Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 73


Bara menggendong Syafira hingga ke kamar mandi.


"Mau sekalian di mandiin nggak?" tanya Bara sehabis menurunkan Syafira.


"Boleh," tak di sangka, jawaban Syafira di luar perkiraan Bara. Ia pikir istrinya itu akan menjerit menolaknya. Ini malah membolehkan.


"Apa kau tahu konsekuensi dari jawabanmu itu sayang?" Bara menyelipkan rambut Syafira ke belakang telinganya.


"Lah kan tadi mas Bara bilang mau sekalian mandiin nggak, ya boleh dong. Itung-itung ngurangin tenaga aku buat mandi sendiri," jawab Syafira.


Bara mengembuskan napasnya, dia pikir istrinya paham kode yang ia berikan.


"Tapi mandiinnya nggak gratis loh ya?" Bara mengecup bibir sang istri. Bukan kecupan lebih kepada sedikit *******, yang membuatnya menginginkan tubuh berbalut selimut itu lagi.


"Ish mas nih, udah kaya masih matre juga. Nggak ingat istri mas ini cuma seorang mahasiswa? Nggak malu minta duit sama aku?" ternyata masih tidak paham juga Syafira.


"Benar-benar ABG nggak pengalaman," gerutu Bara dalam hati, niat ingin romantis malah tak sesuai realita. Ia berharap istrinya itu tersipu dan merespon ucapannya dengan malu-malu manja.


"Gagal deh," gumam Bara mendesah.


"Apanya mas?"


"Enggak apa-apa. Buruan mandi gih, mas tunggu buat sarapan," ucap Bara menyerah. Ia pun membalik badannya hendak melangkah. Namun, Syafira meraih tangannya. Membuat Bara menoleh.


"Apa lagi sayang?" tanyanya.


"Katanya mau mandiin, aku capek ini malas mau mandi sendiri," ucap Syafira dengan manja.


"Kamu ternyata begini ya?" ujar Bara tersenyum.


"Maksud mas?"


"Manja," Bara mengusap pipi merona Syafira.


"Mas Bara nggak suka ya? Maaf, aku kira mas suka gitu kalau aku manja mumpung nggak ada anak-anak," sahut Syafira tertunduk. Pasti Bara berpikir dirinya seperti anak kecil, padahal seharusnya ia bersikap dewasa, kalau seperti anak kecil begini bagaimana mau mengurus si kembar, seperti itulah yang ada dalam pikiran Syafira saat ini.


Syafira hanya merasa menemukan sosok yang tepat nyaman untuk melakukannya. Yang bahkan dengan ayahnya sendiri dulu ia harus menjaga imagenya yang bersikap dewasa.


"Hei, kenapa menunduk? Mas suka kamu yang manja seperti ini. Dan tetaplah seperti ini hanya kepada mas, jangan kamu perlihatkan tingkah mu yang bikin gemas ini pada orang lain, hanya sama mas," Bara merengkuh Syafira ke dalam pelukannya. Ia tak rela berbagi tingkah menggemaskannya istrinya tersebut kepada orang lain.


Syafira membalas pelukan suaminya yang mengakibatkan melorotnya selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya.


"Yah, melorot kan mas jadinya. Mas Bara sih!" seloroh Syafira tanpa berniat melepas pelukan hangat suaminya.


"Kok mas sih sayang?" goda Bara.


"Jadi mandiin nggak nih?" eh Bara melongo, beneran mai di mandiin dia? Kayak Nala saja, pikirnya.


🌼🌼🌼


"Fir, makan kenapa cemberut begitu? Nggak suka sama menunya?" tanya Bara yang melihat istrinya seperti tidak berselera menatap makanan yang ada di depannya.


"Tahu ah, ini gara-gara mas Bara. Katanya mau mandiin tapi malah minta begitu lagi. Padahal aku udah capek plus lapar banget tahu nggak sih mas? Benar-benar udah habis ini tenaga aku," Hadeh baru segitu, padahal rencananya Bara mau mengurungnya beberapa hari di kamar hotel, paling nggak.minimal dua hari full lah dia mau gempur tuh alumni perawan, eh kok sudah keok duluan begini, pikir Bara.


"Iya sih," jawab Syafira jujur yang membuat Bara langsung tersenyum, betapa jujurnya sang istri. Dan itu yang membuatnya selalu tersenyum diam-diam.


"Tapi nanti pijat yah mas, takutnya beneran nggak bisa bangun akunya," lanjut Syafira.


