
Dua sosok bayangan yang bersembunyi dibalik pepohonan berdaun lebar itu segera berpencar arah saat bara api yang ditendang oleh Jaka Umbaran menghantam pohon tempat mereka bersembunyi. Mereka pun segera menghilang di balik kegelapan malam.
Melihat itu, Besur dan Baratwaja hendak mengejar mereka namun Jaka Umbaran segera menghentikan niat mereka berdua.
"Biarkan saja mereka, tidak perlu dipedulikan. Asal tidak menggangu kita, abaikan saja.
Akan tetapi jika mereka berani untuk mengganggu kita lagi, kalian aku bebaskan untuk membuat mereka kapok", ujar Jaka Umbaran segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Besur dan Baratwaja bersamaan.
Mereka berenam pun kembali duduk di depan perapian sembari menikmati keindahan malam hari yang cerah dengan cahaya bulan yang mendekati purnama. Suara burung burung malam bersahutan seakan menjadi lagu penghibur tersendiri bagi semua orang di Istana Pakuwon Watugaluh.
Dua sosok bayangan hitam itu terus bergerak menuju tapal batas selatan Kota Pakuwon Watugaluh. Di sebuah bangunan sederhana yang terbuat dari bambu beratap anyaman daun kelapa, kedua sosok bayangan hitam itu menghentikan langkah mereka.
"Aku rasa mereka tidak mengejar kita, Nimas..", ucap sosok bayangan hitam yang merupakan seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan kumis tipis menghiasi wajahnya. Sebuah tahi lalat di atas bibir kanannya membuat lelaki itu pasti banyak digilai wanita yang bertemu dengannya.
Dia adalah Anantawikrama, seorang pendekar muda yang datang jauh dari Kerajaan Blambangan. Pria muda ini cukup punya nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur khususnya Kerajaan Blambangan sebagai Pendekar Tampan Berseruling Perak.
"Ini aneh, Kakang Ananta..
Aku paham betul dengan sifat lelaki muda yang menyerang kita tadi. Biasanya mereka akan segera memburu siapapun yang berani mengganggu kenyamanan hidup mereka. Para pengiringnya pun juga tak bisa diremehkan meskipun penampilan mereka rada aneh", ujar sosok bayangan hitam lainnya yang ternyata adalah Wara Andhira, murid Wong Agung Gunung Raung yang telah di kalahkan oleh Jaka Umbaran.
Selepas kematian sang guru di tangan Jaka Umbaran dalam sosok agung berkulit biru cerah, Wara Andhira yang dilepaskan oleh Prabu Bameswara segera pulang ke tempat asalnya. Namun bukannya kembali ke Gunung Raung tempat ia berguru sebelumnya, Wara Andhira malah mendatangi Padepokan Gunung Kumitir dimana salah seorang adik seperguruan Maharesi Wiramabajra tinggal dan membangun sebuah perguruan silat disana.
Kepada Resi Gempurbhumi, adik seperguruan Maharesi Wiramabajra yang memiliki kemampuan beladiri sangat tinggi, Wara Andhira melaporkan kematian Maharesi Wiramabajra di tangan Jaka Umbaran. Meskipun tidak ada yang ditambahkan atau dikurangi, namun nyatanya itu langsung membakar api amarah dalam hati pimpinan Padepokan Gunung Kumitir ini. Lelaki tua bertubuh kekar dengan janggut pendek hitam yang telah di tumbuhi uban ini langsung marah besar dan berniat untuk membalas dendam kematian kakak seperguruan nya
"Mungkin mereka sedang malas untuk keluar malam, Andhira..
Kalau itu mau mereka, besok kita cegat saja mereka saat lewat tempat ini. Benar bukan ini jalan menuju ke arah Kotaraja Daha?", suara berat seorang lelaki tua terdengar dari dalam gubuk bambu beratap anyaman daun kelapa itu.
"Benar Paman Guru..
Ini memang jalan raya menuju ke arah Kotaraja Daha", jawab Wara Andhira segera.
Tak lama kemudian terdengar suara decitan bambu yang menjadi tempat peristirahatan di dalam gubuk bambu ini. Setelah itu, pintu gubuk bambu ini terlihat dibuka dari dalam.
Krriiieeeeeettttthhhh!!
