
"Gantian dong, aku juga mau gendong," ucap Varel smbil mencubit gemas baby Zio yang kini berusia empat bulan tersebut.
"Sssttt, jangan di cubit. Nanti dia bangun, om," sahut Adel yang sedang asyik menimang baby Zio.
"Makanya gantian, sini,"
"Ih, om buat aja kayak gini sendiri," balas Adel.
"Sama kamu ya buatnya," celetuk Varel.
"Ih, apaan sih. Kalau udah ngebet ya buruan nikah, udah tua juga," sungut Adel.
"Emang kamu mau aku aja nikah sekarang?"
"Heh, aku masih sekolah. Belum. Mikirin begituan, nggak jelas banget sih,"
Tiba-tiba baby Zio terbangun, ia mengerjap-ngerjapkan matanya smbil menggeliat lalu menangis.
"Tuh kan, jadi bangun. Om sih berisik! Nangis kan dia jadinya,"
Syafira dan Bara yang duduk di sofa sambil menunggu si kembar bermain lego dan barbie hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat Varel dan Adel yang terus saja berdebat kalau jadi satu.
Syafira berdiri lalu menghampiri mereka," Kalian kenapa sih, ribut terus kalau ketemu," Syafira mengambil alih baby Zio dari tangan Adel.
"Dia nih kak, kerjaannya godain mulu kalau ketemu aku. Kan sebel," ucap Adek cemberut.
"Rel,..." Syafira memperingati Varel dengan tatapannya.
Varel hanya nyengir.
"Adel masih sekolah. Jangan di ganggu terus... Biar dia konsen sama sekolahnya dulu," ucap Syafira.
"Tuh, dengerin..." cebik Adel.
"Iya, iya. Nggak usah ngegas gitu dong. Besok-besok nggak mau antar jemput sekolah kalau galak-galak,"
"Nggak ada yang nyuruh but antar jemput aku,"
"Ih masa, kalau nggak aku jemput aja nyariin kan...."
Mereka terus saja berdebat seperti biasanya.
Syafira Lagi-lagi hanya bisa menggeleng berdecak. Ia memilih kembali bergabung dengan suami dan anak-anaknya di ruang keluarga.
Syafira duduk lalu membuka kancing kemejanya yang langsung disambut oleh bibir mungil baby Zio.
"Ribut lagi mereka?" tanya Bara sambil mengusap gemas pipi baby Zio yang sedng mengecap-ngecap puncak dada Syafira.
"Iyalah, apa lagi yang terjadi kalau mereka bertemu. Kerjaannya ribut terus. Tapi sama-sama butuh,"ujar Syafira.
Nala meletakkan boneka barbie nya begitu menyadari bundanya sedang memangku baby Zio.
"Mau gendong dedek Zio, bunda," rengek Nala.
"Jangan, nanti jatuh. Kasihan dedek ya," celetuk Nathan.
"Enggak, Nala bisa. Nala sudah jadi kakak, udah mau SD. Udah bisa jagain dedek Zio!" ucap Nala.
Syafira tersenyum, "Coba, kakak tanya Daddy. Boleh enggak gendong dedek Zionya," ucapnya lembut.
"Daddy, boleh enggak?" Gadis berlesung pipi tersebut meminta persetujuan ayahnya.
"Em.. Gendong ya? Dedek Zionya kan tambah endut, nanti kakak Nala capek. Gimana kalau pangku aja?" jawab Bara.
"Mau mau!" jawab Nala dengan mata berbinar. Ia langsung melompat duduk di samping Syafira, seolah siap mengambil alih sang adik. Ia terlalu senang melebihi saat mendapat mainan baru. Dan ini akan menjadi pengalaman pertamanya memangku si bungsu setelah empat bulan bayi itu lahir.
"Eits,. Princess... Cuci tangan dulu dong. Kan habis mainan, masa mau langsung pegang dedek Zio," kata Bara.
