Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 43


Hari-hari berlalu begitu saja, tak ada perubahan yang terlalu signifikan dari hubungan Bara dan Syafira, namun kini sifat Bara lebih hangat, tak lagi sedingin sebelumnya. Terkadang Syafira merasa bingung dengan perubahan sifat Bara tersebut, namun ia tetap bersyukur karena kini gunungan es itu perlahan mencair sedikit demi sedikit.


Kembali ke weekend lagi, Syafira sudah siap untuk berangkat pagi-pagi sekali karena hari ini ia ada pesanan kue yang banyak.


Syafira yang sudah rapi dengan penampilan sederhana seperti biasanya menghampiri Bara yang sedang ngegym.


"Mas hari ini nggak kemana-mana kan? anak-anak biar di rumah aja ya sama mas Bara," ucap Syafira seraya mendekati suaminya yang sedang melakukan push up menggunakan satu tangan kanan dan kirinya secara bergantian.


Bara menoleh dan menghentikan aktivitasnya. Ia berdiri dan mendekati istrinya.


Syafira menelan ludahnya kasar saat tubuh atletis penuh keringat itu mendekatinya. Rasanya ia ingin mengusap keringat di dada telanjang suaminya tersebut, sambil curi-curi kesempatan menyentuhnya.


"Mas kenapa nggak pakai baju sih olah raganya?" ucap Syafira memalingkan wajahnya saat dada Bar tepat di depannya.


"Lebih enakan begini kalau olah raga," ucap Bara tersenyum melihat tingkah menggemaskan Syafira.


"Kenapa? Apa kamu ingin menyentuhnya? Sentuh saja, ini milikmu," ucap Bara yang membuat Syafira langsung menatapnya, mencari jawaban dari maksud ucapan suaminya tersebut. Apakah...Ah namun Syafira segera menepis pikirannya, ia tak mau terlalu berasumsi. Biarlah semua mengalir semestinya secara alamiah diantara keduanya.


"Mas Bara ngomong apa sih, nggak jelas banget," ucapnya melemah.


Bara terkekeh mendengarnya. Ya, sekarang Bara lebih banyak tersenyum dan sesekali ia juga tergelak senang ketika bersama Syafira.


"Hus hus hus, pergi sana, pikiran nggak ada akhlak," batin Syafira mengusir pikiran mupengnya.


"Mukamu merah gitu Fir?" goda Bara menyeringai.


"Iya nih panas mas, ACnya mati ya mas?" Syafira pura-pura mengibas-ibas tangannya di depan wajahnya.


Bara maju ke depan, menjadikan jarak keduanya semakin dekat dan hampir tak ada. Direngkuhnya pinggang ramping sang istri hingga tangan Syafira yang menekuk ke atas, menempel tepat di dada Bara.


Syafira menelan ludahnya lagi, aroma keringat maskulin dari tubuh Bara membuat Syafira semakin salah tingkah.


"Gimana? Suka?" tanya Bara sambil menempelkan telapak tangan Syafira di dadanya setelah sempat ia jauhkan sesaat tadi.


Deg deg deg deg! Suara detak jantung Bara sangat terasa di telapak tangan Syafira. Tanpa sadar, ia mengusap-ucap dada bidang suaminya, mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu, yang kini berstatus sebagai suaminya.


"Mas, sepertinya ada masalah dengan jantung mas Bara, berdetaknya nggak normal mas. Mas punya penyakit jantung? apa perlu ke dokter?" tanya Syafira dengan tanpa mengubah posisi tangannya.


"Sial!" umpat Bata dalam hati, ia yang berniat menggoda Syafira, malah hatinya yang ser-seran dadanya di pegang, digrepe-grepe seperti itu oleh Syafira. Ada sesuatu yang memberontak di bawah sana, yang ingin segera minta di bebaskan.


Ini memang bukan pertama kali mereka berdekatan seperti itu, bahkan Bara pernah mencium bibir Syafira, namun sebelumnya Bara selalu menggunakan emosinya saat melakukan hal itu. Berbeda dengan kali ini, ia dalam keadaan benar-benar sadar dengan menggunakan perasaan.


