
Malam hari di kediaman Osmaro begitu ramai. Atas ide bu Lidya, diadakannya acara baberque sederhana di taman belakang rumah tersebut karena keluarganya kini bisa berkumpul kembali.
Tak banyak yang diundang, hanya dua sahabat Syafira, yaitu Mia dan Shinta. Juga dokter Rendra , selaku sahabat Bara.
Syafira duduk memangku Nala sambil asyik bercengkrama dengan kedua sahabatnya, Adel dan juga bu Lidya. Sementara di meja lain, Bara tengah membicarakan pekerjaan dengan om John.
Varel sejak tadi sibuk bermain dengan Nathan dan aman tiger.
Saat mereka tengan asyik dengan aktivitas masing-masing, dokter Rendra datang dengan menggandeng seorang gadis kecil.
"Maaf, aku telat. Jalanan cukup macat tadi, maklum malam minggu," ucap dokter Rendra menyapa Bara dan lainnya.
"Santai, Rend. Acara juga baru mau mulai," sahut Bara.
"Tasya, sini sayang! Main sama Nala," Syafira melambaikan tangannya memanggil Tasya. Tasya mendongak, menatap wajah dokter Rendra, meminta persetujuan laki-laki yang ternyata ayah biologisnya tersebut.
"Boleh, sana main sama Nala. Papa duduk di sini, ya?" ucap dokter Rendra lembut. Tasya langsung melepas genggaman tangan dokter Rendra dan menghampiri Nala.
"Hai Tasya," sapa Nala riang.
"Hai Nala," balas Tasya tersenyum.
"Sayang, main sama Tasya ya?" pinta Syafira kepada Nala.
"Nggak mau, Nala mau di sini aja sama bunda. Nggak mau jauh-jauh," tolak Nala.
"Bunda nggak kemana-mana, kok. Ajak main Tasya ya, masa jauh-jauh ke sini di cuekin sama Nala. Ntar Tasya nggak mau main kesini lagi, gimana hayo?"
"Baiklah. Tasya, Nala ada barbie baru loh. Di beliin sama bunda. Bagus, rumahnya gede. Yuk, main?" Nala langsung turun dari pangkuan Syafira dan mengajak Tasya masuk ke dalam untuk mengambil mainan barunya.
"Tunggu tunggu! Tadi aku nggak salah dengar? Pa-pa...?" Bara memiringkan matanya.
"Kenapa? Biasanya juga Tasya panggil aku papa," sahut dokter Rendra santai namun terancam jelas kebahagiaan di wajahnya.
"Enggak enggak, kali ini beda Rend. Apa Tasya udah tahu?" selidik Bara.
"Seperti yang kamu lihat. Awalnya Niken membantah kalau Tasya anak aku. Tapi akhirnya ia mengaku juga karena aku bilang kamu yang ngasih tahu,"
" Ah mam pus! Siap-siap di semprot Niken nih. Kamu jujur amat sih Rend. Kan bisa ngancem amu tes DNA. Terus...?"
"Ya gitu,"
"Gitu gimana? Gimana Tasya setelah tahu kamu ayahnya?"
"Tumben kepo ma urusan orang," cibir dokter Rendra.
"Bukan urusan orang ini. Urusan sahabat! Urusanku juga!"
"Ya Tasya sih, senang. Seerti yang kamu lihat. Tapi... Ibunya nggak mau aku ajak nikah. Kalau nggak ada cinta, buat apa menikah, dia bilang. Yang ada kami berdua akan saling menyakiti satu sama lain nantinya," jelas dokter Rendra.
"Masih ngarep sama istriku, kamu?" decak Bara.
"Enggak, bukan begitu. Aku juga sebenarnya mau belajar mencintai Niken. Apalagi udah ada Tasya diantara kami, sepertinya tidak akan sulit buatku,"
Om John yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam dan menyimak obrolan dua pria di depannya.
"Adanya Tasya karena kecelakaan kali, bukan karena kamu benar-benar menginginkannya. Saranku sih, belajar menerima dan mencintai Niken, di apantas mendapatkannya. Baru Yakinkan hatinya untuk menerima kamu. Kalau soal cinta, aku jamin di masih mencintai kamu. Kamu hanya perlu sedikit berusaha dan membuktikan. Buat dia yakin,"
" Super sekali pak Bara," celetuk Varel yang baru saja bergabung. Membuat Bara berdecak sebal.
Obrolan mereka pun berubah menjadi santai setelah semuanya berbaur menjadi satu sambil menikmati menu yang di sajikan koki khusus yang di siapkan oleh bu Lidya dalam pesta barbeque tersebut.
Adel duduk di gazebo sendirian saat Varwl mendekatinya dan langsung merebut minuman yang Adel pegang.
"Ih, om!!!" teriak Adel kesal. Namun ia langsung tertawa begitu melihat Varwl tersedak hingga minuman yang ada di dalam mlutnya nyembur keluar.
"Kapok! Makanya jadi orang jangan jahil, main rebut aja," ledek Adel.
Bukannya membalas ucapan Adel, Varel malah meraih tangan gadis tersebut untuk ia gunakan membersihkan sisa-sisa minum di sekitar bibirnya.
"Ih, jorok! Dasar!" Adel mengusap-usapkan tangannya ke kemeja yang di kenakan oleh Varel. Ia mendengus sebal sebelum akhirnya pergi untuk membersihkan tangannya.
