Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 59 (Oma pulang)


Sampai di kampus, Syafira malah tertidur di mobil. Bara tak tega untuk membangunkannya. Ia memutuskan untuk menunggu beberapa saat sampai istrinya terbangun sendiri.


Cukup lama Bara menunggu dan dia mulai merasa bosan. Tiba-tiba, scurity yang sudah memperhatikan mobil Bara sejak tiba tadi mendekati mobil Bara. Ia mengetuk kaca mobil Bara.


"Apaan sih!"gerutu Bara yang merasa terganggu. Ia menurunkan kaca mobilnya.


"Maaf tuan, sejak tadi saya perhatikan tidak ada yang turun dari mobil ini. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan jika laki-laki dan perempuan berada di dalam sebuah mobil yang berhenti dalam waktu yang lama,"


"Maksud Anda, saya mau berbuat mesum begitu?" Bara mengernyitkan dahinya, ingin tertawa tapi juga kesal. Bagaimana bisa scurity itu berpikiran sampai ke sana.


"Tidak Tuan, hanya takutnya, dan... mengantisipasi saja," sahut scurity dengan nada tegas.


"Kalau mau mesum Anda mau apa?" tantang Bara tak kalas tegas.


"Kalau mau buat yang tidak-tida jangan di area kampus Tuan, silahkan Anda bisa cari tempat lain, hotel mungkin," scurity sekedar memberi saran.


"Saya tidak turun-turun karena istri saya sedang tidur, ngerti!" tegas Bara.


Mendengar keributan, Syafira membuka matanya.


"Ada apa sih mas, ribut-ribut?" tanya Syafira yang masih setengah sadar.


"Ini nih, orang pikirannya ngeres. Di kira kita mau berbuat mesum di mobil!" jawab Bara jutek.


"Maaf nona Syafira, saya hanya menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban kampus," jelas satpam sopan dan tersenyum kepada Syafira.


"Oh iya pak tidak apa-apa. Maaf tadi saya ketiduran. Mungkin mas Bara tidak tega membangunkan saya jadinya saya tidak turun-turun dari mobil. Sekali lagi maaf ya Pak," Syafira meminta maaf.


"Ya sudah non, kalau begitu saya permisi. Mari..." scurity itu pergi meninggalkan Bara dan Syafira.


"Tadi aja ngegas, sekarang sama kamu ramah sekali. Pakai senyum-senyum segala. Kamu juga kenapa mesti balas tersenyum. Kamu kenal sama dia?" tanya Bara.


"Ya kali dia senyum aku balas cium mas, nanti ada yang kebakaran jenggot dong. Dan satu lagi, dia itu scurity di sini, jadi sudah pasti kenal lah. Haha ketahuan cemburu ya? Hayo ngaku!" Bara menoel-noel lengan Bara.


"Cukup Fir, nanti saya ajak kamu mesum beneran mewek lagi. Udah sana masuk, udah telat. Kamu tidur udah kayak pingsan saja. Tiga puluh menit saya nungguin kamu nggak bangun-bangun,"


"Astaghfirullah, beneran telat!" serunya ketika melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


"Mas Bara kenapa nggak bangunin aku sih tadi?" protes Syafira langsung membuka pintu mobil.


"Ah kan lupa!" Syafira menepuk jidatnya lalu mendekat ke suaminya untuk menyalaminya.


"Udah ya, aku telat. Assalamualaikum!" ucap Syafira seraya berlari kecil karena buru-buru.


Bara hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan ABG yang kini menjadi istrinya tersebut.


🌼🌼🌼


Sementara itu, di Bandara Internasional...


"Lama banget sih ma, Varel nungguin sampai karatan nih," ucap Varel kesal begitu bu Lidya dengan santainya berjalan ke arahnya. Wanita paruh baya itu tampak modis dengan memakai kaca mata hitam dan topi, tangan kirinya menjinjing tas branded mewah, dengan anggun , santai dan elegannya dia berjalan ke arah anak laki-lakinya.


"Di amplas kalau karatan Rel," sahut Bu Lidya sambil membuka kaca matanya.


Ibu dan anak itu berjalan beriringan menuju ke mobil. Varel menyuruh orang untuk membawa dua koper berukuran besar yang di bawa bu Lidya.


"Perasaan mama berangkat bawa satu koper kecil, kenapa pulang bawa dua gede-gede lagi,"


"Itu isinya oleh-oleh semua, dari berbagai negara. Yang bawa waktu pergi mah, mama tinggal aja," jelas bu Lidya santai.


"Ada oleh-oleh buat Varel juga?" tanya Varel antusias.


"Ada," jawab B Lidya.


"Apa?"


