Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 64


Namun, sebelum ia melangkah keluar kamar. Syafira mengirim pesan kepada Bara.


"Mas, aku ijin untuk me time ya, mumpung anak-anak sama ibu. Mas Bara jangan cari aku. Aku akan pulang sendiri," pesan yang dikirim kepada Bara.


"Iya, hati-hati, saya juga mendadak harus keluar kota, besok lusa baru pulang," balasan yang di kirim oleh Bara. Ia pikir Syafira hanya akan pergi sebentar, seperti biasanya, menghabiskan waktu bersama teman-temannya.


Syafira tak membalas lagi, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menyeret kopernya keluar kamar.


🌼🌼🌼


Dua hari kemudian, Bara baru pulang, ia ingin segera melepas rasa lelahnya akibat pekerjaan yang begitu menumpuk sejak kemarin.


Bara pikir, Syafira pasti sudah kembali dan menyiapkan segala keperluannya seperti biasa. Apalagi ini adalah weekend, istrinya itu tahu kalau Bara akan di rumah seharian.


Tapi di luar pikirannya, ia tak mendapati istrinya itu menyambut kepulangannya seperti biasa. Mungkin masih ngambek, pikirnya.


Saat memasuki kamar, ia melihat photo Olivia sudah terpasang kembali, sesuai janji Syafira.


Bara mencari keberadaan Syafira hampir ke seluruh penjuru rumah, namun ia tak menemukannya.


"Dari kemarin nyonya muda tidak pulang tuan, katanya sudah ijin sama tuan," ucap Bibi ketika Bara menanyakan Syafira.


"Apa nyonya muda tidak memberi tahu Tuan muda kemana perginya?" dengan takut-takut bibi bertanya. Karena tidak biasanya Syafira seperti ini, pikir bibi.


"Dia bilang, saya yang lupa," jawab Bara.


Bara baru ingat pesan yang di kirim oleh Syafira untuk tidak mencarinya, sekarang ia paham akan maksud kalimat itu. Ya, me time yang Syafira maksud ternyata bukan sekedar jalan sama teman-temannya, tapi lebih dari itu, dia pergi dan bodohnya Bara tidak menyadari hal itu.


Bara mengusap wajahnya kasar,


"Kemana kamu Fir?" batinnya.


Baru akan menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya, Bara mengurungkan langkahnya saat teriakan si kembar terdengar jelas di telinganya.


"Daddyyy!" seru Nala dan Nathan sambil berlari ke arahnya. Bara menoleh dan tersenyum, menyambut kedua buah hatinya.


Si kembar langsung memeluk ayah yang mereka rindukan itu.


"Katanya masih beberapa hari?" Bara menggendong Nala dan berjalan mendekati bu Lidya yang berdiri beberapa meter darinya.


"Iya, rencana mama memang mau bawa mereka beberapa hari lagi, tapi Nala sudah merengek minta pulang. Kangen sama bundanya katanya," jawab bu Lidya.


Dan saat inilah Bara bingung harus bilang apa kepada si kembar jika mereka menanyakan Syafira.


"Mama kapan pulang?" Bara mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia duduk di sofa mengikuti bu Lidya yang sudah duduk duluan.


"Beberapa hari yang lalu," jawab bu Lidya.


"Mana Fira, tumben nggak nyambut mama datang," bu Lidya celingukan mencari keberadaan Syafira.


"Dia lagi pergi ma," ucap Bara sekenanya.


"Emm, mungkin. Ini Bara juga baru pulang," jawab Bara, bu Lidya merasa ada yang aneh dari raut wajah menantunya.


"Hem, gimana hubungan kamu sama Syafira? Mama harap setelah photo Olivia Mama turunkan dari kamar kamu, hubungan kalian jadi semakin dekat," ucap bu Lidya.


Sayang, kalian ke atas dulu ya sama nanny," ucap Bara kepada si kembar, ia tak ingin si kembar mendengar percakapannya dengan bu Lidya.


Setelah si kembar pergi, Bara menatap tajam bu Lidya.


"Mama yang nurunin photo Olivia?" Bara menegaskan apa yang ia dengar.


"Iya kenapa? Kamu tuh ya, tega amat sama Fira, apa selama ini kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan istrimu? Jika di ruang tamu dan lainnya mungkin tidak masalah, masih bisa di terima, tapi kalau di kamar? Untuk sekedar menyentuh kamu saja pasti Syafira akan berpikir dua kali saat melihat photo itu seolah sedang memperhatikan aktivitas kalian..." bu Lidya menjeda ucapannya sebentar lalu melanjutkannya kembali setelah menghela napas.


