Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 68


"Tapi daddynya kan tidak sama mama juga. Daddynya sendirian di rumah. Kesepian butuh teman bobok,"


Mata Syafira memicing mendengar suaminya bilang butuh teman bobok, di pikir bantal guling apa. Syafira tak habis pikir.


"Jangan marah lagi ya? Nanti kita pulang ya, kalau kamu tidak pulang mama pasti akan tambah marah. Kemarin aja saya di bilang beg* sama mama," Syafira ingin tertawa membayangkan ketika bu Lidya menceramahi suaminya. Benar-benar keren bu Lidya berani mengatai Bara beg*.


"Fir, bicara dong jangan diam saja. Saya berasa ngomong sama patung kalau kamu diam begini. Fir..." Bar meraih tangan Syafira, di genggamnya erat.


"Daddynya kan udah ada photo istrinya, apa gunanya aku yang tak lebih dari seorang istri rasa baby sitter," cebik Syafira sambil melepas tangan Bara.


"Kamu juga istri saya. Saya tahu saya salah, sudah memarahi kamu buat hal yang tidak kamu lakukan. Mama sudah cerita," balas Bara meraih tangan Syafira kembali.


"Hem, kalau ibu nggak cerita berarti mas Bara juga nggak bakal nyariin aku karena merasa bersalah kan?"


"Tetap saya cari," jawab Bara.


"Kenapa kemarin nggak bisa bilang baik-baik begini? Aku kan bisa jelasin baik-baik juga kalau mas Bara nggak langsung ngegas. Mas Bara udah tua tapi tidak bisa ngemong aku, main tuduh aja. Aku sedih jadinya," jujur Syafira matanya sudah berkaca-kaca.


"Kenapa kemarin kamu nggak bilang yang sebenarnya sama saya? Biar saya tidak salah paham,"


"Bagaimana mau bilang, mas Bara aja ngegas terus.


"Mas Bara tuh nggak adil sama aku, kalaupun photo mas Bara sama mbak Olivia di ambil, kan masih ada banyak photo mbak Olivia di ponsel mas Bara kan, sementara aku? Boro-boro lah, nokor ponsel aja nggak tahu disimpan apa engak. Kenapa harus sampai marah begitu, aku udah kembaliin photo kalian seperti semula, aku udah nggak ada hutang sama mas Bara," pelupuk matanya semakin berkaca-kaca.


"Jangan nangis," ucap Bara lembut.


"Enggak nangis, cuma kelilipan aja," bantah Syafira.


Bara menangkup kedua pipi Syafira dengan kedua tangannya. Diusapnya lembut air mata Syafira yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.


"Cek saja ponsel saya, ada photo siapa saja di galerinya," Bara memberikan ponselnya kepada Syafira.


"Nggak mau, nggak siap di bikin patah hati," tolak Syafira.


"Lihat dulu coba, mau patah hati atau senang hati setelahnya saya angkat tangan," Bara membuka pola ponselnya dan langsung menuju galeri.


"Ini lihat dulu,"


"Ih maksa!" Syafira hanya melirik ponsel Bara. Eh, yang dia lihat kok Photo dia semua.


Syafira cepat mengambil ponsel Bara, di geser-geser terus, ada banyak photo dirinya, beberapa photo Olivia dan ada beberapa photo si kembar juga. Rupanya, selama ini Bara sering diam-diam mengambil gambar Syafira menggunakan ponselnya. Syafira tak melihat ada satupun photo Olivia bersama Bara. Kalau ingat waktu menikah, bu Lidya harus memaksanya buat photo sih bisa di simpulkan kalau Bara anti kamera orangnya.


"Kapan ini photonya, kok aku nggak tahu," ucap Syafira sambil terus melihat photo-photo itu.


"Jelek-jelek photonya, ih mas Bara masa photo beginian di simpan sih. Kalau ngefans tuh bilang aja, jangan nyolong photo begini. Kan aku bisa pose kalau mau di foto. Pantas saja sering bilang lebih cantikan mbak Olivia, orang photonya aja kayak bumi sama langit begini, njomplang. Mbak Olivia cantik-cantik, aku seperti upik abu," celoteh Syafira mengomentari foto-fotonya yang menurutnya enggak banget.


"Aku hapus ya," ucap Syafira kemudian.


"Jangan!" Bara merebut kembali ponselnya.


"Jelek begitu!"


