Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 96


"Mas, aku antar anak-anak dulu ya. Mas berangkat ke kantornya agak siangan kan? Atau udah mailu berangkat juga?" pamit Syafira seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dimana suaminya berada. Namun, Bara tak menyahut, kedua matanya kini sedang fokus menatap kertas yang kini ia pegang.


" Mas..." Syafira mendekati suaminya, ia langsung meringis, mengigit bibir bawahnya ketika melihat ekspresi Bara menatap kertas yang ia simpan di laci nakas. Ketahuan, pikirnya.


"Aku bisa jelasin mas," ucap Syafira.


"Apa ini?" tanya Bara.


"Aku bisa jelasin mas, bukannya aku..."


"Kamu benar-benar nggak mau magang di perusahaan mas? Benar-benar tidak suka berada dalam satu kantor sama mas?" sela Bara, tangannya menggenggam erat kertas formulir pendaftaran magang tersebut.


"Shinta sama Mia magang dimana?" tanya Bara lagi sebelum Syafira menjawab pertanyaan pertamanya.


"Osmaro Corp.," jawab Syafira lirih, ia tahu jawabannya pasti akan membuat suaminya mengerutkan keningnya. Kan benar! Pikir Syafira ketika Bara langsung mengernyit.


"Mereka saja pintar cari tempat buat magang. Kamu yang istri mas kenapa malah memilih perusahaan lain Fir?"


"Jadi mas ngatain aku bodoh, iya?"


"Bukan begitu sayang, mas tahu kamu pintar, kalau mana bisa kamu dapat beasiswa penuh. Mas nggak mau tahu, kamu magang di kantor mas atau tidak boleh magang sekalian," nada bicara Bara terdengar pelan namun tegas.


"Mas kan tahu, aku nggak mau magang di kantor mas Bara. Bukannya apa-apa, aku cuma nggak mau dapat nilai bagus hanya karena aku istri mas, aku ingin buktiin kemampuan aku, buktiin kalau aku juga bisa dengan kemampuan aku sendiri, apa kata orang kalau aku ngandalin suami,"


Bara mengembuskan napasnya kasar," Terus kamu mau apa dengan menunjukkan kemampuan kamu itu yang bisa mandiri tanpa mas? Buat apa Fira? Tugas utama kamu itu menjadi istri dan ibu dari anak-anak, tidak perlu mendapat pengakuan dari orang luar. Terus apa salahnya ngandalin suami sendiri? Aku senang ketika kamu merasa bergantung sama mas Fir, mas merasa di butuhkan dan betguna sebagai laki-laki,"


" Mas Bara kok ngomong gitu? Aku berusaha keras buat bisa kuliah, biar bisa cari kerja yang lebih bagus. Terus nanti aku cuma di suruh duduk di rumah menjadi ibu rumah tangga biasa begitu? Aku juga punya mimpi mas. Aku juga berusaha menjadi istri dan ibu yang baik, aku tetap bergantung dan mengandalkan mas Bara sebagai suami dan ayah dari anak-anakku, tapi dalam hal ini beda mas. Cuma untuk hal magang ini saja. Mas harus ngerti, sekali ini saja mas ijinin aku nentuin pilhan aku sendiri," niatnya mau pamit malah jadi adu argumen begini.


" Mas! Kok di robek sih, emangnya salah kalau aku mau magang di sana, cuma magang mas, nggak jual diri!" asataga! Syafira sendiri merasa terkejut dengan ucapannya barusan.


"Fira!" Bar langsung sedikit meninggikan suaranya.


"Kenapa mas Bara jahat! Nggak bisa ngomong baik-baik? Aku juga bisa dengerin kalau mas bara ngomongnya baik-baik" Syafira memukul-mukul dada bidang Bara, meluapkan kekecewaannya. Bukan soal kertas yang di robek, jika suaminya bisa bicara baik-baik, ia juga akan mengerti. Kenapa langsung merobek tepat di depan mukanya.


"Selama ini aku kurang nurut apalagi mas. Semua, semuanya aku udah serahin sama mas Bara, hidupku, masa mudaku, dan cintaku semua buat mas Bara. Kenapa hanya perkara magang saja mas Bara terlalu posesif begini, kenaoa. Langsung marah. Mas pengein aku bergantung sama mas, selama ini aku kurang bergantung apa mas, semuanya yang udah mas lakukan untuk aku itu bahkan aku tidak bisa membalasnya, mas sangat berjasa dalam. Hidup aku mas," matanya berkaca-kaca namun tetap ia tahan supaya cairan kristal bening itu tidak jatuh membasahi pipinya karena setelah ini ia akan mengantar anak-anak ke sekolah.


"Kenapa diam aja mas, jawab. Kenapa nggak boleh, beri alasan yang masuk akal, itu juga perushaan nggak kalah bagus sama punya mas,"


Bukannya menjawab, Bara malah mel*mat bibir Syafira dengan penuh nafsu. Tangan Syafira yang sejak tadi memukul-mukul dadanya langsung berhenti tertahan oleh tangan Bara.


Untuk sesaat Syafira menikmati sesapan dan lum*atan yang di lakukn oleh Bara, namun ia langsung menggigit lidah Bara, begitu sadar keadaan. Lagi suasana tegang begini malah main nyosor aja, pikir Syafira. Yang mana membuat Bara melepas ciumannya dan meringis. Sementara Syafira menatapnya antara kesal dan ingin menangis.


"Mas yang akan antar anak-anak sekalian ke kantor, kita bicarakan ini nanti lagi," ucap Bara lembut. Ia tak ingin memperpanjang masalah yang sebenarnya bisa di bicarakan baik-baik tersebut. Hanya saja, suasana hatinya sedang tidak baik, menahan hasrat cukup lama membuatnya gampang emosi. Ia hanya berusaha mengerti sikap sang anaknyang sedang posesif-posesifnya terhadap Syafira. Dan ini bukan salah Syafira, tak ada yang salah dalam hal ini. Syafira bukan menolak tapi keadaan yang sedang tidak bersahabat dengannya.


Ia juga tahu saat ini Syafira sedang kesal dan marah dengan sikapnya barusan. Kalau di teruskan, Bara takut akan membuat mereka benar-benar bertengkar.


Di raihnya kepala Syafira lalu Bara mencium kening sang istri, "Mas pulangnya nanti akan terlambat. Mas berangkat dulu," pamit Bara, tangannya mengusap sudut Syafira yang sudah basah dengan lembut.


Syafira hanya bisa berdecak sambil menatap punggung suaminya saat laki-laki itu memegang handle pintu, lalu menoleh "Mas lakuin itu karena mas sayang, cinta sama kamu. Mas harap kamu mengerti," ucapnya sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan Syafira.


Syafira mengembuskan napasnya kasar, menatap lekat kertas yang sudah hancur menjadi beberapa bahian tersebut," Dasar mas Bara, menyebalkan, suka seenaknya sendiri," gumamnya sambil memunguti kertas yang berserakan di lantai.


🌼 🌼 🌼