"Bahkan tidak ada satu pun photo kamu dan Syafira yang terpajang di rumah ini. Dia istri sahmu Bara, perlakukan dia dengan adil Bara. Ini Syafira, coba kalau wanita lain, mama misalnya, nggak hanya mama pindahkan, bisa-bisa mama bakar itu photo, nggak ada syukurnya jadi laki-laki,"


"Selama ini Syafira tidak pernah mengeluh soal photo itu," ucap Bara mencoba mengingat apa Syafira pernah protes dengan keberadaan photo itu.


"Iya, dengan sifat Syafira yang seperti itu, tidak mungkin dia akan protes. Tapi, bukan berarti dia baik-baik saja dengan semua sikap yang kamu tunjukkan kepadanya, bagaimanapun dia seorang istri, hak dan kebebasannya sudah terikat denganmu, Dia sudah tidak bisa bebas seperti temannya, semua sikap dan perilakunya harus ia batasi karena statusnya sebagai seorang istri.


Batinnya pasti tetap akan terluka dengan sikap kamu yang seperti ini, kamu mengikat dia dengan sebuah pernikahan, tapi kamu tidak memperlakukan dia sebagai mana mestinya. Dia selalu ngerti kamu, menerima semua perlakuanmu, tapi kamu apa pernah sedikit saja mencoba mengerti dia?"


Bara terdiam, dalam hatinya ia merasa bersalah karen kemarin sudah memarahi istrinya tersebut, sedangkan Syafira tak melakukan pembelaan sama sekali. Syafira tidak protes dengan tuduhan suaminya, bahkan gadis itu tetap mencoba tegar dengan tidak meneteskan air matanya di depan Bara.


"Kenapa kamu diam saja Fir aku marahi seperti itu, kenapa kamu tidak protes jika bukan kamu yang melakukannya," gumam Bara, ia menyisir rambutnya frustrasi. Menyesali apa yang sudah ia lakukan sehingga membuat istrinya pergi dari rumah.


"Apa? Kau memarahi Syafira? Asal kamu tahu, saat mama akan mengambil photo itu, Syafira mencegahnya. Ia memikirkan bagaimana perasaan kamu, ia memikirkan bagaimana kamu akan marah jika photo itu di ambil. Ia ingin kamu sendiri yang secara ikhlas menurunkannya, tapi mau sampai kapan? Astaga, gara-gara mama Syafira yang kena marah. Aturan mama yang kamu marahi kalau mau marah, bukan istrimu. Dia tidak salah,"


Bara semakin merasa frustrasi mendengar omelan bu Lidya. Ia memijit pelipisnya. Bara langsung berdiri, ia ingin mencari istrinya.


"Mau kemana kamu, mama belum selesai bicara!"


"Mencari Syafira ma," jawab Bara.


" Syafira minggat? Kamu usir dia? benar-benar kamu ya, itu photo cuma di pindahkan dari kamar kamu Bara, bukan dari hati kamu! kenapa reaksi kamu berlebihan seperti ini?"


"Bara tidak mengusir dia ma, tidak sejahat itu. Dia istri Bara, Bara sayang sama dia, mana mungkin Bara usir. Dia nggak minggat, cuma bilang butuh me time, biasa kalau marah juga nggak lama, kali ini saja sampai nggak pulang. Tapi pasti nanti cepat baik,"


"Itu minggat namanya beg*!"


"Ma..." protes Bara.


"Apa? Emang kamu itu bodoh soal perasaan, soal kepekaan terhadap pasangan. Dari dulu nggak berubah. Pintarnya cuma soal cari duit saja kamu tuh! tapi soal hubungan masih beg*, masih harus banyak belajar lagi!"


"Ma..." ingin protes tapi tidak bisa jika ibu mertua rasa ibu kandung itu sudah mengeluarkan tanduknya. Salah-salah ia akan di pecat jadi mantu.


" Mama nggak mau tahu, bawa pulang Syafira secepatnya, atau mama pecat jadi mantu!" kesal bu Lidya. Nah kan, benar mau di pecat, padahal juga Olivia sudah meninggal, dipecatpun sebenarnya tidak apa-apa. Tapi rasa sayangnya kepada bu Lidya yang menganggapnya anak sendiri itu membuatnya tak bisa berkutik. Bahkan Varel sering protes karena ibunya seperti lebih menyayangi Kakak iparnya, meskipun itu hoaks. Varel tahu, kasih sayang bu Lidya ia bagi rata untuk dua pria tampan dalam hidupnya tersebut.


Bara langsung kembali ke kamar, untuk berganti pakaian sebelum mencari Syafira. Perasaannya semakin tak karuan ketika menyadari ada beberapa pakaian Syafira yang tidak ada, yang artinya memang istrinya belum akan kembali dalam beberapa hari bahkan mungkin tidak akan kembali? Bara semakin kalut, ia segera berganti pakaian dan langsung menyambar ponselnya yang terletak di atas nakas.


🌼🌼🌼