
Varel dan Adel telah sampai di sebuah cafe yang ada di mall dimana seorang wanita cantik sudah menunggu kedatangan Varel sejak beberapa menit yang lalu di sana.
"Devina, ya?" ucap Varel Basa basi begitu sampai.
"Oh, hai, VaRel, kan?" sapa wanita bernama Devina tersebut, ia berdiri dan mengulurkan tangannya. Varel menyambut ukuran tangan Devina meskipun dengan malas. Namun, tak di sangka, Devina menarik tangan Varel dan mencium pipi lama dan kiri Varel sebagai tanda perkenalan mereka. Varel tak bisa mengelak karen hal itu terjadi begitu saja.
Adel hanya bisa mendengus sebalnketika menyaksikan adegan di depannya yang sejujurnya membuat hatinya langsung panas dingin tersebut.
"Dia siapa? Adik kamu ya? Tante Lidya nggak ada cerita kalau kamu bakal datang sama adik kamu," kata Devina tertuju kepada Adel yang kini sedang menggandeng tangan kiri Varel.
"Ayo duduk!" belum sempat Varel bicara, Devina sudah mempersilahkan merek untuk duduk.
Varel menoleh kepada Adel, Adel menggelengkan tanda tidak setuju jika mereka harus berasa basi terllu lama dengan duduk dan mengobrol terlebih dahulu. Ia ingin langsung ke intinya saja.
"Sorry Dev, sebelumnya aku minta maaf. Kamu tentu tahu apa tujuan mama menyuruh kita ketemuan kan?" tanya Varel dengan tetap berdiri.
"Ya, supaya kita kenal lebih dekat lagi. Dan siapa tahu kita cocok, tante Lidya sangat berharap kalau kita berjodoh," jawab Devina dengan semangat dan senyum yang terus mengembang dari bibir seksinya.
"Dengan sangat amat menyesal aku harus mengatakannya, kalau sebenarnya aku sudah memiliki kekasih. Dan ini kekasih aku, namanya Adel. Dia bukan adik aku. Mungkin mama belum tahu kalau aku udah punya pacar, makanya meminta kita buat ketemuan. Sorry banget ya, aku nggak bisa buat nerusin ini sama kamu. Kamu cantik, bisa dapat yang lebih baik dari aku,"ucap Varel.
Adel mencebik, begitu halus dan lembutnya Varel bicara dengan Devina.
Devina langsung bereaksi, ia bangun dari duduknya,"Serius kamu nolak aku gara-gara anak SMA ini? Dia masih bocah, Rel. Mana bis kamu bandibgin sama aku. Aku nggak terima ya, kamu menolak aku hanya karena seorang anak remaja seperti dia!" protes nya tak terima.
"Tidak, ini penghinaan namanya, aku harus telepon tante Lidya sekarang juga," imbuh Devina seray mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan bersiap menelepon bu Lidya.
"Tidak perlu,. Mbak. Asal mbak tahu ya. Mbak itu cuma di jadikan ibu Lidya sebagai cadangan saja kalau saya tidak mau sama mas Varel. Tapi, kalau saya mau, ibu juga akan sangat senang. Iya, kan mas?" Adel menggandeng mesra lengan Varel.
Varel merasa merinding di panggil mas dengan mesra nya oleh Adel, ini untuk pertama kalinya gadis itu memanggilnya mas, ya walaupun hanya akting semata. Tapi, berharap seterusnya seerti utu juga tidak salah bukan?.
" Eh, iya. Sebenarnya mama sejak awal ingin aku sama Adel. Intinya, maaf banget ya Dev, kita enggk bisa lanjut. Kamu bisa cari yang lainnya," ucap Varel masih dengan nada lembut. Dan lagi-lagi Adel. Mencibir dalam hati, gitu amat mau nolak cewek, kayak yang berat gitu ngomongnya, yang ada ceweknya tetep ngarep dan berpikir masih ada kesempatan, pikirnya.
