
****
Hubungan antara Dewi Rengganis dan Jaka Umbaran semakin lama semakin dekat. Setelah Jaka Umbaran menyelamatkan nyawa nya, hati perempuan cantik dari wilayah Paguhan itu telah menjadi milik Jaka Umbaran sepenuhnya. Disaat ada kesempatan, Dewi Rengganis selalu berusaha untuk bersama dengan pendekar muda yang mulai terkenal di dunia persilatan Tanah Jawadwipa ini.
Di Wanua Jalaksana saja, beberapa orang telah mendengar nama besar Jaka Umbaran sang Pendekar Gunung Lawu sebagai pendekar muda yang mampu mengalahkan Dewa Kalong Merah salah satu dedengkot pendekar dunia persilatan yang cukup disegani oleh semua orang. Berita ini mereka dapatkan dari pembicaraan mulut ke mulut yang di mulai dari para pendekar yang menyaksikan langsung uji kemampuan beladiri di pertemuan para pendekar dunia persilatan yang diadakan di Lembah Kali Gung.
Di sebuah warung makan yang terletak tak jauh dari tempat kediaman Buyut Wangsanaya, terlihat beberapa orang sedang menikmati makanan yang mereka pesan di warung makan itu sembari berbincang-bincang. Dan topik hangat yang menjadi bahan obrolan mereka kali ini tentu saja Jaka Umbaran dan sepak terjangnya.
"Ah itu memang benar, Ki Sundang..
Aku dengar cerita dari kawan ku murid Perguruan Cakar Rajawali Galunggung juga begitu adanya. Dewa Kalong Merah memang tidak berdaya menghadapi pendekar muda itu meskipun pada awalnya banyak orang termasuk kawan ku menduga bahwa dialah yang akan menjadi pengatur dunia persilatan wilayah tengah. Jaka Umbaran mampu menjungkirbalikkan semua pemikiran orang-orang hingga banyak orang yang merasa masih tidak percaya meskipun mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri", ucap seorang lelaki muda bertubuh sedikit pendek dengan kumis tipis. Lelaki tua yang dia sebut sebagai Ki Sundang mengangguk setuju.
"Kau benar Waruga..
Aku sendiri kadang juga masih meragukan kemampuan beladiri Jaka Umbaran. Meskipun dia masih muda, tapi kini aku menjadi yakin bahwa pendekar muda ini memang layak untuk menjadi pengatur wilayah tengah. Berita terbaru yang ku dengar begitu meyakinkan ku", Ki Sundang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan dandanan layaknya seorang pedagang itu segera mengelus jenggotnya.
"Memang berita terbaru apa yang kau dapatkan Ki?
Sebagai pedagang antar daerah, tentu kau mendapatkan berita lebih cepat dari kami semua yang ada di sini", ujar lelaki muda lainnya yang ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
"Dua hari yang lalu, kawan ku berdagang beras ke Pakuwon Caruban. Disana tersiar kabar bahwa Dewa Guru Resi Atmabrata, pimpinan tertinggi sekaligus sebagai guru besar Kedewaguruan Astanaraja telah terbunuh. Kalian tahu sendiri sesakti apa orang tua itu.
Awalnya kawan ku tak percaya dengan apa yang dia dengar namun saat seorang murid Kedewaguruan Astanaraja membeli dagangan nya, murid Kedewaguruan Astanaraja membenarkan adanya berita itu. Kalian tebak siapa orang yang telah membunuhnya? Jaka Umbaran!"
HAAAAAAAHHHHHHHH?!!!!
Semua orang yang ada di warung makan itu terkejut bukan main mendengar kata-kata Ki Sundang. Mereka semua tentu saja pernah mendengar kesaktian Dewa Guru Resi Atmabrata yang tak tertandingi oleh para pendekar terutama di sekitar wilayah utara Kerajaan Galuh Pakuan. Selama beberapa puluh tahun ini, konon kabarnya hanya Hyang Racun Kegelapan saja yang mampu bertarung seimbang dengan pemimpin Kedewaguruan Astanaraja ini.
"Apa kau tidak salah dengar Ki Sundang? Dewa Guru Resi Atmabrata terbunuh oleh Jaka Umbaran?!