Sesosok tubuh kekar dengan kumis tebal dan janggut lebat pendek keluar dari dalam gubuk bambu ini. Penampilan lelaki tua itu tak ubahnya seperti seorang pertapa tua dengan baju kuning kunyit dan rambut di gelung diatas kepala dengan sebuah ikat gelungan yang terbuat dari emas berhias permata kecil berwarna hijau. Lelaki tua itu keluar sambil memegang tongkat kayu berwarna hitam legam dengan ujung bawah dilapisi besi sedangkan pada gagang atasnya yang menjadi pegangan terdapat ukiran kepala naga yang mulutnya terbuka lebar.
"Hormat kami Guru", ucap Anantawikrama sembari menghormat pada lelaki tua itu. Wara Andhira ikut membungkuk hormat.
Hemmmmmmm...
"Tugas kalian berdua hanya memata-matai Pangeran Daha itu. Selebihnya, aku yang akan menghabisi nya. Jadi aku minta agar kalian tidak bertindak gegabah. Kakang Maharesi Wiramabajra saja terbunuh oleh nya, tentu saja kemampuannya bukan sembarangan", ucap Resi Gempurbhumi segera.
"Kami mengerti", ucap Anantawikrama dan Wara Andhira bersamaan. Setelah mendengar itu, Resi Gempurbhumi segera berbalik badan dan melangkah menuju ke arah gubuk bambu itu lagi. Sebelum melangkah masuk, ia menoleh ke arah Anantawikrama dan Wara Andhira.
"Istirahatlah, gunakan waktu sebaik mungkin untuk memulihkan tenaga kalian. Besok pagi kita akan bertarung habis-habisan melawan Pangeran Daha ini", setelah berkata demikian Resi Gempurbhumi segera masuk dan mengunci pintu masuk gubuk bambu ini dari dalam.
Wara Andhira dan Anantawikrama segera melangkah menuju ke arah samping gubuk bambu yang ada di bawah pohon rindang ini. Sisa perapian yang mereka buat tadi siang, masih menyisakan abu hangat dan sedikit bara api. Anantawikrama segera meletakkan rerumputan kering di atas bara api kecil itu dan meniupnya. Perlahan api mulai muncul di perapian itu. Anantawikrama pun segera menambahkan kayu-kayu kering hingga api menjadi besar dan cukup untuk mengusir dingin malam di tapal batas selatan Kota Pakuwon Watugaluh ini.
"Nimas Andhira, memang seberapa kuat lawan yang akan kita hadapi?", tanya Anantawikrama sembari melemparkan potongan kayu kering ke perapian. Wara Andhira yang sedang sibuk menata alas tidur nya yang berupa daun kelapa anyam dan beberapa helai daun pisang, tetap sibuk dengan pekerjaan nya sembari menjawab omongan Pendekar Tampan Berseruling Perak ini.
"Kalau soal itu, Kakang Ananta tidak perlu menanyakan nya.
Ilmu kedigjayaan milik guru ku saja tak mampu mengalahkannya. Yang jelas dia memang sakti mandraguna", ucap Wara Andhira yang terdengar memuji kehebatan ilmu kanuragan milik Jaka Umbaran. Ini langsung membuat hati Anantawikrama yang sudah lama ingin mendekati perempuan cantik asal Gunung Raung itu meradang seketika.
"Aku tidak percaya dengan omongan mu, Nimas. Aku merasa kamu terlalu memuji nya. Mungkin saja, Maharesi Wiramabajra sedang lengah saat menghadapinya hingga bisa di kalahkan oleh pangeran muda itu", sangkal Anantawikrama segera.
"Kalau Kakang Ananta tidak percaya ya silahkan saja coba sendiri. Tapi kalau sampai kakang terluka bahkan terbunuh oleh nya, ya jangan salahkan aku", ucap Wara Andhira acuh tak acuh.
"Kalau Kakang Ananta bisa mengalahkannya, aku akan menikahi Kakang sebagai ucapan terimakasih atas balas dendam kematian guru ku", Wara Andhira asal bicara sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat peristirahatan nya.
Mendengar jawaban itu, senyum lebar terukir di wajah Anantawikrama. Sebuah pemikiran pun melintas di kepala pendekar muda asal Padepokan Gunung Kumitir ini.
Malam terus bergulir menembus perjalanan waktu. Menjelang pagi, kabut menutupi seluruh wilayah Kota Pakuwon Watugaluh. Bahkan, setelah kokok ayam jantan terdengar bersahutan dari berbagai penjuru Kota Pakuwon Watugaluh, kabut tebal masih juga belum mau beranjak dari seputar wilayah itu. Sang Surya baru nampak setelah sepenggal naik di langit timur.
