Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 104


Karena harus membujuk Nala terlebih dahulu dengan segala iming-imingnya, alhasil kelaurga kecil igupun datang terlambat ke acara charity dinner bersama anak-anak penderita kanker. Acara tersebut di adakan secara outdorr dengan hiasan khas anak-anak, karena memang acara tersebut lebih dikhususkan untuk mereka. Selain itu juga ada acara donasi untuk anak-anak penderita kanker tersebut.


"Baru datang Ra?" dokter Rendra dan dokter Niken menyambut kedatangan pemilik rumah sakit tempat mereka mengabdi tersebut.


"Biasa ada drama kecil-kecilan dulu tadi dirumah," jawab Bara santai.


"Fira apa kabar?" tanya dokter Niken.


"Baik kak, kak Niken apa kabar?" Syafira balik bertanya.


"kabar baik juga," sahut dokter Niken ramah.


Bara mengernyit, "Dia seumuran mas, kamu panggil dia kak? Nggak salah? Dulu kamu panggil mas om," protes Bara.


"Kalau dokter Niken aku panggil tante, nggak pantes, masih cantik kayak abg," jawab Syafira terkekeh.


"Berati panggil aku mas dong Fir, aku lebih muda dua tahun dari mereka," sambung dokter Rendra iseng.


"Jangan macam-macam," sergah Bara cepat. Membuat ketiganya terkekeh.


"Canda Ra, canda. Gitu aja ngegas," ledek dokter Rendra. Bara cuek tak peduli.


"O ya, Nathan, Nala main sama Tasya ya?" dokter Niken mendekati si kembar yang di tuntun Bara dan Syafira. Keduanya langsung mengangguk.


"Tasya," panggil dokter Niken. Anak perempuan seusia Nala itu langsung mendekat.


"Sayang, ajak Nala sama Nathan main sama yang lainnya ya?" pinta dokter Niken.


"Ya ma," sahut Tasya. Ia langsung menggandeng Nala dan Nathan. Namun Nathan langsung menepis, "Aku bisa jalan sendiri," ucapnya ketus. Sikap dingin Bara sudah menurun kepadanya sejak dini rupanya.


Para orang dewasa itu hanya geleng-geleng kepala melihatnya, "photo copian kamu mas, gitu tuh kalau mau lihat mas Bara kayak gimana, geli kan di lihat," bisik Syafira.


"Nggak , biasa aja," sahut Bara tersenyum melihat ekspresi Syafira yang mencebik.


"Kamu gimana Fir, udah isi?" tanya dokter Niken.


"Isi apa kak?" tanya Syafira polos.


"Itu perut kamu, udah ada isinya belum?" jelas dokter Niken.


"Oh perut, udah kak. Tadi sebelum kesini udah makan roti sedikit sisa punya mas Bara, nggak makan banyak-banyak, kan di sini mau makan malam, kak," jawabnya polos.


Dokter Niken menahan tawanya sambil menatap Bara mendengar jawaban Syafira. Yang mana membuat Syafira ikut memandang suaminya. Bara tersenyum lalu menarik pinggang Syafira lalu mencium puncak kepala Syafira. Ia gemas dengan keposan istrinya tersebut.


"Maksudnya bukan itu Fir, maksudku kamu udah hamil belum?" tanya dokter Niken lagi to the poin.


"Oh itu, kirain isi apa kak. Belum nih kak, doain secepatnya ya kak," jawab Syafira.


"InsyaAllah yang kemarin jadi," bisik Bara di telinga Syafira. Wajah Syafira langsung merona. Ingat kebuasannya waktu itu.


"Eh itu Tasya cantik ya, kayak ibunya ya kak," puji Syafira menunjukk anak Niken dengan dagunya untuk mengalihkan pembicaraan.


Dokter Niken dan dokter Rendra hanya mampu tersenyum melihatnya, "Gemoy bnget sih, Bara gitu ya klau udah bucin," gumam dokter Niken melirik dokter Rendra. Dokter Rendra yang mendengarnya tersenyum tipis.