"Nggak apa-apa, ini lebih natural,"


"Mau buktikan apa dengan menunjukkan photo itu?" tanya Syafira.


"Saya cuma ingin kamu tahu, kalau kamu sudah bersemayam disini, tapi saya tidak tahu bagaimana menunjukkannya kepada kamu," Bara menarik tangan Syafira supaya menyentuh dadanya.


"Ya bilang jujur aja kenapa, gengsi amat jadi orang. Yang ada malah marah-marah terus. Mana aku tahu isi hati mas Bara," ujar Syafira, berusaha menyembunyikan senyumnya karena merasa senang, ternyata Bara menyimpan photonya juga, walaupun jelek.


"Iya saya tahu saya salah, yang penting kan saya sudah minta maaf sama kamu. Mau kan maafin, baikan yah?"


"Dih kapan minta maafnya? Dari tadi ditungguin permintamaafannya tapi nggak keluar juga dari mulut mas Bara,"


"Tuh kan, kebanyakan marah-marah jadi mudah lupa, makin pikun kan jadinya,"


Bara hanya mampu menghela napasnya panjang menghadapi istrinya yang masih dalam mode merajuk.


"Ya udah saya minta maaf ya," Bara mengulurkan tangannya tangannya, untuk meminta maaf.


Syafira menyambut tangan suaminya tanpa bersuara.


Krucuk-krucuk! belum di jawab oleh Syafira apakah dimaafkan atau tidak perut Bara sudah berbunyi karena lapar.


"Belum makan dari kemarin karena sibuk cari kamu. Di tambah lagi nggak ada masakan kamu di rumah malas makan, nggak selera" ucap Bara nyengir.


"Orang kaya, nggak ada makanan kok susah, gunain uangnya buat beli makan enak sesuai selera mulutnya,"


"Seleraku cuma masakan kamu," sahut Bara.


"Dulu emang sebelum ada aku mas Bara nggak pernah makan? Modus, bilang aja mau di masakin," Syafira langsung berdiri untuk memasak.


Bara masih duduk sambil memperhatikan istrinya masak.


"Masak apa?" tanya Bara yang kini sudah berdiri tepat di belakang Syafira.


"Nasi goreng aja yang cepat, di sini nggak ada banyak bahan makanan soalnya," jawab Syafira, nada bicaranya masih ketus.


"Makasih, marahpun masih tetap memikirkan perut suami," Bara mengecup pipi Syafira.


"Mas Bara jangan godain aku terus, takutnya aku baper dan anggap mas Bara mencintai aku, kan repot jadinya,"


"Kenapa harus repot?"


"Repotlah, anak perawan kalau patah hati serem tahu bisa nekad, udah ah minggir sana ntar lama jadinya. Katanya lapar. Mas Bara nggak ngerti amat sih, emang nggak peka. Aku tuh masih ada level marahnya, meskipun sedikit," ucap Syafira. Ia kesal, tadi Bara bilang kalau Syafira sudah menempati hatinya, tapi laki-laki itu tidak mengatakannya dengan jelas. Sebenarnya apa maksud dari ucapannya itu, apakah sudah cinta atau belum.


Bukannya menjauh, tapi Bara malah melingkarkan tangannya ke perut Syafira. Napasnya terasa jelas ditelinga Syafira. Membuat bulu kudunya berdiri.


"Mas Bara, lepas!" rengek Syafira.


"Masak saja, saya tidak ganggu," cuek Bara.


Nih orang, emang kadar kepekaannya nol sepertinya, tahu istrinya masih marah, malah dia sengaja menggodanya.


"Aku ketok pakai spatula nih kalau nggak lepas!" ancam Syafira.


"Ketok saja, cuma spatula ini, kalau pakai pisau saya baru takut, masih pengin hidup sama kamu,"


Syafira mencebik dan akhirnya mengalah, membiarkan Bara memeluknya. Tidak mungkin juga dia beneran memukul suaminya pakai spatula, nggak mau jadi istri durhaka. Dan bisa masuk pasal KDRT nanti.


"Fir..."


"Apa mas?" sahut Syafira tanpa menoleh.


"Apa artinya I Love You?" tanya Bara.


"Anak SD juga tahu kali mas artinya,"


"Iya apa?"


"Aku cinta kamu," jawab Syafira.


"Aku juga cinta kamu," bisik Bara berbisik tepat di telinga Syafira.


🌼🌼🌼