
"Lereng timur Gunung Wilis?!
Bukankah daerah itu dekat dengan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu?", Prabhaswara segera mengernyitkan dahinya dalam-dalam.
"Hamba tidak tahu pasti nya, Gusti Adipati Prabhaswara. Namun begitulah cerita dari guru hamba", jawab Jaka Umbaran segera.
Hemmmmmmm..
"Maaf jika aku menjadi ingin tahu tentang keberadaan orang tua mu. Tapi pasti ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.
Apa ada petunjuk lain selain hanya daerah timur Gunung Wilis itu, Pendekar Gunung Lawu?", kembali pertanyaan terlontar dari mulut sang penguasa Kadipaten Paguhan ini.
"Ada beberapa barang yang melekat di tubuh hamba saat masih kecil. Kemana pun hamba pergi, barang barang itu tidak pernah lepas dari tubuh hamba", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera merogoh balik bajunya dan mengeluarkan selembar kain biru bersulam benang emas bergambar Ardhachandralancana atau Lencana Ardhachandra yang berupa tengkorak yang menggigit bulan sabit. Juga sebuah kalung perak berbandul liontin emas berukir gambar serupa dengan yang ada di kain biru itu tadi.
Saat Adipati Prabhaswara membuka lipatan kain biru itu, matanya terbelalak lebar tatkala ia melihat sulaman benang emas bergambar Ardhachandralancana pada bagian tengahnya. Dia hapal betul dengan gambar itu.
"Ini adalah gambar Ardhachandralancana, Pendekar Gunung Lawu. Ini adalah lambang penguasa Kerajaan Panjalu, Gusti Prabu Bameswara. Tidak sembarang orang bisa memegang lambang ini kecuali jika dia adalah keturunan bangsawan Kotaraja Daha ataupun kerabat dekat istana.
Para nayaka praja pun hanya membawa lencana tiruan dari perak saja jika membawa perintah langsung dari Gusti Prabu Bameswara. Sedangkan Lencana Ardhachandra yang tersulam di kain biru ini terbuat dari benang emas.
Aku yakin kau masih ada hubungan kekerabatan dengan Istana Kotaraja Daha, Jaka Umbaran", ucapan Adipati Prabhaswara ini sontak membuat Jaka Umbaran tersentak kaget mendengarnya. Namun di sisi lain, dia juga merasa gembira karena telah menemukan sebuah petunjuk tentang keberadaan orang tua yang selama ini dicarinya. Adipati Prabhaswara kemudian mengembalikan kain biru dan kalung perak berbandul liontin emas itu pada sang pemilik.
"Hamba mengucapkan terima kasih atas penjabaran dari makna gambar itu, Gusti Adipati. Setidaknya ada sedikit petunjuk lagi yang bisa hamba gunakan", ucap Jaka Umbaran sembari menerima kembali kain biru itu dan segera menyimpannya di balik bajunya.
"Kapan rencana mu untuk berangkat mencari keberadaan orang tua mu, Anak muda?"
"Esok pagi, hamba akan berangkat Gusti Adipati. Mohon doa restunya agar semua keinginan hamba bisa cepat terkabul", mendengar jawaban itu, Adipati Prabhaswara menghela nafas panjang.
"Baiklah kalau itu yang menjadi keinginan mu. Tapi Rengganis biarkan tetap tinggal di sini, Umbaran..
Sekarang dia adalah seorang putri dan belum menikah. Jika seorang gadis berkeliaran bebas di luar sana, orang pasti akan menyalahkan orang tua nya. Ku harap kau bisa mengerti", ucap Adipati Prabhaswara segera.
"Hamba mengerti, Gusti Adipati. Nanti hamba akan memberi pengertian pada Rengganis.
Hamba rasa, sudah cukup lama hamba disini. Mohon pamit undur diri untuk beristirahat", Jaka Umbaran menghormat usai berbicara. Setelah itu ia segera mundur dari tempat itu. Resi Simharaja dan Gendol pun turut menghormat sebelum mengikuti langkah sang majikan mereka.
Setelah ketiga orang itu menghilang di balik pintu pembatas ruang pribadi nya, Adipati Prabhaswara menghela nafas panjang.
"Semoga kau lekas menemukan keberadaan orang tua mu, Jaka Umbaran. Rengganis pasti akan bersedih hati saat kau tak ada di sisinya"
Setelah melewati beberapa orang penjaga, Jaka Umbaran terus melangkah menuju ke arah balai tamu kehormatan yang telah menjadi tempat tinggal nya selama ini di Paguhan. Sesampainya di sana, pemuda tampan itu sejenak tertegun melihat seisi bangunan ini. Ada rasa segan untuk pergi setelah menetap cukup lama di tempat ini.
"Ada Ndoro Pendekar? Kok termenung begitu?", ucap Gendol sembari bolak balik menatap ke arah bangunan balai tamu kehormatan dan wajah tampan Jaka Umbaran bergantian.
