
"Mas juga tahu kalau kamu sayang dan cinta sama Mas. Mas tahu itu. Hanya saja terkadang kita harus memilih tanpa melibatkan rasa itu..."
Mata Syafira mulai memanas. Siap, dia harus siap. Kuat, harus kuat, apapun akhirnya. Ia terus mensugesti dirinya sendiri dalam hati.
"Maafkan mas Fir, mas udah nggak sanggup lagi melihat kamu bersedih. Mas nggak sanggup lagi melihatmu diam-diam menangis..." Syafira mengeratkan genggamannya pada tangan Bara. Menunggu Bara melanjutkan bicaranya dengan hati yang sudah tak berbentuk.
"Seperti yang kamu bilang, kamu nggk akan pernah sanggup memilih antara aku sama Adel. Sudah terlalu lama ini berlarut dan mas sepertinya memang tidak bisa meyakinkan Adel. Mas nggak bisa membuat kamu terluka lebih lama lagi...
Mas nggak akan buat ini semakin rumit dan tak berujung. Mas nggak akan buat kamu memilih, karena mas memilih untuk tidak ada dalam pilihan itu," sekuat hati, Bara tetap memandang Syafira dan tersenyum setiap kali istrinya tersebut menatapnya.
Tes... Syafira tak lagi bisa membendung air matanya.
" Mas ke sini untuk menjemput kamu, tapi pada akhirnya mas memutuskan untuk kembali ke Jakarta sendiri. Mas hanya ingin kamu selalu bahagia. Karena melihatmu bahagia, sudah cukup buat mas. Kamu harus hidup baik dan rukun bersama Adel ya..."
"Kamu mengerti kan maksud mas?"
Syafira hanya bisa mengangguk, meskipun ia sudah berusaha menyiapkan hati. Namun, tetap saja... Sakit.
"Mas tahu, Adel sangat menyayangi kamu. Dia akan melakukan apapun demi kamu. Dia hanya ingin yang terbaik buat kamu. Dan mungkin memang mas bukan yang terbaik buat kamu,"
Syafira memggeleng, ia tak setuju dengan ucapan Bara barusan.
"Mas Bara yang terbaik," ucap Syafira lirih.
Bara tersenyum, "Makanya mas juga akan melakukan yang terbaik yang mas bisa, untuk kamu, untuk kita. Besok pagi, mas akan kembali ke Jakarta. Sudah terlalu lama mas ninggalin si kembar...pekerjaan juga sudah terlalu lama mas tinggalkan..." Bara tak boleh egois, ada ribuan karyawan yang bergantung padanya. Kondisi perusahaan yang baru saja kembali stabil tak boleh ia abaikan begitu saja. Masih banyak hal harus ia lakukan.
"Apapun yang terjadi, si kembar akan tetap jadi anakmu kan Fir? Kamu tetap ibu dari anak-anakku kan?" Syafira mengangguk dalam isaknya.
"Mas tetap ayah dari dia kan?" Bara menyentuh perut Syafira. Hampir saja pertahanannya runtuh saat tangannya mengusap lembut perut Syafira.
Syafira kembali mengangguk sambil sesenggukan, ia tak bisa berkata-kata, terlalu menyakitkan.
"Kita tetap jaga hubungan baik, bisa? Demi mereka,"
Lagi-lagi Syafira hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Tetap masih ada cinta antara kita nanti kan Fir?" Syafira kembali mengangguk. Pasti, sudah pasti cintanya akan tetap untuk mas Bara, pekiknya dalam hati.
"Itu udah cukup buat mas. Besok mas kembali ke Jakarta ya. Kamu masih ingin di sini?"
Syafira diam, tak tahu harus menjawab apa. Tentu saja jika bisa memilih, ia ingin ikut kembali ke Jakarta.
"Setelah kembali ke Jakarta nanti, kamu yang maju ya? Karena mas nggak akan sanggup untuk mengatakan kata itu," Syafira mengerti maksud Bara, ia ingin Syafira yang mengajukan untuk berpisah atau bercerai.
"Maafin aku mas, maaf untuk semuanya,"
Bara tersenyum, ia mengusap wajah Syafira yang basah, "Kamu tidak salah. Tak Ada yang salah, hanya keadaan yang memaksa kita harus berada di posisi ini. Jangan nangis lagi. Mas nggak akan kemana, masih tetap di sini bukan? Meski dengan status berbeda nantinya. Mas tetap akan dampingi kamu sampai anak kita lahir. Mas akan tetap ada saat kamu butuh mas. Mas akan temani saat-saat sulit kamu mengandung... " Bara merapikan rambut Syafira yang menempel di wajahnya karena basah.
