Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 112


Bara langsung mendekati Syafira yang tiba-tiba berdiri mematung dengan wajah sangat syok.


"Sayang, mas bisa jelasin semuanya, tolong dengarkan mas dulu," ucap Bara yang sudah panik.


"Aku dengar barusan itu benar mas?" tanya Syafira.


"Sayang, dengarkan penjelasan mas, mas mohon," Bara mencoba lebih mendekat ke arah Syafira, tangannya berusaha meraih tangan sang istri. Namun, Syafira mundur satu langkah menjauhi Bara.


"Cukup katakan, benar atau pendengaranku yang salah. katakan yang aku dengar barusn itu tidak benar! Jawab mas!" sungguh Syafira berharap ia salah dengar. Seluruh tubuhnya gemetar, takut akan kenyataan Yang akan ia dengar dari suaminya.


"Fir..." Bara maju satu langkah lagi, dan lagi-lagi Syafira mundur satu langkah.


"Jawab mas, katakan kalau aku salah dengar!"


"Maafin mas, mas benar-benar tidak sengaja," jawaban dari Bara seperti sebuah godam yang menghantam tepat di jatung Syafira. Matanya semakin terasa panas hingga air matanya langsung lolos begitu saja.


"Biarkan mas jelasin dulu Fir, mas mohon," tukas Bara dengan cepat.


"Cukup! Hanya itu yang ingin aku dengar mas, ternyata selama ini mas bohongin aku, mas yang udah buat ayah meninggal!" air mata Syafira terus saja jatuh tanpa ampun. Terlalu sakit menerima kenyataan itu. Syafira yang ingin mengeluh dan bersandar di bahu suaminya atas apa yang ia alami seharian ini di rumah sakit malah seperti tersambar petir di siang bolong.


" Aku tahu sekarang, mas menikahi aku karena mas merasa bersalah karena sudah menabrak ayah dan Adel bukan?" tiba-tiba syafira merasa ragu akan cinta Bara kepadanya. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Ingin menertawakan betapa bodohnya dia selama ini yang mengira kalau Bara beneran tulus mencintainya.


"Tidak sayang, bukan begitu... Mas benar-benar sayang, cinta sama kamu. Kamu Tenang dulu, mas akan jelaskan, kita bicara baik-baik," Bara mencoba maju untuk meraih tangan Syafira, namun lagi-lagi Syafira mundur satu langkah. Tetap menjaga jaraj dengan Bara, seakan ia enggan untuk di sentuh suaminya tersebut.


Bara berhenti tepat di atas pecahan cangkir dan piring yang terjatuh , kaki telanjangnya pasti sudah terkena beling tersebut terbukti dengan raut wajahnya yang sedikit meringis. Nmun, ia tak menghiraukan luka di kakiknya. Ia tahu, pasti Luka di hati Syafira jauh lebih sakit.


Syafira yang melihat Bara menginjak beling itu sempat terkejut dan ikut meringis, seolah ia ikut merasa sakit. Namun, hatinya yng sedang di landa egois, kecewa dan sedih yang mendalam membuatnya berusaha mengabaikan luka di kaki suaminya. Jika keadaan gak sedang genting seperti ini, asti ia sudah sibuk berlari mencari kotak p3k dan langsung mengobati luka suaminya. Taoi tidak dengan sekarang, hatinya terlalu sakit.


"Cukup mas, jangan maju lagi atau aku tidak mau bicara sama mas Bara lagi," hanya itu yang bisa Syafira lakukan, membiarkan Bara terus berjalan mendekatinya yang sudah terpojok di belakang pintu hanya akan semakin membuat kaki Bara terluka karena semakin banyak menginjak beling.


"Maafin mas, waktu itu mas benar-benar tidak sengaja," Bara hanya bisa memibta maaf Berkali-kali. Untuk menjelaskan kepada Syafira saat ini, mungkin bukan waktu yang tepat. Apa istrinya akan dengn mudahnya percaya? apalagi Syafira terlihat sangat marah dan kecewa. Mungkin dia akan menuduh Bara berbohong dan berusaha memebela diri.


"Kenapa mas tega sama aku, mas udah buat ayah meninggal, dan mungkin sebentar lagi aku juga akan kehilangan Adel, PUAS SEKARANG MAS! SEMUA GARA GARA MAS BARA, AKU BENCI! PUAS MAS!" air mata tak pernah berhenti keluar. Pikirannya melayang ke waktu saat ayahnya meninggal , lalu Adel yang terbaring di rumah sakit, bagaimana kalau ia benar-benar akan kehilangn Adel juga. Hancur sudah semuanya, tak ada lagi yang bisa ia harapkan.


