
"Kok melongo? Sudah paham sekarang maksudnya?" tanya Bara.
Syafira malah cekikikan menanggapi pertanyaan suaminya. Membuat Bara menautkan kedua alisnya.
"Ya ampun mas Bara, ternyata...."
"Apa? Kenapa?"
"Ternyata mesum ih. Aku kira tuh ya mas Bara itunya nggak normal tahu," menunjuk milik Bara.
"Kok gitu?" lagi-lagi kening Bara mengkerut.
"Ya habisnya mas kayak kanebo kering gitu kalau aku goda, nggak ada respon sama sekali," celetuk Syafira.
"Kamu nggak tahu aja bagaimana aku dulu menahannya Fir, setengah hidup aku nahan si otong setiap kali berontak gara-gara kamu," batin Bara.
"Terus kamu suka yang dulu apa sekarang?" tanya Bara.
"Emm, gimana ya? 50:50 lah mas,"
"Kok gitu?" kening Bara mengkerut.
"Ih jangan kebanyakan mengkerut keningnya, nanti garis tuanya makin kelihatan mas," ucap Syafira, tangannya mengusap kening suaminya.
"Malah ngomongin kening. Jawab dulu pertanyaan mas sayang,"
"Tuh kan sekarang aja panggilnya sayang-sayang. Kemarin beuh, manggil nama aku aja kayak berat, beban banget. 50:50 tuh gimana ya jelasinnya. Suka yang macam kanebo kering karena aku aman dari tugas negara jadi istri, jadi nggak kelelahan kayak sekarang. Kalau yang sekarang bikin lelah jadinya tapi juga suka juga sih karena..."
"Enak kan?" Bara tersenyum menyeringai.
"Tahu ah..." Syafira tersipu malu.
"Heleh malah malu-malu,"
"Emm...habis ini mau kemana mas? Pulang atau mau ajak aku kemana lagi?" tanya Syafira.
"Nggak kemana-mana. Kita akan terus di kamar sampai besok," jawab Bara.
"Ih bosan,mau ngapain coba di kamar hotel terus. Pengin jalan-jalan. Atau pulang aja lah, aku udah kangen sama anak-anak,"
"Please dua hari lagi saja, kita habiskan waktu bersama di sini,"
"Lah, mau ngapain juga dua hari di sini mas. Aku juga harus nyiapin buat magang juga,"
"Udah mau magang ya? Magang di mana? Perusahaan mas aja ya?"
"Ogah!"
"Kenapa begitu? Bukannya malah senang bisa lihat mas terus, ntar mas urus semuanya biar kamu nggak berat-berat kerjanya,"
"Iya kerjanya nggak berat-berat, tapi pasti berat di badan. Bukannya suruh bekerja malah takutnya suruh telentang terus,"
"Kan sama-sama kerja, kerja buat nyenengin suami, nanti gajinya plus-plus," Nah, otak mesumnya kumat lagi. Syafira sih, mancing-mancing. Padahal tadi Bara beneran nawarin buat magang beneran. Tanpa Syafira ketahui, Bara merupakan donatur terbesar di perguruan tinggi dimana Syafira kuliah.
"Kan kan kan, ke situ lagi arahnya," Syafira memutar kedua bola matanya malas yang membuat Bara terkekeh.
🌼🌼🌼
Dua hari sudah mereka menghabiskan waktu bersama di hotel. Bara benar-benar mengurung Syafira. Tak melulu soal pergulatan di atas tempat tidur, namun intinya soal kebersamaan mereka berdua secara intim. Berdua saja, ya hanya berdua. Benar-benar menghabiskan waktu berdua dengan memang sesekali memadu kasih layaknya pasangan pengantin baru.
Bara benar-benar menunjukkan perasaannya tanpa malu dan gengsi lagi. Begitu pun Syafira, seorang perempuan yang sedang di mabuk asmara oleh perlakuan romantis sang suami.
Hari ini mereka berdua akan pulang ke Jakarta. Namun, sebelum pulang, Bara mengajak Syafira jalan-jalan lagi menggunakan mogenya. Mereka berhenti di hamparan rumput ilalang yang luas dan indah.
"Woaahhh amazing! Ini tempat bagus banget mas!" Seru Syafira yang langsung turun dari Motor dan berlari ke tengah hamparan ilalang tersebut. Sementara Bara memarkirkan mogenya.
"Lepas dulu helmnya Fir," ucap Bara yang kini sudah menyusul Syafira. Syafira menoleh dan otomatis Bara melepaskan helm yang di pakai istrinya.
Begitu helmnya di lepas, Syafira langsung berlari kembali sambil merentangkan kedua tangannya. Tangannya menyentuh ilalang-ilalang yang bergoyang-goyang diterpa oleh angin.
