
"Uhuk uhuk!" Syafira terkejut hingga tersedak mendengar ucapan si kembar.
"Sayang, punya dedek bayi tidak semudah itu. Tidak bisa malam di cetak, esok hari langsung jadi. Kayak bikin kue saja," ucap Bara.
"Lalu?"
"Ya prosesnya lama. Kalian minta dulu sama bunda, bundanya mau tidak bekerja sama dengan daddy buat dedek bayinya," Bara melirik ke arah Syafira yang entahlah, raut mukanya tidak bisa diartikan. Ia cukup syok mendengar permintaan si kembar.
"Emang beneran harus bekerja sama daddy? tidak bisa sendiri? Kenapa dady tidak pintar, tidak mandiri, kayak Nathan, bikin bayi saja harus minta bantuan bunda,"
Bara menggaruk-garuk kepalanya. Kehabisan kata-kata untuk menjawab. Ia takut salah bicara dan salah cara menjelaskan kepada kedua anaknya. Anak-anaknya itu memang cerdas, tapi tetap saja polos khas anak-anak.
"Bunda, bunda mau kan bantu daddy buat dedek bayinya? Bunda mau kan bekerja sama dengan daddy?" rengek Nala menarik-narik tangan Syafira.
"Eh...?" muka Syafira sudah berubah merah.
"Ya bunda? Lusiana sudah punya dedek bayi, Intan juga papa mamanya pulang liburan ada dedek bayi. Apa daddy sama bunda mau liburan juga terus pulangnya bawa pulang dedek bayi kayak papa mamanya Intan?"
"Mas, bantuin!" Syafira melihat Bara.
"Boy, princess, cepat kalian tidur. Ini sudah malam atau daddy tidak mau kasih dedek bayinya," pupus Bara, supaya tak mendengar rengekan si kembar lagi.
"Iya daddy," sahut Nathan yang langsung mengajak Nala pergi menuju kamar mereka.
Tinggal Bara dan Syafira. Syafira tampak salah tingkah ketika Bara menatapnya.
"Ayo!" ajak Bara.
"Kemana?"
"Buat dedek bayi," sahut Bara menyeringai.
"Nggak mau!" teriak Syafira karena Bara sudah berjalan meninggalkannya.
Syafira ragu-ragu untuk membuka pintu kamarnya. Ia takut, jika Bara benar-benar akan menuruti keinginan si kembar.
Ia menyusul Bara yang sudah berbaring di kasur duluan dengan ragu-ragu. Ia seperti mengambil ancang-ancang sambil merangkak ke tempat tidur. Bara hanya melihat tingkah Syafira yang sangat lucu menurutnya.
Syafira berhasil merebahkan tubuhnya di samping Bara. Ia mencari-cari bantal guling untuk membatasi, tapi tidak ia temukan. Akhirnya ia hanya pasrah, ia menarik selimut dan mencoba memejamkan matanya. Bara terus menahan tawanya sambil melirik ke arah istrinya.
"Jadi bagaimana?" suara Bara tiba-tiba membuat Syafira langsung melotot. Ia pikir suaminya tersebut sudah tidur.
"Bagaimana apanya?" tanya Syafira, tangannya meremat ujung selimut.
"Permintaan si kembar tadi, apa mau bekerja sama malam ini membuat dedek bayi?" Bara sudah mengukung tubuh Syafira di bawahnya.
"Ma mas Bara mau ngapain?" tanya Syafira mendadak gagap.
"Mulai kerja sama, bagaimana?" ucap Bara, sengaja menggoda Syafira.
"I itu kan hanya khayalan anak-anak mas. Mereka juga tidak tahu kerja sama yabg seperti apa yang di maksud,"
"Tapi kamu bukan anak-anak bukan? Kamu paham bukan kerja sama seperti apa yang akan menghasilkan dedek bayi?" seringai tipis tersungging dari bibir Bara yang masih mengukung tubuh istrinya.
"Aku nggak ngerti mas Bara ngomong apa, mas bara awas. Aku sesak napas kalau mas Bara seperti itu," Syafira mendorong tubuh suaminya kuat-kuat. Namun tidak berhasil menghempaskan tubuh kekar suaminya.