"Tidak ada apa-apa Ndol..
Cuma merasa sedikit sayang saja mau meninggalkan tempat ini", balas Jaka Umbaran sembari terus mengamati sekitar tempat itu.
"Yah namanya perjalanan hidup, Ndoro Pendekar. Selama masih ada keinginan untuk sesuatu, ya harus ikhlas meninggalkan tempat ini. Toh ada tujuan mulia Ndoro Pendekar saat meninggalkan tempat ini, jadi Ndoro Pendekar ya mesti merelakan berpisah dengan tempat ini.
Percayalah Ndoro, jika Dewata Yang Agung memberi ijin nya, suatu saat nanti Ndoro Pendekar pasti akan kembali ke tempat ini lagi", ucap Gendol dengan lancar.
Mendengar itu, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja segera menatap ke arah Gendol bersamaan. Keduanya terlihat bingung menatap ke arah pemuda bertubuh tinggi besar itu. Sadar sedang menjadi bahan perhatian, Gendol langsung bertanya.
"Ada apa Ndoro? Kog melihat Gendol seperti melihat hantu begitu?", Jaka Umbaran tak langsung menjawab omongan Gendol, tapi segera meletakkan telapak tangannya ke dahi Gendol.
"Aneh, tidak panas sama sekali. Kelihatannya orang ini sehat sehat saja", gumam Jaka Umbaran.
"Mungkin dia salah makan tadi Ndoro Pendekar hingga omongannya bisa benar begitu", sahut Resi Simharaja segera.
"Hei hei hei, apa maksud kalian bicara begitu he? Apa Ndoro Pendekar pikir aku sedang mengigau karena demam tinggi ya?
Sialan, omong benar sekali saja kog di kira ngelantur sih. Nasib nasib...", gerutu Gendol yang langsung membuat Jaka Umbaran dan Resi Simharaja mengulum senyum mereka, menahan diri agar tidak tertawa melihat tingkah Gendol.
Malam itu, Jaka Umbaran segera mempersiapkan segala keperluan perjalanan jauhnya. Beberapa potong baju tanpa lengan berwarna biru yang di belikan oleh Dewi Rengganis tersusun rapi dalam buntalan kain hitam. Beberapa ratus kepeng perak juga ada di sana. Setelah semuanya beres, Jaka Umbaran menulis sebuah surat yang ditulis dalam lembaran daun lontar dan meletakkannya di atas meja kecil di pojokan ruang tidur nya. Saat di tanya Gendol kenapa tidak berpamitan langsung pada Dewi Rengganis, Jaka Umbaran hanya menjawab bahwa Dewi Rengganis pasti akan memaksa ikut serta dalam perjalanan kali ini meskipun kini dia sudah menjadi seorang putri bangsawan Paguhan. Oleh karena pertimbangan itulah, Jaka Umbaran memutuskan untuk tidak bicara langsung melainkan dengan surat saja. Setelah persiapan cukup, malam itu juga Jaka Umbaran, Resi Simharaja dan Gendol meninggalkan Kota Kadipaten Paguhan menuju ke arah timur.
Ketika pagi hari menjelang, seperti biasanya Dewi Rengganis setelah mandi, bergegas menuju ke arah balai tamu kehormatan. Wajah perempuan cantik yang kini menjadi putri penguasa daerah paling barat Kerajaan Panjalu itu terlihat berseri seri membayangkan berduaan dengan sang pujaan hatinya.
Saat hendak mengetuk pintu kamar tidur Jaka Umbaran, Dewi Rengganis melihat pintu dalam keadaan tidak terkunci dan sedikit terbuka. Sedikit was-was, putri Adipati Prabhaswara ini segera melangkah masuk ke dalam kamar. Kosong, tak ada lelaki pujaan hatinya di tempat itu meskipun hari masih sangat pagi. Tempat tidur sang pendekar muda ini pun terlihat rapi tanpa ada bekas dipakai tidur. Saat itu, mata Dewi Rengganis melihat rangkaian daun lontar di atas menjadi kecil di pojokan kamar dengan di tindih wadah lampu minyak jarak. Dia bergegas mengambilnya dan membaca huruf demi huruf Jawa Kuno yang tertera di atas nya.
'Nimas Dewi Rengganis,
Saat kau membaca surat ini,
Mungkin aku sudah keluar dari Kota Paguhan,
Maka lewat surat ini aku meminta maaf,
Ijinkan aku untuk mencari keberadaan orang tua ku,
Kelak saat aku sudah menemukannya,
Aku akan datang kembali,
Untuk melamar mu,
Jaka Umbaran..'
Airmata Dewi Rengganis langsung menetes keluar dari sudut matanya. Perempuan cantik itu tak dapat menutupi kesedihannya karena kepergian sang pujaan hati. Sembari menggenggam erat untaian daun lontar di tangan nya, dia menatap ke arah langit timur.
