
Sesampainya di depan ruang IGD, dokter menghentikan langkah Varel. Memintanya untuk menunggu di luar sementara Syafira akan di periksa di dalam.
Varel patuh dan hanya bisa menatap pintu ruang IGD tertutup. Ia hanya bisa berdoa supaya Syafira baik-baik saja di dalam.
Bara terus berteriak memanggil nama Varel dan menanyakan apa yang terjadi dengan istrinya. Varel yang menyadari panggilannya belum mati, langsung kembali menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.
"Kak..." ucapnya lirih seakan tak bertenaga sekedar menelan salivanya sendiri saja.
"FIRA KENAPA REL? APA YANG TERJADI?! ISTRIKU KENAPA!!!" teriak Bara dengan kesal karena sejak tadi tak ada yang menjawab kekhawatirannya.
"Di~dia pingsan kak," jawab Varel.
"PINGSAN? KENAPA BISA PINGSAN?" Bara semakin panik, kalau bisa saat ini juga ia ingin kembali ke Jakarta.
"Sepertinya Adel...."
"ADEL KENAPA?" tanya Bara tak sabar.
"Tidak tahu kak, tadi tiba-tiba beberapa dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam ruangan Adel. Syafira terus teriak-teriak manggil Adel dan langsung pingsan. Sepertinya... Adel...," Varel tak tahu bagaimana mengatakannya kepada Bara, namun kakak iparnya tersebut sudah paham maksudnya. Tubuhnya seketika lemas, ponsel yang ia pegang hampir saja jatuh.
"Kak...? Syafira sedang di periksa dokter, biar aku cek dulu keadaan Adel, semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi. Kakak yang tenang, aku tutup dulu teleponnya," Varel langsung mengakhiri panggilan dan menyimpan ponselnya ke saku celana. Ia langsung berjalan cepat kembali ke ruang rawat Adel, meninggalkan Syafira yang masih pingsan di dalam ruang IGD.
Sesampainya di depan ruang rawat Adel. Varel langsung menyerobot masuk ke dalam untuk melihat kondisinya. Tampak dokter sedang berusaha, namun sepertinya tidak bisa. Alat EKG yang sejak tadi sudah menunjukkan flatline sudah menjawab semuanya. Dengan membuang napas pelan dan berat, dokter menatapnya lalu menggeleng, "Kamibsudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain," ucap dokter itu pelan.
Seketika lutut Varel terasa lemas seperti tak bertulang. Tatapannya menerawang, dalam hati ia terus memohon kepada Adel supaya jangan pergi. Ia mengharap sebuah keajaiban dari Tuhan untuk gadis itu.
Varel terus menatap lekat wajah Adel yang beberapa detik lalu dinyatakan telah tiada oleh dokter. Entah kenapa jiwanya serasa kosong, padahal ia dan Adel tak saling mengenal sebelumnya.
Varel tak mengatakan apapun dengan bibirnya, namun dalam hati ia menangis, menangisi perempuan yang bahkan tak ia kenal itu. Apa karena ini ada hubungannya dengan Syafira dan Bara, atau memang ada sesuatu yang lain? Entahlah, yang jelas ia tak tahu bagaiamana kondisis Syafira setelah ini dan bagaimana ia mengatakannya kepada Bara. Varel benar-benar kalut dan kacau. Ia terus meminta Adel untuk bangun dalam hatinya.
π¦π¦π¦
Sementara itu di sebuah tempat yang laoang dan sangat terang, Adel tampak berjalan melangkah dengan pelan mengikuti langkah seorang pria baruh baya. Pria itu berhenti dan Adel juga menghentikan langkahnya tepat di belakang pria itu.
Laki-laki itu menoleh dan tersenyum, "Kembalilah nak," ucapnya.
"Tapi Adel mau ikut ayah, kenapa ayah malah menyuruh Adel kembali? Apa ayah tidak senang jika Adel ikut ayah?" tanya Adel.
Pria itu menggeleng, "Belum waktunya sayang, kembalilah. Kakakmu sangat membutuhkan kamu. Dia sangat rapuh saat ini, kembalilah kepadanya," ucapnya tersenyum lagi lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Tapi ayah,,,, Adel ingin ikut ayah, atau ayo kita kembali sama-sama ayah, ayah jangan pergi," ucap Adel yang terus mengikuti langkahnya. Namun, samar-samar ia seperti mendengar ada yang memanggil namanya. Tapi siapa yabg memanggilnya? Ia tak tahu.