" Kenapa selama ini aku terlalu bodoh, ayah maafin Fira..." tangis Syafira kini terasa sangat memilukan. Tubuh Bara lemas seaakan kehilangan tulang-tulangnya mendengar tangis pilu sang istri. Ia ingin merengkuh tubuh kecil itu dan mendekapnya dengan erat dan memehon ampun, namun pasri Syafira akan meneolak. Jangankan di pekuk, melihat mukanya saja saat ini terlau menyakitkan.


Syafira tak kuat lagi, ia mengusp wajahnya kasar lalu memutar badannya dan keluar dari ruangan yang baru saja membuat dadanya terasa amat sesak tersebut. Jika memgetahui kenyataan soal kecelakaan ayah dan adiknya semenyakitkn ini, ia lebih memilih untuk tidak pernah tahu, ia lebih memilih tetap bodoh dan menganggap Bara sebagai suamin sempurnanya.


Bara mencabut beling di kakinya secara paksa dan melemparnya asal. Ia langsung menyusul Syafira dengan langkah kaki sedikit berjinjit karena lukanya.


"Fir tunggu Fir, kita bicara baik-baik. Mas mohon!" seru Bara namun diabaikan oleh Syafira yang terus berjalan dengan langkah cepat di depannya.


"SYAFIRA MAHARANI!" kali ini Bara memanggilnya dengan nama lengkap, yang artinya ia sendiri sudah hampir kehilangan kesabaran. Masaah perusahaan yang sedang kacau bersamaan dengan terbongkarnya kesalahannya di masa lalu, membuat kepalanya serasa mau pecah. Ia tak menyalahkan Syafira jik istrinya itu marah besar, namun ia juga berharap jika Syafira berbesar hati mau mendengarkan penjelasan dan memaafkannya.


Akan tetapi, sikap Syafira yang akhir-akhir ini sangat sensistif, tidak bisa membuatnya dengan mudah memberikan maaf kepada Bara. Rasa kecewa itu terlalu dalam ia rasakan. Ini terlalu mendadak, ia belum bahkan bisa di bilang tidak siap untuk menghadapi Bara.


Syafira terus berjalan menuju ke tangga tanpa memeprdulikan teriakan suaminya, ia terhenyak ketika ia melihat si kembar yang kini sedang menatapnya bingung. Ya, asti mereka bingung karena melihat bundanya dalam keadaan kacau dan mata sembab.


"Bunda kenapa? Bunda nangis lagi? Daddy marah sama bunda?" tanya Nala yang mendekat mendekat bersama Nathan, anak-anak itu pasti mendengar teriakan daddynya barusan.


"Dadsy, jangna marahin bunda. Daribtadi bunda udah nangis terus. Aunty syantik enggak mau bangun. Kata om dokter enggak ada harapan, harapan apa daddy?" tanya gadis cilik itu dengan polosnya tanpa tahu apa yng sedang terjadi diantara orang dewasa itu.


Demi apa, Syafira ingin sekali menangis meraung-raung ketika mendengar celotehan Nala, ia ingat kembali kata-kata dokter Rendra sore tadi.


Pun dengan Bara, tubuhnya hampir limbung mandengar ucapan putri kecilnya. Rasa bersalah dan penyesalannya kian menumpuk. Apakah itu artinya karena kesalahannya, dua nyawa akan melayang? Apa dia bisa mendaat pengampunan dari sang istri setelah ini. Bahkan sekedar harapan Syafira mau memaafkannya saja, terlalu egois ia lakukan.


Syafira berusaha tegar di depan si kembar, hari ini ia sudah terlalu banyak menangis di hadapan mereka, ia juga tak ingin mereka melihat atau mendengar pertengkarannya dengan Bara. Itu tidak bagus untuk psikis keduanya.


"Sayang, bunda nggak kenapa-napa. Daddy nggak marah sama bunda. Bunda hanya sedikit lelah. Pengin istirahat. Kalian masuk ke kamar ya sama bibi. Nathan, ajak adik kamu ke kamar ya sayang, jangan lupa minum susu, gosok gigi terus berdoa sebelum bobok," pesannya dengan suara tercekat menahan tangis.


" Iya bunda, "jawab Nathan mengangguk, emski raut wajah anak itu masih di penuhi pertanyaan.


"Pintar, jagain adiknya ya? Bi, ajak mereka ke kamar. Pastikan mereka lekas tidur tidak keluar lagi," Syafira menoleh kepada bibi yang berdiri beberapa meter darinya.


"Baik nyonya," bibi yang bertugas menjadi nanny si kembar pun mengajak mereka pergi ke kamar sesuai perintah Syafira.


Setelah si kembar tak twrlihat lagi, Syafira melanjutkan langkahnya dengan cepat menuju ke kamarnya. Ia langsung masuk ke dalam walk in closet dan mengeluarkan koper dari lemari.


🌼 🌼 🌼