Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 87


"Fir..." ucap bara yang sedang membujuk Syafira yang sedang merajuk di pojokan gara-gara tadi Bara tak hanya mencium keningnya tetapi juga bibirnya di depan umum. Tangannya berusaha meraih tangan sang istri.


"Jangan pegang-pegang mas," Syafira menarik tangannya dari genggaman Bara.


"Maaf mas terbawa suasanan tadi," ucap Bara. Di cium bibir di depan umum sepertinya masih menjadi hal sangat memalukan bagi Syafira.


"Terbawa suasana nggak gitu juga mas, malu. Ada ibuk ada anak-anak dan lainnya juga. Apa kata mereka coba," meskipun hanya sebuah kecupan singkat di bibir, Syafira tetap merasa malu karena berhasil mencuri perhatian hampir seluruh manusia yang ada di aula tadi.


"Lagian kenapa sih, kan yang cium suami kamu ini, sah-sah aja sayang. Bukan ciuman yang gimana-gimana juga kan," Bara mencoba membela diri.


"Iya mas, tapi itu tetap aja nggak bagus di lihat anak-anak,"


"Iya mas salah, mas minta maaf ya. Di maafin nggak nih?" Bara mengulurkan tangannya sebagai tanda permintaan maafnya. Lebih baik dia mengalah saja, berdebat pun ia tak akan menang melawan istrinya itu jika sudah merajuk.


"Iya di maafin, tapi lain kali kode-kode dulu kalau mau cium di bibir tuh," Syafira menyambut tangan suaminya lalu mencium punggung tangan tersebut.


"Iya, udah jangan ngambek lagi. Mas aja nggak di jatah hampir seminggu ini nggak marah kok, jadi ya wajar kan tadi mas main nyosor aja. Udah rindu berat," ujar Bara. Syafira yang mendengarnya jadi merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, Nala akhir-akhir ini sangat manja dengannya, hingga apa-apa harus Syafira, Syafira dan Syafira. Tidur juga harus bersama Syafira.


Tanpa sengaja bu Lidya yang sedang menggandeng si kembar mendengar kalimat terakhir yang di lontarkan oleh menantunya tersebut.


"Astaga seminggu? Seminggu Fira nggak ngasih jatah? Gawat! Kapan mau nambah lagi ini cucunya," batin bu Lidya resah. Ia pikir Syafira masih cuek dan belum sepenuhnya menerima tobatnya Bara atas sikapnya dulu.


"Bunda!" Nala dan Nathan langsung melepas tangan mereka dari tangan bu Lidya dan berpindah pada tangan Syafira.


"Akhir-akhir ini mama nggak lihat Jhon, kemana dia? Sehat kan? Masih hidup kan?" tanya bu Lidya.


Kening Bara mngernyit mendengar pertanyaan bu Lidya yang tiba-tiba menanyakan kabar om Jhon," Sehat, hanya sekarang om Jhon lebih sering di kantor. Kasihan kalau harus terus ngikutin Bara kemana-mana, udah tua," jawab Bara.


"Tumben mama nanyain om Jhon?" sambungnya.


"Kangen aja, biasanya kan dimana ada kamu di sana ada Jhon, mama udah lama nggak ngobrol sama dia. Nggak curhat-curhat gitu," sahut bu Lidya. Bara tidak terlalu terkejut mendengar ucapan ibu mertuanya, karena memang mereka berteman sejak Bara mengenal Olivia dan kencan dengannya. Om Jhon yang selalu mengelabuhi bu Lidya ketika wanita itu merengek ingin ikut Bara dan Olivia Berkencan.


"Kan mama bisa berkabar sama om Jhon, hape masih nyala kan, belum rusak?"


"Ih nggak mau, masa mama harus chat dia duluan, gengsilah, ntar di kira wanita apaan," tukas Bu Lidya.


"Kenapa gengsi buk, kan nanyain kabar duluan nggak masalah," Syafira yang sejak tadi sibuk bersama si kembar, kini ikut nimbrung.