"Woaaaahh keren. Harus photo-photo ini mas. Buat kenang-kenangan!" seru Syafira menoleh ke arah suaminya yang berjalan santai ke arahnya.
"Buat apa? Menuh-menuhin memory saja," sahut Bara.
"Ih, dari pada yang di simpan photo-photo jelek begitu mending ambil lagi yang bagus, yang itu di hapus aja,"
"Nggak apa-apa, aku suka yang udah ada itu. Kamu kelihatan lebih natural apa adanya tanpa di buat-buat," ucap Bara.
"Apa?"
"Ponsel mas Bara, siniin!" Syafira menjentikkan jari-jari tangannya untuk meminta ponsel suaminya.
"Buat apa?"
"Photo lah mas, buat apa lagi," jawab Syafira.
"Kan ada ponsel kamu,"
"Punyaku ponselnya cuma ada satu mata, burem lagi hasilnya, nggak kayak punya mas Bara yang punya mata tiga dan canggih," ucap Syafira.
"Ini, nanti beli yang matanya lima kalau ada buat kamu," ucap Bara sambil menyodorkan ponsel pintarnya kepada Syafira.
"Ck, mana ada lima matanya," cebik Syafira meraih ponsel itu langsung fokus membuka aplikasi kamera.
Syafira asyik berselfie sementara Bara duduk sambil memperhatikan istrinya dan sesekali ia tersenyum melihat tingkah lucu sang istri.
Merasa kurang puas hanya berselfie, Syafira mendekati Bara dan memintanya untuk mengambil gambarnya. Bara berdiri sambil dan mendekatinya. Ia melakukan apa yang diminta Syafira.
"Udah ya?" Bara kembali menyerahkan ponselnya dan duduk kembali. Syafira ikut duduk di samping suaminya karena lelah.
"Mas Photo berdua yuk!" ajaknya.
"Buat apa?"
"Ih sejak tadi tanya buat apa buat apa, ya nggak buat apa-apa. Buat kenangan aja. Kan belum ada photo kita berdua mas,"
"Ada, photo nikah," sahut Bara santai.
"Ih bedalah, ayolah sekali aja. Masa sama mbak Olivia ada sama aku nggak ada,"
" Ya udah ayo!" Bara tidak ingin Syafira merasa kalau Bara tidak adil. Syafira langsung tersenyum dan langsung menaikkan ponselnya sedikit keatas untuk selfie berdua.
"Satu dua ti..." Baru mau menghitung ke tiga, Bara mencium pipi Syafira dan kamera langsung menangkap gambar mereka.
Syafira tersenyum melihat hasil photo mereka berdua, pas banget ketika Bara menciumnya.
"Lagi ya mas?"
"Udah ah!" Bara mengambil ponselnya dari tangan Syafira lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
"Ck, nanti kirim ke ponselku ya?"
"Nggak mau!" sahut Bara.
"Ih harus pokoknya, kalau nggak sini, aku kirim sekarang aja!" Syafira hendak mengambil ponsel itu dari saku celana Bara tapi Bara menghindar. Syafira terus berusaha dan malah tanpa sengaja menyentuh Bara junior.
"Kan kamu ambil kesempatan terus," goda Bara.
"Apa sih, kok malah aku. Mas Bara tuh yang nggak mau kasih ponselnya," sahut Syafira melengos menghindari tatapan Bara. Namun, Bara terus memandangi istrinya tersebut tanpa berpaling.
"Fir..." panggil Bara.
"Hem..." Sahut Syafira tanpa menoleh.
"Fira...Sayang..." panggilnya lagi.
"Apa sih mas," dan Syafira pun akhirnya menoleh. Pandangan mereka langsung bertemu.
Cukup lama bersitatap, Bara mulai memajukan wajahnya untuk mencium Syafira. Syafira membalas ciuman Bara. Ia mengalungkan kedua tangannya dileher Bara. Semakin lama ciuman mereka semakin dalam.
Saat asyik melakukan aktivitas setengah panas tersebut, tiba-tiba ada bunga ilalang yang terbang dan jatuh di kepala Syafira. Membuat Syafira tersentak kaget dan menyudahi ciuman mereka. Syafira langsung menunduk malu-malu. Ini pengalaman pertamanya berciuman di tempat terbuka seperti itu. Biasanya selalu mereka lakukan di dalam kamar. Membayangkan bagaimana kalau ada yang lewat dan melihat, pipinya langsung merah.
Bara tersenyum, ia mengambil bunga ilalang yang masih nangkring di kepala sanga istri.
"Mau ngapain?" Syafira langsung siaga mode on.
"Mau ambil ini, masa mau kamu sunggi sampai rumah," ucap Bara. Syafira tersenyum, ia berpikir terlalu mesum, pikirnya.