JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pertemuan Para Pendekar


Lelaki paruh baya bertubuh gempal sedikit gemuk itu adalah Mpu Dirgo. Dunia persilatan Tanah Jawadwipa mengenalnya sebagai Pendekar Golok Sakti, pimpinan generasi ketiga perguruan silat di kawasan barat Kalingga yang memiliki ratusan murid. Dia adalah murid langsung dari Dewa Golok, pesilat tangguh yang memiliki nama besar di dunia persilatan, sekaligus sebagai pendiri Perguruan Golok Sakti di Lembah Kali Gung.


Pada masa lampau, selain Panji Tejo Laksono yang berstatus sebagai pangeran dan di kenal luas dengan sebutan Pendekar Pedang Naga Api yang tidak terlalu ikut campur di dunia persilatan, ada 5 pesilat tangguh lainnya yang begitu besar pengaruhnya di Tanah Jawadwipa di akhir masa pemerintahan Prabu Jayengrana. Ada Hyang Racun Kegelapan dari Gunung Ciremai, Dewa Pertapa Tanpa Tanding dari Gunung Lawu, Dewa Golok dari Lembah Kali Gung, Dewi Kembang Bulan dari Kawasan selatan Jenggala dan Iblis Tua Gila dari Nusa Kambangan.


Meskipun mereka semua tidak pernah berjumpa dan bertarung satu sama lainnya, namun kesemuanya lebih suka untuk tidak saling mengganggu satu sama lain. Namun mereka menguasai daerah di pulau Jawa dalam 5 wilayah. Hyang Racun Kegelapan menguasai daerah barat, Dewa Golok tidak ada lawan di kawasan Utara, Iblis Tua Sesat tak terkalahkan di wilayah selatan, Dewa Pertapa Tanpa Tanding disegani di wilayah tengah sedangkan Dewi Kembang Bulan memegang kawasan Timur Pulau Jawa.


Kelima pesilat tangguh ini seharusnya memiliki penerus yang selanjutnya menjadi penguasa tanpa mahkota di daerah mereka. Hanya ada Pendekar Golok Sakti yang mengendalikan kawasan Utara dan Peri Kahyangan menjadi tanpa lawan di kawasan timur. Sedangkan kekosongan 3 daerah lainnya menjadi perseteruan panjang antara para pendekar lain hingga mereka akhirnya Pendekar Golok Sakti dari Lembah Kali Gung dan Peri Kahyangan dari Gunung Bromo memutuskan untuk mengadakan pertemuan para pendekar dunia persilatan ini untuk meredam perebutan kekuasaan tanpa mahkota di beberapa tempat yang kosong ini agar pertumpahan darah bisa dihentikan. Inilah latar belakang di balik pertemuan para pendekar dunia persilatan di Lembah Kali Gung ini.


Nyai Larasati dan Dewa Kalong Merah yang mengetahui kemampuan beladiri Mpu Dirgo juga nama besar nya pun segera mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pertarungan.


"Bukan maksud ku untuk tidak menghargai mu, Mpu Dirgo. Tapi bajingan tua itu lebih dulu mencari gara-gara dengan ku", ucap Nyai Larasati segera.


"Jangan percaya omongan perempuan tengik ini, Pendekar Golok Sakti. Aku tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu.


Sebagai calon penguasa kawasan tengah, membuat masalah dengan perempuan sinting ini hanya akan merusak citra ku saja", sergah Dewa Kalong Merah.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Penguasa wilayah tengah? Hahahaha, kau terlalu banyak mimpi di siang bolong, kelelawar busuk!!


Apa kau pikir kau lebih pantas untuk menjadi pimpinan pendekar wilayah tengah jika dibandingkan dengan Dewa Pedang dari Bukit Katong ha? Benar benar tukang menghayal!", tukas Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan segera.


"Kau..."


"Cukup!! Jangan ribut lagi atau aku akan mengusir kalian semua dari wilayah Lembah Kali Gung ini!


Kita semua harus mengendalikan diri dan mengabaikan dendam lama untuk menyelesaikan permasalahan besar yang sedang terjadi. Dinginkan kepala kalian dan ikut dengan ku, jika tidak jangan salahkan aku kalau bertindak tegas terhadap kalian berdua", potong Mpu Dirgo si Pendekar Golok Sakti yang segera melenggang pergi ke arah markas besar Perguruan Golok Sakti.


Mendengar ucapan itu,baik Nyai Larasati dan Dewa Kalong Merah pun terpaksa harus menekan rasa dendam mereka karena tidak ingin diusir dari pertemuan para pendekar dunia persilatan di Lembah Kali Gung yang menjadi wilayah kekuasaan Pendekar Golok Sakti. Keduanya bersama pengikutnya melangkah menuju ke arah Perguruan Golok Sakti meski dalam jarak yang berjauhan.


