
Syafira membawa baby Zio ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kotor penuh dengan tanah, "Zio mandi dulu ya, Nak? Habis itu bobok siang," ucap Syafira sambil melepas pakaian Zio.
"Mam... Mam... Mamm," ucap baby Zio, ia refleks mengangkat tangannya ke atas saat Syafira melepas kaos yang baby Zio pakai.
"Oh, iya... Bunda lupa. Zio kan belum mamam ya, baru mik cucu ya. Ya udah, habis mandi terus mamam, baru bobok siang. OKE?" tak menghiraukan ucapan Syafira, Baby Zio sudah asyik bermain bebek karet sambil duduk bersila di lantai kamar mandi.
Dengan telaten, Syafira memandikan putra sulungnya sambil mengajak bayinya tersebut bermain busa.
"Nanti, Zio di rumah sama daddy, sama Onty, sama abang juga kaka syantik ya, bunda mau kuliah," ucap Syafira sambil menyabuni baby Zio. Bayi bertubuh montok itu tampak menyimak ucapan bundanya tapi sejurus kemudian kembali asyik memainkan bebek karet di tangannya.
"Assalamualaikum!" di tengah asyiknya memandikan baby Zio, Syafira mendengar suara cempreng Nala.
"Waalaikum salam," sahut Syafira.
"Waaahh dedek Zio, kakak Syantik cariin ternyata di sini. Lagi mandi ya?" ucap gadis cilik berkuncir dua tersebut.
Mendengar suara kakaknya, Baby Zio langsung mendongak ke sumber suara dan tersenyum girang. Ia melompat-lompat di dalam bak mandinya.
"Iya, dedek Zio habis mainan tanah, jadi mandi lagi deh. Kakak, sekarang ganti baju cuci tangan, kaki terus maem ya, bunda udah masak. Ajak abang sekalian," ucap Syafira.
"Dedek Zio udah maem?" tanya Nala.
"Mam... Mam... Mam," celoteh baby Zio.
"Belum, dedek Zio belum maem, mau nungguin dedek Zio maemnya?" tanya Syafira.
Nala mengangguk mantab," Bareng-bareng maemnya bunda, biar lebih seru!"
"Baiklah. Ayo sayang, kita pakai baju. Kakak, juga ganti banju ya?" Syafira mengangkat tubuh baby Zio setelah membalutnya dengan handuk. Bayi tampan itu seakan enggan untuk meninggalkan kamar mandi dan mainnanya yang tergeletak di sana.
Nala kemudian pergi mencari Nathan ke kamarnya, bocah laki-laki itu rupanya sudah mengganti seragam sekolahnya, "Pulang sekolah itu langsung ganti baju, cuci tangan sama kaki, malah keluyuran," ucap Nathan dingin.
"Ih, Nala kan kangen sama dedek Zio, udah lama nggak ketemu dedek Zio," sahut Nala.
"Baru juga tadi pagi ketemu," ucap Nathan datar.
Sementara Nala ganti baju, Nathan mencari baby Zio ke kamar orang tuanya. Ia langsung masuk karena pintu kamar bundanya terbuka. Nathan langsung duduk di tepi ranjang tanpa suara. Syafira yang sedang membaluri badan baby Zio dengan minyak telon, menoleh dan tersenyum, "Abang udah pulang?" ucapnya.
"Kalau belum pulang, Nathan tidak di sini, bunda," jawab Nathan datar. Syafira langsung mengatup kan mulutnya, "Oh iya ya, bunda lupa," ucap Syafira.
Nathan membiarkan tangannya di buat mainan oleh baby Zio sementara Syafira sedang mengambil pakaian ganti untuk baby Zio.
Nathan yang tak seekspresif Nala hanya sesekali tersenyum saat baby Zio berceloteh tidak jelas sambil memainkan jari-jemarinya. Nathan tak bicara apapun, ia paling tidak bisa mengajak baby Zio bercanda. Paling pol, ia akan memberikan tangannya untuk dimainkan adik bungsunya tersebut.