"Jangan bilang mama naksir sama om Jhon?" Bara setengah tak percaya dengan pertanyaannya, tapi selama ini bu Lidya memang terlihat gimana gitu kalau ketemu om Jhon. Ia juga ingat ucapan polos Nala tadi yang bilang omanya sedang sibuk cari opa baru. Meskipun Bara tahu itu pasti ucapan-ucapan absurd dari sang mertua yang sebenarnya bisa jadi candaan dengan si kembar tapi bisa juga itu benar-benar kenyataannya, hanya bu lidya yang tahu isi kepalanya sendiri.


"Lah emang kenapa kalau misalnya mama suka? Sama-sama jomblo ini, mama nggak nikung," gaya bahasa bu Lidya sudah macam anak abg saja.


"Mama suka yang import-import kayak Jhon," imbuh bu Lidya.


"Dia punya istri ma,"


"Tapi om Jhon cinta mati sama istrinya, lihat saja sampai sekarang dia nggak nikah lagi,"


"Itu karena dia belum nemu yang cocok saja Bar. Coba kalau udah nemu yang cocok kayak kamu, kata-kata itu nggak berlaku,"


Bara diam, benar apa yang di katakan bu Lidya. Dulu ia meyakini cintanya hanya untuk Olivia seorang yang akan dia bawa sampai akhir hayat, tapi nyatanya goyah dengan hadirnya seorang Syafira dalam hidupnya. Tapi ia tak menyesali hal itu.


"Mama serius ini suka sama om Jhon?"


"Heleh kepo!" cebik bu Lidya. Bara hanya bisa mendesah.


"Bu, nanti setelah ini Fira langsung ke kampus . Ibu bisa tolong ajak anak-anak pulang bareng ibu?" Syafira terpaksa menyela obrolan mertua dan menntu tersebut karena mengingat jam sudah waktunya ia ke kampus dan ia pikir Bara akan langsung menuju ke kantor setelah ini.


"Iya, kamu tenang aja. Ada ibu mah anak-anak beres. Yuk sayang, kita pulang sekarang. Teman-teman oma ada mau datang ke rumah nanti," bu Lidya mengajak kedua cucunya untuk langsung pulang.


"Bunda, nanti sore jemput ya di rumah oma, Nala nggak mau nginep di sana," ucap gadis cilik berlesung pipi tersebut.


"Aku juga," sambung Nathan.


"Iya, nanti sore bunda dan daddy jemput. Iya kan mas?" menoleh kearah sang suami.


"Hem," sahut Bara mengangguk.


Setelah pamit, kedua anak kembar beserta omanya langsung meninggalkan Bara dan Syafira.


"Nggak enak juga selalu repotin ibu," gumam Syafira sambil memperhatikan langkah kaki ketiganya yang berjalan beriringan dengan dua anak kembarnya menggendong ransel kecil tas di punggung dan masing-masing memeluk piala dengan satu tangan.


"Nggak usah nggak enak begitu, udah biasa. Kan mereka cucu mama. Lagian nggak gratisan juga, mahal itu baby sitter yang satu itu tarifnya," ucap Bara.


"Ah, aku harus segera ke kampus. Mas juga mau ke kantor kan, kita pisah di sini ya. Aku naik taksi aja,"


"Bareng aja, mas kenkantor cuma sebentar, habis itu ke..."


"Kelamaan, aku berangkat dulu yah, taksi onlinenya udah datang," belum juga Bara menyelesaikan kalimatnya, Syafira udah menyela. Ia meraih tangan Bara untuk di cium dan langsung memutar badannya, melangkahkan kakinya dengan buru-buru.


Bara mengerutkan keningnya sambil menatap aneh punggung Syafira, kapan istrinya tersebut memesan taksi.


"Eh lupa!" Syafira kemblai memutar badannya dan mendekati suaminya. Di ciumnya pipi Bara, "Bonus, sampai nanti sore ya. Assalamu'alaikum," pamitnya buru-buru.


Bara hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil menyentuh pipi yang baru saja di cium Syafira.


"Tadi aja marah gara-gara aku sosor di dalam, sekarang malah dia yang nyosor duluan. Maunya apa sih," gumamnya.


🌼🌼🌼