
Brak!
Adel langsung angkat kaki dari depan Syafira dan menelungkupkan wajahnya di tempat tidur dan terus menangis.
Syafira hanya bisa memandangi pintu kamar yang baru saja di banting oleh Adel dengan derai air mata.
" Dek...." Syafira hendak menyusul. Tapi di cegah oleh uwaknya.
"Biarkan Adel sendiri menenangkan diri dulu. Sekarang dia sedang emosi. Nanti kalau udah tenang baru di ajak bicara lagi,” ucap uwak yang sebenarnya juga masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tapi, melihat situasi sekarang bukanlah waktu yabg tepat untuknya ikut menghakimi Syafira maupun Bara.
Syafira patuh, namun ia terus memandangi pintu itu, ia takut akan terjadi sesuatu dengan Adel.
🌼 🌼 🌼
Bara baru saja sampai rumah, di sambut oleh si kembar dan juga bu Lidya.
“Kamu kurusan, apa nggak di kasih makan sama John selama di sana?” tanya bu Lidya.
“Makan ma, om John malah buatin rujak, sayur asem dan sekarang mungkin lagi menikmati minuman hits yang lagi viral karena Bara nggak jadi minum,” sahut Bara.
Mata bu Lidya memicing dengan kening mengernyit, “Aneh-aneh ya sekarang sajen kamu sekarang. Macam orang yang lagi ngidam aja,“ seloroh bu Lidya.
Bara hanya mencibir dan menggendong Nala dan Nathan lalu membawa mereka ke kamarnya. Ia sudah sangat merindukan dua buah hatinya tersebut.
“Daddy nggak jemput bunda sekalian di rumah sakit? Kok bundanya nggak ikut pulang?” tanya Nala masih dalam gendongan Bara.
“Em... Nanti ya, nanti daddy jemput bunda. Tapi daddy mau istirahat dulu sebentar, boleh?“ jawab Bara.
“Boleh!” jawab si kembar serempak.
“Doain ya, semoga urusan bunda cepat selesai, jadi nanti bisa di ajak pulang sama daddy. Sekarang daddy butuh bantuan kalian nih,” selorohnya. Ia menurunkan si kembar di atas tempat tidur.
“Apa?” jawab mereka bersamaan lagi.
“Boy, come on! Naik ke punggung daddy, injak-injak. And you my princess, pijit kaki daddy. Daddy lelah, capek butuh sumbangan tenaga kalian,” ujarnya yang kini sudah tengkurap di atas ranjang.
Namun, tak jadi acara sumbang menyumbang tenaga dari kaki Nathan dan juga tangan mungil Nala, mereka kini malah asyik bergurau dengan saling menggelitik. Setidaknya inilah yang bisa Bara lakukan untuk menghibur buah hatinya di sela-sela rasa lelahnya, sebelum ia kembali meninggalkan mereka demi mencari sang bunda. Malam ini ia akan menghabiskan waktu dengan si kembar, mengganti waktu-waktu bersama mereka yang terbuang.
“Daddy akan berusaha. Nggak akan membiarkan kalian kehilangn sosok ibu lagi,” batinnya meski tak memiliki keyakinan yang kuat akan kembalinya Syafira ke dalam pelukannya.
🌼 🌼 🌼
Syafira baru selesai menyapu halaman rumah uwaknya. Masih memegangi sapu lidi, ia duduk di teras. Adel masih mendiamkannya sejak semalam. Ada perasaan plong dalam diri Syafira ketika semuanya sudah di ketahui oleh Adel. Meskipin dampaknya masih ia rasakan hingga sekarang. Adel masih menunggu keputusan Syafira dalam aksinya mendiamkan sang kakak. Siapa yang akan Syafira pilih, dirinya atau laki-laki yang sudah menabraknya. Jika Syafira memilih suaminya, tentu saja Adel akan benar-benar kecewa dan sedih. Namun, jika memilih Adel, itu artinya Syafira harus benar-benar siap lepas dari Bara, memisahkan anak dari ayahnya. Dua pilihan yang sulit dan tak bisa ia putuskan.
“Boleh uwak duduk di sini?” suara uwak mengagetkan Syafira, sontak Syafira menoleh, “Tentu boleh wak,” Syafira tersenyum.
“Betah di sini?” tanya uwak membuka pembicaraan.
“Iya wak, di sini tenang dan damai. Nyaman. Fira suka,” sahut Syafira.
“Tapi pasti lebih nyaman kalau di Jakarta dekat suami dan anak-anak kan?” ujar uwak tersenyum.
