
Sementara itu, di apartemen dokter Rendra, dokter Niken tampak sedang memencet bel. Tak lama kemudian, pemilik apartemen tersebut membukakan pintu.
"Ken, udah datang?" tanya Dokter Rendra.
"Hem, aku berangkat sore ini, jadi aku antarnya sekarang, nggak apa-apa kan?" ucap dokter Niken.
"Ya nggak apa-apa dong, ayo masuk dulu!"
"Nggak, aku buru-buru. Aku langsung aja. Tasya, mama tinggal ya, jangan nakal sama papa," pamit dokter Niken dengan putri semata wayangnya.
Gadis cilik yang kin sedang memeluk boneka teddy itu mengangguk.
"Aku pergi, dulu. Titip Tasya ya, Rend?" pamit dokter Niken.
"Dia juga anakku, Ken. Pasti aku jagain dia," sahut dokter Rendra.
Setelah mencium pipi kanan kiri juga kening Tasya, dokter Niken memutar badannya llu melangkah pergi.
"Ken!" panggil dokter Rendra.
Dokter Niken menghentikan langkahnya lalu menoleh, "Ya..?"
"Hati-hati... Nanti kalau sudah pulang, kita jalan-jalan bertiga," ucap dokter Rendra.
Dokter Niken tersenyum lalu mengangguk, sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya untuk pergi.
Ya, setelah dokter Rendra tahu kalau Tasya adalah anaknya, ia mendapat jatah bersama Tasya dua minggu sekali saat weekend. Tapi, kali ini dokter Niken mengantar Tasya hari jumat karena ia akan pergi ke luar kota beberapa hari.
Sebenarnya, dokter Rendra sudah mengajak dokter Niken untuk menikah, namun wanita itu mengatakan jika untuk saat ini ia nyaman seperti ini. Dokter Niken tidak ingin laki-laki yang sampai saat ini masih ia cintai tersebut terpaksa menikahinya dengan menjadikan Tasya sebagai alasannya.
Ia tak ingin dokter Rendra menyesal, jika memang takdir mereka tidak akan pernah menikah, dan dokter Rendra menemukan wanita lain yang dicintai, ia tak apa-apa, yang terpenting anaknya mendapatkan kasih sayang dari mereka utuh.
Dokter Rendra juga kini sedang berusaha, berusaha menumbuhkan cinta untuk wanita yang telah melahirkan putri cantiknya tersebut. Ia bisa mengerti kenapa dokter Niken menolak menikah dengannya. Pernikahan yang tidak di landasi atas dasar saling mencintai tidak semuanya akan berakhir bahagia karena takdir setiap manusia itu berbeda satu sama lainnya.
Pada akhirnya, mereka berdua menikmati situasi yang ada saat ini, namun juga tidak menolak jika suatu saat takdir akan membawa mereka ke dalam sebuah pernikahan dan tentu saja, saat itu dokter Niken harus memastikan jika dia adalah satu-satunya wanita yang di cintai oleh dokter Rendra.
"Sayang, ayo masuk! Papa mau siap-siap dulu, habis ini kita ke rumah om Bara," ucap dokter Rendra.
"Om Bara, pa?"
"Iya, om Bara nggak enak badan, Onty Fira mibta papa buat periksa, Tasya ikut ya? Kan bisa main sama si kembar, ada dedek Zio juga," kata dokter Rendra.
Tasya mengangguk, "Tasya senang ketemu dedek Zio, pa. Lucu!" ujar gadis cilik itu dengan riangnya.
🌼 🌼 🌼
Seperti inilah suasana kediaman Osmaro sore itu, dimana Syafira tak berada di rumah. Ketiga anaknya asyik bermain di tunggui oleh daddy mereka yang masih saja enggan untuk melakukan aktivitas. Hanya rebahan dan rebahan sambil sesekali berlari menyusul baby Zio jika putra bungsunya itu sudah berjalan terlalu jauh dan mendekati bahaya. Suara teriakan Nala yang akan membuat matanya terbuka lebar.
"Aaaaarrgghh, daddy! Itu dedek Zio jalan udah sampai kolam renang!" teriak gadis cilik itu.