"Oh iya, Nala lupa hihi?" Nala meneouk jidatnua sendiri lalu berlari menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Mas, gimana kalau baby Zio udah MPAsi aku lanjutin kuliah?" ucap Syafira.
"Nggak masalah sih sayang, bagus malah. Nanti biar nanny si kembar bantu jagain baby Zio kalau kamu lagi kuliah," sahut Bara setuju.
"Boleh mas?" Syafira membulatkan matanya senang.
"Apa sih yang enggak untuk ibu dari anak-anakku,"
"Aaahhh, makasih sayang," Syafira mengusap-usap lengan Bara mesra. Ia tak mungkin mencium suaminya di depan Si kembar.
"Sudah bersih! Sini sini dedek Zio, di pangku kakak syantik," Nala sudah kembali duduk tak sabar.
Pelan-pelan, Syafira meletakkan baby Zio ke pangkuan Nala, namun tetap di pegangi olehnya.
"Wah hihihi!" Nala takjub saat baby Zio menggeliat di pangkuannya. Antara senang tapi juga takut dedek Zionya jatuh.
Bayi laki-laki tampan itu menatap Nala, "Mau cium bunda, mau cium!" Nala berusaha membungkuk untuk mencium baby Zio namun tak bisa.
"Belum bunda, sebentar lagi. Daddy, ayo photo Nala, biar cantika tahu aku bisa memangku dedek Zio," ujar Nala.
"Pamer!" celetuk Nathan yang tetap asyik dengan legonya.
Barapun menurutinya, ia mengambil beberapa photo Nala yang selalu menunjukkan gigi rapinya setiap kali di photo.
"Wah wah wah!" seru Nala saat baby Zio semakin menggeliat mencari aslinya karen tadi mungkin ia belum kenyang.
"Udah, bunda. Nala capek. Dedek Zio ndut, berat hihi,"
Dan begitulah keseruan keluarga Osmaro setelah kelahiran putra mereka empat bulan yang lalu. Tak banyak yang berubah, kecuali kebahagiaan mereka yang semakin bertambah dengan hadirnya baby Zio di tengah-tengah keluarga tersebut.
Syafira memilih mengurus baby Zio sendiri tanpa bantuan baby sitter mungkin sampai ia aktif kembali kuliah.
Meski tergolong ibu muda dan baru, namun Syafira cukup cekatan dalam mengasuh Baby Zio. Pengalamannya menjaga Adel sejak kecil dan juga menjadi ibu si kembar secara dadakan, membuatnya tak lagi canggung dalam mengurus baby Zio. Hanya bedanya, ia harus lebih ekstra hati - hati karena baby Zio masih bayi.
Saat malam tiba, Bara sering menggantikannya untuk mengecek baby Zio, misalnya mengecek popok. Kalau waktunya baby Zio minum asi, ia baru akanembangjnkan Syafira jika istrinya itu terlelap.
Si kembar sangat antusias sekali dengan kelahiran baby Zio yang memang mereka inginkan sejak dulu, memiliki dedek bayi yang lucu dan menggemaskan. Nala yang selalu merengek ingin menggendong dedek Zio dan Nathan yang diam-diam suka mencium pipi gembul sadik bungsunya.
Varel dan Adel, masih sama. Seperti Tom and Jerry jika bertemu. Namun, jika tidak bertemu, mereka akan mencari satu sama lain. Adel kembali melanjutkan sekolahnya sejak dua bulan yang lalu dan ia sudah mau tinggal di rumah Bara setelah Syafira melahirkan demi bisa ikut menjaga keponakannya.
Bu Lidya, setiap hari ia akan ke rumah Bara demi mengingatkan Syafira untuk meminum jamu supaya rahim nya cepat bersih dan aslinya juga melimpah. Ia akan mengomeli om John jika laki-laki paruh baya itu tidak mengingatkan ya untuk membeli jamu buat Syafira.
