
"Boleh saya duduk di sini?" Adel langsung mendongak ketika tiba-tiba mendengar suara tersebut. Di lihatnya Bara yang tersenyum hangat kepadanya.
"Mereka janjian? Tadi adiknya, sekarang kakaknya yang datang," ucapnya Dalam hati merasa terintimidasi dengan senyuman tus dan hangat dari kakak iparnya tersebut. Padahal ia selalu memasang wajh masam di depannya.
Adel diam, tak menolak juga tak mengiyakan. Bara duduk di sampingnya, sedikit berjarak, tak sedekat Varel tadi.
"Pemandangan ya indah ya, pantas kamu betah dari tadi nggak balik," ucap Bara sedikit kaku dan canggung. Ia bingung harus mengawali bicara dari mana melihat Adel yang hanya memberengut.
"Intinya saja, Anda mau bicara apa?" Tembak Adel langsung tanpa basa-basi.
"Baiklah... Sebelumnya kita belum pernah bicara secara pribadi, berdua. Kali ini saya secara pribadi, ingin mengatakan kalau saya meminta maaf atas apa yang sudah terjadi di waktu yang lalu..."
Mendengarnya, Adel sedikit melirik ke arahnya. Namun, ia tetap diam.
" Jika tak ingin bicara dengan saya, kamu cukup mendengarkan saja apa yang saya katakan. Saya tidak memaksa untuk di maafkan. Saya juga tidak akan mencari pembenaran atau pembelaan atas diri saya sendiri, karen saya aku saya memang salah dalam hal ini. Saya hanya ingin minta maaf, benar-benar minta maaf dan menyesali apa yang sudah terjadi.... "Bara tak peduli, Adel mendengarkan ya atau tidak. Ia hanya ingin semuanya segera berakhir. Ia terlalu lelah. Ia harus segera mengambil sikap atas semuanya.
"Saya sangat menyesalkan, kenapa harus saya. Seandainya waktu itu saya bisa sedikit lebih sabar, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi dan kamu tidak akan kehilangan sosok cinta pertama dalam hidupmu. Sedikit cerita....
Saya seorang single parent waktu itu. Saya seorang ayah dari dua anak kembar. Sama seperti ayah kamu, saya juga pasti akan jadi cinta pertama anak perempuan saya. Sama seperti ayah lain, saya juga bisa melakukan apapun untuk putri saya. Mereka adalah hidup saya. Hanya mereka yang saya miliki saat itu...
Saya hanya seorang ayah, yang juga akan khawatir jika terjadi sesuatu dengan anaknya. Saya juga seorang ayah yang bisa bertindak gegabah dan ceroboh karena panik anaknya sakit. Waktu itu saya mendapat kabar kalau anak saya yang perempuan, Nala namanya. Sakit. Kamu bisa menyimpulkan sendiri apa yang saya lakukan selanjutnya sebagai seorang ayah yang sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya... Maafkan saya. Hanya itu yang bisa saya katakan, "
Adel tampak menunduk sambil mere mas jari jemarinya. Berusaha untuk tenang, tapi kenyataannya hatinya begitu perih.
" Kamu berhak untuk tidak memaafkan saya. Kamu berhak untuk membenci saya. Saya terima. Tapi tolong, jangan lagi membuat kakak kamu harus memilih. Di sangat mencintai kamu. Kamu saudara satu-satunya yang ia miliki. Jangan buat dia memilih, dia tak akan bisa, dia tak akan sanggup...
Adel semakin kuat mere mas jari-jarinya demi menahan air matanya.
" Mari kita sudahi semua masalah ini. Saya pastikan, Fira akan selalu bersama kamu. Saya yang akan mundur... "
Adel terkejut mendengar kalimat terkahir yang di ucapkan oleh Bara.
Ia memberanikan diri menatap kakak iparnya tersebut. Terlihat jelas raut lelah, rasa bersalah dan tulus menjadi satu menghiasi wajah tampannya.
" Bukan karena saya tidak mencintai kakak kamu, bukan. Justru sebaliknya. Saya akan melakukan apapun, demi kebahagiaan Syafira. Saya tidak bisa melihat dia terus bersedih. Saya tidak ingin dia terus menangis karena berada di antara kita berdua. Karena dia tidak akan sanggup memilih satu diantara kita. Kamu adiknya, amanah dari ayah kamu yang harus ia cintai dang jaga, kamu segalanya buat dia. Dan saya... Adalah ayah dari anak dalam kandungan ya...."
