
Pertama, Syafira mengajak si kembar berkunjung ke makam Olivia dan ayahnya.
"Ini makam ayah bunda," ucap Syafira ketika sampai di makam ayahnya.
"Assalamualaikum Eyang," Nathan dan Nala mengucap salam secara bersamaan.
Syafira tersenyum mendengar mereka memanggil almarhum ayahnya dengan sebutan eyang tanpa ia minta.
sekitar 15 menit mereka berada di makam ayah Syafira dan berlanjut ke makam Olivia baru kemudian mereka menuju ke toko kue milik Syafira.
"Bunda haus," ucap Nathan mengusap lehernya begitu sampai di toko.
Syafira tersenyum mendengarnya, lalu ia mengajak si kembar untuk langsung masuk ke dalam toko.
"Sebentar ya, bunda ambil minum dulu. Nala juga mau?" tanya Syafira keada Nala dan di jawab anggukan oleh gadis kecil berlesung pipi tersebut. Syafira langsung menuju ke dapur untuk mengambil minum.
"Mbak Fira baru datang?" sapa Rani yang baru saja dari kamar mandi.
"Ya allah Ran, ngagetin aja. Iya, tadi habis dari makam ayah sama mbak Olivia. Tuh sama anak-anak sedang duduk di luar, mereka kehausan," ucap Syafira sambil menuang air putih ke dalam gelas.
"Om duda nggak ikut mbak?" tanya Rani.
Syafira mengerutkan keningnya mendengar Rani menyebut om duda.
"Eh lupa, udah nggak duda lagi," Rani menutup bibirnya sambil tersenyum. Syafira pun ikut tersenyum mendengar celotehan Rani.
"Enggak, mas Bara sedang sibuk," ucap Syafira.
"Orang kaya emang gitu ya mbak, weekend pu masih mikirin pekerjaan. Terus uang yang mereka kumpulkan buat apa coba? Di timbun kali ya hihihi," ujar Rani terkekeh.
"Kita aja yang enggak kaya tetap kerja kan Ran meski weekend. Mungkin sama saja mau kaya atau enggak kalau sudah tanggung jawab ya harus di kerjakan," ucap Syafira tersenyum, kemudian ia keluar dengan membawa dua gelas yang sudah ia isi dengan air putih tersebut.
"Ran itu ada pembeli," Syafira berhenti sejenak dan menoleh ke arah Rani.
"Oh iya mbak," Rani segera keluar, berlari kecil mendahului Syafira.
"Sepertinya Rani butuh teman, kasihan kalau sendiri,"batin Syafira sambil melanjutkan langkah mendekati dua buah hatinya.
"Terima kasih bunda," ucap Nathan dan Nala serentak sambil meraih gelas yang di sodorkan Syafira. Mereka langsung meminum habis air putih tersebut.
"Mau lagi?" tawar Syafira, ia bisa paham kedua bocah tersebut pasti kepanasan tadi di makam karena terik matahari yang menyengat.
"Cukup bunda, nanti kembung kalau kebanyakan minum," tolak Nathan.
"Bunda mau macaroon," rengek Nala sambil menggoyang-goyang boneka yang sejak tadi ia peluk dan langsung di ambilkan oleh Rani atas perintah Syafira.
"Wah mbak ponakannya lucu-lucu ya, cantik dan tampan, menggemaskan," ucap seorang wanita sambil menunggu kue yang ia pesan di packing oleh Rani.
"Nathan bukan bayi, jadi nggak lucu!" protes Nathan tak terima dengan dinginnya.
"Nathan, nggak boleh begitu, harus menghormati orang yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda," peringat Syafira.
"Maaf bunda," ucap Nathan menunduk.
"Minta maaf sama ibunya," pinta Syafira.
"Nathan minta maaf," Nathan melihat ke arah ibu-ibu tersebut.
"Ih gemesin deh, apalagi yang laki-laki," ucap Ibu tersebut tersenyum.
"Eh mereka memanggil bunda?" ucap ibu tersebut menyadari ucapan Nathan.
"Iya bu, mereka anak-anak saya," sahut Syafira tanpa ragu.
"Semuda ini udah punya anak toh," ibu-ibu itu mangguk-mangguk.
"Iya bu, langsung dua lagi, biar nanti mereka gede saya masih muda," Syafira tersenyum melihat kedua anaknya yang asyik sendiri-sendiri.
Ibu-ibu itu pun pamit setelah Rani menyerahkan box berisi kue yang ia beli tadi.
🌼🌼🌼
Hanya sekitar dua jam saja mereka berada di toko karena setelah ini Syafira ingin mengajak si kembar ke yayasan panti asuhan yang tak jauh dari toko kuenya. Ia ingin mengajarkan kedua anaknya untuk berbagi. Syafira mengambil dan menggenggam erat kartu yang tadi di berikan oleh Bara, kemudian ia tersenyum. Sebuah ide muncul di kepalanya.