Sesakti apa orang itu hingga bisa mengalahkan raja pendekar di wilayah ini? Bagaimana wujud nya? Aku benar-benar penasaran...", Waruga si pemuda bertubuh sedikit pendek dengan kumis tipis itu terperangah tak percaya.
"Ku dengar tinggi nya sekitar 2 tombak, wajah nya tampan berkumis tebal juga tubuhnya besar dan berotot kekar. Saat dia marah, akan muncul sepasang tanduk pendek di kepala nya", sahut si lelaki muda bernama Bongoh yang sedari tadi ikut nimbrung dalam obrolan Ki Sundang dan Waruga.
"Kau jangan asal bicara Ngoh!!
Mana ada seorang pendekar sakti mandraguna memiliki perwujudan menyeramkan seperti itu? Kau ini ada-ada saja", bentak Waruga yang kesal dengan ulah Bongoh yang mengada-ada.
"Yang ku dengar, Jaka Umbaran itu orangnya masih muda, tampan dan tinggi tubuhnya sekitar sepangkal mata tombak ( kurang lebih 175 cm sekarang ), tubuhnya tegap dan gagah dan sering menggunakan pakaian sederhana", sambung Ki Sundang segera.
Saat yang bersamaan, Ki Renyep si tukang sapu kediaman keluarga Tabib Sakti Bertangan Satu, sedang di tugaskan untuk membeli beberapa makanan di warung makan memasuki tempat itu. Lelaki paruh baya itu segera mengernyitkan dahinya sambil berpikir keras ketika tak sengaja mendengar obrolan mereka.
'Apakah mereka sedang membicarakan tentang Den Jaka Umbaran yang kini tinggal di rumah Tabib Sakti?
Apa benar dia sungguh sakti mandraguna? Kalau melihat penampilan nya yang biasa-biasa saja dengan pakaian lusuh seperti itu, sepertinya tidak mungkin. Tapi ciri-cirinya mirip dengan yang diomongkan oleh pedagang kain itu'
Saat Aki Renyep masih sibuk dengan pikiran nya sendiri, tiba-tiba saja Jaka Umbaran dan Dewi Rengganis melintas di jalan depan warung makan itu. Kelihatannya mereka berdua baru saja selesai mencuci pakaian di sebuah sungai kecil di tepi jalan tak jauh dari tempat itu. Ini terlihat pada Dewi Rengganis yang sedang menggendong keranjang bambu berisi beberapa pakaian basah sedangkan Jaka Umbaran berjalan di sampingnya sembari menenteng serenteng ikan lele yang di dapatnya.
"Eh Aki Renyep, belanja di warung ya?"
Pertanyaan itu sontak membuat Aki Renyep tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Jaka Umbaran dan Dewi Rengganis.
"Biasa Aki.. Pengen juga makan ikan bakar makanya cari ke sungai kecil sana..
Mari Aki, saya duluan", Jaka Umbaran mengangguk sebelum melangkah meninggalkan tempat itu bersama dengan Dewi Rengganis. Keduanya bergegas menuju ke arah kediaman Buyut Wangsanaya.
"Eh Ki Renyep, siapa dua orang itu? Bukan orang sini sepertinya ", tanya Bongoh segera.
"Itu Ngoh, Den Jaka Umbaran sama Dewi Rengganis. Keduanya tamu yang berobat pada Buyut Wangsanaya.
Kunaon atuh?", tanya Aki Renyep sedikit heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bongoh.
"Jaka Umbaran?!
Ki Sundang, Waruga, apa kalian dengar omongan Aki Renyep baru saja? Pemuda yang baru lewat itu katanya bernama Jaka Umbaran.. Jangan-jangan dia orang yang sama dengan yang kita bicarakan tadi", ucap Bongoh segera.
"Dia atau bukan, yang pasti jangan sampai membuat masalah dengan orang yang bernama Jaka Umbaran, Ngoh..
Dia bukan orang yang bisa kita singgung seenaknya..", ujar Ki Sundang sambil kembali mengunyah singkong rebus di hadapannya. Semua orang langsung manggut-manggut setuju dengan pendapat Ki Sundang.
