
"Bi, tuan beneran sudah pulang?" tanya Syafira kepada pelayan.
"Sudah sekitar dua jam yang lalu nyonya," jawabnya.
"Sepertinya tuan sedang berada di ruang kerjanya," sambung bibi yang mengerti kebingungan Syafira.
"Oh iya bi, saya cari mas Bara dulu," pamit Syafira sambil membawa kopi yang baru saja ia buat.
Syafira mengetuk pintu ruang kerja Bara namun tak ada tanggapan dari dalam. Ia nekad membuka pintu untuk memastikan kalau suaminya benar ada di dalam.
Dan benar saja, Bara sedang duduk di kursi kerjanya dengan ekspresi yang sudah bisa Syafira tebak. Tangan Bara saling bertaut dengan kuat dan ia gunakan untuk menumpu dagunya. Rahangnya sudah mengeras, menahan sebuah rasa yang hanya ia sendiri yang tahu.
"Mas aku buatkan kopi," ucap Syafira seraya melangkah masuk dan meletakkan kopi di meja depan suaminya duduk.
Laki-laki itu diam tak menyahut, bahkan tak melirik sedikitpun kepada Syafira.
"Maaf, aku tidak tahu mas Bara pulang cepat, tahu begitu tadi aku pulang lebih awal lagi," ucap Syafira merasa bersalah karena tadi sudah berjanji akan pulang sebelum Bara pulang. Ia pikir Bara akan pulang seperti hari biasa saat ia sedang sibuk.
Bukan itu masalahnya! Masalahnya Bara berfikir Syafira berbohong kepadanya, ia bilang jalan bersama dengan Mia dan Shinta tapi nyatanya pulang dengan sahabatnya.
"Mia dan Shinta tadi ngajakin aku belanja habis dari salon, makanya aku pulang agak sore," Syafira masih mencoba menjelaskan, ia tak ingin di cap sebagai ibu yang tida bertanggung jawab.
Mendengar Syafira menyebut nama Mia dan Shinta, membuat rahang Bara semakin mengeras. Kenapa istrinya itu menjadikan kedua sahabatnya sebagai alasan padahal yang Bara lihat tadi berbeda.
Syafira melirik suaminya, ada rasa kesal di hatinya karena Bara sama sekali tak merespon penampilannya. Jangankan memuji, melirik saja tidak. Ia terus mengajak bicara Bara tapi Bara diam, ia masih mencari kata untuk mengatakan kalau dia sedang cemburu. Tapi, dia tidak juga menemukan kata yang pas. Seorang Bara tidak mungkin mengatakan dengan terus terang tanpa aling-aling kalau dia sedang cemburu. Bisa jatuh harga dirinya di ketawain istrinya. Sudah pasti itu, pikirnya.
"Mas Bara kenapa sih? Dari tadi aku ajak bicara diam aja, lagi sakit gigi atau sariawan? kalau sakit gigi ayo kita ke dokter gigi," tanya Syafira mulai kesal.
Entah kenapa, kata dokter sedang tidak ngin Bara dengar karena mengingatkan dengan dokter Rendra. Bara benci ketika tahu kalau sahabatnya sendiri lagi-lagi menyukai perempuan yang menjadi istrinya. Benci karena selain cemburu, ada rasa bersalah di dalam hatinya. Namun, semua sudah terjadi dan itu diluar pengetahuannya.
"Ya udahlah, aku keluar aja, di sini kayak ngomong sama es balok, mungkin mas Bara lagi nggak mau diganggu. Jangan lupa di minum kopinya kalau tidak sakit gigi, kalau sakit gigi beneran jangan di minum, takutnya tambah sakit!" cebik Syafira kemudian menghentakkan kakinya hendak pergi.
"Sejak kapan Mia dan Shinta ganti kelamin menjadi laki-laki?" akhirnya es balok itu bersuara. Syafira mengurungkan langkahnya dan berbalik kembali menatap suaminya.