"Pak kita belanja dulu," ucapnya kepada pak Hendro, sopir keluarga Osmaro.
"Baik nona," sahut pak Hendro yang langsung menuju ke tempat pusat perbelanjaan terdekat.
Sesampainya di tempat pusat perbelanjaan, Syafira mengajak mengajak Nathan dan Nala turun. Cukup repot sih, mengajak dua anak untuk belanja banyak keperluan. Tahu gini tadi ia akan mengajak nenny, karena ini tidak ada dalam.list kegiatan hari ini jadi ia tak kepikiran sampai ke sana.
"Pak Hendro bisa ikut saya ke dalam? tolong bantu jagain anak-anak," pinta Syafira.
Pak Hendro pun ikut masuk ke mall, ia menjaga si kembar selagi Syafira berbelanja. Syafira belanja banyak pakaian dan alat sekolah. Tak lupa ia membeli kebutuhan pokok dalam jumlah yang banyak juga.
Syafira melihat ke arah si kembar yang sudah lelah dan kini sedang duduk bersama pak Hendro menunggu dia selesai membayar belanjaan. Tentu saja semua yang ia beli memakai black card gold yang di berikan suaminya tadi pagi.
"Dia bilang kartu ini unlimited kan? Boleh digunain buat apa aja. Oke, aku gunain buat amal," batinnya menyeringai sebelum menyerahkannya kepada kasir.
Melihat si kembar, Syafira kepikiran untuk membelikan si kembar baju, ia mengambil dompetnya lalu tersenyum.
"Sepertinya cukup buat membelikan mereka baju," gumamnya.
Ya, ia ingin membelikan Nathan dan Nala dengan uangnya sendiri. Ia tak akan menggunakan uang Bara untuk keperluan pribadinya selama lak-laki itu masih tak menganggapnya istri.
Selesai berbelanja, Syafira mengajak si kembar dan pak Hendro makan siang baru mereka melanjutkan perjalanan ke panti asuhan.
Di tempat lain, Bara yang tetap sibuk dengan laptopnya meski hari libur, membuka ponselnya setelah ada notifikasi masuk. Dilihatnya pemberitahuan penggunaan black card goldnya. Bara mengerutkan keningnya melihat nominal yang tertera cukup banyak.
"Buat apa dia mengeluarkan uang dalam jumlah banyak seperti itu?" gumam Bara, karena selama ia mengenal Syafira gadis itu tampak seperti gadis yang gila shopping atau menghambur-hamburkan uang.
Bara langsung meminta pesan kepada Sopir yang mengantar Syafira.
"Apa yang nyonya lakukan?" isi pesan Bara.
"Pergi ke makam, ke toko dan sekarang sedang berada di sebuah panti asuhan," balas Pak Hendro yang kini tengah menunggu Syafira dan si kembar di dalam mobil.
"Panti asuhan?"
"Ya tuan muda, tadi nyonya berbelanja pakaian, perlengkapan sekolah dan kebutuhan pokok banyak sekali laku mengajak tuan dan nona muda kecil ke sini," jelas Pak Hendro.
Bara langsung mengerti apa yang di lakukan istrinya tersebut dengan kartunya. Ia meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan terakhir dari pak Hendro.
🌼🌼🌼
"Assalamualaikum dek, kakak datang," ucap Syafira. Si kembar mengikutinya di belakang.
"Dek, kenalin ini anak-anak kakak, namanya Nathan dan Nala," Syafira meminta si kembar untuk mendekat.
"Assalamualaikum aunty," ucap si kembar bersamaan.
"Bunda, aunty sakit apa?" tanya Nala.
"Aunty sakit karena kecelakaan sayang," jawab Syafira tersenyum.
"Aunty syantik, kayak bunda," ucap Nala.
"Tumben tidak bilang Syantik seperti Nala," cebik Nathan.
"Tentu saja Nala paling Syantik," balas Nala.
Dokter Rendra yang tadi tahu kedatangan Syafira dan si kembar langsung menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin segera menemui Syafira, sekedar say helo dan menanyakan kabar saja. Perasaannya terhadap Syafira memang belum bisa hilang begitu saja meski ia sudah berusaha. Tak semudah itu menghilangkan perasaan terhadap orang yang ia cintai selama bertahun-tahun lamanya.
Tok tok tok, pintu ruang kamar inap Adel di ketuk oleh dokter Rendra yang kini sudah berdiri di depan pintu yang terbuka tersebut.
Dokter Rendra masuk ke dalam.
"Halo jagoan dan princessnya om," ucap Dokter Rendra tersenyum.
"Om dokter!" seru Nathan dan Nala menghambur ke pelukan Rendra. Ya, mereka cukup dekat dengan Rendra, sahabat daddy mereka.
"Fira," tersenyum ke arah Syafira.
"Dokter Rendra," Syafira mengangguk.
