Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 84


Bara menuntun Syafira hingga sampai ke mobil. Ia membukakan pintu laku menyuruh Syafira masuk ke dalam mobil.


"Terus william gimana mas?" tanya Syafira sebelum ia masuk ke dalam mobil.


"Nanti ada yang ambil bawa pulang jangan khawatir," jawab Bara. Syafira pun hanya bisa menurut dan masuk ke mobil di susul oleh Bara.


Setelah memasangakan sabuk pengaman kepada Syafira, Bara melajukan mobilnya. Untuk sesaat suasana hening, hingga Bara menoleh, melihat sang istri yang terdiam dengan pikirannya sendiri, tidak menangis apalagi meratapi pertemuan dengan ibunya tadi.


"Kenapa mas malah ngasih dia uang?" tanya Syafira tiba-tiba.


"Kamu nggak suka? Mas bisa buat dia lebih sengsara lagi kalau kamu mau," sahut Bara.


"Tidak, bukan begitu. Tapi mas Bara jadi harus ngeluarin uang lagi, mas udah keluar banyak uang buat aku,"


"Uang itu tidak ada apa-apanya di banding istri mas. Jika tidak ada cek itu, percaya atau tidak dia pasti akan terus mengganggumu," ucap Bara.


"Makasih ya mas, mas selalu datang tepat waktu di saat aku butuh. Jadi berasa punya suami super hero. My husband is my hero, wiiiih keren nggak tuh mas?" Syafira sejenak lupa dengan apa yang baru saja terjadi.


Bara hanya tersenyum tipis, "Seandainya kamu tahu, aku penyebab ayah kamu meninggal, apa kamu masih bisa menyebut suami kamu ini super hero kamu Fir?" gumamnya dalam hati.


"Mas kok diam?"


"Ah enggak, lagi mikir aja sayang,"


"Mikir apa?" tanya Syafira.


"Mikirin kamu," sahut Bara tersenyum kepada Syafira.


"Mas bisa aja," timpal Syafira menoel lengan suaminya. Detik kemudian, ia kembali melamun, menatap jalanan denagna tatapan kosong.


"Marah sama dia?" tanya Bara. Ia tahu istrinya kepikiran soal ibunya.


"Marah enggak mas, udah habis rasa marahku buat dia. Tapi lebih kepada kecewa yang rasanya nggak ada obatnya mas. Aku mungkin yang terlalu munafik berharap dia juga merindukan aku sama Adel biarpun sedikit, tapi nyatanya tidak sama sekali. Rumah kami tidak pernah pindah, tapi sekalipun dia tidak pernah berkunjung untuk sekedar menanyakan kabar kami. Aku masih maklum kalau suaminya melarang dia untuk menemui kami, tapi tadi saat tahu Adel koma pun dia tidak menunjukkan empati apa lagi kasih sayangnya sebagai seorang ibu yang sudah berjuang mengandung dan melahirkan kami," ucap Syafira, matanya sudah menahan air mata yang siap menetes meluapkan kekecewaannya.


Bara menepikan mobilnya, ia melepas sabuk pengamannya dan Syafira lalu merengkuhnya ke dalam pelukannya.


"Jangan menangis," ucap Bara mengusap pipi Syafira lembut.


" Tidak, siapa yang menangis, air mataku terlalu berharga buat nangisin dia," elak Syafira.


"Aku bersyukur karena kini aku punya mas Bara dan anak-anak, hidup aku jadi kayak ada warnanya gitu, kayak pelangi. Nggak kayak dulu, setelah ayah meninggal dan Adel koma, aku tuh merasa dunia kayak abu-abu gitu. Satu-satunya semangat aku ya karena Adel, setidaknya masih ada sedikit harapan untuk Adel bangun sebagai semangatku, tapi sekarang kalian juga semangat aku. Coba kalau semua masih baik-baik aja, pasti kita jadi keluarga rame ya mas, ada ayah, Adel juga, " Syafira melanjutkan bicaranya.


Dada Bara terasa nyeri, semakin merasa bersalah. Namun, ia tak berani bekata yang sebenarnya.


" Kalau misalnya kamu bertemu dengan orang yang sudah menabrak ayah dan Adel, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan membenci dia?" tiba-tiba terlintas di kepala Bara.


"Tentu saja aku akan marah dan benci banget sama dia, orang yang sudah buat aku kehilangan ayah. Ingin sekali aku memukul, menampar bahkan memaki-maki dia, kalau laki-laki bakal aku sunat sampe habis burungnya. Dia sudah menghancurkan hidupku mas, bagaimana bisa aku tidak membencinya kalau perlu dia harus mendekam di penjara seumur hidupnya. Tapi ya sudahlah, itu semua tidak mungkin," ujar Syafira.


Bara menelan ludahnya kasar mendengar jawaban Syafira.


"Kalau orangnya tidak sengaja melakukannya bagaimana? Apa tidak di maafkan?"