Syafira mengangguk. Bara meraihnya ke dalam pelukannya, ia mencium puncak kepala Syafira Berkali-kali. Mungkin ini terkahir kali ia bisa melakukannya. Tangis Syafira semakin kencang dalam pelukan Bara. Bara hnya sanggup memejamkan matanya yang terasa amat panas.
Syafira semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan Bara.
Ya, semuanya akan berakhir. Mereka sama-sama lelah dengan keadaan.
" Ini yang bisa mas lakukan sebagai seorang laki-laki yang mencintai kamu, sebagai seorang ayah. Tapi maaf jika mas gagal sebagai seorang suami,"
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Malam ini semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang bersuara. Makan malam yang sengaja uwak bawa dari rumah anaknya pun tak ada yang menyentuh. Tentu saja, dalam keadaan seperti itu tak ada yang merasa lapar. Syafira hanya meminum susu ibu hamil yang di buatkan oleh Bara tadi, itupun terpaksa, demi sang buah hati.
"Hal yang seharusnya mudah, kenapa di bikin sulit, yang pada akhirnya saling menyakiti diri sendiri," gumam uwak seraya menatap makan malam yang masih utuh tersebut.
Syafira Berkali-kali mengusap perutnya. Huh cintanya bersama Bara tersebut hadir karena sebuah alasan, yaitu cinta. Namun, mungkin setelah ia lahir nanti, ia tak bisa menyaksikan cinta itu dalam bentuk yang sama.
Hingga pagi tiba, Bara dan Varel tengh bersiap kembali ke Jakarta.
"Uwak, Bara pamit. Maaf atas sikap Bara selama ini. Selamanya uwak akan tetap jadi uwak saya. Titip Syafira wak," pamit Bara kepada uwak.
"Apapun keputusan kalian, uwak hanya bisa mendoakan yang terbaik. Hati-hati di jalan," ucap uwak. Dan Bara mengangguk.
"Mas pulang ya Fir, kamu jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan. Jangan telat makan ya. Titip anak kita, kalau ada apa-apa langsung hubungi mas," sekuat hati Bara mencoba tegar.
"Mas hati-hati. Salam sayang dan rindu untuk si kembar. Semoga secepatnya aku bisa menemui mereka," Syafira pun tak kalah berusahanya untuk tetap tegar.
Tak ingin lebih lama lagi merasa sakit, Bara langsung memutar badannya dan berjalan menuju ke mobil, "Aku tunggu di mobil," Ucapnya kepada Varel yang sedang pamit kepada uwak.
"Meski aku suka sama kamu, tapi bukan berarti aku senang dengan keputusan kalian. Aku paling menolak keputusan kalian ini. Aku pamit, jagain calon ponakan aku ya, baik-baik di sini," ucap Varel.
Syafira mengangguk, "Hati-hati, titip mas Bara," sahut Syafira.
Varel memutar badanya dan berjalan menuju ke mobil. Di tengah jalan, ia berhenti lalu menoleh, menatap pintu rumah uwak yang sedikit terbuka, "Dasar keras kepala! Kepala batu!" teriaknya kesal.
"Enak aja, siapa yang keras kepala. Siapa yang kepala batu?" sahutan lantang dari dalam rumah menghentikan langkah Varel. Ia kembali menoleh. Di lihatnya Adel keluar dengan menyeret sebuah koper.
"Kalian aja yang nggak sabaran, aku kan harus siap-siap dulu. Ngemasin baju aku sama kakak," ucap Adel yang sontak membuat mereka yang ada di sana, menatap lekat ke arahnya. Termasuk Bara yang baru akan membuka pintu mobil. Ia menoleh ke arah Adel.
"Kita juga mau pulang ke Jakarta kali, katanya ke sini buat jemput kami. Tapi pulang sendiri, istri nggak di ajak," omel Adel.
Semua yang ada di sana serempak menarik bibir mereka hingga membentuk sebuh senyuman. Bara mengembuskan napasnya lega, "Terima kasih," ucapnya tanpa bersuara.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
๐ ๐ Jangan lupa, like, komen dan mawar ya ya... Kopi juga boleh banget, votenya apalagi kalau masih ada boleh-boleh ๐๐othor malak๐๐ผ๐๐ผ
Salam hangat author ๐คโค๏ธโค๏ธ๐ ๐