"Daddy!" Suara melengking itu sangat terdengar jelas di telinga Syafira dan Bara. Mereka menoleh ke arah pintu dimana dua bocah kembar itu sudah berdiri di sana membawa segelas air putih.
"Huwa daddy jahat huwaa, daddy nakal sama bunda huwaa!" teriak Nala histeris.
Bara dan Syafira saling menatap, begitu menyadari posisi mereka, Syafira langsung mendorong dada bidang suaminya, Bara langsung menyingkir.
"Kamu nggak kunci pintunya Fir?"
"Lupa mas," ujar Syafira bergumam namun di dengar oleh Bara.
"Daddy, kenapa menyerang bunda, daddy tidak sayang sama bunda, kasihan bunda. Laki-laki harus melindungi perempuan!" ucap Nathan.
Bara langsung mendekat ke si kembar.
"Sayang, dengar daddy. Daddy tidak jahat, tidak nakalin bunda. Tadi daddy cuma sedang bermain sama bunda. Kan biar akrab, biar bisa bekerja sama kalau akrab. Katanya mau dedek bayi?"
"Benar bunda? Daddy tadi tidak mengajak bunda berantem?"
"Iya sayang, daddy sama bunda kan berteman jadi tidak mungkin berantem," ucap Syafira tersenyum.
Si kembar tampak bernapas lega.
"Kalian ngapain ke sini? Tadi katanya mau tidur tidak sama bunda?" tanya Syafira.
"Ini, Nathan bawain air putih buat bunda. Oma bilang mungkin bunda sama daddy harus di kasih air supaya cepat buat dedek bayi,"
Bara mengusap wajahnya kasar, ibu mertuanya itu sudah mengajari apa kepada kedua anaknya.
"Air apa?" selidik Bara.
"Air putih daddy, oma bilang air putih tadi saat Nathan tanya, ini" menyodorkan gelas berisi air mineral kepada ayahnya.
"Ya sudah, sekarang kalian balik ke kamar. Ayo bunda antar," Syafira menggiring si kembar keluar dari kamarnya.
Syafira menoleh ke arah Bara.
"Saya tunggu," ucapnya tersenyum.
"Tidur saja duluan," ucapnya sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar tersebut.
"Kalau kebanyakan minum air putih mah jadi kembung yang ada, bukan jadi anak. Mama ada-ada aja, dasar abg tua!" gumam Bara menatap gelas yang ia pegang.
Selesai menidurkan si kembar, Syafira kembali ke kamar.
"Mas Bara nyebelin!" protes Syafira.
"Kok saya? Kan kamu yang lupa tidak menguncinya tadi,"
"Ya buat apa juga di kunci kan, tidak akan ada apa-apa juga," cebik Syafira.
"Kita itu sudah sah menikah, jadi segala sesuatu bisa terjadi, lebih baik pintu di kunci saja,biar kejadian seperti barusan tidak terjadi lagi,"
"Terserahlah, aku mau tidur. Jangan macam-macam!" peringat Syafira.
"Nggak jadi bekerja sama nih?" Bara merengkuh tubuh Syafira ke dalam pelukannya.
"Mas Bara!" Syafira berusaha melepas pelukan Bara.
"Jangan teriak, nanti bukan cuma anak-anak yang datang, tapi seluruh penghuni rumah. Kamu mau di gerebek?"
"Ih ogah!"
"Makanya diam,"
"Tapi aku nggak biasa tidur di peluk-peluk kayak guling begini,"
"Mulai sekarang harus terbiasa, sudah diam dan tidur. Saya capek, besok harus kerja," ucap Bara yang sudah memejamkan matanya.
Syafira hanya bisa pasrah, dari pada beneran di gerebek, pikirnya. Ia lupa jika kamar itu kedap suara dan siapa juga yang berani menggerebek majikan mereka sendiri. Bara tersenyum
๐ Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, hadiah atau votenya, terima kasih ๐๐
Salam hangat author โค๏ธโค๏ธ๐ค๐