"Astaga!" dengan cepat Bara berlari dan menyambar baby Zio sebelum nyemplung di kolam.
"Hampir saja," gumam Bara seraya menghela napas panjang. Tidak bisa ia bayangkan jika sampai baby Zio masuk ke kolam, bisa-bisa ia kena amukan Syafira.
"Di tutup saja pintunya dady, biar Zio nggak bisa kemana-mana," saran Nathan akhirnya, karena dia juga capek mendengar teriakan Nala.
"Maaf Tuan, saya baru saja buat susu buat den Zio," ucap baby Sitter setelah berlari dengan tergopoh-gopoh.
"Jagain Zio sebentar," ucap Bara.
"Baik Tuan," Suster langsung mengambil alih baby Zio. Tapi bayi itu menggerak-gerakkan kakinya minta di turunkan.
"Sini sini dedek Zio. Kita main dokter-Dokteran!" seru Nala.
Baby Zio berjalan pelan mendekati Nala sambil memegangi dot yang barusaja di berikan oleh suster.
"Ayo duduk! Dedek Zio asien pertama dokter syantik ya, nanti Athan yang kedua, antre dulu hihi," ujar Nala sambil memasang stetoskop mainan di telinganya.
"Tiduran, dedek Zio. Jangan berdiri!" sergah Nala menekan pundak Zio pelan, ketika kaki baby Zio sudah merasa gatal ingin berdiri dan berjalan. Baby Zio yang baru saja bisa berjalan, mana bisa di suruh anteng. Bisa diam jika sedang tidur, itupun tetap bergerak ke sana sini, seerti gangsing. Tidak ada kata anteng, kecuali sedang masuk angin.
Nala sedikit memaksa baby Zio untuk tiduran di atas permadani. Akhirnya setelah beberapa kali memaksa, baby Zio patuh. Ia tiduran pasrah sambil mengenyot dotnya.
"Athan! Lihat ini, lengan dedek Zio di gigit apa?" ucap Nala panik saat melihat lengan bayi gempal itu merah dan sedikit benjol.
Nathan mendekat, "Nyamuk mungkin," jawab Nathan.
"Nanti bilang bunda, kalau bunda udah pulang," imbuh Nathan santai lalu kembali ke mainannya.
"Waahhh ini terluka, sebentar ya? Dokter syantik ambil obat dulu," Nala berlari ke kamar untuk mengambil minyak telon. Setelah kembali ia dengan tekun mengoleskan minyak telpon tersebut ke lengan baby Zio yang memerah.
"Udah diobati ya lukanya, jangan nangis lagi, nanti sembuh kok," ucap Nala.
Bayi itu seakan tak peduli dengan apa yang di lakukan oleh Nala, ia menikmati susunya dengan mata setengah terpejam karena mengantuk.
"Wah, pasien Zio pingsan, tolong dong!" teriak Nala. Baby Zio yang hampir terlelap kaget dan hampir menangis.
"Nala, jangan teriak - teriak, Zio mau tidur itu, dia ngantuk! Kalau di ganggu terus, nanti nangis, bunda nggak di rumah!" peringat Nathan.
Nala cemberut, "Gantian Athan, ayo sini, Nala periksa!"
"Nggak!" tolak Nathan tegas.
"Harus mau!"
"Nggak, jangan maksa!"
Gadis cilik itu mengeluarkan jurus andalannya, ia bersiap untuk menangis, bibirnya sudah mulai bergetar, matanya berkaca-kaca. Nathan mendengus sebal.
"Iya iya, sini. Mau diperiksa apanya? Jangan nangis, cengeng, kan udah besar. Mlu sama dedek Zio," ucap Nathan pasrah, dari pada melihat adiknya menangis.
Raut wajah Nala langsung berubah cerah, secerah sinar mentari pagi.
Nathan tersenyum lega saat melihat Tasya datang bersama dokter Rendra.
" Selamat selamat!" gumamnya. Karena sudah di pastikan jika setelah ini, perannya sebagai pasien Nala akan di ganti kan oleh Tasya.
"Itu ada Tasya, mainnya sama Tasya aja ya, aku mau lihat paman Tiger dulu!" ucap Nathan yabg langsung ngacir kabur dari sana.
🌼 🌼 🌼