
Varel hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya saat melihat Adel kerepotan membawa makanan yang di bungkus karena tidak semuanya bisa di makan di tempat, mengingat begitu banyak makanan yang di pesan.
"Jangan di ledekin , nggak lucu!" cebik Adel cemberut. Sebenranya ia hanya ingin mengetjai Varel saja, tapi malah ia yang jadi tidak enak hati karena mubazir makanan. Kalau soal uang, Adel tidak ragu lagi soal ketebalan dompet pria tersebut. Dari segi materi ia sangat mapan. Ada akhirnya, Adel kalah lagi, ia sangat sayang jika makanan harus di buang begitu saja. Ingat akan masa kecilnya bersama ayah dan kakaknya dulu pernah benar-benar susah hanya untuk sekedar sesuap nasi saja.
"Enggak, enggak ada yng ngeledek, kok," Varel mengatup kan bibirnya rapat. Meski sering menyebalkan, tapi Varel tahu betul sisi sensitif Adel tersebut. Varel tahu betul sisi lembut dan kebaikan Adel. Makanan saja tidak mau dia sia-siapkan, apalagi pasangannya nanti kalau udah nikah, pikir Varel senyum-senyum sendiri.
Sampai di rumah, Syafira yang baru saja selesai menjalankan dinas malamnya bersama Bara, menyambut kedatangan mereka.
"Kakak belum tidur?" tanya Adel.
"Mana bisa kakak tidur, kalu kalian belum pulang," jawab Syafira yang tidak akan bisa tidur tenang jika Adel belum berada di rumah.
"Maaf ya, kakak jadi nunggu,"
"Nggak apa-apa. Varel nggak masuk dulu?"
"Nggak, Fir. Aku langsung aja. Sorry ngembaliin adiknya kemalaman," kata Varel. Ia menoleh kepada Adel.
"Langsung tidur, cil. Udah malam! Besok jangan lupa!"
"Dih, aku bukan bocil. Udah sana pulang! Jngan ngebut!" Adel langsung masuk dan di susul oleh Syafira.
"Kalian ini dek, paginya berantem, eh pulangnya kakak lihat juga berantem. Terus di pesta..."
"Ya berantem juga," sambar Adel cepat . Ia meletakkan paper bah berisi makanan yng di bawa dari rumah makan lalu duduk di sofa untuk melepas high heelsnya yang terasa sangat menyiksa kakinya. Supaya terlihat cantik dan lebih dewasa ia mau mengenakannya. Demi sipa coba kalau bukan demi laki-laki menyebalkan yang baru saja mencuri paksa ciuman pertamanya.
Syafira mengatupkan bibirnya mendengar jawaban Adel, "Emang gak bisa ya kalau nggak berantem," gumamnya.
Adel terdiam sejenak mendengar gumaman Syafira. Ia dan Varel sama-sama tahu, cara mereka menunjukkan perasaan mereka ya dengan berantem tersebut. Jik tidak bertengkar, justru terasa aneh buat mereka.
"Ini apa dek, dapat hampers dari nikahan teman Varel?" tanya Syafira menunjuk paper bag yang tergeletak dia tas meja.
Hampers apaan, pulangnya saja tadi buru-buru dengan mode senghol bacoknya, mana sempat mikirin daat hampers, minum setetes air aja tadi nggak jadi, pikir Adel.
"Itu makanan kak. Tadi nggak di makan di restoran, bisa minta bibi buat panasin kalau kakak mau. Atau kalau nggak taruh aja kulkas dulu, aku capek. Mau istirahat ya, kak. Kakak juga tidur. Ini udah malam, pasti sebentar lagi Zio kebangun ngajak main kan," ucap Adel lalu berjalan meninggalkan Syafira sambil menentang high heelsnya.
Sampai di dalam kamar, Adel langsung mengempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia menyentuh bibirnya, teringat ciumannya dengan Varel yang sampai sekarang bahkan masih terasa perihnya karena Varel menggigit bibir bawahnya, "Dasar om-om mesum!" umpatnya namun rasa aneh itu kembali menjalar di hatinya ketika bayangan bibir mereka bersatu kembali terngiang di kepalanya.