"Jahat kamu, Rel! Aku ngga terima pokoknya, aku harus protes sama tante Lidya, enak aja cuma jadiin cadangan! Aku tuh udah suka sama kamu dari awal tante Lidya ngasih lihat photo kamu, jahat kamu, tega!" omel Devina dengan mata berkaca-kaca. Membuat Varel merasa bersalah.
"Jangan goyah, kecuali emang mau sama dia,. Sok atuh, silahkan!" bisik Adel.
"Sorry Dev, tapi begitulah adanya. Aku harap kamu ngerti," benar kata Adel, meski sedikit tidak tega, namun Varel tetap perlu tegas. Dan entahlah, ini perempuan yang ke berapa yang ia tolak. Varel hanya berdoa semoga tak kena karma atas sikapnya tersebut.
Bugh!
Devina menggaplok Varel dengan tasnya sebelum ia pergi dengan derai air mata.
Varel dan Adel menghela napas lega bersamaan setelah Devina pergi.
"Kenapa, om? Kok kayak menyesal gitu? Katanya nggak bikin deg-degan? Mau berubah pikiran nih? Aku panggilan mumpung belum jauh, mau?" cebik Adel melirik Varel.
Varel balas melirik gadis di sampingnya tersebut, " Siapa juga yang nyesel? Cuma nggak tega aja, nangis gitu," ucapnya.
"Iya, kamu benar, cil. Ah leganya! Satu perempuan teratasi. Makasih, ya bocil kesayangan," Varel mengacak-acak rambut Adel.
Adel segera menepis tangan Varel, "Aku bukan anak kecil, ih!" sungutnya.
"Kalau nggak bocil, diajak kawin nggak mau," cebik Varel.
Adel menatapnya tajam, penuh peringatan. Jika sudah membahas masalah hati dan pernikahan, Adel paling malas, karena ujungnya mereka berdua akan berdebat.
"Iya iya, gitu aja ngambek, kayak bocah beneran. Mumpung di sini, mau makan sekalian enggak?" tanya Varel.
"Ya iyalah, udah di sini juga, masa cuma. Mau numpang akting, nolak cewek doang. Malu sama yang punya cafe. Udah laar juga nih perut," ucap Adel langsung ancang-ancang buat duduk.
Varel mengernyit, "Perasaan tadi di kantin sekolah, lagi ngunyah bakso segede bola golf itu mulut, sekarang udah bilang lapar lagi, itu magic com muat berapa kilo, perut apa karet sih?" seloroh Varel yang ikut mendudukkan bobot tubuhnya di kursi.
"Ck, pura-pura jadi pacar om itu juga butuh tenaga kali, udah deh mau nraktir nggak nih? Punya banyak duit, tapi kok kayak perhitungan gitu cuma traktir makan siang doang,"
"Heleh, iya iya. Pesan deh pesan, mau makan apa. Iya, tadi tuh rasanya adem banget pas kamu panggil aku mas, kok ya sekarang udah balik lagi om sih,"
"Ya kali aku tadi manggil om sama pacar sendiri, bisa-bisa di ketawain dong sama mbaknya tadi, kalau akting jadi pacar ya harus totalitas dong," cibir Adel.
"Nggk bisa ya, nggak akting juga manggil mas? Kalau gitu, akting terus aja jadi pacar aku gimana?"
"Ngarep banget sih di panggil mas, om,"
Kalau totalitas tuh harusnya juga ada bonus kiss kissnya," ujar Varel nyengir kuda.
" Dih, omes. Makan dulu lah, biar nggak oleng gitu. Erut kalau kosong, otak suka gesrek begitu emang,"
Varel menanggapinyaa dengan mendengus.
"Jangan lupa, album BTS, om,"
"Ck, ingat aja kalau soal BTS, padahal aku jauh lebih ganteng dari mereka,"
"Iya, bener om lebih ganteng dari mereka. Tapi kata ibuk pasti. Itu pun aku nggak yakin kalau ibuk bakal bilang begitu," ucap Adel tergelak. Yang mana langsung mendapat satu polesan pelan di kepalanya.
🌼 🌼 🌼
Bonus visual Vadel (Varel & Adel)