
Suasana makan malam di rumah uwak terasa menegangkan. Tak ada yang membuka suara untuk sekedar berbincang apalagi bersenda gurau. Hanya suara dentingan sednok dan garou yang saling bersahutan pelan namun cukup terdengar keras karena suasana yang senyap.
Syafira makan dengan khidmat, sambil sesekali menyentuh perutnya, "Senang kan dek, bisa makan bareng sama ayah," gumamnya dalam hati. Meskipun masih belum ada titik temu antara ia dan Bara, namun setidaknya kini rasa rindunya yang semakin menjadi setiap detiknya sedikit terobati. Sesekali ia melirik suaminya yang terlihat lebih kurus dengan wajah berantakan dengan kumis tipis yang mulai tumbuh. Wajah lelah itu terlihat sangat tak terurus. Perasaan bersalah tiba-tiba menjalar dalam benak Syafira.
Bara sangat menikmati makan malam tersebut. Ia sudah sangat merindukan masakan sang istri. Terlihat sekali ia makan dengan lahap. Ia tahu kalau Syafira sesekali meliriknya, namun ia pura-pura tidak menyadarinya dan tetap menikmati makan malam sederhana namun nikmat tersebut.
Varel yang memang sudah kelaparan makan dengan rakusnya tanpa peduli dengan suasana di ruang makan yang tak begitu luas tersebut. Seolah ia balas dendam dengan rasa lapar yang sudah sejak siang tadi menderanya. Tak ada waktu untuknya makan sejak siang tadi. Saat dalam perjalan ke rumah uwak pun Bara hanya menyodorkan sebotol air mineral kepadanya saat ia mengajak untuk berhenti di sebuah restauran untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sebagai tanda penolakan ajakan singgah di restauran tersebut. Bara sudah tak sabar ingin segera sampai di rumah uwak.
Ia bahkan tak segan-segan mengambil sisa ayam terakhir yang tersisa di piring.
Uwak yang duduk di kursi plastik tambahan juga makan dengan khusyuk tanpa bersuara menggunakan tangannya.
Sementara Adel , makan dengan perasaan dongkol dan terpaksa berada dalam satu meja dengan kakak iparnya tersebut.
"Uhuk! Uhuk!" tiba-tiba Adel tersedak. Membuat yang duduk di meja makan tersebut berlomba menyodorkan minum kepadanya. Dan pemenangnya adalah Varel, ia lebih dulu menyodorkan minumnya buat Adel. Sambil mencebik, Adel menerima gelas itu dan langsung minum.
" Makanya, kalau makan tuh jangan sambil marah, apalagi makan hati. Orang yang di suguhin paha ayam, bukan hati," celetuk Varel.
"Apaan sih om, nggak jelas banget!" kesal Adel yang langsung berdiri karena memang makannya sudah selesai.
"Mau kemana dek?" tanya Syafira.
"Ke kamar, males di sini lama-lama gerah!" sindir Adel sambil melirik ke arah Bara dan Varel.
"Jadi ragu, beneran dia lahir dari lubang yang sama, sama kamu?" ucap Varel keada Syafira yang langsung di tabok oleh Bara.
"Apa sih kak, aku serius tanya. Penasaran ini. Ada gitu cewek nggak terpesona sama ketampanan aku yang paripurna ini. Malah terkesan antipati begitu," ujar Varel pelan.
"Padahal nih ya, kalau cewek lain pasti udah pada nempel-nempel kalau lihat aku," imbuhnya lagi.
"Aku enggak!" sergah Syafira cepat. Membuat Bara sedikit tersenyum.
"Iyalah, kamu udah ketutup matanya. Yang ada di mata kamu cuma kakak doang," sahut Varel.
Syafira langsung terdiam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tak membantah ucapan Varel namun juga tak mengiyakan secara langsung.
🌼 🌼 🌼
Selesai makan malam, uwak langsung mengajak Bara dan Varel untuk beristirahat di kamarnya," Rumah ini hanya ada tiga kamar, yang satu tidak pernah di tempati dan menjadi gudang. Yang sebelah di tempati Adel dan Fira. Kalian bisa beristirahat di sini," terang uwak sesaat setelah maduk ke dalam kamarnya.
"Melihat situasi yang ada, tidak mungkin kan malam ini Pak Bara tidur dengan Fira? Meski uwak tahu kalian sudah saling rindu," goda uwak kemudian. Membuat Bara sedikit mengangkat sudut bibirnya ke atas.
"Lalu, uwak tidur di mana kalau kami tidur di sini?" tanya Bara yang merasa tak enak.
"Uwak mah gampang, bisa tidur dimana saja. Gelar tikar atau tidur di rumah anak uwak, rumahnya di sebelah, dekat," sahut uwak.
"Tapi wak, biar Bara sama Varel yang tidur di tikar," sergah Bara cepat,
" Sudah, Uwak akan tidur di rumah anak uwak, jangan khawatir, biasa uwak tidurnya pindah-pindah nggak mesti di kamar," jelas uwak.
" Istirahatlah, besok baru ajak Syafira bicara dari hati ke hati. Uwak tinggal dulu," uwak menepuk bahu Bara sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua di dalam kamar yang tak luas tersrbut.
" Kita tidur seranjang ini kak?" tanya Varel.