Di dalam markas besar Perguruan Golok Sakti, puluhan tenda yang terbuat dari anyaman daun kelapa telah didirikan sebagai tempat para tamu undangan beristirahat. Untuk para rombongan dari perguruan silat yang membawa murid banyak, tenda mereka terletak di sebelah kiri bangunan utama Perguruan Golok Sakti sedangkan bagi para pendekar dengan membawa 1 sampai 3 murid menempati tenda yang lebih kecil di sebelah kanan. Sedangkan bagi para tamu undangan kehormatan, ada sebuah balai tamu yang cukup besar disiapkan untuk mereka di belakang balai utama.


Beberapa tenda besar telah terisi dengan para murid perguruan silat dari berbagai penjuru pulau Jawa. Hanya satu tenda besar saja yang masih terlihat kosong di samping balai utama Perguruan Golok Sakti dan itu adalah tempat untuk para murid Perguruan Bukit Katong yang khusus disiapkan oleh Mpu Dirgo.


Lepas tengah hari, rombongan Perguruan Bukit Katong sampai di Lembah Kali Gung. Para murid Perguruan Golok Sakti yang menjaga pintu gerbang markas besar itu langsung mempersilahkan kepada mereka untuk segera masuk karena kedatangan mereka lah yang paling ditunggu. Puluhan pasang mata menatap tajam ke arah rombongan itu saat mereka memasuki halaman Perguruan Golok Sakti.


Salah satunya adalah murid Perguruan Kelelawar Merah yang pernah berhadapan dengan Jaka Umbaran tempo hari. Dia adalah satu-satunya murid yang tersisa saat Banupati hendak menangkap Ki Suradipa dan kedua muridnya. Segera ia mendekati Dewa Kalong Merah dan berbisik di telinga sang pimpinan utama perguruan silat ini.


Mata Dewa Kalong Merah langsung membeliak lebar tatkala ia mendengar bisikan muridnya itu.


"Bangsat!


Jadi bocah berbaju coklat lusuh itu yang membuat Banupati menjadi orang cacat?", tanya Dewa Kalong Merah dengan penuh amarah.


"Benar Guru..


Dia juga yang membunuh para murid perguruan kita. Dendam ini Guru harus membalasnya agar sukma saudara seperguruan ku bisa tenang di nirwana", ucap si murid dengan penuh semangat membalas dendam.


"Tentu saja. Aku akan mencari cara untuk membuat mereka membayar hutang darah murid-murid ku. Kau tenang saja", Dewa Kalong Merah mengepalkan tangannya erat-erat sambil menatap tajam ke arah rombongan itu.


"Selamat datang di Perguruan Golok Sakti, Pendekar Pedang Kilat, Pendekar Pedang Bayangan, Pendekar Pedang Angin..", ucap Mpu Dirgo begitu Sadewa, Locana dan Surtikanti berjalan mendekati nya.


"Jangan terlalu merendah, Pendekar Golok Sakti..


Kami mewakili guru Dewa Pedang dari Bukit Katong meminta maaf kepada mu karena beliau tidak bisa hadir di pertemuan kali ini. Guru sedang melatih ilmu baru yang dia kembangkan di goa. Mohon kau memaklumi nya", balas Sadewa sambil membungkuk hormat kepada Mpu Dirgo si Pendekar Golok Sakti.


"Apakah suara mu nanti akan mewakili guru mu, Pendekar Pedang Kilat?


Untuk mengisi posisi penjaga wilayah yang kosong yaitu tengah, barat dan selatan kita akan ambil suara agar tercapai kesepakatan bagaimana cara menentukan siapa orang yang akan ditunjuk sebagai pengatur wilayah di tiga bagian yang kosong", ujar Mpu Dirgo kemudian.


"Guru ku menyerahkan semua keputusan Perguruan Bukit Katong pada ku, Mpu Dirgo", pungkas Sadewa sambil tersenyum tipis.


"Baguslah kalau begitu..


Nanti malam ikutlah dalam pertemuan para pendekar di balai utama Perguruan Golok Sakti. Sekarang beristirahatlah, kalian semua pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Aku permisi..", Mpu Dirgo segera berbalik badan dan melangkah meninggalkan tempat itu. Sedangkan Sadewa terlihat termenung sejenak sebelum melangkah masuk ke dalam tenda besar yang disediakan untuk mereka bersama para murid Perguruan Bukit Katong.


Suasana di Perguruan Golok Sakti semakin lama semakin ramai. Menjelang sore, sudah ada sekitar 100 orang pendekar yang datang dari berbagai penjuru daerah. Diantara mereka setidaknya ada 10 orang pendekar sepuh dan beberapa resi yang menjadi pengamat dalam acara ini.