"Kalian kesini bertiga?" tanya Rendra kepada si kembar.
"Iya, daddy sibuk kerja om," jawab Nathan.
"Pria itu, selalu saja begitu, selalu mementingkan pekerjaan," gumam dokter Rendra.
"Em, anak-anak om ini sudah ada makan sian belom?" tanya Dokter Rendra.
"Sudah om, tapi Nala masih lapar, tadi cuma makan sedikit, om dokter ma traktir Nala? Bokeh om!" ucap Nala dengan centilnya, ia memang ngefans dengan on dokter tampannya tersebut.
"Oya? Wah berarti bunda Nakal yah, ngasih Nala makan cuma sedikit," kelakar dokter Rendra.
Syafira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tanya dulu sama bunda, boleh tidak,"
"Bunda boleh ya? Nala sudah lapar lagi, bunda juga tadi tidak makan kan? pasti lapar,"
"Kamu belum makan siang Fir?" tanya Dokter Rendra melihat Syafira.
"Tadi masih kenyang," jawab Syafira.
Krucuk krucuk! tiba-tiba perut Syafira bunyi, tanda cacing di perutnya meminta jatah.
"Aduh ini perut nggak bisa diajak kompromi," gumam Syafira menahan malu.
Dokter Rendra tersenyum mendengarnya.
"Oke fix! kita ke Restoran dekat Rumah sakit, lets go!" Dokter Rendra menggendong Nala dan menggandeng Nathan keluar. Syafira hanya menghela napasnya dalam dan mengikutinya, tidak bisa menolak.
"Ini jadinya makan sore, bukan makan siang," ucap Syafira.
"Kamu itu selalu kebiasaan Fir, suka menunda-nunda buat makan. Jangan di biasakan," ucap Dokter Rendra.
Syafira hanya nyengir menanggapinya.
"Om dokter, potongin steaknya dong, Nala susah tak bisa," ucap Nala.
"Baiklah, sini!"
Mereka makan yang di namakan makan sore tersebut dengan penuh canda dan tawa. Bagi yang melihat pasti akan berpikir jika mereka adalah sebuah keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
Namun, keceriaan mereka berbanding terbalik dengan laki-laki yang kini sedang menggenggam erat ponselnya setelah mendapat pesan gambar yang menunjukkan keceriaan istri dan anak-anaknya bersama sahabatnya sendiri.
Ya, dia meminta pak Hendro memotret apa saja yang istri dan anaknya lakukan sejak tadi di panti asuhan. Entah kenapa dia tiba-tiba kepo dengan kegiatan mereka.
Melihat photo tersebut, rahang Bara mengeras, ada rasa cemburu di dalam dadanya melihat kebersamaan anak dan istrinya. Bara melihatnya seperti mereka lebih pantas di sebut sebuah keluarga. Ia menjadi teringat ucapan Dokter Rendra di hari pernikahannya, jika Bara tak bisa membuat Syafira bahagia, maka ia akan merebutnya, meskipun pada akhirnya dokter Rendra bilang jika dia sudah menganggap Syafira seperti adiknya sendiri akan tetapi Bara yakin ucapannya itu sebuah keseriusan.
"Sebenarnya sedekat apa mereka, apa selama ini mereka sering bertemu," gumamnya.
"Ada apa kak? Kenapa kakak kelihatan kesal?" tanya Varel yang baru saja masuk.
Bara hanya melihat adik iparnya tersebut tanpa menjawab.
"Aku mengambil ponselku, tadi ketinggalan," ucap Varel menunjuk ponselnya yabg tergeletak di atas sofa ruang kerja Bara tersebut.
"Aku cariin dari tadi kirain hilang, ternyata benar ketinggalan di sini," ucap Varel sembari mengambil ponselnya.
"Kakak belum menjawab, apa yabg buat kakak kesal?" tanyanya lagi.
"Tidak ada, kalau sudah ketemu pergilah, aku tidak mau di ganggu," ucap Bara.
Varel melirik ponsel Bara yang masih menyala. Ia langsung paham apa yang membuat kakaknya kesal.
"Sampai kapan kakak akan begini?"
"Maksudmu?"
"Ya, sampai kapan kakak akan bersikap dingin terhadap Peri manis," Bara langsung mendelik mendengar Varel menyebut Syafira peri manis.
"Jangan sering menciptakan air matanya, takutnya jika ada laki-laki lain yang siap menghapus air mata itu dengan suka rela. Kakak ipar itu cantik, pasti banyak yang mengantri. Jika tidak ingat dia istri kakak, pasti sudah aku tikung," ucap Varel, ia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan pernikahan Bara dan Syafira. Karena ia tak hanya sekali melihat Syafira melamun secara diam-diam.
"Aku pergi dulu," pamit Varel meninggalkan Bara yang hanya terdiam.
Setelah Varel pergi, Bara langsung menyambar kunci mobil dan ponselnya.