Diantara mereka tak akan ada pernikahan. Mereka lebih nyaman seerti saat ini. Bersama-sama menikmati masa tua sebagai sahabat dari pada sebagai suami istri. Sudah tua ini, apa lagi yang di cari, begitulah kata mereka berdua.
"Kalau asinya kelebihan, boleh buat Bar nggak ma," canda Bara suatu ketika yang langsung di tabok oleh bu Lidya, "Sembarangan. Nggak boleh, suami haram minum asi istrinya," jawab bu Lidya.
πΌ πΌ πΌ
Syafira baru saja meletakkan baby Zio ke dalam box bayi. Ia kemudian membuatkan kopi untuk suaminya.
"Mas, kopi," ucap Syafira sambil meletakkan kopi di meja.
Bara menoleh dan tersenyum, "Maksih sayang, Zio udah tidur?" Ucapnya.
"Udah, barusan habis nen,. Kenyang langsung bobok," jawab Syafira.
"Sini!" Bara menarik tangan Syafira dan memeluknya dari belakang.
"Mas sedang apa?" tanya Syafira.
"Mas sedang lihat bintang," jawab Bara.
Syafira mendongak, ikut menatap langit.
"Kalau mbak Olive jadi bintang, pasti dia akan jadi bintang yang paling terang ya mas," ucap Syafira.
"Iya, dia akan bersinar terang karena bahagia melihat kita," jawab bar semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sangat berterima kasih sm mbak Olive yang udah ngelahiri si kembar. Dan juga udah ngasih kesempatan aku untuk jadi bunda mereka dan juga istri mas Bara,"
"Memang sudh takdirnya seperti ini. Jodoh mas sama Olive tak lama, dan Allah menggantinya dengan kamu. Terima kasih sudah hadir dalam hidup mas dan si kembar. Terima kasih sudah mau menjadi ibu untuk anak-anakku," Bara mencium kening Syafira dalam.
"Masuk yuk mas, di luar dingin!" Ajak Syafira, ia menuntun tangan suaminya supaya mengikutinya ke dalam.
"Baby Zio nggak tidur di sini?" tanya Bara mengernyit. Karen biasanya bayi tampan itu selalu tidur di tengah-tengah mereka.
"Aku taruh di box dulu. Yuk mas... Aku kangen..." Syafira tersenyum nakal.
Dan malam itu menjadi malam yang indah untuk kesekian kalinya buat mereka berdua.
ππππππTamatππππππ
πΌ πΌ πΌ
π π Alhamdulillah, seperti yang sudah aku katakan di ig kalau mas Bara dan Syafira sudh mendekati end. Dan kini akhirnya cerita mas Bara dn Syafira sudah benar-benar tamat ya... Dan inilah akhir yang bisa author sajikan untuk readers semuanya. Mohon maaf jika tidak sesuai harapan kalian endingnya.
Terima kasih author ucapkan untuk seluruh pembaca novel 'Ibu untuk Anak-anakku' yang setia mengikuti cerita mereka dari awal sampai akhir, meskipun author sering mengecewakan karena keterlambatan up. Untuk itu author mohon maaf ππΌ ππΌ
Semoga cerita sederhana ini bisa menghibur kalian, jika ada yang bisa di ambil dari cerita receh ini, ambillah yang baik-baik saja. Yang buruk, jangan.
Jika berkenan jangan di unfav dulu supaya bila ada info novel terbaru kalian bisa tahu, tapi juga tidak memaksa ππ
Setelah ini insyaallah author akan fokus untuk cerita satunya yaitu Senja untuk Elang. Sambil menunggu novel selanjutnya kalian yang belum mampir ke sana, bisa coba mampir, siapa tahu suka. Tapi lagi, author tidk memaksa.
Akhir kata
See you to next novel. (semoga masih stay di NT yaaaa)
Salam hangat Author EmbunPagi π€β€οΈβ€οΈπ π