"Jangan nakal deh tong, seperti ini aja dulu, pelan-pelan, udah bersyukur, jangan ngelunjak minta lebih. Iya kalau dia mau, kalau di tolak kan malu tong," batin Bara yang merasakan sempit di bawah sana.


"Iya, bisa jantungan beneran kalau kamu terus seperti ini," sahut Bara.


"Lah kan mas Bara yang tadi nantangin buat menyentuhnya, aku nggak salah dong," cebik Syafira mencoba melepaskan tangan Bara yang masih melingkar di pinggangnya.


"Mas lepasin! Nanti anak-anak tiba-tiba masuk kan malu," ucap Syafira.


"Mereka sedang bermain dengan paman Tiger, nggak akan ke sini," ucap Bara mengelak.


"Lepasin! Aku mau berangkat ke toko, nanti baju aku jadi ikutan bau keringat mas Bara kalau nempel terus begini,"


"Bukannya suka? Tadi aja ngendus-endus gitu hidungnya," canda Bara menyeringai tipis.


"Astaghfirullah mas, otaknya traveling kemana sih, kenapa akhir-akhir ini mas Bara bersikap aneh, aku jadi merinding tahu nggak," ucap Syafira menggedik.


"Otakku lagi travelling, berusaha mencari jalan menuju ke sini, supaya bisa membawanya ke sini," Bara menunjuk dada Syafira dan bergantian ke dadanya.


Syafira tercengang mendengarnya.


"Sudah ketemu jalannya?" tanyanya menantang.


"Lagi proses," jawab Bara.


Syafira berdecak mendengarnya.


"Kalau kelamaan prosesnya, nanti jalannya buntu, keburu ketutup ma yang lain," ucap Syafira memperingatkan.


"Udah ah lepasin! Aku mau berangkat," Syafira menepis tangan Bara. Lalu balik badan dan berjalan menjauh.


"Jangan biarkan anak-anak sering main sama pamannya mas Bara itu, namanya binatang buas, sejinak-jinaknya tetap buas namanya," peringat Syafira menoleh.


"Kayak mas Bara," sindirnya pelan.


Bara hanya mendesah kecewa menatap istrinya berjalan menjauh. Pasalnya ia ingin sesekali menghabiskan waktu bersama istri dan kedua anaknya.


"Aku antar!" serunya ketika Syafira memegang handle pintu kaca ruang gym tersebut. Syafira menoleh. Ia meminta Bara mengulangi kalimatnya dengan tatapan matanya.


"Aku antar, kau tunggulah. Aku mandi dulu sebentar," ucap Bara fan langsung melenggang melewati Syafira.


"Tumben," gumam Syafira.


Beberapa saat menunggu, akhirnya Bara telah siap dengan gaya casual, membuat dia terlihat lebih mida dari usianya.


"Ayo!" ajak Bara mendekati Syafira yang menunggunya di ruang tamu.


"Anak-anak?"


"Biar mereka di rumah saja," ucap Bara.


"Udahlah, jangan banyak mikir. Ayo, katanya pesanan kue ada banyak,"


"Sebentar, aku pamit sama mereka dulu, takutnya nyariin kalau nggak pamit," Syafira langsung menuju ke taman belakang dimana si kembar berada.


"Sayang, bunda ke toko dulu ya. Kalian di rumah saja, soalnya bunda ada pesanan kue banyak banget, kalau kalian ikut nanti bosan dan capek nungguinnya, soalnya bunda pasti sibuk banget, nggak ada waktu buat kalian. Nggak apa-apa kan kalian di rumah?" Syafira mencoba memberi pengertian.


"Iya bunda, kan ada daddy," sahut Nala.


"Daddy antar bunda sebentar, nanti balik cepat kok,"


"Daddy nggak langsung balik, nanti daddy bantuin bunda buat kue, kasihan bunda nanti capek kalau nggak di bantuin, nanti kalau kecapean nggak urus kalian," ucap Bara tiba-tiba yang kini sudah di belakang Syafira.


"Bilang aja daddy sama bunda mau pacaran," ucap Nathan.


"Eh ini anak, tahu pacaran segala darimana," batin Syafira.


