama hamba saat guru menyelamatkan nyawa hamba", ucap Jaka Umbaran segera.
Mata Prabu Bameswara langsung melebar tatkala melihat apa yang dihaturkan di hadapannya. Sedangkan Ratu Dyah Chandrakirana langsung berkaca-kaca saat melihat kain biru itu. Sambil meneteskan air matanya, Ratu Dyah Chandrakirana menerima uluran tangan Jaka Umbaran dan langsung menciumi kain biru bersulam benang emas itu. Dia sendiri yang menyelimuti tubuh bayi Mapanji Jayabaya dengan kain biru itu saat kejadian penculikan itu terjadi. Tanpa menunggu lama, Dyah Kirana sang Ratu Panjalu langsung memeluk tubuh Jaka Umbaran.
"Anak ku...."
Tangis bahagia Ratu Dyah Chandrakirana langsung pecah saat ini. Putranya yang telah hilang dari pangkuan nya selama puluhan tahun benar-benar telah kembali. Keyakinan bahwa putra nya masih hidup lah yang mampu menguatkan penderitaan batinnya karena dipisahkan dari sang putra tercinta. Hari ini dia benar-benar bahagia.
Prabu Bameswara pun tidak bisa menahan rasa terharu melihat itu semua. Selama ini dia terus meyakinkan dirinya bahwa putra lelaki nya ini masih hidup meskipun hampir semua orang mengatakan bahwa itu hampir mustahil mengingat sekian lama sang bayi putra mahkota Kerajaan Panjalu menghilang. Setiap waktu pula, sang raja Panjalu terus mencari tahu tentang keberadaan sang putra meskipun itu hanya lewat berita yang disampaikan oleh para punggawa wilayah daerah Kerajaan Panjalu. Ini adalah hal yang sangat besar dalam sejarah Kerajaan Panjalu.
Sedangkan semua orang yang hadir di tempat itu pun tak kalah terkejut dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Selain Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana, munculnya sang putra mahkota Kerajaan Panjalu yang telah lama hilang pun tak kalah pentingnya. Bahkan si Gendol pun yang telah lama ikut Jaka Umbaran pun tak bisa menutupi rasa kekagetan nya meskipun telah beberapa kali mendengar petunjuk dari beberapa orang sakti tentang jati diri Jaka Umbaran. Sebelumnya, Gendol memang sedikit sangsi dengan keberadaan orang tua Jaka Umbaran yang sedang dicari oleh majikannya itu.
Hanya Resi Simharaja saja yang tersenyum lebar ketika menyaksikan itu semua. Inipun tidak luput dari perhatian Gendol.
"Sudah ku duga sebelumnya..", ucap Resi Simharaja lirih namun masih terdengar di telinga Gendol.
"Kalau sudah tahu kenapa tidak kau bilang, macan tua?", sergah Gendol yang berdiri di samping nya.
"Aku hanya menduga, tidak tahu persis. Kalau hanya dugaan tidak boleh dibicarakan karena bisa menimbulkan salah pemahaman.
Paham kau Gigi Jarang?", geram Resi Simharaja sembari mendelik kereng pada Gendol.
"Huuuuuu, dasar kebanyakan makan daging rusa makanya pikiran mu bercabang kemana-mana. Mikir itu yang sederhana saja, tahu ya tahu, tidak ya tidak. Titik!", sahut Gendol kemudian. Resi Simharaja mendengus dingin sembari menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak mau merusak momen penting itu hanya karena ulah Gendol.
"Jadi benarkah hamba adalah putra dari Gusti Prabu Bameswara dan Gusti Ratu Dyah Chandrakirana?", tanya Jaka Umbaran kemudian.
Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana kompak mengangguk cepat menanggapi omongan. Melihat itu, Jaka Umbaran langsung tersenyum lebar sembari membalas pelukan hangat Ratu Dyah Chandrakirana. Sang penguasa Kerajaan Panjalu pun segera mengelus kepala Jaka Umbaran sambil tersenyum lebar.
"Kalian semua dengar titah ku..
Anak muda ini kalian kenal sebagai Jaka Umbaran. Dia adalah putra ku yang merupakan putra mahkota Kerajaan Panjalu yang telah lama hilang. Nama aslinya adalah Mapanji Jayabaya. Dan mulai hari ini dia akan kembali memakai nama asli nya itu. Berikan hormat kalian kepada Mapanji Jayabaya yang baru saja kembali", ucap Prabu Bameswara tegas dan berwibawa.
"Hormat kami Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya..", semua orang kompak menghormat pada Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya termasuk Gendol, Resi Simharaja, Besur dan Baratwaja.
Jaka Umbaran memandang ke arah mereka dengan tatapan mata penuh keharuan. Kebahagiaan yang telah lama ia dambakan untuk bisa mengenal dan bertemu dengan orang tua nya, membawanya ke puncak kejayaan nya sebagai calon penguasa Kerajaan Panjalu selanjutnya.
"Terimakasih banyak kepada semuanya. Jangan terlalu merendah pada ku, aku tidak terbiasa untuk mendapatkan kehormatan seperti ini. Bangkit lah seperti semula", ucap Jaka Umbaran sembari mengusap titik air mata yang sempat membasahi pelupuk matanya.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", semua orang segera bangkit dari tempat duduknya kecuali Mpu Winarka sang Akuwu Sukowati yang lemas karena kehilangan banyak darah.
Melihat itu, Jaka Umbaran segera menangkupkan kedua telapak tangannya. Dan sebuah cahaya putih kemerahan muncul di ujung jemari tangannya yang kemudian berubah menjadi sekuntum bunga putih dengan beberapa kelopak bawah berwarna merah. Jaka Umbaran segera meletakkan bunga putih itu keatas luka di tubuh Mpu Winarka dan ajaibnya, luka parah itu langsung menghilang seketika tanpa bekas sedikitpun.
Ratu Dyah Kirana pun takjub melihat benda pusaka di tangan putra nya itu. Dia pernah mendengar bahwa pemilik Kembang Wijayakusuma adalah titisan Dewa Wisnu sebagaimana Prabu Airlangga dan Prabu Jayengrana mertuanya. Sembari tersenyum lebar, dia pun berkata,
"Putra ku Mapanji Jayabaya,
Kelak kau akan menjadi raja besar seperti para pendahulu mu.."