
Pagi menyapa, Syafira membuka matanya dan tersenyum ketika menyadari posisi tidurnya dalam pelukan sang suami yang duduk dan bersandar di senderan tempat tidur. Ia bersyukur memiliki suami sebaik Bara. Meski dulu suaminya itu bersikap dingin dan acuh kepadanya, namun sekarang sudah berbeda seratus delapan puluh derajat terhadapnya. Membuatnya berhenti menyesal karena sudah menikah muda.
"Mas bangun, udah pagi," satu kecupan Syafira daratkan di dagu Bara. Karena untuk mencium. Keningnya ia tak sampai, harus melepaskan pelukan hangat suaminya.
Bara hanya menggeliat dan malah semakin mengeratkan pelukannya, "sebentar lagi," ucapnya dengan mata terpejam.
Syafira yang jahil langsung menghujani wajah suaminya tersebut dengan ciuman, "Ayo bangun mas, kalau nggak bangun aku cium terus nih," goda Syafira. Namun, Bara tetap tak membuka matanya. Siapa juga yang mau bangun kalau banguninnya begitu.
"Udah ah capek. Malah kesenengan mas Baranya kalau begini, nggak mau bangun!" sungut Syafira. Ia langsung menoel-noel pinggang Bara, yang mana membuat laki-laki itu kegelian dan meringis.
"Udah, udah sayang ampun ampun, mas dah bangun nih liat," Bara membuka matanya lebar-lebar dan mendekatkan wajahnya ke Syafira sambil tersenyum.
"Mas mah keenakan malahan aku ciumin tadi bukannya langsung bangun," kata Syafira.
"Nggak ikhlas banget nyiumnya, cemberut begitu. Sini mas balikin ciumannya," ucap Bara yang langsung gantian menghujani Syafira dengan ciuman.
"Mas ih, geli mas udah, jangan, stop," Syafira menggelinjang ketika ciuman Bara sampai di lehernya.
"Oh jangan stop? Mau lagi?" goda Bara. Ia kembali menciumi leher sang istri.
"Nggak lucu mas, geli tahu. Udah ayo bangun. Udah jam lima ini, pasti anak-anak udah pada bangun," Syafira turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Bara mengubah posisi duduknya menjadi bersila bersila.
"Gimana? Udah enakan?" tanyanya.
Syafira mengangguk, "Iya sekarang perasaanku jauh lebih baik dari kemarin," ucapnya. Memang ia merasa sedih atas meninggalnya sang ibu, meski ia akui tak sesedih dan sekehilangan saat kepergian ayahnya untuk selama-lamanya, karena jika dulu masih ada harapan untuk bertemu ibunya walau dalam keadaan tidak baik, akan tetapi sekarang harapan dan kesempatan itu sudah tidak ada lagi.
"Sini peluk lagi," Bara kembali menarik Syafira ke dalam pelukannya.
"Istri mas wanita kuat, wanita hebat," ucap Bara mengecup puncak kepala Syafira.
"Nanti jenguk Adel ya mas, aku kangen beberapa hari nggak kesana," ucap Syafira.
"Iya boleh, nanti mas antar," sahut Bara.
"Mas udah usahain pengobatan yang terbaik buat Adel, peralatan medis dan dokter terbaik sudah mas datangkan dari luar negeri, tapi masih belum ada hasilnya," sambungnya lalu mencium puncak kepala Syafira lagi.
" Aku tahu, mas udah melakukan yang terbaik, makasih untuk semuanya, aku sayang mas Bara," Syafira membalas pekukan suaminya dengan erat.
" Maafkan suamimu ini ya Fir," ucap Bara tulus seraya membelai rambutnya. .
Syafira mendongak, menatap lekat wajah suaminya," Harusnya aku yang minta maaf mas, karena aku selalu nyusahin mas Bara. Aku nggak punya apa-apa untuk balas semuanya kecuali cinta buat mas. Jangan pernah buat cinta itu hilang ya mas, atau aku nggak punya apa-apa lagi untuk mas Bara.
" Maka kamu harus buat cinta kamu buat mas jadi unlimited biar nggak habis," jawab Bara. Ia berharap Syafira benar-benar memiliki cinta tanpa batas untuknya, sehingga jika ia mengecewakannya dengan besar hati bisa memaafkan atas nama cinta.
Syafira bisa di bilang tak pernah marah yang benar-benar marah. Perempuan itu selalu memiliki hati bak malaikat. Saat Bara bersikap dingin dan angkuh, bahkan tak jarang ia melontarkan kata-kata yang menyakitkan, Syafira tak benar-benar marah kepadanya. Sebaik itu, selembut itu hatinya. Namun, justru itu yang Bara takutkan, ketika wanita itu benar-benar Kecewa dan marah, akan seperti apa ia meluapkannya.