Berkali-kali Baraenghela napasnya dalam, menahan nyeri di hatinya demi mengatakan hal yang sama sekali bertentangan dengan hatinya tersebut.
" Apa aku sejahat itu? egois? "akhirnya Adel bersuasa.
Bara berusaha tetap tersenyum, ia menggeleng," Tidak, kamu tidak jahat. Saya paham, kamu hanya seorang adik yang juga ingin kakaknya bahagia. Dan mungkin menurut kamu, saya bukan orang yang tepat untuk membahagiakan kakak kesayangan kamu. Saya maklum. Tidak apa-apa,"
Sungguh, jika bukan Bara yang menabrak dirinya dan ayah, Adel pasti sudah jatuh hati kepada kakak iparnya tersebut. Ia tak perlu berpikir dua kali untuk menerimanya sebagai suami kakaknya. Begitulah yang ada dalam pikiran Adel saat ini. Terlepas dari apapun, ia sangat mengagumi sosok pria di sampingnya tersebut dari segi manapun.
Dan anak yang ada dalam perut Syafira, biarkan saya tetap menjadi ayahnya sebagai mana mestinya," Bara menoleh demi melihat ekspresi wajah Adel saat ini. Gadis itu juga menoleh dan pandangan mereka bertemu. Bara tersenyum hangat," Bisa?" ucapnya lembut.
"Aku...." suara Adel tercekat di tenggorokan. Ia benar-benar tak tahu harus bilang apa.
"Sudah, jangan menangis lagi. Tidak apa-apa," Bara menepuk bahu Adel dengan tetap tersenyum, "Apa yang ingin saya katakan., sudah saya katakan. Saya pamit, kamu jangan sore-sore pulangnya. Kasihan Syafira menunggumu," Bara melangkahkan kakinya meninggalkan Adel. Laki-laki itu tampak mengusap sudut matanya yang sejak tadi ia tahan untuk tidak meneteskan air mata.
🌼 🌼 🌼
Setelah Bara tak lagi tampak, Adel menangis tergugu. Ia meluapkan segala rasa yang ada dalam hatinya.
"Kenapa, kenapa semua menganggap jahat. Arrrhhghhh hiks hiks,"
"Apa kalian pikir aku nggak punya hati? Apa kalian pikir aku tidak terluka...Aku hnya perlu waktu, kenapa tak ada yang mengerti. Hiks hiks. Ayah, Adel harus bagaimana? Bukan ini yang Adel inginkan, ayah...Adel tak sejahat itu," suara Adel terdengar begitu pilu.
" Adel hanya ingin kakak bahagia, ayah. Adel sayang kakak. Apa yang harus Adel lakukan sekarang. Apa ayah...,"
🌼 🌼 🌼
Sejak kembali ke rumah uwak, Adel hanya mengurung diri di dalam kamar. Hal itu, membuat Syafira khawatir, terutama soal kesehatan adiknya tersebut. Ia tak tahu pasti apa yang terjadi dengan Adel, Bara dan Varel yang kini menjadi pendiam semua.
Bahkan, Bara sejak tadi juga tak keluar dari dalam kamar. Meski pria itu tak mengunci pintunya, tapi Syafira hanya mampu memandangi pintunya saja, tak ada keberanian untuk masuk.
Syafira benar-benar dilema, haruskah semuanya berakhir sekarang. Ia juga lelah dengan semua ini yang tak kunjung ada penyelesaiannya. Ia terus berpikir dan berpikir.
"Lakukan yang terbaik yang kamu bisa. Uwak tahu, kamu sudah dewasa, bisa memilih yang terbaik," pesan uwak sebelum berangkat siang tadi ke rumah salah satu saudara yang sedang sakit.
Mungkin, memang ini saatnya semua harus jelas, pikirnya.
Saat ia hendak mengetuk pintu kamar Bara, terlebih dahulu Bara keluar dari dalam.
" Fir... Mas ingin bicara. Bisa masuk ke dalam sebentar?" tanya Bara. Syafira diam. Bara menarik tangannya pelan untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
Bara menuntun Syafira untuk duduk di tepi ranjang dan ia duduk di sampingnya. Di genggamnya tangan sang istri. Syafira menatap lekat wajah Bara yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan sayang tersebut.
"Apapun yang mas katakan, tidak mengurangi rasa sayang dan cinta mas buat kamu sedikitpun. Kamu tahu kan?"
Syafira menganggukkan kepalanya, kali ini ia sedikit menunduk. Ia tahu, suaminya akan membuat sebuah keputusan.
🌼🌼🌼