"Astaga, serius ma?" Varel shock mendengarnya. Bu Lidya hanya tersenyum menanggapinya, dan terus berjalan mendahului Varel. Tidak mengiyakan, namun juga tidak menyangkal. Entahlah, mungkin dia hanya mengerjai Varel saja.


"Astaga, ABG tua ini!" gumam Varel geleng-geleng kepala lalu menyusul langkah bu Lidya.


Mereka kini sudah masuk ke dalam mobil, Varel mulai menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.


"Kirain lupa jalan pulang ma, katanya mau segera pulang nyatanya baru pulang sekarang," cebik Varel saat mobil sudah keluar dari area bandara.


"Ck. Bilang aja kamu rindu mama, sedih kan di tinggal mama?"


"Mana ada ma, mama di sana senang-senang buat apa Varel sedih," sergah Varel tapi ekspresinya menunjukkan kalau di sangat merindukan sosok ibunya tersebut.


"Kalau rindu, kenapa nggak nyusul aja sih kayak irang susah," timpal bu Lidya.


"Ogah, kalau Varel nyusul, nanti teman-teman mama pada gangguin Varel," Varel menggedikkan bahunya, ngeri membayangkan di kerumuni oleh ibu-ibu sosialita.


"Mama mau langsung pulang ke rumah atau ketemu si kembar dulu?" tanya Varel.


"Ke rumah dulu deh Rel, mama capek butuh istirahat. Mau ngumpulin tenaga buat ceramahin Bara," jawab Bu Lidya.


"Emang kakak kenapa? Hati-hati loh, bisa-bisa kakak menyetop aliran dananya ke mama kalau mama macam-macam,"


"Mana berani dia sama mama, gini-gini mama ibu yang melahirkan istrinya, kalau tidak ada mama tidak akan ada si kembar. Paham!"


"Iyain ajalah, yang penting senang," cebik Varel.


Bu Lidya berdecak mendengar penuturan Varel.


"Rel, berhenti cari makan dulu, mama lapar, cacing-cacing di perut mama udah pada tawuran nih," pinta bu Lidya setelah terdengar perutnya bunyi.


"Iya ma, nanti ada restoran kita berhenti," jawab Varel. Heran dia, apa ibunya itu tidak merasakan jetlag sama sekali setelah terbang cukup lama. Masih saja terlihat energik, ya meskipun tadi dia mengeluh lelah.


🌼🌼🌼


Dua hari kemudian....


Setelah dua hari beristirahat, bu Lidya hari ini mengunjungi kediaman Osmaro. Ia sudah sangat merindukan kedua cucu kembarnya yang selalu terngiang di pelupuk matanya. Baginya, si kembar adalah pengganti dari anak sulungnya yang sudah meninggal yaitu Olivia. Ia merasa Tuhan sangat baik kepadanya. Meski Olivia di ambil kembali, tapi Tuhan juga mengirimkan kedua bocah kembar tersebut.


"Assalamualaikum, yuhu! cucu-cucu kesayangan oma, oma pulang!" hebih bu Lidya ketika menginjakkan kakinya di rumah menantunya tersebut di ikuti pelayan yang membawa beberapa paper bag berisi oleh-oleh untuk penghuni rumah tersebut.


Sepi, tak ada yang menyambut kedatangannya.


"Kemana mereka?" tanya Bu Lidya kepada pelayan.


"Tuan dan nona muda kecil sedang bersekolah nyonya besar. Tuan muda sedang bekerja dan nyonya muda sepertinya sedang ada di kamar," jelas pelayan.


"Ah, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat," keluh bu Lidya.


"Biar saya panggilkan nyonya muda, nyonya besar," ucap pelayan sopan.


"Tidak perlu, biar saya cari Syafira sendiri," ucap Bu Lidya.


"Baik nyonya,"


"Letakkan saja di disitu," bu Lidya menunjuk barang-barang yang di bawa pelayan.


Bu Lidya berjalan ke arah lift untuk naik ke lantai dua untuk mencari Syafira. Dan sampailah ia di depan pintu kamar utama tersebut.


Bu Lidya mencoba mengetuk pintu kamar tersebut, namun tidak ada tanggapan dari dalam. Ia mencoba memegang handle pintu dan ternyata tidak di kunci. Terang saja Syafira tidak menyahut, ia sedang menikmati proses alam di kamar mandi. Membuang makanan masuk ke dalam perutnya dan tidak bisa di cerna. Sehingga ia tidak tahu jika ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Syafira kemana sih, tadi katanya di kamar. Aku ketuk-ketuk kok nggak nyahut," gumamnya penasaran. Tangannya maju mundur, antar ingin membuka pintu yang tidak di kunci itu dan nyelonong masuk atau menunggu si empunya kamar yang membukakan.