🌼 🌼 🌼
Esok hari...
Varel sudah siap dengan pakaian casualnya menjemput Adel dan si kembar. Ia sudah berjanji kepada dua ponakannya tersebut akan pergi ke kebun binatang.
"Kak, harusnya Zio ikut. Dia pasti senang sekali diajak jalan-jalan ke kebun binatang," ucap Adel.
"Maunya sih begitu, dek. Tapi, daddinya mau ngajakin ke partner bisnisnya yang baru. Istrinya baru saja melahirkan di Paris, dan sekarang sudah kembali ke Jakarta, jadi kakak mau kesana," sahut Syafira.
"Heleh nono no, sok inggris. Ora ora! Gitu Zio," ucap Varel menggoda Zio.
Baby Zio seakan tak peduli, ia semakin mengeratkan tangannya di leher Syafira lalu menjatuhkan kepalanya di pundak sang bunda.
"Dih ni baik, mirip banget sama bapaknya. Yuk ah Del, berangkat! Si kembar udah teriak-teriak kayak tarzan di mobil tuh!" Varel menarik tangan Adel untuk mengikutinya.
"Jangan pegang-pegang!" Adel menepis tangan Varel.
"Pegang bayar!" lanjutnya mendelik.
"Dih, semalam aja yang lebih enak, gratis. Ini cuma megang tangan bayar, dasar bocil matre!" Varel memoles kepala Adel. Hal yang paling tidak di sukai Adel.
"Eh apa yang enak gratis?" tanya Syafira yang langsung was was dengan adiknya. Adel tampak salah tingkah, "Bukan apa-apa, kak. Jangan dengerin nih orang ngaco!" ucapnya gugup. Bisa berabe kalau Syafira tahu yang sebenarnya.
Jawaban Adel justru membuat Syafira semakin curiga.
"Hadeh, maksudnya makanan yang semalam Adel makan. Enak tapi gratis, jangan mikir yang enggak-enggak!" ucap Varel yang bisa membaca kecurigaan Syafira.
"Kalau sama kamu tuh perlu waspada dan curiga, Rel!" sahut Syafira.
"Dih, gitu amat. Dah ah. Berangkat dulu, bye! Varel menarik tangan Adel.
" Uda di bilangin jangn pegang-pegang! Bukan mahram!"
"Di halalin nggak mau sih, salah siapa?" Varel kembali memoles kepala Adel pelan.
"Ini kepala di zakati ya, jangan sembarangan moles!" protesnya mendelik. Varel langsung mengatupkan mulutnya, menyesal, "Sorry sorry. Kalau di sayang aja, gimana mau nggak?"
"Ogah!" cebik Adel yang langsung masuk ke dalam mobil.
Di dalam. Mobil, dua keponakan nya sudah cemberut, "Ada apa?" tanya Varel.
"Uncle sama Onty berantem mulu, jadinya lama berangkat!" protes Nathan.
"Iya, hihihi. Mirip Tom and Jerry. Kayak Nala dan Athan, Berantem terus tapi saling sayang hihihi. Kata teman Nala, orang tuanya juga sering berantem, dan setelah itu dia punya dedek! Apa Uncle dan Onty juga mau punya dedek setelah berantem terus?" oceh Nala dengan riangnya.
Mendengarnya, Varel dan Adel langsung saling menatap syok dan salah tingkah.
"Ya punya dedek kalau berantemnya di kasur," gumam Varel lirih. Ia langsung mengatupkan bibirnya ketika Adel menabok lengannya.
"Ternyata dengar to," ucapnya terkekeh.
Nathan dan Nala yang tidak paham apa yang Varel tertawakan, ikut tertawa. Terutama Nala, gadis cilik itu terlihat sangat senang sekali.
🌼 🌼 🌼