Setelah senja menghilang dari langit barat berganti malam yang dingin dan gelap, sebuah pertemuan besar dilakukan di dalam balai utama Perguruan Golok Sakti. Setiap perguruan silat hanya boleh diwakili oleh 2 orang saja untuk menghemat tempat karena balai utama Perguruan Golok Sakti tidaklah terlalu besar.


Ada 8 perguruan silat yang hadir dalam acara itu. Diantara nya adalah Perguruan Golok Sakti, Perguruan Bukit Katong, Padepokan Padas Putih, Perguruan Pedang Keadilan, Perguruan Kelelawar Merah, Astanaraja dari Bukit Gronggong, Perguruan Cakar Rajawali Galunggung dan Perguruan Pasir Selatan dari Kadipaten Bhumi Sambara. Kesemuanya telah duduk bersila dengan rapi di tempat itu.


Selain mereka, ada juga pendekar yang punya nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa yang hadir secara perseorangan seperti Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan, Ratu Racun Pembunuh dari Gunung Ciremai, Pendekar Jari Malaikat dari pesisir pantai selatan, Setan Tanpa Muka dari Gunung Mandrageni dan Si Tangan Kematian dari Gunung Kendeng.


Dua orang pertapa besar, Maharesi Haridharma dan Resi Mpu Anubhaya dari Dieng turut hadir bersama dengan Dewi Kembang Bulan dan Mpu Dirgo. Mereka berempat adalah penentu kebijakan setelah mendengar usulan dari segenap peserta acara pertemuan para pendekar dunia persilatan ini.


"Saudara sekalian..


Malam ini kita berkumpul di tempat ini untuk membahas tentang cara untuk mendapatkan pengatur wilayah yang kosong karena telah ditinggal oleh para pengatur sebelumnya.


Aku ucapkan selamat datang di Perguruan Golok Sakti. Aku minta agar semua pihak dapat menahan diri dari segala masalah pribadi masing-masing agar tidak ada keributan saat acara ini berlangsung. Bagi siapa saja yang membuat kegaduhan di Perguruan Golok Sakti, aku tidak akan segan-segan untuk menindak tegas siapapun orangnya.


Sekarang kita mulai untuk menentukan cara apa yang akan dipakai untuk mencari pengatur wilayah tengah, barat dan selatan. Satu perguruan silat hanya bisa satu suara. Untuk pendekar yang datang perseorangan, boleh usul juga tapi juga harus memperhatikan kebutuhan. Akan ku mulai dari Perguruan Cakar Rajawali Galunggung selaku perwakilan dari wilayah barat. Silahkan sampaikan usulan kalian", Mpu Dirgo mengangkat tangan kanannya ke arah Barmawijaya, murid utama Perguruan Cakar Rajawali Galunggung untuk mulai bicara.


"Aku mewakili guru ku, Resi Buyut Ragasasmita. Hanya ingin mengatakan bahwa untuk memilih seorang pengatur wilayah maka sebaiknya kita adu kemampuan beladiri saja.


Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi daerahnya. Pemimpin yang tidak punya kemampuan yang mumpuni hanya akan mempermalukan daerah yang diaturnya. Itu saja dari ku", Barmawijaya, seorang lelaki berkumis tebal berusia sekitar 3 dasawarsa ini segera duduk kembali usai memberikan pandangan nya.


"Saya setuju dengan pendapat pendekar muda ini, Mpu Dirgo.


Tidak layak seorang pimpinan jika dia tidak memiliki kemampuan. Satu-satunya cara untuk mencari pimpinan daerah kosong adalah dengan adu ilmu beladiri", sahut Dewa Kalong Merah yang mendapat anggukan kepala dari beberapa pendekar dan perwakilan perguruan silat yang hadir.


"Kalau menurut pendapat dari Perguruan Bukit Katong bagaimana? Apa sepakat dengan cara itu?", mendengar pertanyaan dari Mpu Dirgo, semua mata segera tertuju pada Sadewa. Melihat itu, Sadewa segera menoleh ke arah Jaka Umbaran yang duduk di belakangnya. Melihat anggukan kepala dari Jaka Umbaran, Sadewa tersenyum tipis. Dia segera kembali menatap ke arah hadirin yang ada di tempat itu sambil berkata,


"Kami juga tidak menolak jika itu sudah menjadi kesepakatan bersama, Pendekar Golok Sakti. Kalau pun pendekar dari Bukit Katong yang ditunjuk sebagai pengatur wilayah tengah dan ada yang meragukan kemampuan beladiri kami,


Maka kami siap untuk melayani.."