"Iya, daddy sama bunda mau pacaran dulu, kalian kan anak baik, jadi harus nurut ya?" sahut membuat Syafira menatap tajam ke arahnya.


"Apa? Kan saya sudah bilang, lagi proses, bisa dimulai dengan pacaran bukan? Biar nggak kaget,"


Bukan masalah proses atau apanya, tapi bilang pacarannya do depan anak-anak itu yang jadi masalah buat Syafira.


"Asyik! Daddy sama bunda pacaran, berati daddy udah nggak nakal lagi sama bunda," seru Nala.


"Eh apa maksud ucapan ini gadis cilik?"


"Kok Nala ngomong gitu? Daddy nggak nakal kok, daddy baik sama bunda," Syafira tak ingin kedua anaknya memiliki pikiran buruk tentang ayah mereka.


"Kalau nggak nakal, kenapa bunda diam-diam suka menangis di kamar kita kalau malam?" ucap Nathan.


"Ah siapa yang nangis sayang, kan kalian tidur, mana tahu,"


"Nathan pernah intip bunda sedang mengusap air mata pas Nathan kebangun," ucap Nathan.


"Ah itu bukan nangis sayang, bunda pas lagi kelilipan aja mungkin. Udah ya, kalian nggak boleh bilang daddy nakal, daddy baik kok,"


"Kalau baik kenapa enggak mau bobok sama bunda? Kata teman Nala, papa sama mamanya bobok bareng karena sayang," cebik Nala.


Astaga, sejauh itu kepekaan mereka, ternyata tanpa Syafira maupun Bara sadari sikap keduanya terekam jelas oleh si kembar.


Bara yang mendengarnya merasa sakit di dadanya, sekejam itukah perlakuannya selama ini terhadap Syafira.


"Siapa bilang daddy tidak sayang sama bunda? Kan gantian boboknya, kadang sama kalian kadang sama daddy, itu artinya bunda sayang kalian juga daddy," Syafira mencoba menjelaskan.


"Benarkah? Terus, daddy sayang nggak sama bunda?" Mengalihkan pandangan kepada ayah mereka.


Syafira juga ikut menatap suaminya, ingin tahu apa jawabannya.


"Sayang," jawab Bara singkat.


Syafira tersenyum.


"Jawaban penyelamatan diri yang bagus mas, dari anak-anak yang kritis pikirannya," gumam Syafira dalam senyumnya. Ya, ia menganggap itu sebagai kalimat pemutus obrolan mereka pagi itu, karena kalau diteruskan akan jadi panjang menghadapi kedua bocah pintar tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, Nathan ngebolehin Daddy pacaran sama bunda," ucap Nathan.


"Nala juga setuju," gadis cilik itu mengangguk mantap.


"Enggak bukan begitu, bunda emang beneran sibuk, nanti kalau selesai cepat, bunda langsung pulang. Sekarang kasihan onty Rani kalau sendiri.


"Sudah ayo, ini sudah siang," Bara meraih tangan Syafira dan menariknya pelan.


"Sebentar," Syafira pamit kepada si kembar.


"Assalamualaikum," ucap Fira.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati bunda," sahut keduanya.


Nala mendekat dan meraih tangan Bara supaya menggandeng tangan Syafira. Bara tersenyum kepada putri kecilnya.


"Daddy berangkat dulu, assalamualaikum," pamitnya.


"Wa'laikumsalam daddy,"


Sampai di mobil, Syafira mencoba melepaskan genggaman tangan Bara.


"Udah nggak ada anak-anak, mas bisa melepaskan," ucapnya.


"Kenapa emang?"


"Nggak apa-apa, aneh aja rasanya jika mas Bara seperti ini," ucap Syafira.


"Kalau begitu kamu harus membiasakan diri untuk bersentuhan dengan saya, kalau cuma gandengan tangan saja nggak terbiasa, apalagi yang lain," ucap Bara.


"Ah iya, ayo cepat, nanti kesiangan," Syafira mengalihkan pembicaraan, ia tahu kemana arah ucapan suaminya, ia langsung masuk ke dalam mobil.


Bara memejamkan matanya sejenak, ternyata istrinya tersebut masih polos dalam hal hubungan antara laki-laki dan perempuan.