Syafira terkekeh mendengar kalimat suaminya, "Unlimited, kayak quota aja mas,"
"Lah malah melamun. Mas..." Syafira mengecup bibir Bara.
"Eh?" Bara tersadar dari lamunannya.
"Malah melamun," ucap Syafira lagi.
"Bisa ae mas... Udah ayo, buruan udah hampir waktu dhuha, subuh aja belum masa mau dhuha," Syafira menarik tangan Bara untuk diajak ke kamar mandi. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Bara hanya menurut dan mengikuti langkah Syafira.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Dua hari kemudian...
Bara dan kedua anaknya tengah duduk di atas ranjang menunggu Syafira yang sedang memakai baju di wardrobe room.
"Gimana?" tanya Syafira begitu keluar dari walk in closet.
"Cantik bunda," seru Nathan dan Nala kompak.
"Nggak, ganti!" Bara mengibaskan tangannya.
Syafira mencibir, pasti begini urusannya kalau soal pakaian mau ke sebuah acara, jiwa posesifnya langsung melejit ke level sepuluh.
Meskipun kesal, Syafira tetap menurut. Ia menghentakkan kakinya dan berjalan kembali ke walk in closet. Beberapa saat kemudian, ia kembali lagi, "Ini bagaimana?" tanyanya.
"Wow, emejing, syantik bunda," ucap Nala, Nathan mengacungkan jempolnya dan mengangguk. Sementara Bara menggeleng.
"Ini aja nggak boleh? Nggak usah pakai baju sekalian aja gimana?" ucap Syafira siap-siap di sembur oleh Bara.
"Nggak boleh!" Bara menyambar dengan cepat.
"Jangan berani-berani ya sayang, mas nggak suka," lanjutnya cepat.
"Ya terus aku harus pakai yang gimana, ini itu selalu nggak boleh. Ini udah jam berapa, nanti telat ke acaranya hanya gara-gara ributin soal baju," dengus Syafira.
"Bajunya yang ini nggak masalah, tapi kayaknya kamu dandan terlalu cantik, mas nggak ridho ya kamu di lirik laki-laki lain di sana gara-gara cantiknya over dosis begini. Cantiknya cukup buat mas aja,"
Syafira mendesah, "Aku bahkan cuma pakai pelembab aja mas sama lipcream, cantik dari mananya coba. Nggak ada yang mau lirik, mas Bara doang yang mau lirik aku. Astaga, apa aku harus coreng-coreng mukaku pakai arang biar mas Bara bisa tenang?" ucap Syafira berapi-api.
"Masa sih cuma pakai pelembab aja, kok cantik banget ya. Astaga, istri mas makin cantik berati ini, pantes mas makin cinta. Yang alami emang keliatan lebih cantik, jangan ngambek dong, jadi jelek tahu kayak Nala kalau ngambek begitu," Bara menggombal receh supaya Syafira tidak manyun.
" Berarti daddy harus makin ganteng, kalau nggak nanti bunda di ambil uncle. Uncle kan suka yang cantik-cantik," celetuk Nathan sambil asyik memainkan robot-robotannya. Membuat Bar menoleh kepadanya," Daddy kan emang udah ganteng dari sononya, mau diapain juga ganteng, takdir alam" ucap Bara tak mau kalah.
" Daddy tua," ucap Nathan cuek tanpa menoleh, ia tetap saja asyik dengan mainannya itu. Membuat Bara mengernyit. Syafira menahan tawanya. Sementara Nala, ia sudah siap menumpahkan tangisnya. Syafira yang menyadari itu langsung mendekat, "Nala kenapa sayang? Mau pipis?" tanya Syafira.
"Mau pipis?" Bara ikut bertanya.
"Huaaa daddy jahat, Nala di bilang jelek huaaa...," tangis gadid cilik itupun meledak.
"Astaga!" Bara langsung mengatupkan bibirnya, ia ingat Tadi tak sengaja bilang jika Syafira jelek seperti Nala kalau ngambek. Padahal itu hanya bercanda, tapi bagi Nala, itu penghinaan besar buatnya, apa kabar dengan jargonnya yaitu 'Nala syantik'.
"Mas sih," Syafira mencubit pinggang Bara. Bara hanya mengatupkan bibirnya kembali seraya meringis. Ia tahu, anak gadisnya itu paling anti di bilang jelek.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
๐ ๐ Malam ini author up dua bab, jangan lupa like dan komen setiap babnya,,, botenya juga boleh kalau masih ada... Terima kasih
Salam hangat author buat para pendukungnya mas Bara Fira ๐คโค๏ธโค๏ธ๐ ๐