"Maksud mas Bara?"
"Sejak kapan Mia atau Shinta berubah menjadi laki-laki seperti Rendra!" itu pertanyaan tetapi suaranya ngegas seperti sedang menghakimi.
"Hehe mas Bara bisa aja, mana mungkin Mia dan Shinta ganti gender. Mas ada ada saja,"
"Saya sedang tidka bercanda Fira. Kamu mulai berbohong sama saya. Kalau kamu jujur, bilang jalan sama Rendra, saya tidak masalah. Kenapa harus bohong?" Bara mengangkat kepalanya menatap Syafira yang berdiri tepat di depan meja kerjanya. Pandangannya langsung terkunci. Ia menelan salivanya kasar, tak bisa di pungkiri jika ia terpesona dengan kecantikan Syafira. Dalam hati ia sangat memuji kecantikan istrinya tersebut. Bara langsung mengalihkan pandangannya, tak kuat memandangnya lama-lama atau pikirannya akan segera bertamasya jika terus menatap Syafira lama-lama.
"Aku tidka bohong mas, tadi emang aku jalan sama Mia dan Shinta. Terus kita pencar pulangnya. Di jalan si Wiliam ngambek, mogok nggak mau jalan, dan kebetulan dokter Rendra sedang melintas di jalan itu dan dia menawari untuk mengantar pulang. Karena tidak ada taksi makanya aku mau," Syafira mencoba menjelaskan.
"Wiliam? Siapa lagi itu?" tanya Bara, ia lupa jika Wiliam adalah sepeda motor Syafira.
Syafira terkekeh dalam hati, ia menduga jika suaminya itu sedang cemburu tapi gengsi.
"Pacar aku," Syafira sengaja menjawab seperti itu.
Bara langsung kembali menatapnya, kali ini raut wajahnya semakin memancarkan kilat amarah.
"Sepeda motorku mas, scooter matic punyaku Wiliam itu. Ish masa mas Bara lupa sih, makanya jangan marah-marah mulu, jadi cepat lupa kan? Pikun ih!"
"Haha, hayo mau ngomong apa?" batin Syafira senang sekali melihat ekspresi Bara kali ini.
"Lagian motor di beri nama Wiliam, kebagusan amat, ganti Jupri atau Jono," ucap Bara asal.
"Haha mas Bara ada-ada saja. Kalau Jupri atau Jono kan lokal, sepeda motorku kan import, Internasional," sahut Syafira.
Bara mengernyit, kenapa topik pembicaraan mereka belok ke Wiliam.
"Kalau Jupri mogok, kenapa tidak telepon pak Hendro buat jemput?" tanya Bara kembali ke topik utama.
"Aku sempat mau telepon pak Hendro, tapi menurutku kelamaan, jadi ya nggak masalah di antar dokter Rendra. Lagian dia juga sahabat mas Bara kan?"
"Tapi dia suka sama kamu, dan bisa jadi kamu juga menyukainya, lalu bagaimana dengan anak-anak? dan..." batin Bara, tak percaya diri menyebut namanya sendiri.
"Lain kali, mau lama atau enggak, minta pak Hendro atau saya buat jemput. Kamu itu sudah bersuami, jangan asal jalan satu mobil sama laki-laki lain.
"Kan cuma di antar, nggak ngapa-ngapain mas. Posesif ih," masih saja ngeyel.
"Fira, kalau saya bicara apa tidak bisa kamu iyain saja, kenapa harus selalu merembet?"
"Iya mas suami, sendika dawuh," Syafira memutar bola matanya malas.
"Tanpa pengecualian!" jawab Bara tegas.
"Eleh bilang aja mas Bara cemburu, iya kan? Iya dong, ayo ngaku!" goda Syafira.
"Cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri," sahut Bara.
"Dia sadar nggak sih aku lagi marah, nggak ada takut-takutnya," gumam bara dalam hati.