Pagi itu, rombongan Jaka Umbaran berniat untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka ke Kotaraja Daha. Meskipun belum genap sepekan dari hari pernikahan nya, Gendol berpamitan pada istrinya Rara Arumsari putri Akuwu Mpu Setyaki.
"Saya akan memboyong Yayi Arumsari ke Daha setelah Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya memberikan tempat tinggal untuk saya, Kanjeng Romo Akuwu.
Karena itu, untuk sementara, saya menitipkan Yayi Arumsari disini dulu", ujar Gendol sambil menatap ke wajah Akuwu Mpu Setyaki.
"Ya ya ya, tidak apa-apa Nakmas Demung..
Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya pasti akan memenuhi omongan nya. Sering-seringlah menengok istri mu kalau sedang lewat tempat ini", ucap Akuwu Mpu Setyaki sembari tersenyum tipis.
"Saya mengerti Kanjeng Romo Akuwu..
Yayi Arumsari, Kakang berangkat bertugas dulu ya? Jaga hati mu untuk kakang seorang", Gendol menatap ke arah Rara Arumsari yang baru saja dinikahi nya.
"Kakang Demung tenang saja..
Segeralah membangun sebuah puri yang indah untuk tempat tinggal kita nanti di Kadiri. Aku akan setia menunggu kedatangan mu Kakang", ucap Rara Arumsari sembari tersenyum penuh arti.
Gendol cepat mengangguk sambil tersenyum simpul. Perlahan dia melepaskan pegangan tangan Rara Arumsari dan menuju ke arah rombongan Jaka Umbaran yang telah menunggu. Perlahan rombongan itu meninggalkan Istana Pakuwon Watugaluh. Rara Arumsari terus menatap ke arah perginya rombongan suaminya itu hingga mereka menghilang di keramaian jalan raya.
Rombongan Jaka Umbaran terus menjalankan kudanya perlahan ke arah selatan. Sepanjang jalan kota ini, semua penduduk menepi sembari berjongkok memberi hormat kepada mereka.
Setelah melewati rumah terakhir yang berjarak sekitar 200 depa dari tapal batas Kota Pakuwon Watugaluh, seorang pemuda tampan berpakaian kuning dan putih menghadang laju pergerakan Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Caping bambu nya menutupi sebagian wajahnya hingga tidak terlihat jelas oleh rombongan Jaka Umbaran.
"Hei Kisanak, minggir kau!!
Kami mau lewat. Jangan berdiri di tengah jalan begitu", ucap Besur sedikit keras.
"Kalau aku tidak mau minggir, kau mau apa?!", si pemuda tampan bercaping bambu itu membalasnya dengan cepat.
"Kurang ajar!
Sepertinya kau cari perkara dengan kami ya? Cepat minggir, jika tetap keras kepala, jangan salahkan kami bertindak tegas", ucap Besur yang mulai kesal dengan ulah orang itu.
"Coba saja kau usir aku jika kau mampu. Junjungan mu itu saja belum tentu mampu melakukan nya", tantang si pemuda tampan bercaping bambu yang tak lain adalah Anantawikrama itu seraya menunjuk ke arah Jaka Umbaran.
"Kau..."
"Sudah cukup bicara nya, Sur..
Aku saja yang maju. Sekalian menghabiskan tenaga yang tidak terpakai semalam", Gendol memotong omongan Besur sebelum melompat ke arah Anantawikrama sembari mengayunkan gada di tangan kanannya ke arah pemuda tampan bercaping bambu ini.
Whhhuuuuuggggghhhh!!!
Anantawikrama segera melompat mundur menghindari gebukan gada Gendol hingga gebukan lelaki yang baru saja menjadi seorang suami itu hanya menghantam tanah bekas tempat nya berdiri.
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!
Bunyi ledakan keras terdengar saat gada Gendol menghantam tanah jalan raya menuju ke arah Kotaraja Daha ini. Anantawikrama segera mengangkat tangan ke arah Gendol sambil menunjuk ke arah Jaka Umbaran yang masih tenang diatas kuda tunggangannya,
"Tunggu dulu sebentar, jangan terburu nafsu. Aku kesini bukan untuk bertarung melawan mu,
Tapi melawan dia..!!"