
"Kedip, om. Ngelihatinnya gitu amat?" Adel mencubit lengan Varel yang beberapa saat terpaku melihatnya.
"Adelnya mana ya? Kenapa yang turun malah bidadari sih, mana bocah petakilan itu?" seloroh Varel yang secara tidak langsung memuji kecantikan gadis yang ada di depannya tersebut.
"Ck, apaan sih. Udah ah! Nggak mempan gombalannya. Terlalu obral!" kata Adel berdecak mendengar gombalan garing dari Varel.
"Oh ini Adel toh, kirain siapa, kok bisa lumayan jadi agak cantik begini ya. Tapi lucu sih, hehe," niat memuji tapi jatuhnya kayak meledek.
Adel mendelik, lucu di bilang? Tadi bilangnya kayak bidadari, sekarang di bilang lucu. Yang benar yang mana? Dia udah dandan maksimal, kok malah di bilang lucu, apa dandanannya kayak badut, Adel jadi kesal di buatnya.
"Ayo berangkat, keburu macet jalannya," Varel menarik tangan Adel, untuk menyembunyikan detak jantungnya yang berdetak tak beraturan karena penampilan Adel yang kelewat cantik menurutnya.
"Lagian temennya nikah kok weekend sih!" omel Adel sambil berjalan agak tertatih2 karena tidak biasa memakai high heels. Senja itu, ia sengaja dandan all out, karena tidak ingin membuat Varel malu di acara pernikahan temannya.
"Suka-suka dia dong, orang dia yang punya hajatan, mau weekend. Mau tengah malam sekalipun, hak dia. Kok kamj yang atur!" balas Varel.
Syafira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.
🌼 🌼 🌼
Acara pesta cukup ramai. Varel dan Adel baru saja turun dari pelaminan setelah mengucapkan selamat dan photo bersama pengantin.
"Cepat nyusul ya, kalian. Udah cocok! Serasi banget!" ucap pengantin pria tadi sebelum mereka turun, yang tak lain adalah teman kuliah Varel.
"Aku ke sana dulu sebentar ya, mau nyapa teman. Mau ikut nggak?" tanya Varel.
"Eh enggak, aku di sini aja. Sekalian ambilin minum ya, tenggorokan kering nih!" jawab Adel yang sedang menikmati sebuah lagu yang sedang di nyanyian di atas panggung.
Sesaat setelah kepergian Varel, terlihat seorang laki-laki yang usianya tak jauh dari Adel mendekat," Adel, di sini juga?" tanya laki-laki tersebut.
Adel menoleh, "Eh, kak Bayu? Kok kak Bayu ada di sini?" Adel balik bertanya. Ternyata laki-laki yang menyapanya adalah kakak kelasnya dulu sebelum Adel kecelakaan dan koma. Bayu adalah kakak kelas yang dulu di sukai oleh Adel. Tak di sangka, mereka sekarang bertemu di acara tersebut.
"Iya, aku Bayu. Ini pernikahan kakak sepupu aku, makanya aku di sini. Kamu?"
"Aku nemenin.... Adik kakak ipar aku, kak. Dia jomblo jadi minta aku yang nemenin. Hihi,"
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Bayu.
Adel menoleh ke arah Varel yang terlihat masih sibuk mengobrol dengan teman-temannya.
"Boleh, silahkan, kak," ucap Adel kemudian. Ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan kakak kelas pujaannya dulu tersebut. Tapi, perasaannya kini, biasa saja. Tak seheboh dulu saat hanya di sapa dengan senyuman dan anggukan oleh kakak tingkatannya tersebut saja jantungnya sudah berdisci ria.
"Kamu beda ya sekarang. Makin cantik. Aku sampai pangling tadi, aku kira siapa kayak kenal. Mau nyapa dari tadi takut salah orang," seloroh Bayu.
"Ah kak Bayu bisa aja," jawab Adel.
Dari kejauhan, Varel melihat Adel tampak begitu akrab atau lebih tepatnya ada cowok yang terlihat sok akrab dengan Adel. Ia mengepalkan tangannya ketika laki-laki itu dilihatnya berani merapikan rambut Adel yang sedikit menutupi matanya.