"Terlalu percaya diri juga tidak bagu mas, nggak pernah cemburu karena over confident, takutnya tahu-tahu di tikung. hati-hati sekarang pebinor itu lagi naik daun,"
"Fir...!"
"Ck, dasar gengsian. Mulut sama hati nggak sinkron. Udah ah aku mau masak, aku keluar dulu," Syafira balik badan dan melangkah menuju pintu.
"Mana mungkin cemburu, penampilanku udah aku ubah aja nggak ada respon sama sekali. Setidaknya bilang tambah cantik atau sebaliknya. Ini cuek-cuek bae," gumam Syafira.
Bara hanya menatapnya dengan tatapan yang hanya dia sendiri yang tahu apa maksud dari tatapannya.
πΌπΌπΌ
Hari semakin larut...
Bara masuk ke dalam kamarnya setelah menyelesaikan pekerjaannya yang ia tinggal untuk beribadah dan makan malam tadi.
Dilihatnya Syafira sudah tertidur pulas dengan posisi miring. Bara menyusulnya naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya miring menghadap istrinya. Disibakkannya anak rambut Syafira yang mengganggu pemandangannya menikmati kecantikan istrinya.
Ditatapnya lekat-lekat wajah sang istri yang semakin terlihat cantik dan muda. Bara teringat kata-kata uang Syafira ucapkan terkahir tadi sebelum.ia meninggalkan ruang kerjanya.
"Justru saya tidak punya kata-kata yang pas buat mendeskripsikan kecantikan kamu Fir, terlalu sempurna. Dan itu membuat saya semakin tidak tenang. Takut kamu akan pergi meninggalkan anak-anak. Kenapa kamu mengubah rambut dan penampilan kamu Fir, untuk apa dan untuk siapa kamu berubah?" gumamnya lirih sambil membelai pipi mulus istrinya. Bara mendaratkan satu kecupan singkat di kening Syafira.
"Aku cantik ya mas?" tiba-tiba Syafira berbicara seperti itu sambil tersenyum dan membuka matanya Membuat Bara terkejut dan langsung menarik tangannya dari pipi Syafira. Perasaan malu dan deg-degan bercampur menjadi satu.
"Nih anak nggak tidur? Ngerjain saya rupanya," batin Bara.
"Bilang aja aku cantik, iya kan mas?" lagi-lagi Syafira menggoda Bara.
"Hem," jawab Bara.
"Cantik tidak?" Syafira menggeser tidurnya lebih mendekat. Sengaja menggoda Bara.
"Hem," jawab Bara lagi.
"Ham hem ham hem, lagi belajar jadi Sabyan mas?"
"Cepat tidur lagi, sudah malam,"
"Bilang dulu aku cantik apa enggak," masih kekeh sambil senyum-senyum menggoda.
"Iya kamu cantik, udah tidur. Sudah malam," Ucap Bara langsung memejamkan matanya. Gengsi karena ketahuan diam-diam mencuri kesempatan saat istrinya tidur.
Syafira tersenyum lalu ikut memejamkan matanya. Tanpa membuka matanya, Bara menarik tubu Syafira ke pelukannya.
"Lain kali, jangan bandel lagi," ucapnya.
"Aku kan udah jelasin tadi," mendongak menatap wajah terpejam suaminya, masih saja protes.
"Ssst diam dan tidur, kalau berisik saya cium kamu," ucap Bara.
"Ish mas Bara mah beraninya ngancam,"
"Fira, saya serius. Diam dan tidur atau saya perawanin kamu,"
Syafira langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan kembali memejamkan matanya.
π Jangan lupa like per bab (Karena biasanya kalau double up yang di like bab akhir aja π ) , tip dan votenya juga boleh banget.
Dan jangan lupa baca novel author yang lainnya.
Terima kasih π
Salam hangat author π€β€οΈβ€οΈπ