"Iya, sekarang makan dulu katanya dari tadi sudah lapar. Mau mas suapin juga?" tawar Bara.


Bukannya menjawab, Syafira malah senyum-senyum nggak jelas sambil memandang wajah tampan suaminya yang kini auranya semakin terpancar cerah mengalahkan sinar matahari pagi ini setelah akhirnya bisa berbuka puasa. Bayangkan saja, sekian tahun menduda, sebagai pria dewasa normal yang duku sering melakukannya, pasti ada saat dimana dia menginginkan untuk menyalurkan hasratnya. membuatnya sering nyud-nyudan sendiri tanpa ada pelampiasan. Ia bukan tipe laki-laki yang suka jajan, dan bermain solo lah menjadi solusinya. Tidak di pungkiri jika ia juga merindukan seorang partner di ranjang.


"Malah senyum-senyum. Kamu tidak akan kenyang dengan hanya senyum-senyum sambil memandang mas. Aku tahu aku tampan, tapi ketampananku tidak bisa buat kamu kenyang sayang,"


"Suka aja, mas Bara yang sekarang beda banget, kayak bukan mas Bara yang aku kenal. Sekarang mas baik banget sama aku, manggil aku sayang-sayang. Udah nggak sedingin dulu lagi. Udah bucin ya sama aku? Hayo ngaku?" ucap Syafira sambil menoel-noel lengan sang suami.


"Aku nggak tahu kadar cinta bisa di bilang bucin itu seperti apa, yang jelas mas sudah bilang kalau mas sudah jatuh cinta sama kamu. Sama semua yang ada pada diri kamu tanpa terkecuali. Mas nyaman dan tidak bisa jauh dari kamu barang sedikitpun. Apa itu bisa di bilang bucin?" jelas Bara.


Syafira mencoba mencari kebohongan dari ucapan suaminya, tuluskah atau hanya sebagai senjata untuk mempertahankannya agar tidak pergi dari hidup anak-anak. Tapi nyatanya Syafira seperti tidak.melihat celah kebohongan sedikitpun di sana.


"I love you too mas," ucap Syafira dengan wajah merona.


Syafira terus saja mengajak.suaminya berbicara, seperti baru pertama kali bisa bicara saja, mirip anak kecil yang baru bisa berjalan dan sedang senang-senangnya berjalan hingga tidak mau berhenti. Pun dengan Syafira yang terus saja mengajak suaminya bicara. Wajar saja sebenarnya mengingat selama ini ia dan Bara tak banyak bercakap sedekat dan seromantis ini.


Hadeh ini istri kapan makannya kalau terus-terusan ngoceh, bilangnya aja udah nggak ada tenaga, tapi buat cuap-cuap masih semangat begitu. Bara pun tetap menanggapi ucapan Syafira sesekali sambil menyendok makanan dan menyuapi Syafira yang tampak bersemangat untuk terus berceloteh.


"Yah habis ya mas?" ucap Syafira ketika Bara menyendok makanan terkahir di piring Syafira.


"Iya, mau nambah lagi? Ini punya mas masih utuh," jawab Bara karena memang ia belum memakan makanannya, ia asyik menyuapi sang istri hingga lupa menyuapi dirinya sendiri.


"Boleh mas?" tanya Syafira dengan mata berbinar. Entahlah ia benar-benar merasa lapar pagi ini, magic com di perutnya seperti masih bekum sepenuhnya terisi.


"Hem," Bara mengangguk tersenyum.


"Sekalian aku suapi mas Bara!" seru Syafira tak lupa rentetan gigi putihnya ia perlihatkan.


"Buat kamu semua juga tidak apa-apa. Biar lebih strong nanti kalau main lagi,"


"Mau main kemana mas?" tanya Syafira antusias.


"Main di bukit kembar yang berakhir di lembah, sungai mengalir indah ke samudra,"


"Mas Bara gemesin deh, sekarang udah bisa bercanda ya sama aku," seru Syafira langsung mengecup bibir suaminya.


"Kamu lebih gemesin Fir, kan mancing-mancing lagi. Jangan salah kalau aku main ke bukit kembar dan berakhir di lembah loh ya,"


"Ih mas jangan pakai teka teki, aku nggak paham. To the poin aja kenapa sih, itu dimana ada begituan emang?"


"Di ranjang," jawab Bara yang membuat Syafira tercengang, kini ia mengerti maksudnya.



💠Sahuuuur sahuuuuur, yuk sahur di temani mas Alumni duda dan mbak alumni perawan 😅😅😅..walaupun nggak tahu lolos review sebelum sahur atau sesudahnya...