Syafira hanya menjawabnya dengan senyuman kecil. Memang benar, tempat paling nyaman adalah masih dekapan hangat suaminya dan juga celoteh-celotehan si kembar.
“Uwak nggak marah sama mas Bara?” tanya Syafira.
“Sempat marah, kemarin waktu dengar. Uwak sudah menebak, pasti ada yang kamu sembunyikan dari uwak, bukan hanya soal pernikahan kamu yang di sembunyikan dari Adel saat kamu datang kemarin tanpa pak Bara ataupun si kembar. Dan ternyata benar, uwak cukup terkejut saat tahu jika pak Bara yang sudah menabrak ayah kamu,” tutur uwak.
“Kalau sekarang? Masih marah sama mas Bara. Nyalahin dia juga?”
Uwak tersenyum seraya menggeleng, “Kalau kamu sendiri bagaimana? Masih marah berkelanjutan? Tidak mau maafin kesalahan yang sudah pasti tidak ia sengaja itu?”uwak balik bertanya.
“Kok malah balik tanya wak?”
“Jawab saja, biar uwak tahu apa yang harus uwak jawab,”
“Fira nggak tahu wak. Fira bingung. Marah sudah pasti, kecewa apalagi tapi...” ucapan Syafira menggantung, ia tak tahu harus bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat ini. Marah, kesal, kecewa tapi... Rindu berat.
Lagi-lagi uwak tersenyum, “uwak pastikan pak Bara pasti tidak sengaja dan tidak menginginkan hal itu terjadi padanya. Bahkan pasti ia selalu membawa penyelasan dalam dirinya atas apa yang sudah terjadi,”
“Kenapa uwak bisa seyaikin itu?” tanya Syafira yang tak melihat kebencian atau amarah sedikitpun dari uwaknya.
“Karena Pak Bara, suami kamu itu orang baik. Tanya hati kamu sendiri, apa benar suami kamu orang baik? Kamu lebih paham suami kamu luar dalam tentunya. Orang baik tidak akan melakukan sebuah kejahatan dengan sengaja,” Lagi-lagi Syafira diam dan membenarkan ucapan uwaknya. Ia memang butuh seseorang yang mendukung perasaannya.
“Tapi Adel...”
“Adel hanya perlu waktu. Itu semua karena Ia belum mengenal suami kamu. Kalau sudah kenak, pasti akan berpikiran sama dengan kita,”
“Tapi Fira khawatir dengan kondisinya wak,”
“Dia akan baik-baik saja. Buktinya sekarang lagi asyik nonton televisi sambil ngemil di dalam, meskipun masih nyeremin mukanya, galak, nggak bisa di senggol, takut di ba cok," ucap uwak tergelak.
Syafira tersenyum, ia kembali terdiam dan menerawang.
“Kangen?” tanya uwak.
Syafira tak menjawab.
Syafira masih terdiam. Bagaimana mau telepon, nomornya aja ia nggak hafal. Setelah mengirim pesan waktu itu, ia meletakkan simcardanya di laci nakas kamar dan lupa membawanya. Nomor Bara tak tersimpan di ponsel tapi di simcard tersebut.
“Nggak hapal nomornya wak, nomor Syafira kan ganti,” ucap Syafira kemudian.
“Anak kamu sudah pasti merindukan ayahnya, atau mau di gantiin sama Rizal, tuh anak pagi-pagi udah tebar pesona aja di situ,” uwak menunjuk Rizal yang sudah rapi sedang berdiri di samping mobilnya sambil ngelihatin ke arah rumah uwak, dengan dagunya dan langsung beranjak masuk ke dalam rumah.
Fira yang melihta Rizal senyum-senyum kearahnya hanya meringis dan menganggukkan kepalanya sebekum akhirnya menyusul uwak masuk.
“Nggak mau wak....Nggak mau ganti...” suara Syafira semakin menjauh seiring tubuhnya yang tenggelam di balik pintu.
🌼 🌼 🌼
Bara benar-benar tidak tahu harus mencari Syafira kemana. Kali ini wanitanya tersebut, benar-benar menghilang dari jangkauannya. Dalam keputusasaannya mencari Syafira, hanya satu nama lagi yang harapkan tahu dimana Syafira, yaitu dokter Rendra.
Dan di sinilah sekarang bara berada, mobil keluaran terbaru miliknya baru saja memasuki kediaman orang tua dokter Rendra, setelah tadi sempat ke apartemennya, namun dokter Rendra tak berada di sana.