"Tidak, dia bahkan tidak datang sendiri untuk bertanggung jawab, dia nyuruh orang. Aku paling nggak respect sama orang seperti itu, lari dari tanggung jawab, mentang-mentang orang kaya bisa seenaknya. Untung suamiku nggak gitu ya, biarpun kaya dan ngeselin, mas Bara tanggung jawab orangnya,"


Bara hanya tersenyum tipis, ia semakin yakin tidak memberi tahu Syafira. Biarlah dia simpan sendiri semuanya dan berharap bangkai yang ia simpan tidak akan pernah sampai tercium oleh Syafira.


"Ngomong-ngomong kenapa mas tiba-tiba tanya begitu?"


"Nggak apa-apa, mas cuma tanya aja. Kalau misal mas ada salah sama Fira, apa mas akan di maafkan?"


" Mas ngomong apa sih, ya tentu saja aku maafkan, mas kan suami Fira. Kecuali mas selingkuh, itu Fira nggak suka, nggak bakal dimaafin. Aku benci pengkhianatan dalam bentuk apapun itu mas, sudah cukup kenyang lihat ayah menderita karena pengkhianatan ibu dulu," jawab Syafira.


"Semoga ke depannya jika mas ada salah sama kamu, sebesar apapun itu, kamu mau maafin mas ya," ucap Bara, ia semakin Mengeratkan pelukannya.


"Kok mas Bara ngomongnya gitu, emang mas ada rencana buat salah sama aku? Aneh ih,"


"Enggak sayang, kan seumpama. Bukannya manusia tempatnya khilaf dan salah. Mas hanya ingin kamu tahu kalau mas sayang, mas cinta sama kamu. Jangan pernah lupa akan hal itu ya," sahut Bara serius.


"Iya mas Baraku sayang, udah ah kok jadi melow begini. Aku tuh udah kuat-kuatin hati buat nggak nangis didepan ibu tadi, malah sekarang mas Bara yang mau bikin aku nangis gara-gara terharu," kata Syafira tersenyum.


"Maaf-maaf," Bara mengacak-acaj rambut Syafira.


"Pulang yuk mas, udah sore,"


"Hem," Bara kembali memasangkan seat belt untuk Syafira yang di akhiri kecupan singkat di bibir sang istri. Namun, Syafira malah menahan tengkuk Bara seakan minta kembali menciumnya. Dengan senang hati bara melakukannya.


"Mulai berani ya sekarang," ucap Bara tersenyum.


"Sedikit," ucap Syafira nyengir.


"Banyak-banyak juga boleh sayang. Kalau kamu yang minta duluan buat ehem-ehem itu pahalanya gede loh Fir," ucap Bara sambil kembali melajukan mobilnya.


"Iya kah? Kalau begitu, nanti aku deh yang bakal minta duluan,"


"Emang berani?" tantang bara.


"Enggak, malu!" gelak Syafira menutup mukanya sendiri, ia membayangkan bagaimana ia yang menawari suaminya untuk melakukan hubungan suami istri.


Bara tersenyum mendengarnya. Ia meraih tangan Syafira lalu menciumnya.


🌼 🌼 🌼


Malam harinya...


"Mas tidur yuk, udah malam. Kerjanya besok lagi, laptopnya di simpan dulu," ucap Syafira yang baru saja masuk sehabis dari kamar si kembar. Bara yang masih sibuk menatap layar laptop yang ia pangku menoleh ke arah Syafira.


"Kirain kamu mau tidur di kamar anak-anak sayang," ucapnya llu kembali fokus menatap layar.


"Enggak, tadi aku ketiduran aja saat ngelonin Nala. Laptopnya simpan dulu, udah waktunya istirahat," ucap Syafira memgingat waktu sudah hampir dini hari.


"Sebentar lagi selesai ini,"


"Maaaass..."


"Iya sayang, ini udah kok," bilang udah tapi masih aja mata nggak mau lepas dari layar.


"Ya udah, aku balik ke kamar si kembar aja kalau begitu, mas Bara di bilangin susah. Lihat itu udah jam berapa,"


"Iya iya, ini udah beres," Bara langsung menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas.


"Sini, sekarang giliran mas yang ngelonin kamu," Bara menepuk-nepuk tempat tidir di sampingnya.


Syafira yang tadinya cemberut langsung tersenyum. Ia naik ke tempat tidur dan langsung menelusup ke pelukan suaminya. Tak butuh waktu lama, Syafira sudah mengembuskan napasnya teratur


Bara mencium puncak kepala Syafira. Ia berharap semoga kehangatan dan kebahagiaan mereka akan tetap seperti ini kedepannya, apapun masalah yang akan mereka hadapi.


"Maafkan atas segala kesalahan mas selama ini sayang," ucap Bara lirih lalu mencoba merem untuk mengistirahatkan tubuhnya.


🌼 🌼 🌼