Pria itu kembali berhenti, menoleh dan mengusap lembut kepala Adel, "Tidak anakku, ayah tidak bisa kembali lagi. Kau yang harus kembali. Kakakmu sangat membutuhkanmu sekarang, kembalilah demi dia. Kalian harus menjaga satu sama lain saling menguatkan. Karena ayah tidak bisa lagi menjaga dan melindungi kalian. Kembalilah nak, kembali!" Kata pria itu, kini langkahnya tak terhenti lagi, ia terus berjalan medekati sorot cahaya terang itu hingga perlahan menghilang.
Adel juga mendengar ada suara lain yang memanggilnya, "Kembalilah, aku mohon. Jangan pergi, kembalilah aku mohon!" suara laki-laki itu terdengar jelas oleh Adel, namun ia tak tahu siapa yang begitu tulus memohon tersebut.
Adel tampak bingung, antara ia harus menyususl ayahnya atau kembali kepada dua suara yang terus memanggilnya untuk kembali.
π¦π¦π¦
Saat perawat ingin melepas semua alat medis yang menempel di tubuh Adel, tiba-tiba layar monitor EKG kembali berbunyi dan mulai menampilkan garis tak beraturan naik turun. Membuat perawat langsung memanggil dokter kembali. Dokter segera kembali masuk ke dalam untuk memeriksa kondisi Adel. Perawat meminta Varel yang masih tak mengerti apa yang terjadi, ia hanya melongo dan mematuhi permintaan perawat untuk keluar. Ia berjalan mundur dengan pelan sambil terus menatap Adel.
Tak berselang lama dokter dan perawat keluar, Varel langsung menghadang dokter untuk bertanya, "Bagaimana dok? Nggak jadi mati kan?" tanyanya tanpa basa-basi.
Dokter hanya menunjukkan wajah ekspresi yang tak bisa diartikan oleh Varel. Namun, sejurus kemudian sang dokter tersenyum dan menepuk pundak Varel, "Sana temui pacarmu, pasti sudah rindu kan di tinggal koma berbulan-bulan," ucap dokter seraya tersenyum lalu pergi meninggalkan Varel yang bengong sedang mencerna ucapan dokter barusan.
πΌ πΌ πΌ
Syafira baru saja sadar dari pingsannya ia memegang kepalanya yang terasa pening sekali.
"Sudah siuman? Syukurlah, anak dalam kandungan Anda baik-baik saja. Anda hanya kelelahan," ucap dokter seraya tersenyum mendekati Syafira.
"A~anak?" Syafira mengerutkan keningnya tak mengerti maksud ucapan dokter.
"Iya. Anak yang ada di dalam kandungan Anda,"
Syafira terlihat masih bingung sambil melihat perutnya.
"Apa.... Anda belum tahu kalau Anda sedang hamil?" tanya domter yang bisa membaca raut wajah bingung Syafira.
"Sa~saya hamil dokter?" tanya Syafira dengan suara tercekat.
Dokter mengangguk, "Jadi beneran belum tahu ya. Iya, Anda sedang hamil enam minggu, selamat ya nona. Tuan Bara pasti senang jika mengetahui Anda hamil," ucap dokter tersebut. Ia tahu siapa Syafira. Istri pemilik rumah sakit tempatnya mengabdi.
Deg!
Mendengar ucapan dokter, dada Syafira langsung bergemuruh. Ia tak tahu harus senang atau sedih dengan berita kehamilannya tersebut. Selama ini ia memang sangat menginginkan seorang anak. Buah cintanya dengan Bara. Namun, kenapa berita bahagia tersebut datang di saat seperti ini. Saat ia dan Bara sedang dalam masalah yang berat.
Syafira menitikkan air matanya, ia benar-benar dilema. Kenapa berita bahagia tersebut datang di saat yang tidak tepat seperti ini. Ia menunduk lalu mengusap perutnya yang masih datar tersebut sambil menangis.
πΌ πΌ πΌ
π π Jangan lupa like dan komennya.. Jika masih ada vote, boleh banget berikan kepada Om mantan duda dan Syafira.. Terima kasih ππΌππΌππΌπ π