"Hati-hatilah dalam perjalanan mu, Kakang Umbaran. Aku akan setia menunggu kedatangan mu"
****
Rombongan Jaka Umbaran terus memacu kuda mereka masing-masing ke arah timur. Setelah meninggalkan Kota Kadipaten Paguhan, mereka menggebrak kuda tunggangan mereka melewati beberapa wanua dan Pakuwon di wilayah Kadipaten Paguhan. Pemandangan indah dari Pegunungan Serayu Selatan menjadi teman seperjalanan mereka. Menyusuri Kali Serayu ke arah hulu, lepas tengah hari mereka bertiga pun sampai di Alas Winong yang merupakan perbatasan wilayah antara Kadipaten Paguhan dan Bhumi Sambara. Melihat kuda mereka telah kelelahan, Jaka Umbaran segera menarik tali kekang kudanya di tepian hutan kecil itu.
"Kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Kuda-kuda kita perlu beristirahat dan makan rumput sebentar", ucap Jaka Umbaran yang segera di sambut anggukan kepala oleh Gendol dan Resi Simharaja. Ketiganya langsung melompat turun dari atas kuda mereka masing-masing dan membiarkan kuda mereka mencicipi segarnya rumput di tepi hutan kecil itu sembari sesekali meneguk air jernih dari sungai kecil yang mengalir di dekatnya.
Ketiganya langsung berteduh di bawah pohon rindang yang ada di tepi hutan kecil ini sekaligus sebagai tempat untuk mengisi perut. Saat melewati wilayah kota pakuwon perbatasan tadi, Jaka Umbaran sempat berhenti dan membeli beberapa makanan kering. Rasa lapar seharian berkuda, membuat mereka langsung menyantap makanan ini.
Setelah cukup lama beristirahat, karena khawatir akan kemalaman di perjalanan, Jaka Umbaran segera mengajak Resi Simharaja dan Gendol untuk meneruskan perjalanan. Saat ketiga nya mulai bersiap untuk berangkat, tiba-tiba dari arah timur muncul sepasang laki-laki dan perempuan yang mengendarai seekor kuda dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya, beberapa orang bertubuh kekar memburu mereka dengan senjata terhunus.
"Landungseta, Mustikaweni...!!!
Berhenti kalian....!!!", teriak salah satu pemburu kedua orang itu lantang.
Entah karena kelelahan atau apa, tiba-tiba saja kuda yang ditunggangi oleh sepasang pria dan wanita itu terjungkal di dekat tempat Jaka Umbaran dan kawan-kawan berada. Hal ini menyebabkan sepasang muda mudi ini langsung terpelanting dan menyusruk tanah dengan keras. Namun keduanya segera bangkit, saat hendak melarikan diri, rombongan pengejar itu telah mengepung mereka berdua.
Salah seorang diantara pengejar itu seketika menyeringai lebar menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan mata penuh kebencian.
"Mau kemana kalian heh? Menyerah saja, kalian tidak akan pernah bisa lolos dari genggaman tangan ku", ucap seorang lelaki muda bertubuh gempal dengan bekas luka di pipi kanan nya.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Menyerah?!!
Itu semua tidak akan ada gunanya. Lebih baik aku mati bersama dengan kalian heh para bajingan Padepokan Gunung Menir!", ucap lelaki muda itu sembari menghunus pedangnya. Dia segera melesat cepat lelaki bertubuh gempal berwajah codet yang baru saja turun dari kudanya itu sambil membabatkan pedang nya.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!
"Dasar tidak tahu diri!
Mampus saja kau Landungseta!", teriak si lelaki berwajah codet itu sambil mengayunkan kapak besar nya untuk menahan tebasan pedang lelaki muda yang bernama Landungseta ini.
Thhrraaanggg!
Secepat kilat, lelaki bertubuh gempal itu memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah perut Landungseta.
Dhhiiieeeeesssshhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Landungseta terpental ke belakang dan menyusruk tanah di samping perempuan yang bersamanya. Pedangnya lepas dari genggaman tangan. Sementara itu, si lelaki bertubuh gempal itu menyeringai lebar sembari melesat cepat kearah Landungseta yang masih terkapar di tanah. Kapak besar di tangan kanannya terayun ke arah kepala Landungseta.
"Mampus kau Landungseta!!"
Saat yang genting itu, tiba-tiba sebuah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa melesat cepat memapak pergerakan si lelaki bertubuh gempal itu dan langsung menghajar pinggang nya.
Bhhhuuuuuuggggh...
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Pria bertubuh gempal itu seketika terjungkal. Pinggangnya sakit bukan main seperti mau patah. Namun dia segera bangkit sambil menoleh ke arah asal serangan sambil mendelik tajam,
"Siapa yang telah menyerang ku?!!!"