Semakin dilihat, laki-laki itu semakin mendekatkan duduknya di samping Adel. Ia tak bisa menahan kekesalannya saat laki-laki itu membisikkan sesuatu di telinga Adel. Namun, dari pandangannya, laki-laki terlihat sedang mencium pipi Adel. Sedangkan Adel tampak tersenyum setelahnya. Benar-benar membuat Varel meradang.
Dengan langkah panjang, Varel mendekati Adel dan langsung menarik paksa tangan gadis itu, "Lepasin, ih! Sakit!" pekik Adel.
"Mas, tolong lepaskan Adel, dia kesakitan," kata Bayu sopan. Tapi, Varel yang sudah kesal tak menghiraukannya.
Saat kembali menarik tangan Adel, bayu mencegahnya, "Jangan kasar. Adel nggak mau ikut dengan Anda," ucapnya.
"Bukan urusan kamu! Ayo ikut aku, aku mu bicara!" Varel kembaki menarik tangan Adel. Adel memberi kode keada Bayu kalau dia baik-baik saja.
"Lepasin! Sakit tahu! Om kenapa sih? Tiba-tiba narik paksa, aku nggak suka!" Sampai di tempat yang sepi, Adel menepis tangan Varel yang mencengkeramnya kuat.
"Oh, jadi kamu lebih suka di pegang-pegang dan di cium laki-laki breng sek itu, iya?" bentak Varel yang kini mengunci tubuh Adel dengan kedua tangannya di dinding.
Adel sedikit berjengit, ini kali pertama ia melihat laki-laki di depannya benar-benar marah. Namun, ia tak tahu apa sebenarnya yang membuat Varel marah besar begitu karena ia tak melakukan apa-apa, hanya mengobrol dan bercanda biasa dengan kakak kelasnya tadi.
"Ngomong apa sih, nggak jelas!" ucap Adel melengos demi menghindari tatapan tajam dari Varel.
Tiba-tiba Varel menarik dagu Adel dan membenamkan bibirnya di bibir gadis tersebut. Di ciumnya bibir Adel dengan kasar. Adel sangat terkejut dengan kejadian yang tak terduga tersebut, ia meronta, memukul dada Varel untuk menghentikan aksi gila pria yang sedang mencuri ciuman pertamanya tersebut.
"Kenapa? Ini kan yang kamu mau? Laki-laki itu mencium kamu dan kamu diam saja! Sekarang aku yang nyium kamu berontak. Mau kamu apa!" Varel kembali mencium bibir Adel. Kali ini, Adel tidak melawan. Ada getaran aneh di dadanya saat bibir Varel mencium bibirnya dengan lembut.
Air mata Adel menetes begitu saja, ia merutuki hatinya yang tak bisa melawan. Di dadanya, ada rasa sakit, tak terima Varel melakukannya dalam keadaan marah seperti itu. Seharusnya ciuman pertamanya di lakukan penuh cinta, bukan amarah seperti itu. Dan bodohnya, dia menikmati ciuman itu.
Menyadari Adel menitikkn air matanya, Varel langsung menghentikan aksinya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Varel. Adel. Menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan marah.
Varel menatap Adel dengan penuh rasa cemburu dan rasa bersalah. Kenapa rasanya sulit hanya untuk meluluskan hati Adel yang sekeras batu tersebut, kenapa gadis itu selalu saja menguji kesabarannya.
"Siapa yang mencium siapa? Nggak ada! Justru om yang kurang ajar!" ucap Adel. Hatinya benar-benar sakit.
"Del...aku..."
"Mau pulang, sekarang!" Adel melangkahkan kakinya mendahului Varel.
Varel mengusap tengkuknya sambil meringis. Meskipun Adel menamparnya dan raut wajahnya sangat marah, tapi ia bisa melihat jika tak ada rasa benci maupun marah dari sorot mata gadis itu. Gadis itu tak benar-benar marah dengannya. Bahkan ia yakin, jika sesaat tadi Adel menikmati ciumannya. Tapi, kenapa Adel menangis? Hal itu benar-benar membuat Vare frustrasi.
Varel mengembuskan napasnya kasar lalu menyusul langkah Adel.
🌼 🌼 🌼