“Rend, aku pasti tahu dimana istri istriku sekarang. Dimana dia? Kenapa kamu mengijinkan Adel keluar dari rumah sakit sebelum ia benar-benar pulih?” tembak Bara begitu melihat dokter Rendra berjalan menuruni anak tangga. Nada bicara Bara antara bertanya, marah dan putus asa dalam kelelahannya setelah berkeliling mencari ke tempat-tempat yang mungkin di datangi Syafira.
Dengan santai namun menunjukkan wajah tak bersahabat, dokter Rendra berjalan mendekati Bara yang berdiri di ujung bawah tangga. Ia yang baru kemrin pulang dari luar kota, mendapati kabar bahwa Adel sudah keluar dari rumah sakit dengan memaksa. Ia tahu pasti ada yang tidak beres.
Dan kecurigaannya benar, kemarin Varel baru saja mendatanginya dan menanyakan keberadaan Syafira kepadanya.
“Kamu suaminya, kenapa bertanya padaku? Kalaupun aku tahu dimana dia, tidak akan aku beritahu,” ucap dokter Rendra sinis menahan amarah. Saat mencari Syafira, tanoa sengaja Varel mengatakan penyebab Syafira pergi dari rumah. Hal itu membuat dokter Rendra murka. Dalam pikirannya, pasti Bara menikahi Syafira karena hal itu, bukan karena mencintainya seerti
“Cepat katakan dimana dia kalau kamu tahu Rend!”ucao Bara setengah memaksa, ia mencengkeram kerah kemeja yang di pakai dokter Rendra.
“Aku pernah bilang, kalau kamu nggak bisa jaga dan bahagiain dia, aku akan merebutnya. Ucapanku waktu itu tak main-main, aku akan mengambilnya darimu,” ujar dokter Rendra serius Dengan posisi masih berada di dua undakan anak tangga.
Bugh!
Tiba-tiba satu hantaman melayang ke wajahnya. Bara yang sudah terlalu lelah, langsung tersulut emosinya karena ucapan dokter Rendra.
“Bahkan dalam mimpimu pun nggak akan aku biarkan!” ucap Bara.
Bugh!
Satu balasan hantaman juga mendarat di wajah lelah Bara.
“Terus, menurutmu aku harus membiarkan Syafira terus menderita di bawah bayang-bayang suaminya yang sudah menyebabkan ayahnya meninggal?”
Bara tercengang karena Rendra sudah mengetahuinya.
“ Aku datang kesini untuk menanyakan apakah kamu tahu keberadaan istriku, bukan untuk berdebat Rend, aku permisi!” Bara memutar badannya.
Lepaskan dia jika menikah denganmu hanya membuatnya semakin terluka Bar, kamu nggak perlu berbuat sejauh ini sampai menikahinya jika hanya karena merasa bersalah, itu akan membuat Syafira semakin terluka. Dan aku tidak akan membiarkannya!”
“Sampai kapannpun tidak akan pernah aku melepaskannya!” sergah Bara cepat seraya kembali memutar badannya menatap dokter Rendra.
Dokter Rendra berdecak, “Dasar egois! Dari dulu aku diam dan menerima saat wanita yang aku cintai memilih hidup denganmu, tapi kalau untuk menderita, aku tidak akan membiarkannya!”
Bara pun ikut berdecak, “Aku akui, aku memang salah Rend, aku menikahinya hanya demi anak-anak. Aku menjebaknya dengan membayarkan hutang-hutangnya kepada rentenir....”
Mendengar penuturan Bara, dojter Rendra murka, “Breng sek kamu Bar, tega kamu ngelakuin itu sama Fira!”
Bugh!
Dokter Rendra kembali melayangkan pukulan ke wajah Bara.
“Lantas jamu sendiri apa Rend? Aku breng sek, kamu jauh lebih breng sek! Main tanam benih tanpa tanggung jawab!” tanpa sadar, Bara mengatakan rahasia yang selama ini ia pendam.
“Apa maksud kamu! Bar?” dokter Rendra meminta penjelasan lebih atas apa yang sudah diucapkan Bara.
Bara yang terdiam, ia merutuki kebodohannya yang keceplosan.
“Apa maksud ucapanmu Bar, katakan!” tuntut dokter Rendra.
Bara menghela napas, kenapa jadi panjang urusannya. Ia kesana hanya ibgin mencari info tentang istrinya tapi malah merembet ke masalah sahabatnya. Tapi mungkin inilah kesempatannya untuk membuka rahasia yang selama ini terpaksa ia pendam.
“Tasya Rend, Tasya putrimu,” ujar Bara.
🌼 🌼 🌼
💠💠Masih ada selanjutnya, tapi tetap... Jangan lupa tinggalkan like dan komennya yah sayang😄😄 💠💠