"Kok, diem? Adiknya nggak diajak ngobrol?" tanya Syafira sekembalinya mengambil baju baby Zio.
"Enggak ngerti mau ngomong apa, bunda," ucap Nathan tersenyum tipis. Ia memang lebih sering menunjukkan kasih sayangnya terhadap baby Zio dengan tindakan dari ada ocehan seperti Nala.
"Dua jagoan daddy di sini rupanya," mendengar suara Bara, Baby Zio yang semula anteng saat di pakaikan baju, langsung berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk berjalan mendekati daddinya.
"Mas Bara ganggu aja, lihat kan. Belum selesai pakai baju, Zionya udah heboh aja. Zio, pakai celana ya duku, Nak," ucap Syafira.
Bara berjongkok dan mengambil celana tersebut, "Mau di pakein daddy?" bayi laki-laki itu mengangguk.
Dengan cekatan, Bara memakainya. Baby Zio langsung menuntun TANGAN Bara setelah selesai memakai celana, "Mam... Mam..." ucap baby Zio.
"Tunggu dulu, Zio belum memakai body lotion, hair lotion sama belum cus cus," ucap Syafira.
"Emang harus? Anak daddy kan udah wangi, nggak usah ribet-ribet deh, sayang," sergah Bara, "Boy, ayo kita makan!" Bara mengajak Nathan.
"Dedek Zio, harus nurut sama bunda, sini pakai hair lotion sama body lotion dulu," ucap Nathan.
Syafira tersenyum mendengarnya, emang ya putra sulungnya itu paling pengertian terhadapnya. Bara pun mengalah, ia membopong baby Zio dan mendudukkanya di tepi ranjang," Sini, biar daddy yang melakukannya, mumpung daddy di rumah," ucap Bara.
"Dad... Dad... Dad..." celoteh baby Zio.
Syafira mendengus, "Ayah... Bukan daddy... Ayah!" peringat Syafira. Namun, tetap saja, baby Zio mengikuti kedua kakaknya memanggil ayah nya daddy.
"Sabar, jangan di bikin pusing cuma panggilan doang, yang penting dia nggak manggil Bara, kan?" kata Bara.
"Bar... Bar..." celoteh baby Zio menirukan ucapan daddinya.
Syafira dan Nathan langsung terkekeh, sementara Bara langsung mengernyit.
🌼 🌼 🌼
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang lebih seperempat, ketika Varel sampai di parkiran sekolah Adel. Ia langsung merogoh ponselnya, "Dimana?" tanyanya saat yang di telepon sudah mengangkat panggilannya.
"Di kantin sekolah, ada apa, om?" jawab Adel.
"Oh, di kantin? Oke!" Varel langsung menutup panggilannya.
"Ih, aneh dasar!" gerutu Adel.
"Kenapa?" tanya teman Adel.
"Nggak apa-apa, habis ini mau kemana? Jadi ke beli buku?" tanya Adel kepada temannya.
"Kalian mau beli buku? Aku temenin ya?" ucap teman Adel lainnya, seorang laki-laki.
"Boleh, habis in ini dulu ya?" sahut Adel sambil kembali menyuap bakso ke mulutnya. Karena buru-buru, Adel tersedak kuah bakso yang di kasih sambal banyak.
"Hati-hati dong del, makannya. Ini minum dulu!" laki-laki itu menyodorkan aebotol air mineral kepada Adel. Ia juga mengambil tissu lalu berniat untuk menyeka sudut bibir Adel yang sedikit belepotan.
"Ehem!" suara berat deheman seseorang membuat laki-laki itu yang tangannya sudah menggantung di udara dan siap mendarat di bibir Adel menoleh. Begitu juga teman Adel yang perempuan.
"Sepertinya kita nggak jadi ke mall deh, del. Lain kali aja," ucap teman Adel yang perempuan sambil meringis, melihat Varel yang matanya tak berkedip sedikitpun menatap tajam tangan laki-laki yang hendak mengelap bibir Adel tersebut. Rahangnya mengeras. Air mukanya sama sekli tak bersahabat.
🌼🌼🌼