"Nggak lah, aku di kasur, kamu di lantai," sahut Bara bercanda.
Varel hanya berdecak menanggapinya. Ia langsung menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kasur dengan keras. Ia langsung meringis, karena kasur tersebut bisa di bilang cukup keras karena dimakan usia.
Bara menahan tawanya," Di pikir ini hotel! Main ambruk aja," ucap Bara.
Bara yang memang belum mengantuk memutuskan untuk keluar dari kamar. Ia menuju ke dapur dimana Syafira kini tengah membersihkan peralatan makan malam mereka tadi. Karena Syafira sendiri, ia menghampiri sang istri.
"Kamu nggak kangen sama mas?" tanya Bara tiba-tiba membuat Syafira sedikit terkejut dan langsung menoleh ke sumber suara.
Syafira tak menjawab, ia kembali melanjutkan mencuci piring.
"Kamu masih marah sama mas? Maaf mas baru bisa datang cari kamu," lanjut Bara, ia mengambil alih piring yang baru saja Syafira bilas dan meketakkannya di rak.
"Mas kenapa kesini?" tanya Syafira tanpa menoleh, ia melanjutkan membilas piring di depannya.
"Karena istri mas di sini," jawab Bara pendek.
"Aku nggak minta mas kesini," entahlah, harusnya Syafira merasa senang karena suaminya kini berada di sampingnya. Akan tetapi, ia masih saja gengsi untuk mengakuinya.
"Uwak yang minta mas kesini, katanya ada yang rindu sama mas," sahut Bara, ia memicingkan matanya, penasaran dengan reaksi sang istri.
"Mungkin uwak yang rindu," timpal Syafira tanpa menoleh.
"Kamu nggak rindu mas Sayang?"
"Mas..." ucap Syafira dengan nada peringatan. Seolah ia ingin mengatakan kalau hubungan mereka masih belum baik-baik saja.
"Sampai kapan Fir? Waktu itu mas larang kamu bicara apapun karena kamu dalam keadaan marah. Sekarang apa masih marah?" tanya Bara.
"Iya, makanya aku nggak mau bicara, atau mau aku bicara sekarang soal rumah tangga kita?" pura-pura Syafira. Jujur ia sangat bingung dengan keadaan saat ini.
"Aku butuh waktu, kenapa mas malah nyusul kesini?"
"Sampai kapan? Mas nggak bisa lagi menunggu, anak-anak nggak bisa lagi menunggu. Kali ini kamu me timenya kejauhan, kalau uwak nggak telepon mas, mas nggak akan bisa nemuin kamu. Kamu beneran mau ninggalin mas?"
"Mas tahu sendiri kan sekarang keadaannya gimana? Semuanya nggak semudah itu, nggak hanya cukup dengan aku memutuskan untuk maju atau mundur. Bukan cuma itu masalahnya..." mata Syafira memanas. Ia merasa dadanya begitu sesak. Berada diantara dua orang yang sangat ia cintai dan harus memilih, itu sangat menyakitkan. Terlebih sekarang ada anak dalam perutnya, ia tak bisa memutuskan begitu saja.
Syafira mencuci tangannya setelah selesai mencuci peralatan makan malam mereka. Ia menoleh ke arah lap yang menggantung di dekat Bara. Tanpa diminta, Bara mengambil lap tersebut dan memberikannya kepada Syafira.
"Aku capek, mau istirahat. Mas juga capek kan, mas istirahat," kata Syafira seraya berjalan keluar dari dapur.
"Adel kan masalahnya? Mas hanya perlu tahu Fir, sebenarnya, sejujurnya, dari hati kamu yang paling dalam, kamu masih ingin bersama mas atau tidak? Di luar masalah Adel," tanya Bara serius. Buat dia, jawaban Syafira sangat penting untuk mengambil langkah selanjutnya.
Syafira terdiam. Sudut matanya sudah penuh dengan cairan bening yang siap membasahi pipinya mendengar pertanyaan Bara. Ia menghentikan langkahnya, begitupun Bara.
"Apa sepenting itu jawabanku mas?" tanya Syafira tanpa berani menoleh, menatap suaminya.
"Penting, sangat penting. Mas rasa waktu yang mas berikan sudah lebih dari cukup untuk memikirkan kembali perasaanmu buat mas. Yang terpenting buat mas adalah kebahagiaan kamu. Jawaban kamu, yang akan menentukan langkah yang akan mas ambil selanjutnya," ucap Bara.
Deg! Tiba-tiba jantung Syafira berdesir, langkah selanjutnya? Apakah itu artinya jika ia mengatakan tak ingin bersama lagi, maka suaminya akan menyerah dan menceraikannya?
" Mas sendiri bagaimana?" Syafira balik bertanya.
" Yang terpenting itu kamu Fir, bagaimana? Mas akan melakukan yang kamu inginkan,"
"Oh, jadi mas nggak mau berjuang, begitu? Kalau aku bilang masih ingin, mas lanjut, jika tidak mas akan menceraikan aku begitu?"
"Bukan begitu Fir. Kamu lebih tahu bagaimana masmu ini. Kamu pasti tahu apa yang mas inginkan. Tapi apa pentingnya keinginan mas kalau kamunya ingin menyerah dan ingin menyudahinya,"
🌼 🌼 🌼