Setelah dua hari tinggal di rumah Buyut Wangsanaya, pada hari ketiga Jaka Umbaran bersama dengan Resi Simharaja dan Nyai Larasati serta Dewi Rengganis bermaksud untuk berpamitan kepada empunya rumah. Resi Guru Ekajati telah lebih dulu pulang kembali ke Gunung Cakrabuana satu hari setelah Dewi Rengganis berhasil disembuhkan.
"Sebenarnya aku tidak keberatan dengan permintaan kalian untuk kembali ke tempat asal namun aku ada permintaan untuk kalian dan berharap agar kalian bersedia untuk melakukan nya", ucap Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu sembari menatap ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan.
"Katakan saja terus terang Tabib Sakti..
Kau sudah menolong murid ku tentu saja aku tidak akan keberatan jika mampu", jawab Nyai Larasati segera. Jaka Umbaran dan Dewi Rengganis mengangguk mengiyakan.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi. Aku ingin kalian semua menemani perjalanan ku ke Kawali.
Jujur saja, aku tidak tahu penyakit Gusti Putri Padmadewi seperti apa. Jika masih penyakit biasa, aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengobati nya. Tapi jika itu di luar kemampuan ku, maka aku pun perlu bantuan dari Jaka Umbaran. Para pejabat negara itu aku sedikit khawatir, sebab jika aku gagal mengobati penyakit Gusti Putri Padmadewi, pasti aku akan mendapatkan masalah besar", ucap Buyut Wangsanaya dengan tatapan mata menerawang jauh ke depan.
Mendengar omongan jujur Buyut Wangsanaya, Jaka Umbaran mengangguk mengerti. Dari awal, Tabib Sakti Bertangan Satu ini berdiam di Wanua Jalaksana hanya untuk bisa mendapatkan Kembang Wijayakusuma sebagai pelengkap ilmu pengobatannya. Namun kini, pusaka itu sudah menjadi milik Jaka Umbaran. Tentu sudah mungkin lagi untuk memiliki nya. Meskipun mungkin ada kesempatan untuk merebutnya, namun itu mengingkari hati nuraninya sendiri. Jadi dia harus menerima kenyataan ini dan meminta bantuan kepada Jaka Umbaran karena mungkin penyakit putri Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri bukanlah penyakit biasa.
"Aku mengerti kesulitan mu, Tabib Sakti..
Kalau begitu, sebaiknya kita segera berangkat saja ke Kawali. Semakin cepat urusan mu beres, semakin cepat pula kami bisa pulang ke tempat asal kami. Tapi tolong kirim berita ke Perguruan Golok Sakti. Katakan pada mereka, aku menuju ke Paguhan. Minta pada Mpu Dirgo untuk memberitahukan kepada adik seperguruan ku untuk pulang lebih dulu ke Gunung Pamarihan. Aku khawatir adik-adik seperguruan ku akan terlalu lama menunggu disana", ujar Jaka Umbaran segera.
"Aku mengerti Pendekar Gunung Lawu. Akan ku siapkan semua keperluan untuk berangkat. Kita akan berkuda saja supaya lebih cepat.
Untuk pesan mu, merpati surat yang akan mengantarkan nya", setelah berkata demikian, Buyut Wangsanaya segera memerintahkan kepada para cantrik nya untuk menyiapkan segala keperluan perjalanan mereka ke Kawali.
Setelah beres, siang itu juga mereka berangkat ke Kawali. Semuanya mengendarai kuda termasuk Resi Simharaja.
Selepas meninggalkan Wanua Jalaksana, rombongan itu terus bergerak menuju ke arah selatan. Melewati Gandasuli, mereka memasuki Kota Mandala Saunggalah dimana Prabu Resi Darmasiksa bertahta. Sempat mampir membeli beberapa barang, rombongan itu segera meneruskan perjalanan ke arah Kawali.
Menjelang sore hari tiba, mereka telah sampai di tepi Sungai Cisanggarung tepatnya di perkampungan kecil yang bernama Jagara. Perkampungan kecil ini terlihat sunyi sekali, tak ada setitik pun cahaya lampu penerang rumah yang terlihat menyala.
Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu yang hapal dengan daerah ini langsung mengernyitkan dahinya melihat keadaan kampung yang sepi dan tanpa penerangan meskipun sebentar lagi malam hari akan segera tiba.
"Ada yang tidak beres dengan tempat ini"