"Aku serius kak Niken, cantiknya kayak kak Niken, tapi wajahnya mirip dokter Rendra ya. Hidunganya, matanya dagunya dokter Rendra banget. Tapi bibirnya kayak Mia, hehe kok bisa ya," celoteh Syafira jujur, tak ada niat apapun, hanya mengutarakan isi hatinya dan. Ia tidak menyadari jika raut wajah dokter Niken sudah berubah tegang.


" Mungkin karena ibunya membatin saya waktu hamil, jadi mirip saya," dokter Rendra memberikan jawaban selogis mungkin. Meskipun mungkin tidak logis.


" Hehe iya kali ya, kalau aku nggak tahu dia anak kak Niken, pasti aku ngiranya dia anak dokter Rendra. Mirip banget soalnya, iya kan mas?" menoleh ke arah suaminya, meminta dukungan atas ucapannya.


"Ehem," Bara yang menyadari perubahan wajah Niken, langsung menggandeng tangan Syafira, "Sayang ikut mas, mas haus mau ambil minum. Ken, Rend, aku kesana dulu," Bara langsung menarik tangan Syafira. Kalau di biarkan nyerocos terus, bisa gawat, Pikirnya.


"Aku kesana dulu ya kak, nanti kita ngobrol lagi," ucap Syafira. Dokter Niken hanya tersenyum dan mengangguk. Ia melirik ekspresi wajah dokter Rendra yang berdiri di sampingnya. Laki-laki itu tampak masih mengagumi sosok Syafira.


"Mas ih lepasin, katanya mau minum, kok aku di bawa kesini, sepi ih. Serem," Syafira menggedikkan bahunya.


"Mas mau hukum kamu, karena kamu tadi banyak bicara di sana," Bara hendak mencium bibir Syafira namun Syafira menghalanginya dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Bara.


"Enak aja main hukum, aku banyak bicara apa tadi emang? Orang cuma beberapa kalimat aja mas," protesnya.


"Itu menurut kamu sayang, tapi buat Niken kata-kata kamu tadi terlalu banyak. Bagi dia kamu kayak ngirim bom atom ke perasaannya," ucap Bara.


"Ih ngomongnya ketinggian, bom atom apa sih. Orang aku cuma bilang si Tasya mirip dokter Rendra kok. Salahnya di mana coba, mas sendiri pasti berpikir mereka mirip kan? Emang mirip kok," cebik Syafira.


"Salah, pokoknya salah. Astaga sayang, jangan jujur - jujur amat kenapa sih jadi orang," Nara gemas sendiri jadinya.


"Ih aneh, istri diajarin nggak jujur, nggak baik itu mas. Salahku apa sih, cuma. Ngomong gitu aja nggak boleh. Apa bikin dokter Niken tersinggung? Kenapa tersinggung, kan Tasya ada bapaknya sendiri, kecuali benar kalau... Astaga mas, jangan bilang kalau... " Belum selesai bicara, Bara sudah membungkam mulut Syafira dengan bibirnya.


" Paham kan sekarang?" ucap Bara setelah berhasil mendiamkan mulut Syafira dengan ciumannya.


" Jadi beneran mas? Tasya itu... "Syafira membulatkan kedua matanya tak percaya dengan mulut menganga.


" ssst jangan di terusin, atau mas bawa kamu ke depan dan cium di sana, lebih baik diam dan jangan bahas lagi, atau mas benar-benar bawa kamu ke depan dan cium kamu di sana, mau?"


Syafira langsung mengatupkan bibirnya, namun otaknya travelling, mencoba mencerna apa yang terjadi," sebenarnya ada apa sama dokter Rendra dan dokter Niken sih, penasaran? "gumamnya.


"Udah, nggak usah di pikirkan. Yang penting jaga ucapan, jaga perasaan Niken. Mulutmu jadi paman tigermu. Ayo ke depan, nanti anak-anak nyariin," ajak Bara.


Syafira menurut, ia merapikan bibirnya yang baru saja diraup oleh Bara.


"Mas hutang penjelasan sama aku," kata Syafira.


"Kamu hutang desahan sama mas," balas Bara menoleh dan tersenyum jahil menoleh ke Syafira yang berjalan di sampingnya.


"Astaga, mas..." Syafira menjiwel pinggang Bara.


🌼 🌼 🌼


💠💠 Jangan lupa like Komen, hadiah dan votenya... 🙏 🙏


Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