Bu Lidya yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, " sepertinya hilal jodoh anakku mulai samar-samar terlihat," gumam BU Lidya dalam hati.
Ceklek!
Bara menoleh ketika pintu kamarnya terbuka dan munculah Syafira dengan membawa nama berisi makanan dan minum.
Bara tersenyum melihatnya, "Anak-anak udah tidur?" tanya Bara yang kini sedang memangku laptop.
"Udah mas, susah banget buat Nala tidur," Syafira meletakkan nampak ke atas Nakas.
"Sini!" Bara menggeser duduknya untuk Syafira.
"Anak-anak sangat merindukan kamu," Bara mengecup puncak kepala Syafira.
"Iya. Dari tadi Nala nggak mau aku tinggal barang sebentar aja. Maunya nempel ku terus. Udah tidur aja meluk aku erat banget. Aku jadi merasa bersalah," ucap Syafira.
"Udah, jangan selalu menyalahkan diri sendiri. Kalau ada yang harus di salahkan lagi, tetap mas yang salah, sayang," ucap Bara.
"Ssttt, mas Bara jangan ngomong gitu. Kita baru aja baikan. Aku nggak mau sedih-sedih lagi,"Syafira menempelkan jari telunjuknya di bibir Bara yang di balas kecupan oleh Bara.
"Mas lagi kerja?" tanya Syafira.
"Iya, ada sedikit kerjaan yang harus segera mas selesaikan. Kamu bawa apa tadi?" Bara melingkarkan satu tangannya di pinggang Syafira sementara tangan satunya sibuk dengan laptop yang ia pangku.
"Oh, itu nasi goreng. Aku lapar lagi, padahal tadi udah makan waktu barbeque-an," jawab Syafira nyengir.
"Ya enggak apa-apa dong. Kan lagi hamil sayang. Wajar ngemil terus, ngidam. Mas aja yang nggak hamil, kemarin - kemarin pengin ini itu. Om John yang jadi seksi wira-wiri buat nurutin kemauanku. Tapi dia juga buat mas sakit perut, diare sampai lemas rasanya," Bara menjatuhkan dagunya di pundak Syafira.
" Ya ampun kasihan banget sih, suami ku. Maafin aku ya mas," Syafira mengusap wajah Bara lembut.
"Nggak apa-apa. Apa aku juga ikut ngidam ya sayang. Habisnya lihat apa gitu kayak pengin. Apalagi punya orang lain, kayaknya enak banget. Tapi sekarang udah nggak ngerasa gitu setelah ketemu kamu. Kan aneh,"
"Kebalik berarti ya mas,"
"Maksudnya?" Bara tak mengerti.
"Ya kemarin pas kita pisah, aku nggak ad ngidam yang gimana-gimana. Mual juga wajar aja, aling pagi sama malam, itu pun nggak parah. Makan juga nggak yang pengin ini itu. Mungkin anak kita tahu kali ya, kalau ayahnya nggak dekat jadi dia nggak manja, kasihan sama bundanya," ucap Syafira.
" Ya ampun anak daddy, pintar sekali,"
"Ayah, aku maunya dia manggil mas ayah, kayak aku manggil ayah," protes Syafira.
Bara langsung mengatupkan bibirnya, "Iya, anak ayah pintar sekali. Tapi, sekarang kalau mau manja-manja, pengin apa-apa, boleh. Enggak apa-apa, ada ayah," Bara mengusap perut Syafira.
"Kayaknya emang sekarang mula manja deh mas," kata Syafira.
"Hah, apa? Kenapa? Mas harus apa? Dedek pengin apa?" tanya Bara sigap. Ia benar-benar tak ingin kehilangan momen bertumbuh ya si kecil dalam perut Syafira.
"Mau disuapin makan, lagi," ucap Syafira tersenyum.
"Tapi, mas lagi sibuk kan. Ditunggu sampai selesai deh, baru makan," imbuhnya cepat.
"Enggak sayang, enggak. Buat kamu mas nggak ada kata sibuk," Bara segera menutup laptopnya dan menaruhnya di meja. Ia langsung mengambil nasi goreng yang hampir dingin tersebut dari atas nakas lalu mulai menyuapi Syafira.
Syafira makan dengan lahapnya. Sesekali Bara ikut menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya sendiri.
"Habis ini mas buatin susu ya?" ucap Bara di sela-sela makan mereka.
"Nggak suka, mas," rengek Syafira.
"Demi anak kita, kemarin aja di rumah uwak mau, habis. Nanti mas buatnya pakai cinta, jadi rasanya pasti enak nggak eneg,"
"Mas bisa aja, sih. Aku sampai hampir tersedak nih dengar mas ngegombal. Rasanya udah lama nggak di gombalin," ucap Syafira tersipu.
"Gimana, apa masih dag dig dug saat mas gombalin receh begitu?" tanya Bara.
"Selalu..." jawab Syafira malu-malu. Jangankan di gombalin, di senyumin semanis itu aja udah koplo jantungnya.
πΌ πΌ πΌ
π Jangan lupa like, komen dan hadiahnya... Jika votenya belum terpakai, boleh buat mas Bara dong... Tengkyu ππΌππΌπ€π€
Salam hangat author π€β€οΈβ€οΈπ π